(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Kecewa


__ADS_3

Cleo...


Nyaris seharian nama itu memenuhi kepala Bulan. Ia teringat senyum perempuan itu pada Mario saat mengantar ke kantornya. Senyum menggoda.


"Aaaaaa.....!" Pekik Bulan kesal sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Belum pulang, Bu?" Sapa salah seorang satpam tiba tiba.


Hari mulai senja. Langit mulai memerah, matahari mulai terbenam.


"Ehhh, iya. Sebentar lagi, Pak." Jawab Bulan sambil melompat terkejut.


Ia berjalan menuju ke area bermain anak. Ia mendudukkan pantatnya pada ayunan dan mengayunkan pelan pelan.


Entah untuk berapa lama ia sudah berada di tempat itu.


"Mana tasnya?" Suara Mario mengejutkan Bulan.


"Masih di atas. Sedang ingin mencari udara segar sebentar di sini." Jawab Bulan.


Mario ikut duduk di ayunan di samping Bulan.


Mereka sepakat bertemu di tempat itu. Tadi pagi, Mario hanya menerima kunci mobil dari OB yang dititipi oleh bagian resepsionis kantornya.


Mario langsung menghubungi Bulan setelah menerima kunci mobil. Namun, tidak diangkat. Mario mencoba menghubungi kantor, katanya Bulan sedang ada tugas keluar kantor seharian.


Menjelang sore, baru Bulan mengangkat telpon dari Mario. Itupun panggilan yang untuk kesekian kalinya.


"Terima kasih sudah mengantarkan mobil ke kantor. Kenapa tidak menemuiku, kan bisa aku antar kemari?" Mario menatap Bulan.


Bulan tak langsung menjawab. Ia masih setia mengayunkan ayunan yang ia duduki.


"Semula ingin begitu. Namun, aku melihatmu diantar oleh perempuan itu." Jawab Bulan dengan tenang.


Wajah Mario berubah menjadi tegang.


"Kulihat pakaianmu masih seperti yang semalam." Sambung Bulan masih dengan nada yang sama. Pandangannya sendu, sambil menatap Mario.


"Bulan, jangan salah paham dulu. Aku tidak berbuat apa apa semalam. Waktu itu dia..."


Belum selesai Mario memberi alasan, Bulan mengibaskan tangannya. Dalam hati ia menyesal kenapa ia menyerah semalam, kenapa ia tidak memaksa ikut mengantar perempuan itu, dan Mario mengantarnya pulang.


"Aku sudah tidak ada perasaan apa apa lagi dengannya, Lan. Sungguh!" Tegas Mario meyakinkan Bulan.


Bulan memejamkan matanya dan mengambil napas dalam-dalam.


"Sudah sejauh ini kita bersama. Mengapa kamu masih meragukan kesetianku?" Sambung Mario dengan kesal.


"Mario, kamu dan dia pernah menjalin hubungan cinta. Bahkan kamu pernah pertunangan dengannya. Hampir menikah. Wajar, kan, kalau keyakinkanku goyah. Kamu bermalam di rumah mantan tunanganmu, yang sedang mabuk, yang kembali mengejarmu, yang memberi andil luar biasa dalam karirmu?!" Sahut Bulan dengan penuh emosi.


Ia mengetahui hubungan Mario dan Cleo sudah sejauh itu dahulu, bahkan sampai bertunangan, dari Sonya.

__ADS_1


Waktu itu Mario masih kuliah, dan berteman dekat dengan Sonya.


"Aku percaya dengamu. Yang serumah dengan lelaki lain berbulan bulan." Balas Mario.


"Dia bukan mantanku! Dan kami tidak pernah memiliki hubungan cinta sebelumnya. Itu beda Mar. Kamu seolah takluk dan tunduk pada perempuan itu. Dia klienmu, bukan bosmu, bukan kekasihmu lagi!" Ucap Bulan.


"Kamu cemburu?" Tanya Mario dengan suara melembut.


"Iya, dan juga marah! Di pesta aku seperti orang bego, malamnya disuruh pulang sendiri. Ponsel kamu matikan, saat berduaan. Huh...!" Seru Bulan memuntahkan kekesalannya.


Kemudian dia berdiri.


"Aku tidak jadi pulang. Tiba tiba aku ingat masih harus menyelesaikan sesuatu. Pulanglah dulu!" Ucap Bulan.


Mario ikut berdiri dan memegang lengan Bulan.


"Bulan..."


"Aku yang akan menghubungi kamu." Potong Bulan.


"Itu pun jika aktif." Sindir Bulan mengakhiri pembicaraan. Ia berlari menuju ruangan kantornya meninggalkan Mario yang masih berdiri di area bermain anak.


Bulan menelungkup kan wajahnya di balik meja saat di ruang kerjanya. Ia merasa sangat lelah.


****


Langit baru sampai di rumah. Baru selesai meneguk air dingin dari dalam kulkas, pesan dari Bulan masuk.


Bulan mengirim pesan whatsapp minta tolong dijemput.


Tak jauh dari kediaman Bulan, Syaharani mengawasi tanpa berkedip di dalam mobil milik kakaknya yang ia parkir di tempat remang tak jauh dari rumah Bulan.


Mulai dari Langit datang mengendarai sepeda motor, lalu membuka pagar dan pintu rumah dengan kunci yang dibawanya. Menyalakan lampu lampu di rumah itu, kemudian keluar lagi dengan mengendari mobil Bulan.


Syaharani menunggu sekitar satu jam empat puluh lima menit di dalam mobil. Tak lama, mobil Bulan datang kembali.


