
Bulan mengirim pesan whatsapp pada Mario, jika nanti mereka akan makan siang ikan bakar. Entahlah, kali ini tiba tiba dia ingin sekali menikmati hidangan ikan bakar yang disajikan dengan nasi hangat. Dan Mario pun menyetujuinya seperti biasa.
Namun, menjelang jam makan siang.
"Maaf, aku seperti agak terlambat. Ada meeting mendadak ini." Suara Mario terdengar bisik bisik seolah saat itu sedang bersama orang lain dan tak ingin terdengar.
"Huh...!" Dengus Bulan dengan kesal.
Dimatikan panggilan ponselnya dengan malas.
Siang ini harusnya Bulan dan Mario makan siang bersama di sebuah restoran ikan bakar langganan mereka.
Sudah beberapa hari ini Bulan ingin sekali menikmati ikan bakar, kali ini tingkat keinginannya menyerupai ngidam. Bulan hanya ingin menikmati ikan bakar dari restoran itu.
Namun, Mario baru saja menghubunginya, dan mengabarkan bahwa, dia terlambat menjemput Bulan karena mendadak dipanggil oleh atasannya. Padahal Bulan saat ini sudah menunggu di lobi kantor. Ia siap berlari ke depan, kala Mario datang. Biasanya Mario menjemput di pintu masuk, tidak sampai di lobi, supaya tidak ada yang tahu, terutama Eyang.
Karena malas kembali ke ruangannya, Bulan memilih untuk duduk dan melamun di lobi.
"Sedang menunggu tamu, Mbak?" Sapa seorang satpam pada Bulan yang duduk terpekur di lobi kantor.
Bulan menoleh ke arah suara. Ternyata Pak Aji, satpam senior, bahkan tertua di kantor ini. Atau mungkin di dunia? Dengan rambut didominasi warna putih dan kulit yang sebentar lagi didominasi keriput.
Pak Aji selalu memanggil Bulan dengan sebutan Mbak, panggilan sejak Bulan magang di kantor Eyangnya itu. Dia sangat ramah kepada siapa saja, terutama pada Bulan, yang merupakan keturunan sang pemilik tempat itu.
"Oh, Pak Aji. Nggak, Pak." Sahut Bulan sambil tersenyum.
"Nggak makan siang?" Tanyanya kemudian.
"Rencananya sih mau makan siang. Tapi, ini sedang menunggu dijemput teman." Jawab Bulan dengan wajah lesu. Membuat Pak Aji ikutan duduk di dekat Bulan.
"Maaf, boleh lihat tangan kirinya Mbak Bulan?" Ucap Pak Aji. Yang sontak membuat Bulan terbengong-bengong. Namun, diulurkannya juga.
Pak Aji mulai mengamati telapak tangan kiri Bulan yang terbuka. Dimiringkannya sedikit, lalu mengamati dengan seksama.
"Ada dua pria dalam hati Mbak Bulan saat ini." Tutur Pak Aji. Dahinya mengernyit menatap tangan Bulan.
Mata Bulan terbelalak kaget. Semula ia mengira itu hanya candaan saja. Tapi, dilihatnya, Pak Aji memasang mimik wajah serius.
"Pak Aji bisa membaca garis tangan, ya? Wahhh... Hebat, nggak nyangka!" Ujar Bulan antusias.
"Meskipun saya cuma jadi satpam, tapi, ilmu harus luas. Dan saya tertarik untuk mendalami dan mencapai tingkat spiritual yang tinggi." Jawab Pak Aji menerangkan.
Bulan manggut-manggut mendengar ucapan Pak Aji.
"Pokoknya, Mbak Bulan buka mata dan hati lebar lebar." Pak Aji kembali membahas tentang garis tangan Bulan yang tadi.
__ADS_1
"Hah..?" Semula Bulan belum nyambung.
"Ooooh, saya.." Ucapnya kemudian saat otaknya mulai nyambung dan bekerja kembali.
"Salah satu dari mereka adalah pasangan sejati Mbak Bulan. Oleh karena itu, Mbak Bulan harus buka lebih lebar mata dan hati. Karena jawabannya ada di sana." Pak Aji terus memberi wejangan.
"Hah..! Dua pria? Pasangan sejati? Jawaban...? Halooo?"
Bulan hanya melongo, tidak yakin apakah ramalan ini benar ditujukan untuknya.
"Pikiran Mbak Bulan saat ini sedang tidak tenang. Hati hati, jangan sampai stres." Pak Aji mengingatkan.
"Tapi.." Belum sempat Bulan menyelesaikan kalimatnya, HT yang digenggam Pak Aji memanggil.
"Maaf, Mbak, saya permisi dulu."
Bulan hanya mengangguk, namun ia masih bingung. Ia masih terkesima dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Pak Aji." Panggil Bulan kemudian.
