
Bulan : Semalam Mario mutusin aku. Aku patah hati ðŸ˜.
Maura : Astaga, Bulan..😮
Bulan : Dia mutusin aku karena sudah nggak sanggup lagi menjalani semuanya dalam kondisi saat ini. Aku benar benar patah hati, Ra 😥ðŸ˜ðŸ˜
Maura : Jadi itu yang membuatmu kurang tidur semalam?
Bulan : Iya.
Maura : Cepat atau lambat, hubungan kalian itu pasti akan berakhir, Lan. Dia mana sanggup lah, melihat kamu dan Langit terlihat akrab. Coba kalau kamu cuek pada Langit, pasti Mario masih bisa bertahan.
Bulan : Huh... Kamu ini, sama saja, bikin sedih 😥 Tapi mungkin lebih baik gini aja ya.
Maura : Lebih baik gimana?! Kamu tuh nggak dapat apa apa. Sekarang suamimu berduaan sama perempuan lain malah dibiarin saja. Dasar payah! Pacar nggak, suami nggak! Pengorbanan Mario akan sia sia jika kamu ngelepasin Langit. Payah, payah, payah!
Bulan memiliki ide memanfaatkan fitur aplikasi whatsapp pada ponsel pintarnya untuk mencurahkan isi hati pada Maura.
Membaca balasan terakhir dari Maura, sontak Bulan menoleh ke arah Maura dan mendelikkan matanya. Maura hanya melengos pura pura cuek dan tetap memainkan ponsel pintarnya.
Bulan : Woi, aku nggak menjalin hubungan dengan Langit! Jadi aku nggak pernah melepas dia. Dia aslinya tetap menjadi pria yang lepas bebas, tau! 😜
Maura membaca pesan dari Bulan. "Hah..!" Tanpa sadar dia berseru dengan nada mengolok.
Sonya setengah melonjak kaget dan secara refleks menepuk paha Maura dengan kesal.
"Ngagetin saja!"
Bulan meringis geli. Maura membalas dengan cepat dan langsung dibaca oleh Bulan.
Maura : istri yang buruk! Menelantarkan suami!
Bulan : Enak saja, aku bukan istrinya!
Maura : Lah, itu cincin di jari apaan, Nek! Terus yang kemarin di hadapan penghulu kalian ngapain? Main gundu, gitu?!"
Bulan : Tapi, kan bukan aku yang dia cintai. Ada wanita lain di hatinya dan saat ini sedang bersamanya di dalam ruangan itu.
Maura : Kamu tidak mencintainya..?!
Bulan tak langsung membalasnya. Ia tetap membulatkan matanya mendelik ke arah Maura yang juga membalas tatapannya.
Tiba tiba Sonya menunjuk nunjuk sesuatu.
"Hah... Itu... Itukan..!" Sonya megap megapiksel melihat Syaharani yang berjalan menuju ke arah ruang tunggu, yang juga tempat di mana ketiga sekawan itu duduk menunggu.
"Aduh! Gawat! Malah ketahuan sama Sonya nih si Syaharani! Mana Sonya pernah melabrak dia lagi!" Rutuk Bulan.
Sonya bangkit berdiri siap menyongsong Syaharani. Namun, dengan gesit Bulan ikut berdiri dan menahan badan Sonya.
__ADS_1
"Aduh, Nyak, jangan bikin ribut lagi deh! Ini kan di rumah sakit, malu ntar!" Bujuk Bulan.
"Tapi ini sudah keterlaluan, Bulan, sayangku! Masa, dia tetap nyamperin Langit juga sampai detik ini." Sahut Sonya dengan galak.
"Emang siapa dia?" Tanya Maura ikut berdiri dengan bingung menatap gadis yang ditunjuk Sonya.
"Itu pacarnya Langit." Bisik Bulan pada Maura. Yang saat ini sedang kerepotan menahan tubuh Sonya yang mulai naik darah terbawa emosi.
Sonya sedang mengambil ancang-ancang untuk melabrak kembali Syaharani, " Heh, kamu! Ngapa..."
HUP..
Bulan seketika membungkam mulut Sonya dengan tangannya, lalu menyeret dengan paksa sahabatnya itu, untuk menjauh dari jalan yang akan dilalui oleh Syaharani.
Hanya Maura yang berdiri saat Syaharani lewat melalui jalan di depan mereka tadi duduk. Itu pun sudah membuat Syaharani agak ngeri, karena Maura memandangnya tanpa kedip.
Apalagi kalau Sonya tak dapat dicegah seperti ini, bisa bisa Syaharani pingsan dan ikut dirawat karena syok menghadapi kegarangan Sonya. Sementara itu Bulan mendekap dengan erat Sonya di balik tangga.
Beberapa lama kemudian, Maura melongok ke arah mereka.
"Sudah aman!" Teriaknya.
Bulan melepas sekapannya dan menghela napas lega.
"AKU DIZALIMI...!!" Pekik Sonya dengan berang.
