
Siang itu, jam istirahat, Maura menghubungi Langit.
"Ya, ada apa Ra?" Tanya Langit.
"Langit, kamu apakan Bulan?" Cecar Maura langsung to the poin.
"Hah..?" Langit terkejut.
"Maksudmu aku ngapain Bulan?" Ulangnya.
"Ya, Bulan mengomel seharian padaku. Katanya kamu keterlaluan, memaksanyabke dokter hingga disuruh teratur minum obat. Padahal kamu tahu kan, dia paling anti dengan bau obat obatan. Apalagi kamu suruh dia minum obat!" Tutur Maura.
"Ya, aku disuruh bagaimana lagu dong? Dia demam, ya aku harus menjaganya. Bisa repot jika keluarganya tahu. Pasti aku yang disalahkan." Sahut Langit.
"Nah itu dia. Masalahnya, besok Jumat kan, dia ulang tahun. Kemarin kemarin sebelum sakit, dia telah membuat rencana untuk ngrayain bareng anak anak yang lain di puncak, rame rame. Tapi sampai hari ini saja, dia kondisinya masih seperti itu. Gak mungkinlah buat maksa dia merayakan di sana. Makanya, gimana kalau kita mengadakan pesta di rumah." Maura memberi ide gagasan untuk memberi pesta kejutan untuk Bulan.
"Hah... Pesta di rumah?!" Ulang Langit menirukan Maura yang menelponnya.
Maura mengusulkan mereka membuat acara perayaan ulang tahun dengan membuat acara makan makan di rumah Bulan saja.
Maura menuturkan pada Langit semua keluhan Bulan, mulai dari jengkel pada perlakuan Langit yang menurutnya over, lalu batalnya acara pergi rame rame sama teman teman yang lain untuk merayakan ulang tahun.
Terutama saat Maura mengatakan, bahwa ia menjuluki Langit dengan Lifeguard, Sang penjaga kehidupan. Langit hanya bisa terkekeh mendengar cerita Maura. Bisa bisanya Bulan memberi julukan itu padanya.
Langit memang otomatis beraksi berlebihan setiap orang orang dekatnya sakit. Sudah kebiasaan di keluarga. Itu yang selalu ia lakukan jika kakak atau adik perempuannya sedang sakit, sewaktu mereka masih tinggal serumah dulu.
Dulu saat status mereka masih teman biasa, saat tinggal serumah, dia tak begitu ambil pusing ke Bulan. Jika gadis itu sedang sakit.
Berhubung saat ini mereka terkondisikan lebih dekat. Langit menjadi harus lebih peduli, sehingga sikapnya terkesan menjadi over atau berlebihan pada Bulan.
Langit merasa kurang sreg jika acaranya sekedar makan makan saja. Ia ingin membuat sebuah acara yang terkesan menyenangkan untuk Bulan. Karena Bulan merasa kesal tidak jadi merayakan ulang tahunnya di puncak bersama temen temannya, yang juga teman Langit, karena mereka merupakan satu lingkaran pertemanan yang sama.
Maura bagi bagi tugas dengan Langit. Maura yang akan mengurus kue tar, minuman, dan kudapan ringan. Sementara Langit yang akan mengurus makan besarnya.
"Yang praktis saja, biar kamu tidak kerepotan. Ajak Bagas dan Bimo juga buat bantu bantu." Saran Maura.
__ADS_1
Langit masih memikirkan ide membuat acara ulang tahun untuk Bulan saat itu.
Saat sedang membereskan tumpukan kertas ulangan murid muridnya, mata Langit tertuju pada satu lembar ulangan Paing atas. Pada pojok kanan tercantum nama murid, yaitu: Rani Ananda.
Rani...! Pesta barbekyu! Pikiran Langit seketika terkoneksi pada pesta ulang tahun Syaharani dua tahun yang lalu. Mereka mengadakan pesta barbekyu di pantai beramai ramai.
Ide acara telah ditemukan! Langit tersenyum lebar, lalu segera menyusun ide yang lain.
Langit segera menelepon adiknya, Mawar. Untuk membantunya melancarkan pelaksanaan ide barbekyu di rumah merayakan acara ulang tahun Bulan.
"Aduh, Kak, hari Jumat aku ada kuliah. Kenapa nggak hari Sabtu saja sih? Lagian Kak Langit juga kerja, kan?" Gerutu Mawar saat Langit mengutarakan maksudnya menghubungi adiknya itu.
