(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Terjadilah


__ADS_3

Bulan mengehela napas lega saat sampai di rumah dengan aman. Tidak ada razia polisi di jalan, mungkin ada, tapi tidak dilewatinya.


Bulan menjawil lengan Langit, mengisyaratkan untuk keluar dari mobil.


Langit sudah oleng, meskipun masih bisa berjalan sendiri. Bulan yang mengemudi saat pulang. Bulan sendiri merasa tubuhnya berjalan setengah melayang.


Kalau tidak ingat salah satu dari mereka harus menyetir, bisa jadi Bulan akan minum banyak sebagai pelampiasan rasa kesalnya memikirkan Mario. Berhubung Langit yang kelihatannya jauh lebih bermasalah, ya sudah. Bulan mengalah.


DUK..


Kaki Langit terantuk sofa, sekalian ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Bulan mengambil es batu dari kulkas, lalu menaruh dalam mangkuk dan menyodorkan pada Langit.


Bulan duduk di samping Langit sambil mengulum es batu.


Malam itu mereka berdua duduk di sofa dalam kegelapan. Hanya lampu teras yang menerobos masuk jendela remang remang.


"Sonya kelihatan tidak rela saat kamu ikut pulang." Gumam Bulan.


"Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah sangat baik padaku selama ini." Ucap Langit.


"Sama sama, kamu juga begitu ke aku." Bulan tersenyum.


Langit mengambil tangan Bulan dan menggenggamnya. Dan tidak berhenti sampai disitu. Tangannya menelusuri lengan Bulan hingga merambah bahu. Karena Bulan hanya diam saja, Langit meneruskan hingga ke punggung Bulan.


Aroma parfum dan aroma tubuh pria di sebelahnya ini menggugah indera penciuman Bulan. Mungkin efek minuman, yang menyebabkan tidak sadar seratus persen. Bulan hanya memejamkan matanya.


"Kulitmu selembut bayi." Bisik Langit tepat di telinga Bulan. Darah memompa jantung Bulan berdetak dua kali lebih cepat. Dorongan dasar hasrat mereka mengabaikan semuanya.


Dalam hitungan detik bibir mereka telah saling bertaut satu sama lain. Sengatan tersebut membuat mereka saling menginginkan lebih. Entah siapa yang membimbing siapa, kini mereka telah berada di tempat tidur dalam kamar Bulan.


Pakaian mereka satu per satu terlepas, mereka saling berguling di atas tempat tidur. Teriakan Bulan dan erangan Langit bersahutan malam itu, mereka saling menumpahkan hasrat masing masing. Langit memompa tubuhnya di atas tubuh Bulan. Lalu keduanya saling bergumul. Saliva dan peluh mereka saling menyatu malam ini.


Kamar Bulan menjadi saksi bisu kisah malam itu.


****


DOK... DOK... DOK...


Suara gedoran pintu membangunkan Bulan.


Tubuhnya terasa melayang, kepalanya masih terasa berat dan pusing.


"Aduh.." Bulan duduk sambil memegangi selimut menutupi dada. Dia melirik Langit yang tidur terlentang di sebelahnya.

__ADS_1


DOR... DOR... DOR...


Suara gedoran pintu semakin kencang.


Mata Bulan terbelalak terkejut, dia belum bisa mencerna apa yang telah ia dan Langit lakukan semalam. Kini ia sedang diserang rasa panik.


"Ya ampun.. ! Aduh, aduh..!" Bulan bergegas bangun dari tempat tidurnya, berdiri dan segera membuka lemari pakaian mencari pakaian rumah, mengabaikan rasa pusingnya.


"Gawat, mereka sudah jemput! Mampus deh!" Pekik Bulan.


Sesuai rencana hari Minggu pagi ini keluarga Bulan datang menjemput untuk mengunjungi Oma dan Opa.


Langit terbangun oleh suara kepanikan Bulan.


"Siapa?" Tanya Langit dengan suara serak. Tangannya memegang kepala, lalu menelungkupkan badan dan menenggelamkan kepala di bawah bantal. Matanya terasa lengket tak bisa membuka.


DOR... DOR... DOR...


"Iya.. Iya... Sebentar." Bulan tergopoh-gopoh berlari membukakan pintu.


"Astaga! Baru bangun? Belum apa apa sama sekali?" Tegur Mama dengan kesal.


"Maaf.." Sahut Bulan pelan dan memberikan jalan pada Eyang dan kedua orang tuanya untuk masuk.


