(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Laporan Pandangan Mata


__ADS_3

Sesegera mungkin Sonya menghubungi Maura yang sedang oleh body di sanggar senam milik Minati Atmanegara, yang kebetulan yang menjadi instrukturnya adalah Cantika.


"Udah, aku jemput kamu segera!" Tukas Sonya saat melajukan mobilnya ke sanggar senam itu.


Kebetulan, Sonya telah selesai, dan sedang berganti pakaian saat menerima panggilan dari Sonya.


Tak banyak bicara mereka menuju apartemen Sonya yang kebetulan tak jauh dari tempat senam tersebut.


Sonya menuang air ke dalam gelasnya dari dispenser, lalu meneguknya hingga habis, sedang Maura duduk di sofa sambil beristirahat sejenak.


"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Ra! Langit dan perempuan itu! Tidak salah lagi ini, kita harus melabrak Langit!" Suara Sonya lantang bagai orator sedang membakar semangat para mahasiswa yang sedang berdemo di jalanan.


Maura hanya manggut-manggut menyejukkan diri menikmati hembusan angin dari AC yang ada di ruang itu.


"Semua terlihat dan terpampang dengan jelas dan nyata!" Ucap Sonya menerawang.


"Apanya yang jelas, Nya?" Tanya Maura dengan cuek.


"Semuanya!" Sonya meloncat ke sofa, bergabung dengan Maura yang masih bertengger dengan nyaman di sofa empuk itu.


Sesaat tubuh mereka berguncang dikarenakan dahsyatnya per sofa ditimpa oleh pantat Sonya yang dahsyat pula.


Mereka berdua mengobrol dengan serius di tempat Sonya. Namun, lebih tepatnya Sonya yang serius. Sedangkan Maura hanya berlagak serius.


"Dasar lelaki buaya darat, Langit! Mulanya dia kasih aku referensi padaku untuk memakai jasa tur agen itu. Ternyata karena pacarnya kerja di sana! Huh, kalau tahu seperti itu, mana mau aku, ih..!" Sonya mengomel panjang lebar di samping Maura.


Maura hanya mendengarkan semua ocehan Sonya sambil memainkan kumpulan rambut di tengkuknya.


Maura hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Ingin rasanya ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara Langit dan Bulan.


Bahwa sesungguhnya dan sebenarnya, tidak terjadi apa apa di antara Langit dan Bulan, tidak seperti itu. Sehingga kupingnya tidak perlu tersiksa mendengarkan ocehan Sonya saat ini.


"Eh, dari mana kamu tahu perempuan itu kerja di sana?" Tanya Maura sambil mengerutkan keningnya.


"Dari seragamnya. Perempuan itu memberi hadiah yang gede banget ke Langit. Itu tandanya mereka telah lama berhubungan. Tidak salah lagi!" Gumam Sonya sambil mengelus elus dagunya, bak detektif yang sedang memecahkan kasusnya.


"Atau.... Jangan jangan, perempuan itu adalah kekasih lamanya Langit, ya? Duh.... Kasihan banget sih Bulan. Padahal dia sudah bersusah payah berusaha supaya pernikahan mereka berjalan dengan baik selama ini. Tapi, Langit malah melakukan perbuatan yang tidak terpuji seperti sekarang ini!" Sonya menghela napas dengan wajah muram, prihatin dengan hubungan sahabatnya. Lebih tepatnya prihatin dengan kondisi rumah tangga Bulan saat ini.


Maura menutupi wajahnya dengan bantal sofa.


"Duh, Bulan... Bener bener kamu ini! Sudah menempatkan posisiku pada tempat yang tidak enak saat ini." Rutuk Maura dalam hatinya


"Ra, menurut pendapatmu, kita harus bagaimana sebagai sahabat dari Bulan?" Tanya Sonya sambil menoleh ke arah Maura.


Maura menurunkan bantal dari wajahnya.

__ADS_1


"Hah? Oh, itu.. hhmmm... Gimana ya Nya? Kita sebaiknya tidak usah mencampuri urusan pribadi mereka berdua deh. Itu urusan rumah tangga mereka, kita ini sebagai orang luar ha usah turut campur." Sahut Maura sambil menatap Sonya.


"Tidak bisa!" Sergah Sonya berseru dengan suara lantang. Sehingga membuat Maura terlonjak kaget dan mengelus dada menenangkan diri.


"Aku tidak rela Bulan dibohongi terus terusan oleh lelaki buaya darat itu!" Dengus Sonya dengan mimik wajah ala ala sinetron gitu.


Maura hanya dapat menghela napas dengan pasrah.


"Haduh... Coba kalau kelak Sonya mengetahui semua itu, dan dia tahu aku tahu dan tidak memberitahu dia. Pasti dapat dipastikan dia akan marah besar. Tapi, jika aku memberi tahu dia sekarang yang sebenarnya. Bulan yang pasti akan marah besar juga. Astaga..!!! Inikah yang rasanya makan buah simalakama..??!! Maju salah mundur salah..."


