(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Berjuang


__ADS_3

"Sudahlah, kuantar saja. Biar aku nggak khawatir." Langit setengah memaksa.


"Eehhh, sebenarnya aku mau ke rumah... Mario." Bulan terpaksa mengaku. Ia menatap Langit melihat reaksi lelaki itu.


Langit seketika menghentikan gerakannya merapikan rambut. Ia terdiam.


"Eenngg.. ada yang harus kubicarakan dengan dia." Tambah Bulan dengan suara lirih hampir berbisik.


Langit menghela napas dalam-dalam. Ia telah menduga sesuatu telah terjadi pada Bulan dan Mario tadi malam saat perayaan ulang tahun Bulan.


"Biar aku antar. Akan ku antar sampai depan rumahnya." Langit keluar kamar untuk mencuci muka. Bulan menghela napas sejenak. Ia merasa tidak enak pada Langit.


Tapi, meskipun merasa tak enak, yang penting dirinya bisa bertemu dengan Mario pagi itu juga untuk menjelaskan semuanya.


Langit mengambil kunci mobil dan menghidupkan mesinnya. Bulan membuka dan menutup kembali pagar rumah, lalu masuk ke mobilnya.


Langit melajukan mobil menuju kediaman Mario.


Di perjalanan, Bulan tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Tadi, setelah aku injak kakimu, kamu nggak tidur, kan?" Tanyanya.


"Nggak." Jawab Langit sambil fokus mengemudi.


Bulan membulatkan bola matanya, melotot terkejut. Bulan melirik ke Langit yang masih terus berkonsentrasi menyetir dengan tenang.


"Jadi, kamu tahu, aku ganti pakaian, aku sedang ngapain aja?" Selidik Bulan lagi.


"Nggak juga." Sahut Langit lagi lagi dengan cuek dan masih fokus menyetir.


Bulan menghembuskan napas lega. Karena Langit meskipun tidak tidur, ia tidak melihat saat ia sedang membuka pakaian dan berganti pakaian kembali.


Bulan melirik Langit sekali lagi. Langit balas memandang Bulan. Lalu, Bulan segera membuang muka ke luar jendela.


Langit berdehem. "Kenapa memangnya? Kamu ganti baju?" Tanya Langit.


Bulan spontan menoleh ke arah Langit dengan wajah setengah panik.


"Jadi, kamu melihatku?" Pekik Bulan sambil melotot.


"Aku kan sudah bilang, nggak." Sahut Langit sambil nyengir


Bulan memejamkan matanya, lalu menutup dengan kedua tangannya karena merasa malu. Ia merasa menjadi tidak enak karena kecerobohannya ini.


Langit tersenyum geli melihat tingkah Bulan di sampingnya.


"Santai saja. Kita toh sudah pernah melakukan lebih dari itu kan.." timpal Langit lagi.

__ADS_1


Bulan makin memejamkan matanya rapat rapat dan merutuki kecerobohan dirinya. Ia telah mempermalukan dirinya sendiri di depan Langit.


Akhirnya Langit tertawa terbahak bahak tak bisa menahan tawanya ketika melihat reaksi Bulan saat itu.


PLAK...


Bulan mendaratkan pukulan ke lengan Langit dengan kencang.


"Aauuu, aduh!" Pekiknya sambil meringis menahan sakit.


"Rasain!" Dengus Bulan dengan kesal.


Mereka menyusuri kota Jakarta pagi itu yang terasa lebih lenggang karena bukan hari kerja. Hari Sabtu, kebanyakan kantor di Jakarta libur. Jadi jalanan terasa lebih lega.


Langit membelokkan ke sebuah kompleks perumahan, tempat kediaman Mario.


Sesuai permintaan Bulan, Langit memarkir mobil tidak tepat di depan rumah Mario. Langit menghentikan mobil selang satu rumah.


"Aku tunggu di sini." Cetus Langit.


"Jangan. Kamu pulang saja. Nanti biar Mario yang mengantarku." Jawab Bulan.


"Kamu yakin?" Langit tak percaya. Dia merasa bertanggung jawab dengan keadaan Bulan yang masih belum sehat saat ini.


Bulan menjawab dengan anggukan. Meskipun sebenarnya dia tak yakin.


Bulan turun dari mobil.


"Bulan." Panggil Langit.


Bulan yang menunduk, langsung menoleh dan menatap Langit.


"Tetap berjuang!" Ujar Langit seraya mengepalkan tangannya.


Bulan tertawa dan menirukan Langit.


"Tetap berjuang! Terima kasih." Jawabnya sambil terkikik.


Bulan melangkah menuju rumah Mario. Ia menunggu beberapa saat di depan pintu rumah, sebelum empunya rumah membukakan pintu.


