
Bulan mencoba memejamkan matanya di atas ranjang kamar Langit. Ia mencoba segala macam posisi tidur, mulai dari terlentang, tengkurap, miring ke kanan, lalu miring ke kiri.
Tepat pada saat ia membalikkan badan berganti posisi memunggungi pintu kamar, Langit mambuka pintu kamar dan masuk.
Bulan mencoba memejamkan mata kembali. Menghitung domba supaya dapat tertidur. Namun, saraf otaknya tetap tidak mau tunduk untuk beristirahat malam itu. Saraf saraf otaknya tetap mengirimkan sinyal-sinyal motorik dan kognitif untuk membuatnya tetap sadar.
"Aduuhhh... Payah! Mana besok harus bangun pagi pagi lagi." Gerutu Bulan yang tak kunjung dapat terlelap. Ia menghela napas selonggar mungkin, lalu mengusap usap rambutnya dengan tangan bermaksud supaya dapat mengantuk.
"Mungkin aku terlalu tegang." Gumam Bulan. Bulan lantas memutuskan untuk keluar sebentar mencari udara sepoi-sepoi yang mungkin dapat membantu dirinya merasakan kantuk.
Dengan gerakan tanpa membuat berisik, ia bangkit dari tempat tidur, lalu melangkahkan kaki berjingkat jungkat. Ia membuka pintu kamar dan berusaha tanpa membuat suara sekecil mungkin. Lalu ditutupnya pintu kamar dengan sangat pelan.
Kemudian kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Lampu dalam rumah telah dimatikan karena semua penghuni telah masuk ke kamar masing-masing. Ruangan dalam keadaan gelap gulita. Bulan menimbang nimbang hendak ke teras depan atau teras belakang.
"Uhuk... Uhuk.." Terdengar suara orang terbatuk-batuk.
Bulan gelagapan untuk sesaat saat mendengar suara orang batuk itu. Suara berat laki laki. Bulan buru buru berjongkok sembunyi di balik kursi di ruang makan. Diintipnya sosok yang berjalan menuju teras belakang itu.
Terlihat Mama sedang duduk di bangku yang ada di teras belakang, kini Papanya Langit menyusulnya, duduk di sebelah Mana Langit.
"Semoga pernikahan mereka baik baik saja ya, Pa." Ucap Mama Langit.
Bulan tak sengaja mencuri dengar pembicara mereka saat ini.
Ruang makan di rumah tersebut langsung menghadap ke teras belakang. Jadi dengan suasana sunyi dan sepi seperti saat ini, obrolan dari teras belakang akan terdengar sampai ruang makan.
Karena penasaran, Bulan menggeser posisinya lebih mendekati pintu penghubung. Tentu saja masih dengan posisi jongkok menyembunyikan tubuhnya.
__ADS_1
Terdengan suara batuk batuk lagi dari Papa Langit.
"Mereka memang berteman baik, tetapi pernikahan mereka tidak didasarkan saling cinta. Anak sekarang kan, katanya kalau tidak cinta tidak mau untuk menikah. Takutnya mereka tidak cukup kuat untuk mempertahankan pernikahan." Ucap Mama Langit kembali.
"Paling tidak mereka sudah saling mengenal. Bulan anaknya baik, keluarganya juga baik. Anak kita juga baik, mau bertanggung jawab. Saat ini yang mereka butuhkan adalah waktu." Sahut Papa Langit.
"Jangan terlalu khawatir, tidak usah terlalu dipikirkan. Nanti maag Mama kambuh lagi." Imbuh Papa Langit lagi, menasihati Mamanya supaya tidak khawatir.
Bulan menempelkan dahinya ke kaki kursi makan.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Mama dan Papa Langit khawatir. Sampai sampai maag mamanya terancam kumat, dan jangan jangan batuk batuk Papanya Langit juga karena terlalu mencemaskan anaknya. Duh!" Rutuk Bulan dalam hati.
Sebagian ucapan Papanya Langit ada benarnya bagi Bulan. Yang ia butuhkan saat ini adalah waktu, tapi bukan ke depan, melainkan ke balakangnya.
Bulan termenung sejenak. Ia ingin sekali memutar kembali waktu supaya dapat mengoreksi perbuatannya, hingga tidak perlu berujung rumit seperti saat ini.
Samar samar telinganya Bulan mendengar suara gesekan sandal dengan lantai. Mama dan Papan Langit berjalan hendak masuk kembali ke dalam rumah.
Saat masuk ke dalam kamar, gelap gulita dan pikiran Bulan terpecah membuatnya tidak sadar kalau kakinya menginjak kaki kiri Langit yang posisinya memang agak menyimpang dari kasur lipat yang dipakainya saat ia masuk kamar.
"Aoowww....!" Seru Langit refleks terbangun dan mengaduh sakit. Sementara Bulan kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung dan jatuh. Jidatnya dengan sukses menghantam dipan yang terbuat dari kayu itu.
DUK..
"Aduh!" Rintih Bulan dengan suara tertahan.
Langit menyalakan lampu kamar. Bulan tampak duduk berselonjor dan mengusap usap jidatnya yang memerah akibat terantuk dipan kayu.
__ADS_1
"Kamu dendam ya, mau menghabisi aku diam diam?" Celetuk Langit asal. Bulan menyepak kaki Langit. Lalu Langit mengaduh dan duduk di sebelah Bulan.
"Aku tidak bisa tidur." Tukas Bulan sambil memonyongkan bibirnya.
Langit mengangkat tangan Bulan yang memegang jidatnya. Mengamati apakah jidat Bulan memar. Bulan beringsut menjauhkan kepalanya pelan, menghindar dengan halus perlakukan Langit yang membuatnya kikuk.
"Terus, kalau sudah menginjak kakiku, kamu bisa tidur?" Tanya Langit dengan nada lembut.
"Ih, itu kan tidak sengaja." Elak Bulan.
"Eh, kakimu tidak apa apa, kan?" Bulan mengamati kaki Langit.
"Paling paling besok agak pincang." Gurau Langit.
Bulan mendengus kesal, lalu memukul lengan Langit yang sedari tadi tidak serius.
"Kamu mikirin apa sih, sampai tidak bisa tidur?" Tanya Langit kemudian.
Bulan mengehela napas. Ia memikirkan semua percakapan orang tua Langit yang sempat ia curi dengar barusan.
"Mama Papamu baik padaku, saudara saudaraku juga baik. Padahal.. aku telah membohongi mereka semua." Ucap Bulan lemah.
Langit menepuk bahu Bulan.
"Kita terpaksa, Lan. Ingat itu!" Sahut Langit. Bulan menundukkan kepala dengan wajah muram.
"Hei, kamu tidak sendirian." Imbuh Langit sambil menaikkan alisnya.
__ADS_1
Bulan mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah Langit.
Ya, Langit benar. Ia dan Langit mengalami hal yang sama saat ini. Dan, di luar sana ada Mario yang berbesar hati mau menerima Bulan kembali dengan segala kondisinya saat ini.