"Heh! Bengong melulu!" Sentak Sonya pada teman di sebelahnya itu.


"Pikiranmu lagi nggak di sini, ya?!" Cecar Sonya dengan mata melotot pada Maura.


"Iya." Sahut Maura otomatis.


"Eh, nggak! Maksudku, ya, kalau gitu bilang saja dulu ke Bulan." Maura meralat ucapannya.


"Tapi... Aku nggak tega melihat Bulan jadi sedih." Sonya membuat mimik wajahnya jadi menyedihkan, membayangkan Bulan yang sedih.


Maura menepuk nepuk bahu Sonya.


"Tenang, dia tidak akan sesedih itu, kok." Ucap Maura.


Maura berdehem, menahan senyum. Ia membayangkan bagaimana Sonya dengan menggebu gebu, lulu ia menyampaikan laporan pandangan matanya pada Bulan. Lalu bagaimana reaksi Bulan saat mendengarnya.


"Pasti seru.." Gumam Maura tanpa sadar.


"Seru kamu bilang?!" Celetuk Sonya, lalu menyentil kepala Maura dengan gemas.


"Huh... Apa sih yang ada dalam otakmu?" Dengus Sonya dengan kesal.


Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Sonya pergi dari apartemennya, meninggalkan Maura yang masih tiduran manja di sofa dengan malas.


Ia menuju arena Olahraga dan Bermain, tempat kerja sosok temannya, siapa lagi kalau bukan korban lelaki buaya darat, yaitu Bulan. Itu menurut Sonya.


"Lan, serius. Awalnya, Langit nawarin kasih tahu informasi tentang agen tur, nah aku kan kebetulan juga lagi cari cari. Eh, ternyata eh ternyata, Langit ada di sana juga, bersama dengan seorang perempuan. Akrab lagi! Dan perempuan itu kasih tas gede banget!" Lapor Sonya dengan berapi-api.


Bulan termangu lama setelah Sonya menyampaikan laporan pandangan matanya mengenai Langit.


"Siapa perempuan itu? Apa kekasihnya yang dulu?" Bulan sibuk menebak nebak perempuan yang dimaksud oleh Sonya.


"Kemarin dia pulang bawa paper bag besar, nggak?" Tanya Sonya seraya merentangkan kedua tangannya lebar lebar memvisualisasikan ukuran paper bag besar tersebut.


Bulan menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


"Hiiihhh... Keterlaluan!" Celetuk Sonya dengan geram.


"Hhmmm Langit kok nggak cerita apa apa, ya?" Gumam Bulan pada dirinya sendiri, tapi malah terdengar oleh Sonya.


"Bodoh! Nggak mungkinlah dia cerita cerita. Bagaimana sih?" Timpal Sonya.


"Maksudku, aku bisa .." Bulan tak melanjutkan ucapannya, namun menatap ke arah Sonya, kemudian mengibaskan tangannya, lalu ia seakan tersadar akan sesuatu.


"Ah.. sudahlah!" Ia baru menyadari Sonya belum mengetahui yang sebenarnya.


"Kok sudahlah? Kamu harus segera bertindak dong!" Sonya setengah memaksa pada Bulan.


"Iya..." Sahut Bulan dengan malas.


"Hei, ayo kita ke tempat kerja perempuan itu! Kalau kamu penasaran wujudnya seperti apa." Tantang Sonya.


Lama lama hati Bulan tergerak juga. Tapi, maksudnya berbeda dengan yang dimiliki oleh Sonya.


" Jika benar itu kekasih lamanya Langit. Berarti Langit benar benar mencintai gadis itu."


Setelah menyelesaikan makan siang. Bulan dan Sonya pergi ke kantor Happy Fun Tour and Travel.


Tepat di depan kantor, Sonya mengajak Bulan untuk masuk untuk melabrak perempuan yang menjadi kekasih gelap Langit.


Tapi Bulan teringat sesuatu.


"Jika benar yang dilihat oleh Sonya adalah kekasihnya Langit, berarti dia tahu aku juga, dong. Ahhh nggak enak, jadinya!"


Bulan menoleh ke arah Sonya.


"Nya, kamu saja gih yang masuk. Terus kamu foto diam diam pakai hp mu." Saran Bulan sambil berbisik.


"Halah... Kamu ini, ngapain kamu repot repot kemari kalo begitu??!" Sahut Sonya dengan gemas ke arah Bulan.


"Aduh, Bulan, kenapa kita gak masuk saja?" Cecar Sonya dengan penuh emosi.


"Eee aku terlalu gugup." Bulan mengarang alasan. Sonya menatap Bulan sambil memutar bola matanya.


Lalu Sonya pergi keluar menuju masuk ke kantor agen tur itu.


Tak lama ia kembali lagi menemui Bulan yang menunggu di dalam mobil.


***


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2