Tak lama Mario membukakan pintu, mereka berbicara sebentar di ambang pintu, lalu setelah itu Mario membimbing Bulan masuk ke dalam rumah.


Setelah Bulan masuk ke rumah Mario, Langit masih menunggu beberapa lama untuk memastikan Bulan diterima di dalam rumah itu.


Langit tersenyum mengingat ia harus mencium Bulan di hadapan teman temannya.


"Tetap berjuang, kamu sendiri, apa yang kamu perjuangkan sekarang ini, Langit?!" Gumam Langit bertanya pada dirinya sendiri. Lebih tepatnya menyindir dan merutuki diri sendiri.

__ADS_1


Langit melajukan mobil ke arah jalan, yang dulu sering dilewati. Agak jauh dari rumah bercat putih, Langit berhenti beberapa lama.


Tanpa disangka, ada yang keluar dari rumah tersebut dan membuka pagar.


"Dia yang harus aku perjuangkan!" Ucapnya bermonolog dengan dirinya sendiri.


Yang keluar dari rumah dan membuka pagar adalah sosok yang pernah mengisi hatinya, bahkan masih sampai saat ini. Syaharani.


Langit menghela napas panjang, ia masih bimbang menghampiri atau hanya memandangnya saja dari sini.


***


"Mau apa kamu ke mari?" Tanya Mario dingin.


"Mario, aku ingin menjelaskan semua padamu. Acara itu aku benar benar tidak tahu. Semua ide dari anak anak. Berhubung yang tinggal denganku adalah Langit, mau tak mau, Maura meminta bantuan Langit untuk menjalankan rencana itu. Awalnya mereka juga akan memberi pesta kejutan untukku. Aku juga tak menyangka, teman teman melakukan semua padaku." Terang Bulan menjelaskan pada Mario.


Mario masih bergeming, dalam hatinya masih kesal dan jengkel, tapi lebih tepatnya malu. Status Bulan yang telah menjadi istri orang, lalu dia tiba tiba datang, dengan status mantan kekasih. Berkali kali Mario mengusap usap wajahnya, lalu mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.


Bulan mendekati Mario yang duduk di sofa sambil menghisap rokoknya untuk menenangkan diri. Ia ikut duduk di sampingnya.


"Hubungan kita memang melibatkan orang lain. Jadi, memang sama sekali tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa." Sambung Bulan meyakinkan Mario.


"Mar, maafkan aku. Sekali lagi aku minta maaf padamu. Aku tahu, aku terlalu banyak salah dan terlalu sering minta maaf. Tapi jujur, semalam kedatanganmu sangat sangat amat berarti bagiku. Aku sangat senang kamu datang. Dan lihatlah! Ini sangat cantik sekali berada di sini." Bulan menunjukkan pergelangan tangannya yang berhias gelang pemberian Mario.


"Kita lihat nanti." Sahut Mario dengan dingin.


Sikap dan jawaban Mario membuat Bulan menjadi galau.


Ia merasa Mario sudah berubah. Tidak yakin lagi dengan keputusannya untuk mempertahankan hubungan mereka. Mario tampak terlihat siap untuk melepaskan Bulan. Tapi, Bulan belum siap untuk melepaskan Mario. Ia masih mencintai lelaki itu.


Mereka terduduk di sofa ruang tengah Mario. Dan tenggelam dengan pikiran masing masing.


"Mario, aku tak ingin kamu kecewa padaku. Kamu tahu aku mencintaimu." Ucap Bulan memecah keheningan saat itu.


"Aku tahu. Tapi aku masih butuh waktu untuk dapat mencerna semua ini." Jawab Mario sambil menatap ke arah Bulan.


Bulan meletakkan tangan di punggung tangan Mario dan menggenggamnya.


Mario hanya menghela napas panjang, menarik tangannya, lalu berdiri dan menikmati rokoknya di ambang jendela rumahnya sambil menatap halaman.


Bulan merasa sangat sedih. Di sisi lain ia sangat merasa bersalah pada Mario. Tapi Di sisi lain ia tak bisa menyalahkan Mario untuk tak marah padanya.


Akhirnya ia berpamitan pulang. Ia berpikir, lebih baik ia memberi waktu bagi Mario untuk memikirkan kembali semua hubungan yang masih terjalin ini. Memperjuangkan cinta mereka kembali.


Bulan keluar dari rumah Mario, dan menutup pintu rumah itu. Ingin rasanya ia menangis saat itu, tapi ia menahannya.


Ia akhirnya memesan gocar untuk mengantarnya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan ia masih memikirkan sikap Mario dan ucapannya yang dingin. Seolah siap untuk melepasnya.

__ADS_1


__ADS_2