
"Seharusnya aku tidak mengijinkan kamu menampung laki laki itu. Seharusnya aku mengusirnya saja. Seharusnya aku tidak permisif..!" Ucap Mario geram menahan amarahnya.
Wajah Bulan sudah tampak pasrah kali ini. Sudah lebih memelas seharian ini.
Berulang kali ia mengucapkan kata maaf untuk menunjukkan penyesalannya. Dan mungkin Mario pun telah bosan mendengarnya. Tapi hanya itu kali ini yang dapat diucapkan oleh Bulan.
"Mar, aku minta maaf, sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku benar benar sangat menyesal, Mar." Ucap Bulan lirih suaranya bergetar menahan tangisnya.
Berkali kali Mario hanya mendengus kesal sambil menghisap rokoknya.
Mereka terdiam sejenak dengan pikiran masing-masing saat itu. Bulan menghabiskan es kopi latte yang ia pesan di kafe, sedang Mario masih menghisap rokoknya. Entah sudah berapa batang rokok ia habiskan untuk menyalurkan emosinya.
"Mario..." Panggil Bulan sambil menelan ludahnya.
Mario menoleh ke arah Bulan dan menatap wajah kekasihnya itu.
"Eyang adalah segalanya bagiku. Saat aku masih kecil, saat Papa masih bekerja di pelosok pulau Kalimantan, dan Mama menyusulnya ke sana. Saat itu aku baru masuk SD dan Raka sudah SMP. Eyang Kakung dan Eyang Putri yang mengasuhku. Raka mungkin sudah kenyang dengan kasih sayang Mama dan Papa, tapi aku masih kurang, Mar.
Lalu saat Mama dan Papa sempat akan bercerai dulu, Eyang yang berperan mendamaikan mereka. Berkas gugatan yang sudah di pengadilan, akhirnya dicabut. Itu juga karena Eyang Kakung." Cerita Bulan pada Mario.
Tanpa sadar ia memilin milin ujung kemejanya hingga kusut, sekusut wajahnya saat itu.
"Ia sangat keras hati. Namun, kekerasan hatinya itu menyelamatkan keluargaku." Sambungnya.
"Dan kini, aku membuatnya mati lebih cepat dengan perbuatan bodohku itu." Imbuhnya sambil menutup wajahnya dengan tangan.
"Bukankah beliau sudah sakit sakitan?" Tanya Mario.
"Aku membuatnya bertambah parah." Jawab Bulan lirih.
"Maksudku, belum tentu kamu penyebabnya."
"Pasti karena aku, Mar." Sela Bulan.
"Ada dua hal yang membuatnya sanggup bertahan hidup dengan penyakit jantung yang diidapnya sejak lama. Yaitu Eyang Putri dan aku. Eyang Putri sudah meninggal, sekarang tinggal aku." Ucap Bulan lirih.
"Aku sudah membuat Eyang patah hati." Sambungnya sambil menunduk lesu.
"Kamu juga sudah membuat hatiku patah dan hancur." Sela Mario yang luar biasa kesal.
"Iya, aku sudah membuat semua orang patah hati. Aku memang kacau..." Suara Bulan nyaris hilang ditelan perasaan tertekan.
Setelah pengakuan dosa Bulan pada Mario di kafe siang itu. Bulan kembali ke rumah sakit sedang Mario entah pergi ke mana.
Bulan berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah gontai. Mario sangat marah dan kecewa juga padanya. Sama halnya dengan Eyang.
Berulangkali Bulan merutuki kecerobohan dan kebodohannya malam itu. Ia sangat menyesali kejadian malam itu, andai waktu dapat ia putar kembali..
Bulan mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan mengisi oksigen dalam paru-parunya supaya dapat berpikir dengan lebih jernih kali ini dalam membuat keputusan.
__ADS_1
Bulan kembali menuju ke ruang Eyang di rawat. Saat itu Eyang sedang tertidur. Bulan menatap wajah Eyang dengan penuh penyesalan.
"Aku tidak boleh mengecewakan Eyang lagi. Aku harus membuat semangat hidupnya kembali lagi seperti dulu. Maafkan Bulan, Eyang." Ucapnya dalam hati.
Mama menyuruh Bulan untuk pulang dan beristirahat dulu, malam nanti Papa dan Mama yang akan menjaga Eyang.
Mama kasihan melihat Bulan yang selalu menjaga Eyang kemarin selama belum sadar.
"Kamu istirahat saja dulu. Lagian kondisi Eyang kini makin membaik. Biar Papa dan Mama yang jaga Eyang hari ini."
"Baik Ma. Bulan pulang dulu. Jika ada apa apa dengan Eyang, kabari Bulan." Pamit Bulan.
