(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Perjanjian Pranikah


__ADS_3

Siang itu Maura menemani Bulan berbelanja beberapa pakaian untuk pernikahan, mulai dari acara akad hingga resepsi. Bulan dan Maura tengah berada di mall ternama di Jakarta, dengan butik butik rancangan desainer kenamaan ada di sana.


Namun, seperti biasa, ketika Bulan yang memiliki acara, seolah dia lah yang menemani Maura. Maura selalu sibuk memilih sana sini.


"Wahhh... Baju bajunya lucu lucu!" Seru Maura dengan mata membesar, dan seperti gerakan refleks, dia membelokkan langkah memasuki toko yang terbentang di depan matanya.


Beberapa langkah di belakangnya, Bulan direpotkan antara membawa tas tas belanjaan yang lumayan berat dan harus menerima panggilan ponsel yang beruntun ia terima.


Bulan meninggalkan urusan kantor gara gara Maura memaksanya ikut dalam sebagian urusan persiapan pernikahannya, meskipun ia telah menunjuk wedding organizer untuk merancang acaranya.


Namun, urusan penampilan dan make up, Bulan serahkan pada Maura yang memiliki kenalan make up artist ternama yang sering dan terbiasa mendadani model dan artis kenamaan.


Efeknya siang ini, seperti sekarang, Bulan harus pontang-panting menerima panggilan telpon yang tak henti hentinya masuk untuknya.


"Buat apa aku memintamu kalau akhirnya harus meninggalkan kerjaan di kantor?!" Protes Bulan. Tapi dia tak dapat berkutik lantaran Maura mengancam akan melepaskan bantuannya begitu saja dan meninggalkan Bulan dengan segala keribetannya. Yang ujung ujungnya ia harus menuruti kemauan rencana Mamanya untuk mengadakan pesta pernikahan yang megah dan mewah ala sultan atau selebriti terkenal itu.


"Dengar ya, aku ga rugi apa apa. Kamu yang bakal kerepotan jadinya." Ucap Maura sambil melenggak-lenggok masuk ke sebuah butik ke butik lain.


Bulan celingukan mencari temannya itu. Ia memutar arah tubuhnya hingga 360 derajat untuk mencari sosok Maura.


"Huhh... Hilang lagi tuh orang. Menjengkelkan!" Gerutu Bulan sambil terus melangkah dan matanya mencari cari sosok Maura.


Sejak tadi Maura selalu ngeloyor tanpa memberitahu dulu kemana arahnya. Saat Bulan hendak menghubungi nomor ponsel sahabatnya itu. Matanya menangkap sosok Maura di dalam toko baju tidur, beberapa langkah dari tempatnya berdiri saat ini.


Maura berdiri menghadap ke arah Bulan sambil menunjukkan sehelai pakaian dari balik kaca. Bulan menghela napas panjang melepas kejengkelan, lantas menuju ke arah temannya berada.


"Bulan, lihat nih lucu lucu bajunya!" Celoteh Maura dengan tampang gemas mematut matut beberapa model pakaian.


"Iya, lucu. Tapi, tidak masuk agenda hari ini." Sahut Bulan dengan nada datar.


"Aduh, kamu sudah seperti sekretaris saja. Ayo, di sana ada yang cocok untukmu." Maura menyeret Bulan dan menunjukkan dua model baju tidur dengan warna dan motif sama. Berwarna biru langit dan motif awan putih. Satu model untuk laku laki dan perempuan.


"Nah, ini cocok untuk kalian berdua. Kelihatan kompak, tidur seranjang dengan motif yang sama." Kikik Maura sambil memegang pakaian pasangan itu dengan penuh semangat. Bulan melirik tidak tertarik sama sekali.


"Kamu beli ini ya. Bagus banget loh, Lan." Desak Maura seraya merangkul Bulan.

__ADS_1


"Iihhh. Apaan sih Maura. Kami bukan pasangan. Tidak ada acara tidur seranjang, tahu!" Sahut Bulan jengkel. Setelah selesai mengucapkan itu, Bulan menutup mulutnya dengan tangan. Menyadari ia keceplosan. Mau tak mau ia jadi membuka rencana rahasianya.


Dengan merendahkan suaranya ia menambahkan. " Aku dan Langit tidak bisa jadi pasangan sungguhan." Bisik Bulan pada Maura.


Mendengar penuturan temannya barusan, Maura menunjukkan gejala shock. Gerakan tubuh, kedipan mata, dan napasnya terhenti seketika.


"Jadi... Jadi... Ini semua...." Suara Maura mengambang.


