(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Malam Hari


__ADS_3

Akhirnya kelar sudah sesi syuting Sang Artis alias Mama. Bulan menunggu hingga tertidur di ruang make up.


"Bulaaannn...!" Panggil Mama, hingga membuat Bulan terlonjak.


"Oya... Ya... Ada apa.. iya...?!" Bulan yang terbangun karena suara panggilan Mamanya, membuat telinganya sedikit berdenging.


Sambil mengucek mata dan menguap, Bulan mengumpulkan nyawanya. Ia berdiri mendekati mamanya.


"Sudah selesai ya, Ma?" Tanyanya sambil duduk.


"Iya, ini semua tas mama. Ayo bantu bawa!" Perintah Mama, lalu Bulan membawa tas besar milik mama, dan mengikuti langkah Mamanya meninggalkan lokasi syuting menuju mobil Bulan.


Bulan memasukkan tas ke bagasi, lalu ia masuk ke mobil. Mama sudah duduk di kursi sampingnya. Hari sudah mulai gelap, saat itu. Bulan menghidupkan mobilnya, lalu melajukan pulang ke rumah besar milik orang tuanya.


Sepanjang perjalanan Mama menghabiskan waktu dengan bertelepon ria dengan teman arisannya, sedang Bulan tetap fokus mengemudikan mobilnya.


Sampai di depan rumah orang tuanya, Bulan hendak melepas sabuk pengamannya. Namun, mamanya segera mencegahnya.


"Nggak perlu. Biar mama sendiri yang ambil tas di bagasi dan bawa sendiri." Ucapnya.


"Nggak apa apa, Ma. Sekalian aku masuk ke dalam." Jawab Bulan.


"Jam segini, masih mau bertandang!?" Hardik Mama sambil matanya melotot.


Bulan melirik jam digital di dashboard mobilnya. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, belum terlalu malam menurutnya.


"Aku, kan, mau bertemu dengan keluargaku. Menjenguk Papa, Eyang." Sahut Bulan beralasan.


"Mereka sudah tidur, percuma." Tutur mama dengan gemas.


"Kamu itu, sudah jadi istri orang, jangan pulang malam kalau tidak ada kepentingan! Apa kata suamimu nanti?!" Ucap Mama masih dengan wajah tegang dan bola matanya membesar.


Bulan hanya melongo. Bibirnya membentuk huruf O, dan terdiam.


"Pake bengong pula, sudah sana pulang!" Cecar Mama setengah mengusirnya.


Bulan mengangkat tangan menyerah dengan kejutekan mamanya seharian ini.


Lalu ia melajukan mobilnya, setelah Mama mengambil tas di bagasi dan masuk ke dalam rumah.


Sambil menyetir, Bulan memasang handsfree dan menghubungi papanya.


"Pa, istrimu sentimen sekalee ke aku sepanjang hari tadi." Bulan membuka sesi curhat via telpon ke papanya.


Papanya tergelak mendengar curhatan putrinya itu.

__ADS_1


"Dari jaman kapan itu, jengkelnya ke aku nggak ada habis habisnya. Apakah dia masih sakit hati ke aku?" Sambung Bulan.


"Mamamu tidak pernah sakit hati. Dia cuma kesal, tadi kamu nggak jemput dia." Sahut Papa.


"Tapi, masa sampai melarangku masuk rumah! Aku kan cuma mau menjenguk Papa. Katanya lagi sakit." Bulan berkeluh kesah.


"Papa tidak apa apa. Bulan, mamamu cuma merasa tak enak sama Langit, kalau kamu pulang terlalu malam." Jawab Papa, menerangkan.


"Ih, Papa. Sama saja deh sama Mama. Eh, Pa, tolong bilang ke istrimu supaya jangan galak galak ke anak cewe satu satunya, oke." Sahut Bulan dengan cemberut.


Papa lagi lagi tergelak mendengar ucapan Bulan. Kemudian menyahut dengan suara lebih pelan.


"Mamamu lagi mendelik ke Papa. Papa nggak berani, Lan." Keduanya terkikik geli.


"Ah, Papa payah. Sudah lama hidup bareng, belum bisa menjinakkan beliau." Ejek Bulan sambil terkekeh.


"Sudah sampai di rumah?!" Suara Mama tiba tiba menyerbu pendengaran Bulan. Bulu kuduknya seketika berdiri.


"I-iya Ma. Bentar lagi sampai." Jawab Bulan.


"Sudah, pulang sana. Hati hati." Tutup Mama sambil menutup panggilan.


Bulan hanya menggeleng kepalanya sambil menyetir.


