(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Bertemu Mantan, Pikiran Kacau


__ADS_3

Langit masih berkeliling melihat-lihat pameran di atrium mall itu. Matanya melayangkan pandangan ke sekelilingnya mencari sesuatu.


Happy Fun Tour and Travel.


Nah, ini dia. Langit berdiri, berhenti di depan stand tersebut. Seorang pegawai sedang melayani dua orang pengunjung, lalu ada beberapa orang yang sedang melihat lihat brosur di sana.


Langit menghela napas sedikit kecewa. Bukan Syaharani yang ada di sana. Terselip rasa kecewanya di benaknya, karena sebenarnya ia sangat ingin melihat gadis itu. Semenjak putus, Syaharani menolak untuk dihubungi.


Memang, tidak sampai memblokir nomor Langit, tapi setiap whatsapp hanya centang dua dan tak pernah dibaca. Entah sengaja langsung dihapus atau telah dibaca, namun, tak ingin membalas.


Langit pun, tak ingin membebani dengan menghubungi dengan telpon. Ia tahu Syaharani, tidak suka diganggu dengan suara telpon. Ia lebih suka membaca pesan. Bahkan sosial medianya sudah tak ada lagi foto Langit terpajang di sana.


Langit memiliki Instagram, hanya ingin melihat Syaharani, ia merindukan gadis itu.


Langit masih berdiri termangu di depan stand itu.


Entahlah, tak ada gadis yang dirindukannya di sana. Apakah dia telah tidak bekerja lagi di sana? Langit masih penasaran. Ia hendak bertanya pada pegawai yang ada di sana.


Tapi, Langit mengurungkan rasa penasarannya. Lalu ia membalikkan tubuhnya, untuk melangkah pergi.


Saat itu lah, Langit tepat berhadapan dengan Syaharani, yang belum menyadari keberadaannya karena berjalan menunduk sambil merapikan gulungan lengan kemejanya.


BRUK..


Ia menabrak seseorang.


Syaharani menabrak Langit yang tepat berdiri di hadapan. Ia mendongak dan untuk sejenak ia diam mematung menatap Langit.


"Hai!" Sapa Langit sambil mengangkat telapak tangan kanannya.


Syaharani disergap kebengongan yang tak bisa ia sembunyikan.


Matanya menatap lekat lekat sosok Langit, pria yang pernah singgah dalam hidupnya. Pria yang membuat hatinya porak poranda, hingga saat ini.


Bagai mimpi, ia bertemu dengan Langit saat ini. Yang sejujurnya, ia masih sangat memendam rasa pada pria itu. Dalam hatinya masih ada tempat untuk Langit. Karena ia pun tak tahu, alasan sesungguhnya, mereka harus berpisah.


"Lama tak ketemu." Ujar Langit memecah kebekuan. Syaharani masih tetap terdiam.


"Sedang tugas?" Sambung Langit.


Syaharani menjawab dengan anggukan kepala.


Syaharani mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan. Berusaha menguasai dirinya sendiri.


"Mau berlibur?" Tanya Syaharani akhirnya. Dia masih merasa gugup dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

__ADS_1


Berulang kali Syaharani hanya diam mematung di hadapan Langit. Ia memaki dirinya yang terlibat bodoh di depan pria yang pernah mengisi hatinya itu.


"Oh, nggak. Aku hanya lagi mengantar adikku jalan jalan." Sahut Langit sambil tersenyum.


"Loh, mana adikmu?" Tanya Syaharani sambil melemparkan pandangan ke sekeliling. Lumayan, akhirnya ia mendapat alasan untuk tidak memperhatikan Langit terus.


"Oh, eh, dia lagi ke butik..." Langit tidak tahu nama butiknya.


"Masih di lantai ini juga kok." Imbuhnya kemudian.


"Kok ditinggal. Nanti kesasar lagi." Ucapan halus Syaharani untuk mengusir Langit karena ia tidak tahan ditatap Langit senanar ini lebih lama lagi.


"Nggak sendiri kok. Ada Bu.... Eh.. ya... Sama temanku juga." Sahut Langit hampir keceplosan menyebut nama Bulan.


"Aku harus kerja lagi. Maaf.." Pamit Syaharani.


Langit menjawab dengan anggukan kepala. begitu Syaharani membalikkan tubuhnya, Langit memanggilnya.


"Rani.."


Syaharani menoleh. "Ya?"


"Senang bisa bertemu denganmu lagi. Aku.."