BRUUUUKKKK....


"Maura...!" Pekik Bulan melihat Maura terduduk lemas terkulai di lantai toko pakaian itu.


"Ra, kamu ini apa apa sih?" Omel Bulan sambil menarik lengan Maura untuk berdiri sebelum orang orang mengerubuti mereka. Bulan sangat malu melihat sahabatnya itu.


"Aku shock!" Gumam Maura masih dalam posisi duduk di lantai toko.


"Iya, tapi kamu berdiri dulu dong!" Bujuk Bulan.


"Jadi, selama ini aku benar benar membantu persiapan pernikahan kamu, yang ternyata tidak sungguh-sungguh..." Ucap Maura menerawang sambil berusaha menegakkan badannya dibantu Bulan.


Maura mengibaskan tangan.


"Ahhh, sudahlah!" Kemudian melenggang keluar toko pakaian itu meninggalkan Bulan yang masih berdiri di sana sambil geleng-geleng kepala.


Sambil berjalan, Maura hanya diam. Bulan jadi khawatir jangan jangan Maura tak lagi mau membantunya.


Saat berjalan melewati sebuah kafe, tanpa aba aba, Maura membelokkan tubuhnya masuk ke kafe itu. Bulan yang mengikuti, tergagap sesaat, hingga menjatuhkan tas tas belanjaan mereka. Ia memunguti kembali tas belanjaan itu, lalu mengikuti temannya. Ia tak habis pikir dengan tingkah Maura yang sampai segitunya.


"Oh Tuhan, bantulah aku! Mudahkanlah jalanku, jangan sampai temanku ini ngambek!" Gumam Bulan sebelum menyusul Maura masuk ke kafe.


"Ra..." Ucap Bulan setelah duduk berhadapan dengan minuman masing-masing.


"Aku hanya kaget sebentar, jangan khawatir. Aku akan tetap membantumu hingga selesai. Tapi, kamu harus jelaskan semua ini dengan lengkap dan tidak ada rahasia rahasiaan lagi!" Potong Maura.


Bulan menghela napas lega.

__ADS_1


"Iya, iya. Tapi, kamu harus simpan rapat rapat semua ini." Jawab Bulan.


Bulan menceritakan rencananya usai menikah dengan Langit. Mereka akan menikah untuk beberapa lama hingga Eyang terlihat lebih baik. Lalu setelah selesai, ia akan kembali pada Mario yang berjanji akan menunggu.


Selesai Bulan bercerita, Maura geleng-geleng kepala.


"Dengar, ini adalah hal paling gila yang pernah aku dengar, dan aku ikut terlibat di dalamnya! Kamu gila! Langit gila! Mario juga gila!" Ucap Maura gemas.


Bulan mengendikkan bahu sambil menyeruput kopinya.


"Demi hidup Eyang, aku nekat melakukan apa saja, Ra." Sahut Bulan.


"Kalau kamu tidak sungguh-sungguh dengan pernikahan ini, sebaiknya kamu membuat semacam perjanjian terlebih dahulu dengan Langit." Ucap Maura sambil memajukan badannya menopang pada meja.


Bulan mengerutkan dahinya.


"Kami sudah sama sama sepakat mengenai segala sesuatunya." Jawab Bulan.


"Maksudku perjanjian resmi, di atas materai, soal harta, hak dan kewajiban, terutama soal harta." Maura menganguk angguk menyakinkan dengan mata membulat.


"Ah, kamu kebanyakan nonton film!"


"Ih, kamu!" Maura menunjukkan wajah serius.


"Kamu tidak tahu ke depannya akan seperti apa kan? Apa yang akan menimpa kamu. Perjanjian seperti itu mencegah segala kemungkinan yang bisa membuatmu mengalami kerugian baik materi atau pun yang lainnya." Sambung Maura.


Bulan menjauhkan wajahnya dengan ekspresi tak habis pikir.


"Percaya deh sama aku!" Tutur Maura berlanjut.


"Tanteku itu pengacara, aku jadi lumayan tahu soal seperti itu, bukan hanya dari film. Jika itu semua tidak diatur dulu, kadang ada beberapa hal yang secara teknis akan jatuh ke tangan pasangan. Hati hati itu! Mengingat kalian bukan pasangan sungguhan, iya kan?" Sambung Maura meyakinkan.


Kerut kerut dahi Bulan bertambah.


Dalam hatinya ia sependapat dengan Maura, namun ia ragu. Apakah Langit akan setuju atau bahkan malah akan tersinggung dengan urusan perjanjian itu.

__ADS_1


__ADS_2