***


Langit segera menerima panggilan itu.


"Kak, Minggu ini aku sama Sita ke Jakarta, ya. Bandnya pacarku ikut main di ajang festival Band Alternatif. Besok aku menginap di rumahmu, ya. Kak Langit nggak kemana mana kan?" Cerocos Mawar saat Langit menjawab panggilannya.


"Oh. Emmm.. Coba nanti aku ngomong dulu ke Bulan." Ucap Langit bimbang.


"Kalau Kak Bulan sibuk, ya tidak apa apa, yang penting Kak Langit nggak." Tukas Mawar.


"Bukan itu. Ini kan rumahnya, jadi lebih baik kalau aku bilang dulu ke dia."


"Loh, Kak Langit kan suaminya, apa perlu bilang dulu?" Ada nada heran dalam pertanyaan Mawar.


Langit terdiam sesaat.


"Nanti aku hubungi lagi ya." Jawabnya kemudian.


"Emangnya Kak Bulan sudah tidur?" Tanya Mawar penuh selidik.


"Eh.. iya."

__ADS_1


Tepat saat itu, suara mobil Bulan terdengar masuk garasi.


"Nah itu dia datang!" Ucap Langit spontan.


"Loh, katanya tadi tidur?" Tanya Mawar heran.


Langit menepuk jidatnya merutuki kebodohannya yang keceplosan barusan.


"Iya... Tadi sudah tidur, aku telpon lagi nanti ya." Langit buru buru menutup panggilannya, menyelamatkan diri dari investigasi adiknya tadi.


Langit ke depan membukakan pintu. Bulan agak kaget melihat Langit yang hanya mengenakan celana boxernya malam malam begini dan berkeliaran di dalam rumah. Terlebih, dengan rambut basah seperti itu.


"Bulan, barusan adikku telpon. Minggu ini dia dan sepupu kami mau menginap di sini, boleh nggak?" Langit membuntuti Bulan yang berjalan ke dapur mengambil es krim yang ada di freezer.


"Ya boleh lah. Kalau perlu dijemput, pakai saja mobilku." Sahut Bulan.


"Terima kasih, Lan." Sahut Langit lega.


Bukannya berlalu, Langit malah mengambil sendok dan ikut duduk di bangku dapur. Lalu ia menyendok es krim langsung dari wadahnya, bergantian dengan Bulan.


Perut Langit yang atletis itu membentuk kotak otot yang membuat setiap gadis akan melirik saat melihatnya.


Hmmm.. gerahnya Bulan jadi tidak berkurang meski sudah mengkonsumsi es krim, gara gara duduk bersebelahan dengan lelaki yang memiliki perut kotak kotak bagai roti sobek itu.


"Kamu nggak pakai baju begitu untuk merayuku agar mengabulkan permintaanmu, hah?" Celetuk Bulan dengan iseng.


"Berhasil kan dengan pesona dalamku ini." Balas Langit.


"Awas, aku bisa melihat pipimu memerah merona." Sambungnya menggoda Bulan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Bulan dan menyeringai nakal.


"Huh, sok keren!" Sahut Bulan sambil melemparkan serbet ke muka Langit, ia agak salah tingkah kali ini.


"Oya, Lan. Pas saudara saudaraku datang, sebaiknya aku.. em.. gabung ke kamarmu, tahu kan? Supaya mereka tidak curiga." Ucap Langit hati hati.


"Oke. Besok pindahkan saja barang hariannya ke kamarku." Sela Bulan mengerti.


Besok saudara saudara Langit akan datang, mereka harus memerankan kembali sandiwara menjadi suami istri kembali. Dan mereka harus mempersiapkan rumah ini dengan baik, supaya tidak ada yang curiga.


"Oya, tunggu sebentar." Tukas Langit lalu bangkit dari duduknya, berjalan ke kamarnya. Lalu tak lama kemudian dia kembali lagi ke hadapan Bulan.


"Nih." Langit menyodorkan sebuah amplop berisi sejumlah uang kepada Bulan.


"Uang sewa kamar?" Tanya Bulan mengerutkan keningnya. Bulan tak langsung menyambar seperti biasanya.


"Hubungan kita, seperti biasa, kan?" Tambah Langit.

__ADS_1


Bulan masih ragu ragu. Tapi pikir punya pikir, ya, hubungan mereka masih seperti biasanya. Tidak ada yang berubah untuk yang satu ini. Impian keliling Eropa masih akan menunggunya.


"Terima kasih, Langit." Jawab Bulan, yang akhirnya memutuskan untuk menerima uang tersebut.


__ADS_2