Mama tersenyum sambil menepuk pundaknya.
Bulan menuju parkiran mengambil mobilnya dan menuju ke rumahnya, yang telah berhari hari tak terurus.
Dalam pikirannya ia terus terngiang-ngiang permintaan Eyangnya itu. Saat memejamkan mata pun, permintaan Eyang masih berputar putar di kepalanya.
****
Malam harinya Bulan mengendarai mobilnya menuju ke sebuah alamat. Ia menyusuri jalan dengan kecepatan lambat saat sudah memasuki jalan yang tertera dalam alamat itu. Ia mengemudi dengan lambat sambil menajamkan matanya mencari nomor yang tertulis di alamat itu.
Akhirnya ia berhenti tepat di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Maksudnya tidak sebesar rumahnya. Yang terlihat ada gundukan pasir dan batu, dan terlihat berantakan dan kotor karena belum selesai direnovasi.
Bulan mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang yang tinggal di dalam rumah itu.
Langit meraih ponselnya yang bergetar, tertera nama Bulan.
"Keluarlah, aku ada di luar." Sahut Bulan.
Bulan di luar rumah?
Langit tergopoh-gopoh keluar rumah.
Bulan bersandar pada pintu mobil, kedua tangannya dimasukkan ke kantong jaket. Alisnya naik.
"Hhhmmm.... Kamu tinggal di dalam rumah berantakan begitu?" Tanya Bulan sambil menggelengkan kepalanya.
"Di dalam tidak begitu berantakan kok." Sahut Langit sambil nyengir.
"Ada apa malam malam kemari? Oya, gimana Eyang?" Tanya Langit.
"Kita cari tempat duduk." Ajak Bulan sambil membuka pintu mobil.
"Di dalam mobil..?" Tanya Langit heran.
"Ikut saja dulu."
Langit menuruti permintaan Bulan. Lalu Bulan melajukan mobil ke sebuah kafe kecil yang terletak tidak jauh dari tempat itu.
__ADS_1
Ketika sampai di sana Bulan dan Langit mengambil tempat di dekat jendela. Mereka duduk bersebelahan.
Bulan menceritakan semua yang terjadi tadi siang. Permintaan Eyang yang sulit untuk tidak dipenuhi. Seakan itu adalah jalan untuk menebus dosa yang telah mereka perbuat. Lalu kemarahan dan kekecewaan Mario. Lalu Bulan telah mengambil keputusan yang terbaik dan terbesar untuk membuat Eyangnya kembali semangat menjalani hidupnya.
Keputusan yang akhirnya membuat Langit tercengang saat mendengarnya.
"Langit..?" Panggil Bulan menyadarkan Langit dari ketercengangannya.
"Oh, ya.. Anu... Aku.." Jawab Langit tergagap.
"Mungkin bagi Eyang lebih baik mati dari pada hidup dengan kehormatan tercoreng." Bulan menghela napas.
"Mengapa kehormatan hanya dilihat dari sisi itu dengan harga mati?" Imbuh Bulan sambil menerawang.
"Kalau itu konsekuensi yang harus kita tanggung, aku tidak bisa berbuat apa apa lagi, Lan." Sahut Langit pasrah.
"Bukannya mempermainkan arti sebuah pernikahan, tapi mempertaruhkan masa depan kita seperti ini saja sudah sangat berat. Aku tak sanggup kalau harus menjalani pernikahan secara sungguhan." Ucap Bulan.
"Maksudmu?" Tanya Langit sambil mengerutkankan keningnya.
Bulan merapikan posisi duduknya, lalu mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku sudah memikirkan ini baik baik. Kita menikah di hadapan Eyang, tapi kita tetap berteman."
"Maksudmu?" Langit makin menunjukkan wajah bingungnya.
"Iya. Kita tinggal serumah, tapi menjalani hidup masing masing, seperti dulu." Jawab Bulan.
"Begitu, Ya?" Langit manggut-manggut.
Bulan menjawab dengan anggukan kepala.
"Sampai berapa lama, Lan?" Tanya Langit kemudian.
Bulan terdiam agak lama sebelum menjawab.
"Sampai kondisi memungkinkan." Nada suara Bulan menggantung, karena ia sendiri pun tidak yakin.
"Lalu soal Mario?" Celetuk Langit.
"Aku sudah menyakiti dia, itu pasti. Aku menangis berhari hari, tapi rasanya tidak cukup, dan tidak akan pernah cukup..." Bulan tertunduk sedih.
Langit menatap Bulan, dipegangnya bahu perempuan di sampingnya itu.
"Bulan.."
"Ya?" Bulan menoleh.
"Kita pasti akan baik baik saja." Ucap Langit.
__ADS_1
Bulan mengatupkan bibirnya, tidak yakin.