(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Pasrah


__ADS_3

Bulan merasa dunianya telah runtuh. Rasanya ia telah terperosok dalam tanah dan lebur jadi debu. Ia tertunduk menyesali perbuatan bodohnya semalam. Seandainya ia tidak terlalu banyak minum, seandainya ia langsung masuk ke kamar, seandainya ia tak meladeni Langit, seandainya... seandainya yang lain...


Mama Papa Bulan hanya menatap putrinya dengan tatapan tajam, apalagi Eyang Kakung. Meskipun hanya terdiam, Bulan tahu Eyang sangat marah padanya.


"Kalian menikah!" Seru Eyang memecah keheningan saat itu.


"Apa-apaan?" Sontak Bulan tercengang.


Tiba-tiba Eyang menghampiri Bulan dan menatapnya tajam.


PLAKKK....


Eyang menampar Bulan. Sontak semua terkejut. Saking terkejutnya, semua hanya tercengang menahan napas dan terdiam. Kepala Bulan tertunduk dalam dalam, matanya tak dapat ditahan untuk tak basah. Ia menangis.


"Sudah punya kekasih, berani tidur dengan lelaki lain?! Kamu serong, hah...!!" Bentak Eyang pada Bulan.


"Mana kehormatanmu sebagai perempuan, hah..!" Sambung Eyang.


Bulan terisak mendengar bentakan Eyangnya.


"Itu cuma kekhilafan dan hanya itu. Tidak ada yang lain!" Sahut Bulan meyakinkan Eyang.


"Tidak ada yang lain?!" Eyang menatap Bulan tajam. Tatapannya bagai pisau tajam siap menghujam jantung Bulan.


Eyang menggerakkan tangannya, siap melayangkan tangan untuk menampar cucu kesayangannya itu.


Langit bergegas secepat mungkin beringsut ke depan Bulan, menutupi tubuh Bulan dari jangkauan tangan Eyang.


"Saya, Eyang. Pukul saya, jangan Bulan!" Pekik Langit.


Lagi lagi suasana dicekam keheningan.


Eyang menatap nanar Langit. Napasnya tersengal-sengal. Papa Bulan segera menenangkan keadaan.


"Sebaiknya, pembicaraan ini disudahi dulu." Ucap Papa Bulan. Ia membuka dompet dan mengulurkan kartu nama kepada Papanya Langit. Mereka bertukar kartu nama.


Bulan dan Langit hanya bisa menelan ludah, menyaksikan papa mereka seperti bertransaksi bisnis. Mereka hanya bisa terdiam dan saling menatap.

__ADS_1


"Hari ini kami pastikan Langit segera pindah. Iya, kan, Langit?!" Tegas Papa Langit.


Padahal hari ini memang rencananya, Langit akan pindah ke rumah kontrakannya, hanya kalah cepat dengan kedatangan keluarga Bulan dan Mama Papanya. Langit hanya bisa merutuki dirinya sendiri.


Bulan menyaksikan Mama, Papa, dan Eyang pergi dari rumahnya dari ambang pintu depan. Eyang sama sekali tak mau melihatnya saat itu. Hatinya sangat sedih. Mama juga sama, seolah menyalahkan perbuatannya tersebut. Ya memang salah, tapi setidaknya, Mama bisa membelanya, tapi kali ini tidak.


Hanya Papa yang masih mau berbicara dengannya, meskipun dengan nada tegas dan bijak.


"Papa pulang dulu." Pamit Papa pada Bulan sambil menepuk bahu putrinya itu.


"Iya Pa. Hati hati." Sahut Bulan.


Ingin rasanya ia memeluk Papanya, namun sepertinya Eyang dan Mama masih syok menerima kenyataan pagi itu.


Bulan masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu terlihat Langit sedang berbicara dengan orang tuanya.


Bulan segera permisi pada mereka dengan sopan untuk masuk ke kamarnya. Langit menatap punggung Bulan yang mengilang di balik pintu. Ia menatap dengan khawatir.