"Ulang tahunnya hari Jumat. Aku ngajuin ijin ini. Kamu titip absen saja gih. Nggak ada ujian juga kan besok Jumat? Pokoknya Jumat pagi kamu harus udah di sini. Terus kita belanja bareng dan mempersiapkan acaranya, oke?" Ucap Langit setengah memaksa adiknya itu.
"Baiklah. Besok jemput aku stasiun aja ya, aku naik kereta pagi saja biar cepat." Akhirnya Mawar mengiyakan permintaan Langit.
"Oke. Sampai jumpa besok Jumat."
Langit tersenyum lebar usai menghubungi adiknya.
Dan setelah pulang kerja ia melajukan mobil ke sebuah rumah. Selama Bulan sakit, mobilnya dipakai oleh Langit. Kali ini ia menuju ke rumah sahabatnya, yang dahulu mereka pernah tinggal bareng saat sekolah. Mereka bersahabat sejak masa sekolah menengah pertama hingga mereka kuliah, sampai sekarang. Doni.
Ia telah menghubungi Doni untuk meminjam peralatan barbekyu. Doni dengan senang hati meminjamkannya, dan kini Langit sedang dalam perjalanan mengambil peralatan tersebut untuk mempersiapkan ulang tahun Bulan.
"Ini dia peralatannya. Ready to use!" Ujar Doni sambil menyeret peralatan yang akan dipinjam oleh Langit.
"Thanks, Buddy!" Sahut Langit sambil menepuk lengan sahabatnya itu.
Doni membantu Langit mengangkat dan memasukkan peralatan pembakaran untuk barbekyu tersebut ke dalam mobil.
Langit selalu terbuka pada sahabatnya itu. Terlebih mengenai kehidupan pribadinya. Doni telah melewati cerita Langit saat menjalani masa jomblo, lalu saat menjalin hubungan dengan Syaharani. Sampai kejadian yang telah ia perbuat dengan Bulan. Yang membuat Doni hanya dapat geleng-geleng kepala mendengar semua cerita Langit.
"Perasaanmu sudah lain nih dengan dia?" Tanya Doni, menyimpulkan dari kesudian Langit untuk merencanakan dan membuat acara ulang tahun untuk Bulan.
Langit menyeringai.
__ADS_1
"Nggak lah! Ini ide dari sahabatnya. Berhubung aku yang tinggal serumah, dan tahunya teman teman Bulan aku adalah suaminya, jadi ya otomatis aku harus terlibat." Sahut Langit.
"Ajaklah dia kemari. Kamu kan selalu mengenakan pasanganmu ke aku." Celetuk Doni.
"Eeehhh... Eh... Ingat dia bukan pasanganku." Sela Langit.
Doni tertawa. "Oke oke. Maksudku, aku ingin lebih kenal dengan Bulan. Aku cuma tahu pas pernikahan saja." Sahut Doni sambil menepuk jidatnya.
"Iya, kalau ada waktu, aku ajak main ke rumahmu." Jawab Langit sambil meringis.
"Lang, pada akhirnya... Apakah kamu berharap kalian akan menjadi pasangan sesungguhnya, nggak?" Tanya Doni.
Langit hanya menaikkan bahunya.
"Nggak tahu deh. Hati tidak dapat dipaksakan arahnya." Tukas Langit.
"Dia cantik pas di acara pernikahan itu." Celetuk Doni.
"Oh, yeah. Dia cantik setiap hari." Timpal Langit.
"Dan dia sudah mengambil hati seluruh keluargaku." Sambungnya. Lalu mereka berdua tertawa.
"Tapi soal hati tidak dapat dipaksakan." Tiru Doni. Kemudian dia teringat sesuatu.
"Omong omong soal hati. Kemarin Rani pernah bertanya soal kamu ke aku." Ucap Doni.
Langit terdiam tertegun. "Dia nanya soal aku ke kamu? Kapan? Di mana? Terus kamu bilang apa?" Cecar Langit.
"Sudah agak lama sih. Dan aku gak bilang apa apa." Jawab Doni.
"Baguslah, Don." Langit terdiam sejenak.
"Belum lama ini aku nggak sengaja bertemu dengannya. Sikapnya dingin padaku, tapi masih mau menanggapi ucapanku. Dia pasti sakit hati banget ya, Don." Sambung Langit.
"Dia akan baik baik saja, Teman." Ucap Doni sambil menepuk punggung sahabatnya itu, menenangkannya.
__ADS_1