
Keesokan harinya kondisi kesehatan Eyang semakin membaik, berbanding lurus hubungannya dengan Bulan yang juga sudah kembali seperti sebelumnya.
Eyang sudah mau mengajak mengobrol Bulan, minta disuapi oleh Bulan, atau sekedar minta dikupasnya jeruk.
Dan kabar baiknya lagi sore harinya Eyang sudah boleh pulang ke rumah, dengan banyak catatan. Termasuk tidak boleh terlalu banyak pikiran.
Bulan juga telah mengatakan setuju dengan permintaan Eyangnya untuk menikah dengan Langit. Ya mungkin itulah yang membuat Eyang lebih bersemangat lagi. Berhasil menyelamatkan nama baik keluarga.
Langit juga selama beberapa hari tengah mempersiapkan dirinya untuk menemui keluarga Bulan, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kemarin. Dan ia memilih akhir pekan, saat ia libur.
Akhirnya, Langit berkunjung ke kediaman keluarga Bulan. Menemui mereka termasuk Eyang Kakung tentang rencana akan menikahi Bulan. Jujur dirinya sangat takut, atau lebih tepat keder menghadapi hal itu. Tapi, demi Bulan dan demi kebaikannya juga.
Ia takut jika keluarga Bulan akan melaporkan kepada pihak berwajib, lalu masuk ke pengadilan, dan ia dimasukkan ke dalam penjara. Duh... Langit tak ingin itu terjadi. Namun, sepertinya tidak, ia yakin Bulan tak ingin memperbesar masalah itu, tapi siapa tahu, itu hal buruk yang lain.
Jadi inilah jalan yang terbaik yang akan dipilih oleh Langit. Sejelek-jeleknya statusnya akan berubah tidak single lagi, dan tak bisa mencari perempuan lain.
Menjelang sore, Langit sudah tiba di kediaman keluarga Bulan, disambut oleh Bulan di teras rumah orang tuanya. Bulan mempersilahkan masuk menemui Papa Mama, dan Eyangnya di ruang tamu.
"Saya ingin Eyang, Om, dan Tante tahu, bahwa saya berniat tulus dan serius dengan pernikahan ini. Saya ingin sungguh sungguh menjalani dan memberi yang terbaik bagi Eyang, Om, Tante, dan Bulan." Tutur Langit dengan serius.
Keheningan menyergap. Semua terdiam. Semua mata menatap Langit saat itu. Langit berkeringat dingin dibuatnya. Jauh jauh dari ia telah mempersiapkan dirinya, jika diperlakukan yang terburuk. Intinya sekarang, siapa yang bersalah harus menanggung akibatnya.
"Andai kalian tidak kepergok, apa kamu akan tetap bertanggung jawab?"
Eyang melontarkan pertanyaan mematikan pada Langit.
Kenapa mematikan? Karena jawabannya adalah tidak.
Sontak Langit terdiam dan menelan ludahnya sendiri. Bulan yang ada di sana menundukkan kepala, tidak tega menatap Langit yang disudutkan. Tapi, dia sendiri tidak mau mengambil resiko membuat Eyang lebih marah. Jadi ia mengambil aman saja dengan memilih diam dan menundukkan kepala.
"Duh... Tidak perlu jujur Ngit, yang penting selamat..." Tukas Bulan dalam hati.
Jawaban tidak, karena Bulan juga tidak keberatan dan tidak menuntut untuk dinikahi, Bulan lebih memilih Mario, kekasih yang dicintainya. Lalu poin penting lain adalah Bulan tidak hamil.
Meskipun Langit dan Bulan sama sama tidak menganut gaya hidup one night stand, tetapi jika tanpa sengaja melakukan hal itu, masing-masing akan menerima sebagai kekhilafan, tidak perlu diulang, tidak perlu dilanjutkan, dan tidak perlu seperti ini.
__ADS_1
Langit masih diam membisu tanpa menjawab pertanyaan Eyang. Eyang menatap tajam ke arah Langit, yang membuatnya berkeringat panas dingin seolah sedang berada di dalam persidangan dan dia berada di kursi pesakitan sebagai terdakwa.
Untung saja, saat itu ia menggunakan kaos polo yang menyerap keringat, jadi tidak meninggalkan bercak keringat.
"Baiklah. Kini saya serahkan pada Bulan. Saya tidak pernah memaksa.." Tiba tiba Eyang memotong dengan gusar, membuat Langit dan yang lain terlonjak tertahan.
