(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Tidak Sesuai Rencana


__ADS_3

"Kabar apa yang ingin kamu sampaikan padaku, Sayang?" Tanya Mario saat jam makan siang di restoran langganan mereka siang itu.


"Aku sudah memutuskan untuk memberi jangka waktu untuk hubunganku dengan Langit. Maksudku, status pernikahan kami." Jawab Bulan sambil mencomot ikan bakar kesukaannya.


"Jangka waktu?"


"Ya. Aku telah memberikan penawaran pada Langit usia hubungan kami. Dan yang ada dalam pikiranku adalah angka dua tahun, lalu setelah itu kami berpisah secara baik baik."


"Hah... Dua tahun??!" Mario tercengang dan spontan mengeraskan suaranya.


"Aku belum berpikir sejauh itu, Lan. Kamu hanya berpikir, melihat kepentinganmu sendiri, tanpa melihat kepentinganku. Apakah kamu berpikir menanyakan hal itu padaku sebelumnya? Tidak, kan? Kamu telah memutuskannya sendiri." Ucap Mario dengan penuh emosi.


"Huh...!! Kamu membuatku tak berselera makan lagi!" Dengus Mario dengan kesal sambil melempar serbet ke atas meja.


Bulan hanya terdiam menatap Mario yang marah dan kecewa padanya.


"Tapi, jika kita tetap menjalin hubungan seperti ini, maka tak akan terasa, Mar." Sahut Bulan lirih.


"Tak terasa? Bagimu. Bagiku sangat terasa. Kamu pikir aku tidak merasa apa apa, saat kamu tinggal berduaan dengan pria lain, hah?!"


"Tapi kami terpaksa, Mario." Semua Bulan dengan kesal, karena Mario seolah tak bisa memahami perasaannya.


"Selama itu, kamu juga gak memikirkan perasaanku? Dua tahun itu bukan waktu yang singkat, Lan?!" Mario mendengus dengan kesal. Bulan hanya terdiam mendengar Mario.


"Sudah. Terserah kamu saja. Lakukanlah sesukamu. Kamu memang egois!" Ucap Mario dengan kesal, sambil meninggalkan Bulan sendiri.


"Mar... Mario...!" Panggil Bulan.


Akhirnya, Bulan pulang sendiri dengan menggunakan taksi online menuju kantornya. Dan selepas itu ia tidak bisa konsentrasi bekerja karena memikirkan ucapan dan kemarahan Mario padanya. Ia pikir akan mudah dan lancar seperti saat menawarkan pada Langit.


Sore hari sesampainya di rumah. Hati Bulan kacau balau, antara marah dan terpukul gara gara Mario. Setelah itu, Mario sama sekali tak membalas pesannya, telponnya pun tak diangkat. Bulan sadar ia tak berhak marah kepada kekasihnya itu.


Bulan duduk termenung dalam kegelapan di dapur. Tangannya memainkan kaleng kopi yang sudah diminum setengahnya dalam hitungan detik.


Bulan masih terngiang-ngiang semua ucapan Mario tadi. Sebelumnya, Bulan memang sudah menduga Mario akan keberatan dengan keputusannya. Namun, ia tak menduga tanggapan Mario akan memukulnya, membuatnya menjadi manusia paling egois sedunia.


"Itu sudah menjadi konsekuensimu, Bulan. Untuk menelan mentah mentah semua kekecewaan Mario. Kamu sendiri yang membuat semua gara gara ini, kan?" Rutuk Bulan pada dirinya sendiri dengan getir.


Lalu ia melangkah gontai dan mengurung diri dalam kamarnya.


***

__ADS_1


Malam itu, Langit tak dapat memejamkan matanya. Mata dan otaknya enggan diajak untuk beristirahat bersama. Bersama siapa? Ya bersama pemiliknya lah..


Langit akhirnya memutuskan untuk bangun, meraih sebatang rokok dan pemantik, lantas keluar kamar. Ia berjalan ke pojok belakang rumah. Tepatnya ke tempat jemuran.


Sambil berjongkok, ia memainkan kepulan asap yang keluar dari hidung dan mulutnya.


Sebenarnya, Langit tidak merokok. Hanya saja, akhir akhir ini dia dikelilingi oleh teman teman yang perokok. Di saat pikirannya sedang suntuk dan perasaannya seperti daun daun yang melayang layang di udara, yang tinggal menunggu angin kencang meniupnya kencang, dan membuatnya jatuh dan mendarat di suatu tempat di permukaan bumi ini.


Karena capek berjongkok, Langit mengambil bangku di dapur dan dibawa ke tempat jemuran dan melanjutkan aksi merokoknya.