"Maaf aku benar benar harus bekerja sekarang, Maaf. Selamat jalan jalan." Potong Syaharani mengakhiri pembicaraan dan bergegas kembali ke stand tempat ia bekerja. Ia menyibukkan diri dengan pengunjung.


Syaharani menghembuskan napas panjang seraya menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Kini, rasa rindu dan sakitnya makin bertambah setelah bertemu dengan Langit.


***


Pulang dari jalan jalan, Bulan mengatur posisi.


"Ini kamar kalian. Tempat tidurnya sih muat untuk dua orang, tapi agak mepet." Ucap Bulan pada kedua tamunya di akhir malam.


"Kalau mau longgar, salah satunya di kamar depan, bersama Bulan. Aku bisa tidur di sofa." Timpal Langit. Bulan hanya melirik ke arah Langit.


"Nggak usah." Sergah Mawar cepat.


"Kita di sini saja. Kita nggak mau menggangu.." Tambahnya sembari nyengir. Sita hanya terkikik geli. Bulan dan Langit saling melirik dengan arti tersendiri.


Langit dan Mawar ngobrol di ruang tengah untuk beberapa saat. Sedangkan Sita langsung terlelap begitu mencium bantal.


Bulan merebahkan diri di kamar. Untuk dua malam ini, dia meliburkan diri mengenakan seragam tidurnya yang yang minimalis.


Bulan merasakan baru terlelap sejenak, ia mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya.

__ADS_1


Bulan yang masih mengantuk, dan malas ia menuju pintu dan membuka pintu.


"Hah! Sudah pagi ya?" Tanya Bulan pada Langit saat membukakan pintu.


Langit menggaruk garuk kepalanya saat Bulan membukakan pintu kamar.


"Aku tidak bisa masuk, pintunya terkunci." Ucap Langit geleng geleng kepala.


"Maaf." Bulan menyadari kelalainya barusan.


"Apa laporan pandangan mata, seorang istri mengunci kamar sehingga suaminya dibiarkan terlunta lunta tidur di luar." Celetuk Langit dengan iseng sambil melangkah masuk dan menutup pintu kamarnya.


Bulan tertawa terbahak-bahak sambil melempar bantal ke arah Langit.


Ia lalu meloncat kembali ke atas tempat tidur, menarik selimut, mencoba meringkuk mencoba mengabaikan keberadaan Langit dalam kamar itu, terlebih kini mereka tidur di tempat yang sama.


Sedangkan Langit juga merebahkan tubuhnya di tempat tidur itu. Membuat memori otaknya teringat akan hal yang membuat mereka sampai ke tahap seperti ini. Tempat ini adalah tempat kejadian perkara yang membuatnya harus menjalani lingkaran hidup yang ia jalani kali ini. Sebuah pernikahan yang hanya di atas kertas saja.


"Lan, sepertinya kita, eh, aku harus membeli kasur lipat." Ujar Langit.


"Hmmm... Ya, setuju sekali." Sahut Bukan dengan cepat.


Kali ini Bulan sedang berkonsentrasi untuk menghipnotis dirinya supaya dapat tidur sesegera mungkin.


Sementara Langit masih setia dengan pemikirannya yang berkecamuk.


Syaharani mau diajak berbicara tadi. Apa dia sudah bersedia kalau aku menghubunginya, ya? Tapi, bisa jadi itu hanya basa basi.


Langit mengubah posisi tubuhnya, menghadap ke arah Bulan yang memunggunginya. Ia menggeser badannya menjauhi hingga benar benar berada di pinggir tempat tidur. Matanya menerawang.


Ternyata tidak gampang harus tidur seranjang dengan perempuan seperti ini. Andai saja dulu bisa mengendalikan diri, tidak sampai kehilangan kesadaran, tidak berbuat macam macam...


"Langit!" Panggil Bulan mengejutkan Langit.


Langit terkesiap kaget, secepat mungkin membalikkan badan takut ketahuan.


BRUKK..


"Hah!" Mata Bulan seketika membuka lebar.


"Langit!" Bulan menegakkan punggungnya. Kepala Langit nongol dari pinggir bawah tempat tidur, meringis menahan sakit. Bulan tak bisa menahan tawanya kali ini.


"Kok bisa jatuh sih?" Celetuk Bulan masih bingung sambil terkikik.


Langit berusaha naik ke tempat tidur, duduk bersandar sambil menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Enak tidak?" Ledek Bulan kemudian.


"Sialan! Bukannya tanya sakit atau nggak?!" Protes Langit bersungut-sungut.


__ADS_2