"Kamu mau bilang Bulan yang merayumu? Yang memaksamu? Mustahil! Cucuku bukan wanita gampangan, kamu pasti yang telah merayunya. Dasar laki laki hidung belang!" Hardik Eyang pada Langit.
"Astaga Pa..." Papa Bulan memenangkan Ayahnya yang geram.
Langit memejamkan matanya sesaat. Sungguh ia sangat tidak terima dikatakan hidung belang oleh Eyang Bulan.
"Oke, tahan emosimu! Yang kamu hadapi saat ini adalah pak tua kesayangan Bulan yang sakit sakitan..." Ucap Langit berulang ulang dalam hatinya.
"Saya menyayangi Bulan atas nama hubungan apa pun. Masalahnya, kalau dia bersikap sebaliknya, saya tidak akan memaksakan diri." Sahut Langit dengan nada suara rendah, lebih tepatnya pasrah.
"Saya bukan orang seperti yang Eyang katakan tadi. Percayalah! Untuk itu saya datang kemari saat ini." Tegas Langit.
Entah percaya atau tidak, bagi Langit yang penting dia berusaha menunjukkan sikap jantan. Bukan sebagai pengecut atau lelaki hidung belang yang Eyang Bulan katakan tadi.
Langit dapat bernapas dengan lega setelah keluar dari dalam rumah orang tua Bulan. Ia menghembuskan napas leganya. Ia melonggarkan isi dadanya sedikit. Tapi ada satu hal yang sangat mengganjal hatinya kini.
Syaharani.
Langit sangat bingung harus bagaimana. Di luar perkiraannya sendiri. Hal yang dituduhkan Syaharani menjadi kenyataan. Padahal dahulu ia berusaha mati matian membantah tuduhan itu. Ya, memang waktu itu Langit memang tidak ada apa apa dengan Bulan.
Langit ingin sekali bertemu mantan kekasihnya itu untuk mengatakan bahwa Syaharani lah satu satunya perempuan yang ia cintai. Tapi tentu saja itu adalah perbuatan laki laki hidung belang, seperti yang diucapkan Eyang Bulan.
Jika seorang laki laki mengatakan cinta pada seorang wanita, namun di saat bersamaan ia akan menikah dengan wanita lain, itu adalah perbuatan lelaki hidung belang.
Jelas, Langit tidak akan melakukannya. Langit tidak mau dikatakan sebagai lelaki hidung belang.
"Hei.." Bulan menyusul Langit di depan rumah.
Memandang Bulan, Langit memutuskan untuk berkonsentrasi pada apa yang ada di depannya terlebih dahulu. Yang lain nanti saja dipikirkan.
__ADS_1
"Maaf ya jika kamu tersudut. Tolong, jangan dimasukkan dalam hati." Tukas Bulan.
Langit mengangkat bahunya.
"Aku lagi ngaca di spion, mau lihat apakah hidungku memang belang." Sahut Langit. Bulan tertawa melihat tingkah Langit.
"Lan, lebih baik kalau persiapan pernikahan kita dilakukan bersama sama, supaya kamu tidak kerepotan sendiri."
Bulan dengan cepat menggeleng.
"Sudah kubilang, tidak perlu. Aku sendiri sanggup kok." Jawab Bulan.
"Yakin?!" Selidik Langit.
"Yakin, Pak." Ucap Bulan sambil mengerjapkan mata.
"Kenapa sih, tidak mau bantuanku?" Tanya Langit sambil menatap Bulan.
Bulan menggeliat sejenak sebelum menjawab pertanyaan dengan hati hati.
"Hmmm... Aku merasa kita kayak... Pasangan sungguhan, jika mengurusi itu bersama. Jadi, bukan aku tidak menanggapi niatmu untuk membantu, cuma ya itu tadi. Maksudku kita bukan seperti itu..."
"Oke. Aku mengerti kok." Sahut Langit.
Ia menjulurkan tangan menepuk lengan Bulan.
"Itu batasan kita. Supaya kita tidak kelewat batas lagi." Ucap Langit.
"Ya... Akhirnya kamu mengerti maksud ucapanku tadi." Sahut Bulan tersenyum lebar.
"Seandainya nanti kamu benar-benar kerepotan. Kamu harus mengatakan padaku. Aku akan siap dan senang hati membantumu."
Bulan mengangguk.
Dalam hatinya ia bertekad tidak akan meminta Langit untuk membantu. Tidak!
__ADS_1
Membayangkan mereka berdua bersama sama membahas soal pernikahan sudah membuat Bulan geli dan risi. Apalagi kalau dijalani sungguhan. Bulan tak ingin membayangkan itu.