Saat ini hatinya sedang tidak tenang. Ia memang gembira dan senang Syaharani memberinya kesempatan untuk bersama lagi. Namun, tanpa bisa dicegah pikirannya kerap tertuju pada rumah dan kepada Bulan.


Bukan hanya saat ia sedang sendiri, bahkan saat sedang bersama Syaharani sekali pun. Langit menjadi merasa bersalah pada Syaharani, meskipun kekasihnya itu tak menyadarinya.


"Nah, Lo, ketahuan.... Bandel!" Teriak Bulan tiba tiba.


Langit terkesiap kaget mendengar suara tiba tiba menyeruak di dekatnya.


Tak ayal dia melonjak bangun dari duduknya dan menjatuhkan rokoknya, dia injak injak, tapi kepalanya tetap menatap lurus ke arah Bulan.


"Telat! Baunya sudah ke mana mana, tau..!" Lanjut Bulan, tangannya sambil mengucek ngucek matanya.


"Idih, skenariomu saja! Skenarioku kan lain." Bulan berkelit.


"Selain karena skenarionya, ada apa bangun tengah malam begini?" Tanya Langit.


Bulan menyandarkan kepala dan tubuhnya ke tembok.


"Tiba tiba terbangun, terus nggak bisa tidur lagi. Lagi sedih..."


Bulan menunduk, lagi lagi mengucek matanya. Kemudian terdengar isakan.


Langit menghampiri Bulan. Tangannya menelangkup kedua telinga Bulan, mendongakkan kepala gadis di depannya itu.


"Ya ampun, pakai acara menangis segala." Komentar Langit. Isakan Bulan bertambah keras.


Ia menundukkan tubuhnya ke tubuh Langit dan menangis di dadanya.


"Huwaaaaaaaaaa...!" Tangisan Bulan semakin kencang.


Perasaan Langit menjadi terenyuh. Terhadap Bulan, terhadap dirinya sendiri, dan pada adegan ini. Karena tangisan Bulan tak kunjung reda, tangan Langit merengkuh tubuh Bulan, dan mengelus lembut rambut gadis yang telah menjadi istri sahnya tersebut. Rambutnya harum shampo lembut sekali.

__ADS_1


Perlahan Langit membimbing Bulan masuk dalam rumah. Lama mereka tak mengucapkan sepatah kata pun. Langit membiarkan Bulan menangis, masih dalam pelukannya, di sofa.


"Langit, tolong katakan sesuatu untuk membuatku tenang." Cetus Bulan kemudian, sambil terisak.


"SESUATU." ucap Langit.


"Hahaha...." Bulan tertawa sambil melepaskan dirinya dari dekapan Langit.


Wajahnya masih basah dengan air mata yang banjir tadi, hidungnya memerah, tampak lucu.


"Sudah tenang?" Tanya Langit sambil menatap Bulan.


"Bodoh." Celetuk Bulan sambil nyengir.


"Oya, tadi aku beli ikan bakar di restoran, kamu pingin banget, kan?" Ujar Langit.


Duh, kenapa Langit yang berbuat hal manis seperti ini? Kenapa bukan Mario?


Mata Bulan semakin berkaca kaca.


"Tadi pas aku pulang, kamu sudah masuk ke kamar. Sudah tidur. Eh, kita makan sekarang saja, yuk." Ajak Langit sambil berdiri, lalu ia ke dapur.


Langit mengambil ikan bakar yang ia masukkan ke kulkas, dan memanaskan kembali di microwave beberapa saat.


"Langit, kenapa kamu perhatian banget sih?" Tanya Bulan sambil memperhatikan Langit yang sibuk menyiapkan ikan bakarnya.


"Itu karena aku sudah menganggap kamu bukan orang lain lagi." Sahut Langit sambil menaruh ikan bakar yang sudah dipanaskan di atas meja makan.


Bulan tertegun mendengar jawaban dari Langit.


"Maksudku, kamu adalah teman terbaik dan terdekat saat ini yang aku temui setiap hari. Otomatis aku nggak bisa memalingkan muka dan menutup telinga begitu saja darimu." Langit buru buru menjelaskan ucapnya tadi.


"Huwaaaaaaaaaa....!" Bulan kembali menangis keras.


"Kenapa Langit yang selalu bisa berbuat manis dan baik padaku di saat aku sedang sedih gini?


Kenapa bukan Mario? Kenapa Mario selalu cuek padaku?"


Mendengar Bulan kembali menangis, Langit menjadi serba salah.


"Waduh! Apa aku salah menjawab ya...?"

__ADS_1


__ADS_2