"Terima kasih, ya. Lain kali boleh, kan minta nasihatnya lagi?" Ucap Bulan.
"Silahkan kapan saja." Sahut Pak Aji sambil tersenyum hangat.
Saat ini, Mario dan Langit adalah dua pria yang dekat dengan dirinya. Tentu saja Eyang, Papa, dan Raka juga dekat dengan dirinya. Namun, dalam kasus ini, mereka nggak dihitung. Ini kan mengenai tantang pencarian pasangan sejati.
"Hmmm... Pasanganku kan sudah jelas." Gumam Bulan bingung.
Akhir akhir ini, memang Bulan sering memikirkan Langit. Tepatnya ketika Langit kembali menjalin hubungan dengan kekasihnya, Syaharani.
Bulan dan Langit menjadi jarang bertemu, tidak pernah makan bersama lagi, atau sekedar belanja bersama ke swalayan. Akhir akhir ini mereka jarang bertemu. Bahkan untuk mengobrol panjang lebar seperti biasa, akhir akhir ini hampir tidak pernah.
Bulan merasa sedikit kesepian. Namun, memang Bulan merasa tidak menempatkan Langit di dalam hatinya dalam posisi yang sama dengan Mario.
Pikiran Bulan terbelah, sampai sampai dia melupakan ngambeknya saat Mario akhirnya membatalkan janji makan siang bersama.
Akhirnya, Bulan memesan menu melalui aplikasi ojek online untuk mengisi perutnya siang itu.
Sepulang dari kantor, Bulan mampir ke rumah Maura untuk menceritakan kejadian saat ia bersama Pak Aji tadi siang.
"Hah, serius, beneran, kamu diramal seperti itu? Aneh." Kata Maura sambil mengerutkan keningnya.
"Betul, aneh!" Bulan menimpali setuju.
"Kamu kan cintanya untuk satu orang saja. Dan yang namanya pasangan sejati itu kan keduanya harus saling mencintai. Tapi kenapa di ramalannya ada dua? Berarti..." Maura mengacungkan telunjuknya ke muka Bulan sambil tersenyum geli.
__ADS_1
"Kamu... Jatuh cinta pada pria lain ya? Hayoo..!" Tebak Maura sambil terkikik geli.
"Ah, itu kan cuma ramalan. Masih diragukan kebenarannya. Aku juga masih setengah percaya saja." Bulan langsung menepis.
"Ih, katamu si Pak satpam itu punya pencapaian spiritual yang tinggi. Itu artinya jam terbangnya sudah tinggi, dan tingkat keampuhannya sudah diakui. Kamu kan yang bilang gitu tadi. Iya, kan? Gimana sih?" Gerutu Maura.
Sebelum Bulan mulai membantah lagi, Maura langsung menatap Bulan. Dipegangnya pipi Bulan.
"Bulan, ini cuma Maura, ayo sudahkan isi hatimu yang terdalam...!" Maura menatap mata Bulan.
"Sumur kali, dalaaammm!" Sahut Bulan sambil melengos.
Maura hanya terkikik geli meneruskan bujukannya.
"Ayolah, mungkin membagi ceritamu yang membagi cinta bisa membuatku merasa jadi wanita yang lebih baik. Ya lebih baik darimu..!" Ledek Maura sambil terkekeh.
Bulan memencet hidung temannya itu dengan gemas.
"Sembarangan kalau ngomong! Aku nggak membagi cinta, tau! Cuma sesekali kepikiran Langit. Aku juga jarang ngobrol sama dia akhir akhir ini." Ujar Bulan sambil menerawang.
"Jadi... Bener nih?" Selidik Maura.
"Maura, tolong dengarkan baik baik ya... ENG-GAK!" Sahut Bulan ketus.
Maura malah semakin nyengir lebar.
"Eh, waktu di ulang tahunmu kemarin, aku lihat Langit mesra banget saat mencium kamu." Balas Maura.
"Itu hanya akting doang, tau!" Sahut Bulan. Namun, pipi Bulan langsung terasa panas karena diingatkan adegan itu.
"Hhhmm... Aku tau, kamu salah tingkah waktu itu!" Tukas Maura sambil terkikik geli.
"Maura...!" Teriak Bulan sambil melempar boneka ke jidat Maura.
Namun, Maura makin semangat melanjutkan ledekannya.
"Maafkanlah...karena aku.. cinta kau dan diaaa..!" Maura menyanyikan lagunya Ahmad Dhani dengan lantang sambil menyeringai.
Bulan semakin gemas dibuatnya.
PLUUUKKK....
Bulan melempari Maura dengan boneka, bantal, guling, sandal, selimut, sampai kotak make up.
Maura hanya terkekeh sambil menghindari lemparan Bulan.
__ADS_1