"Hahahhahaha...!" Bulan dan Maura tertawa tergelak. Apalagi rambut kriwil Sonya terlihat berantakan sekali.
"Ayo, kita jemput Langit!" Ajak Bulan sambil berdiri.
"Iya, sebelum dikira kita adalah pasien di paviliun perawatan jiwa yang kabur." Timpal Maura.
"Hei, Mbak..!" Tiba tiba dari arah belakang, dua orang perawat berseru.
"Lariiii...!" Ketiga gadis itu berlari ngibrit kencang, tanpa tahu pasti siapa yang ditegur perawat itu tadi.
"Ra, kamu bawa Sonya pulang saja, gih! Tambah runyam!" Instruksi Bulan dengan tersengal-sengal karena sambil berlari.
"Kalian belok sana ya, bye!" Ucap Bulan melambaikan tangannya.
Sonya dan Maura melambaikan tangan, berlari pada belokan yang ditunjuk Bulan.
Mereka berpisah di perempatan lorong.
Bulan berlari kecil menuju ruang tempat Langit dirawat melalui koridor rumah sakit. Akhirnya setelah beberapa saat berlari sampai juga ke kamar itu, dia membuka pintu.
BRAAKK...
Pintu terbuka dan Bulan ngos ngosan berhenti tepat di hadapan Langit.
__ADS_1
Langit menatap Bulan dengan heran sambut mengerutkan keningnya.
"Takut kamu kelamaan menunggu. Jadi lari lari." Ucap Bulan sambil meringis.
Bulan menyambar gelas yang berisi air di meja dekat tempat tidur, dan meneguknya hingga habis.
Langit masih bengong menatap tingkah Bulan itu.
"Aku sudah urus administrasinya. Tinggal tunggu hasil laporan saja dan obat yang perlu kita bawa nanti." Ucap Bulan napasnya mulai terdengar tenang saat ini.
Tak berapa lama, perawat datang dengan membawa hasil laporan kesehatan Langit dan obat yang harus dia minum dan beberapa salep untuk lukanya.
Sekitar satu jam kemudian, mereka benar-benar meninggalkan rumah sakit itu.
Dalam perjalanan pulang, Bulan lebih memilih diam. Dia ingin menata hatinya kembali saat ini. Ia biarkan suara lembut lagu Sang Dewi dari Lyodra mengalun memanjakan telinganya dan Langit.
Langit melirik ke arah Bulan yang agak berbeda kali itu. Ia menatap mata gadis itu. Matanya terlihat sembap dan ada kantong hitam yang tebal. Antara kurang tidur atau usai menangis.
Langit penasaran, tapi dia ingin Bulan menenangkan dirinya terlebih dahulu saat ini.
*
*
Satu Minggu kemudian
Malam itu, malam Minggu. Bulan menelungkup di meja dapur dengan kepala terbenam di antara kedua tangan. Tidak ada kesibukan lagi pada Sabtu malam.
Tidak ada Mario, dan Langit sudah memiliki dunianya sendiri.
Sonya sebenarnya mengajaknya keluar untuk ikut party di tempat temannya, namun Bulan sedang bosan menghabiskan malam secara bergerombol begitu.
Bulan merindukan menghabiskan malam dengan obrolan yang intens dan pribadi berdua saja.
Setelah Langit pulang ke rumah, keadaan berjalan seperti biasa kembali. Bulan menghabiskan waktunya dengan membenamkan diri dengan pekerjaan di kantor. Ada turnamen futsal kecil diselenggarakan di arena olahraga saat ini, sehingga, Bulan benar benar dapat fokus bekerja.
Untuk ke sekian kalinya diamatinya brosur yang ditindih dengan tangannya.
Brosur paket honeymoon kiriman dari Oma dan opa nya. Sebagai hadiah pernikahan Bulan dan Langit. Seluruh biaya akan ditanggung oleh Oma dan Opa. Untuk waktu dan tempat tinggal pasangan pengantin baru itu yang menentukannya.
Bulan dilanda keraguan yang amat sangat untuk mengajak Langit.
Saat ini kondisi Langit sudah jauh membaik. Bahkan dia sudah mulai bekerja Minggu ini.
Bulan memiliki harapan dengan perjalanan bulan madu, meski pun dalam kenyataannya mungkin tidak seperti bulan madu yang sesungguhnya. Namun paling tidak mereka dapat menjalalin hubungan lebih dekat.
Bulan ingin mengenal lebih dekat teman satu rumahnya itu. Lagian mereka sudah menikah secara resmi dan pernikahan mereka memang dilangsungkan beneran. Dan Mario juga telah melepasnya. Bulan berpikir, mengapa mereka tidak menjalani hubungan yang sesungguhnya saja.
Masalahnya, adalah. Dulu, Bulan lah yang menggiring Langit untuk kembali pada Syaharani.
__ADS_1
Bulan menjadi galau, hatinya gundah gulana. Mau maju salah, mundur juga susah.