Dari pintu kiri, Bulan keluar, lalu membuka pintu pagar. Mobil masuk dan terparkir. Lalu mesin dimatikan. Pagar rumah ditutup, dan keduanya menghilang dibalik pintu rumah.


Hati Syaharani terasa sakit sekali rasanya. Bagai teriris pisau tajam, lalu diberi perasan jeruk nipis.


Syaharani menelungkupkan wajah di atas setir dan menangis terisak.


*****


Jumat pagi, cuaca mendung, bikin malas. Tapi, Bulan membulatkan niatnya untuk berolahraga, meskipun hanya berlari di seputaran komplek, yang jadinya hanya berjalan kaki saja.


Kata Eyang Kakung, menghirup udara pagi diiring gerak tubuh, membuat tubuh menjadi lebih bugar dan mengubah suasana hati yang buruk menjadi lebih baik.


Satu jam berlalu, Bulan baru merasakan apa yang diucapkan oleh Eyangnya itu.


Bulan merasakan paru parunya terasa lebih segar menghirup oksigen dari alam bebas, yang terkontaminasi oleh aroma bubur ayam yang menggugah selera, membuatnya tergoda juga. Yang akhirnya ia memesan dua bungkus untuk dibawa pulang. Satu untuknya dan satu untuk Langit.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Bulan segera memanggil Langit untuk memberitahu ia membelikan bubur ayam.


"Ngit, ini aku beli bubur..." Bulan terhenti melanjutkan ucapannya, dilihatnya Langit bersama seorang gadis.


"Oh, maaf, aku nggak tahu kalau ada tamu." Sambung Bulan sambil memamerkan deretan giginya.


"Ini Rani." Langit mengenalkan Syaharani.


"Kita sudah kenalan." Sahut Syaharani datar.


"Iya." Timpal Langit.


Bulan menahan napas. Terus terang ia lupa wajah Rani itu. Ia pun selalu salah menyebut nama lengkap kekasih Langit, ia selalu salah menyebut menjadi Syahrini.


"Iya." Celetuk Bulan sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Syaharani, lalu dibalas anggukan oleh gadis itu. Lalu Bulan melesat masuk ke dalam.


Bisa jadi pagi ini adalah bencana bagi Langit, karena sejauh yang Bulan tahu, Langit tidak memberitahu kekasihnya perihal tinggal di rumahnya.


"Kita bicara di luar." Cetus Langit setelah Bulan masuk ke dalam.


"Aku mengambil kunci motor dulu." Pamit Langit.


Dari balik meja makan, Bulan mengamati Langit dan kekasihnya sambil menyuapkan sesendok demi sesendok bubur ayam. Ia tak enak menawarkan bubur ayam di saat seperti itu pada pasangan yang sedang bersitegang.


"Aku pergi dulu, nanti kumakan buburnya." Pamit Langit saat melewati Bulan.


Lalu langit bergegas menemui Syaharani kembali. Dan mereka menuju kafe tak jauh dari tempat itu.


Mereka memesan dua cangkir kopi dan membawanya ke teras kafe, lalu duduk di sana berhadapan.


"Aku hanya ingin menjaga perasaanmu, itu yang paling utama. Ini murni inisiatifku, tak ada syarat atau pengaruh apapun dari siapapun." Terang Langit.


"Aku kecewa padamu, Mas. Aku kecewa kamu menutup nutupi sesuatu dariku, aku kecewa kamu malah mencari bantuan ke orang lain.


Sepertinya menjadi kekasih berarti menjadi orang terakhir yang tahu. Orang yang terakhir dimintai bantuan. Orang yang tidak boleh diusik usik, orang yang hanya tau beresnya saja, hanya tahu indahnya dunia." Syaharani menyorongkan badannya ke arah Langit.


"Begitu arti kekasih bagimu? Hanya pajangan, penghias hidupmu saja. Dangkal sekali!" Syaharani kembali bersandar sambil menyilang kedua tangannya ke depan dada, lalu membuang pandangannya.


"Jika aku tak mendatangi rumah temanmu itu, kamu pasti tetap berkelit." Sambung Syaharani kesal.


Langit terdiam, ia tak bisa menyangkal lagi. Ada perasaan bersalah melihat gadis itu semarah ini.


"Aku paling benci dibohongi!" Mata Syaharani siap menumpahkan air wujud kekecewaannya.


"Dan ini rasanya lebih dari itu..., Seperti dikhianati." Ucap Syaharani terbata bata.


"Maaf, Ran. Kadang sesuatu yang kuanggap tindakan yang benar. Maksudku yang bisa menjaga hubungan kita tetap baik, belum tentu baik di matamu. Aku menghargai hubungan kita di atas segalanya. Rani, aku ingin kita selalu baik baik saja. Bertemu, berbincang, bahkan saling terdiam pun, aku ingin kita lakukan dalam rasa cinta, sayang, tidak ada rasa jengkel, sebal, marah, dan perasaan negatif lainnya." Langit menjabarkan semua alasan di balik sikapnya selama ini.


"Kamu telah melukai perasaanku." Sahut Syaharani, lalu ia berdiri.


"Pagi ini aku cuma ingin membuka matamu lebar lebar, bahwa aku tidak sebodoh yang kamu kira!" Tegasnya, lalu ia berlari ke depan dan segera berlalu meninggalkan Langit.

__ADS_1


"Rani! Rani.. Aku tidak pernah berpikir seperti itu!" Langit berteriak seraya menyusulnya. Namun Syaharani telah menghilang dari pandangan Langit.


Langit tertunduk sambil memegangi kepalanya.


__ADS_2