"Ya sudah, buruan, kami tunggu." Ucap Papa.


Mereka duduk di sofa depan. Bulan menyepak sandal Langit masuk ke kolong sofa saat jalan masuk ke dalam.


"Cari siapa, Pak, Bu?" Suara Papa.


Bulan mengerutkan keningnya. " Ada tamu?" Gumamnya.


"Kami mama papanya Langit." Jawab suara tamu tersebut.


Mata Bulan membelalak bersamaan dengan mulutnya menganga lebar.


Orang tuanya Langit? Bagaimana bisa?!


"Langit? Si sini rumah Bulan, anak saya."


"Oh.. ini alamat yang diberikan Langit. Katanya Langit sementara tinggal di alamat ini."


"Hah...??" Mama, Papa, dan Eyang Bulan terkaget kaget.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Bulan muncul.


"Bulan! Coba jelaskan semua ini!" Mama berteriak tegang.


"Haaa...?" Gantian orang tua Langit yang terkejut hingga melongo.


"Langit tidak mengatakan nama temannya, hanya memberi alamat saja." Ucap Mama Langit.


"Ya ampun! Jadi selama ini Langit satu rumah dengan..." Papa Langit menunjuk Bulan kemudian menoleh ke arah orang tua Bulan.


"Kami tidak tahu. Bapak ibu juga tidak tahu, kan?"


"Langit itu kekasihmu?" Selidik Papa Bulan.


Bulan langsung menggeleng.


"Tidak. Kami hanya berteman. Langit menyewa kamar belakang. Teman temannya tidak ada yang kasih tumpangan, sedang rumah kontrakannya sedang direnovasi. Dia sudah bayar full, dan uangnya tidak bisa kembali." Jawab Bulan tertunduk.


"Tetap saja tidak boleh begitu!" Hardik Mama Bulan. Eyang hanya diam, tapi pandangannya tajam ke arah cucunya.


"Ma.." Rengek Bulan.


"Duh, kenapa Langit tidak bilang. Maafkan anak kami." Ujar Papa Langit merasa malu.


"Sekarang mana Langit? Supaya kami bicara dengannya." Tanya Papa Langit.


Tubuh Bulan panas dingin. Wajahnya tegang. Langit ada di dalam kamarnya, dan begitu Langit keluar akan sangat jelas terlihat dari sini. Rasanya ia pingin menghilang dari tempat ini.


"Langit.." Belum selesai Bulan berbicara, Langit keluar dari kamar. Mampus deh!!


"Ada apa.." Langit tak meneruskan ucapannya, ia dia membisu, melongo karena terkejut sangat luar biasa mendapati siapa saja yang tengah memandangnya nanar.


Ketegangan terjadi di ruangan itu.


"Langit semalam main PS di kamarku." Bulan mencari alasan.


"Jangan bohong...!!" Kelima orang berseru berbarengan bagai koor paduan suara dengan nada suara tinggi dan seirama.


Selanjutnya penjelasan yang dapat menggambarkan reaksi lima orang tamu di rumah Bulan adalah syok, kaget, tercengang, dan melongo. Dan gambaran itu diselingi dengan komentar astaga, ya ampun, ya Tuhan. Dan gelengan kepala serta tatapan mata gemas mendengar pengakuan Bulan dan Langit.


Mama Bulan melengos, kecewa dan kesal pada putri tercintanya. Ia pernah sekali bertemu dan percaya pada Bulan. Mama menyesal langsung percaya pada Bulan waktu itu.


Mama dan Papa Langit merasa wajah mereka sudah tak berbentuk lagi. Selain Malu, mereka juga seperti mendapat lemparan bumerang. Karena awalnya mereka datang untuk memberi kejutan pada Langit yang berulang tahun hari ini. Ternyata malah mereka sendiri yang mendapat kejutan dari sang anak.

__ADS_1


Langit sampai lupa, jika hari ini ulangtahunnya. Ia merasa semua bergerak terlalu cepat. Mulai dari kekasihnya yang membekukan hubungan. Malam gila gilaan, tidur dengan Bulan, yang sebenarnya adalah sahabatnya, dan kekasih lelaki lain. Hingga pagi ini, memperoleh kunjungan dari orang tua yang berujung hunjaman.


Sementara pikiran Bulan berbelit Belit seperti bola benang yang dimainkan kucing. Sudah ruwet masih harus ditambah terbentur bentur membuat stres.


__ADS_2