"Kenapa bisa ceroboh seperti ini, Nak?" Keluh Mamanya.


"Maaf, Ma." Jawab Langit tertunduk lemah.


"Hari ini ulang tahunmu. Ini bikinan mama sendiri. Selamat ulang tahun." Ucap Mama Langit.


"Terima kasih, Ma. Eh... Sebentar.." cetus Langit dan segera menyusul Bulan ke kamar meninggalkan orang tuanya.


Mama dan Papa Langit saling pandang dengan tatapan bingung dan bertanya-tanya.


"Anak anak jaman sekarang, pacaran dengan yang bukan, sulit dibedakan ya, Ma?!" Ucap Papa Langit sambil berbisik pada istrinya.


Langit membuka pintu kamar Bulan.


Bulan duduk di bibir kasurnya, dan menangis sesenggukan.


"Ini pertama kali, Eyang menamparku." Ucapnya saat melihat Langit masuk ke kamar.


Langit mendekati Bulan dan ikut duduk di sampingnya. Lalu menyentuh pipi kanan temannya yang ditampar tadi.

__ADS_1


"Sakit, ya?" Tanya Langit.


"Lebih sakit di sini." Sahut Bulan sambil memegang dadanya sambil sesenggukan.


"Maaf ya. Maafkan aku, Bulan." Tangan Langit menyapu kedua pipi Bulan yang basah karena air mata.


Tangis Bulan lebih keras dan tersedu sedu setelah Langit meminta maaf. Langit segera memeluk tubuh Bulan.


Tangis Bulan masih terdengar dalam pelukan Langit.


Di ruang tengah, orang tua Langit hanya terdiam menyaksikan mereka.


*****


Bulan duduk menekukkan kedua lututnya di tempat tidur. Membiarkan rambutnya tergerai dan acak acakan. Ia masih teringat kejadian tadi pagi.


Ia lalu turun dari ranjangnya, dan keluar kamar, membuka kulkas, dan meraih kaleng Nescafe.


Matanya beralih ke piring berisi potongan black forest. Kue ulang tahun Langit ke-25, buatan Mamanya.


Sejak anak pertamanya berusia satu tahun, Mama Langit memiliki kebiasaan membuat kue sendiri untuk anak anaknya kala berulang tahun.


Bulan menarik kursi makan dan terpekur di atasnya. Dia memikirkan Mario. Dia merasa malu pada dirinya sendiri. Kini, keadaan berbalik menohoknya.


Bulan membuang napas keras keras. Dari sisi hati putihnya, dia memutuskan untuk tetap jujur mengakui kesalahannya. Namun, dia juga punya sisi hati abu abu dan hitam, yang mengatakan bahwa, jika dia jujur mengenai hal itu, hubungannya dengan Mario terancam bubar. Jadi buat apa cari masalah?


Lalu Eyang...


Eyang menolak menemui dirinya. Saat bertemu di kantor pun hanya membicarakan soal pekerjaan. Yang membuat Bulan sangat tersiksa adalah bagaimana Eyang berusaha menghindari kontak mata antara mereka.


Eyang seolah tak sudi melihat Bulan. Bahkan demi masalah pekerjaan sekalipun. Bulan sangat sedih. Rasa bersalah selalu menyerangnya.


"Kok bisa aku tidur sama anak itu?" Bulan bertanya pada dirinya sendiri sambil bertopang dagu. Tidak habis pikir mengenai malam itu.


"Dan kenapa juga harus ketahuan Eyang?!" Umpatnya dalam hati.


Dirabanya pipi sebelah kanan teringat salah satu ganjaran dari Eyang untuk apa yang telah dia lakukan. Tapi sepertinya itu belum cukup buat Eyang.

__ADS_1


Bulan celingukan memandang sekeliling ruangan dalam rumahnya. Terasa sepi. Tidak ada teman serumah lagi. Suasana kembali seperti dulu lagi. Ada kekosongan kekosongan dan kesepian dalam hatinya. Namun, Bulan meyakinkan dirinya, besok perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.


__ADS_2