
Hari ini, Mawar, adik Langit, dan Sita si sepupu datang ke Jakarta. Mereka dari Bogor naik kereta. Mereka turun di stasiun Kota, katanya mereka sekalian pingin lihat lihat Kota Tua yang ada di dekat sana.
Langit dan Bulan menjemput mereka di Stasiun Kota. Lalu mereka mampir sebentar ke Kota Tua. Mereka berjalan-jalan dan berswafoto di sana, karena banyak spot spot foto yang bagus dan keren. Mereka menyewa sepeda dan berkeliling tempat itu.
Mama sempat menghubungi Langit menanyakan Mawar dan Sita.
"Aman, Ma. Mereka sedang foto foto sambil naik sepeda di Kota Tua." Sahut Langit menjawab panggilan Mamanya.
"Kamu ga repot?" Mama sedikit khawatir.
"Tenang. Kebetulan aku akhir pekan ini libur, Bulan juga. Lagian, jika aku ngajar, kan, ada Bulan yang nemenin." Langit melirik Bulan yang mendelik menatapnya saat mendengar namanya disebut.
"Kak, ayo foto bareng kami!" Panggil Mawar sambil berteriak ke arah Langit dan Bulan.
"Sudah dulu, ya, Ma. Nanti aku kabari lagi." Langit segera menutup panggilan telponnya, dan berlari ke arah Mawar dan Sita yang telah berfoto bersama Bulan.
Sekitar satu jam mereka berasa di sana untuk berfoto di sana. Lalu mereka melipir berjalan mencari aroma sedap yang membuat perut keroncongan. Mereka memesan kerak telor dan es selendang Mayang yang dijajakan di pelataran area Kota Tua.
Setelah puas dan kenyang, Langit mengajak adik dan sepupunya pulang. Mereka yang telah merasa lelah, langsung mengangguk setuju dan mengikuti Langit dan Bulan menuju tempat parkir mobil.
Langit membawa pulang mereka untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak sebelum mengajak mereka untuk jalan lagi nanti malam.
Sesampainya di rumah, Adik dan sepupu Langit segera membawa tas mereka ke dalam kamar belakang yang selama ini ditempati oleh Langit.
Mereka segera bergantian membersihkan diri, lalu beristirahat di dalam kamar. Sedang Langit lebih banyak melakukan kegiatannya di ruang tengah, di sofa, terutama saat Bulan tengah berada di kamarnya.
***
"Sukanya musik apa nih? Pop, rock, jazz, indie, Korea?" Tanya Bulan pada saudara iparnya di mobil saat dalam perjalanan hendak menentukan tempat jalan mereka malam ini.
"Alternatif dong!" Jawab Mawar lantang.
"Huuu... Ngikut pacar! Kalau pacarnya ganti, selera musiknya ganti juga!" Ledek Sita sambil mencibir.
Mawar menyentil kepala sepupunya dengan gemas.
Jadi, kita mau jalan kemana ini?" Tanya Bulan sambil menoleh ke kursi belakang.
"Yang biasa didatangi Kak Bulan saja deh." Sahut Sita antusias.
__ADS_1
Sekedar menyegarkan ingatan, Sita adalah sepupu Langit yang masih abege, yang menemani dan mendampingi Bulan sewaktu acara di kediaman orang tua Langit tempo hari.
"Sita ngefans kamu, loh, Lan." Ujar Langit berbisik. Bulan tersenyum geli.
"Katanya gayamu cool abis. Lihat potongan rambutnya dan gaya berpakaiannya. Tapi untuk potongan rambutnya, maksudnya sih menurutku, tapi nggak sukses karena rambutnya keriting." Sambung Langit sambil menyeringai lebar.
Bulan menoleh ke arah Sita dan ikut menyeringai geli.
"Hayoo... Pada ngomongin aku ya!" Seloroh Sita.
Bulan tiba tiba punya ide.
"Hai, mau tidak ke butik langgananku? Di sana model bajunya cool abis, cocok buat Sita." Bulan menawari saudara Langit itu.
"Eng... Mau banget sih, tapi pasti mahal mahal ya, Kak?" Jawab Sita ragu ragu.
"Karena Sita belum bisa cari uang sendiri, aku kasih dispensasi deh." Balas Bulan sambil tersenyum.
"Maksudnya gratisan?!" Mata Sita membesar dan berbinar.
Bulan mengangguk. Seketika Sita bertepuk tangan sambil bersorak kegirangan.
"Kamu juga boleh pilih kok, Mawar." Imbuh Bulan.
Membuat mata Mawar berbinar dan bersorak juga.
"Huuu!" Ledek Sita pada Mawar.
Bulan tersenyum geli melihat tingkah adik ipar dan sepupunya itu. Lalu ia meminta Langit untuk menuju ke arah sebuah mall tempat butik langganan Bulan itu berada.
Butik atau toko pakaian langganan Bulan adalah milik salah satu sahabat mama Bulan. Sehingga nama mamanya dan namanya masuk dalam daftar pelanggan butik itu, yang otomatis daftar pelanggan selalu mendapat potongan harga atau diskon khusus pelanggan.
Tepat saat mengangkat tas jinjingnya, ponselnya bergetar getar. Ia mengambil ponselnya itu, dan melihat sebuah panggilan masuk dari Vera.
Bulan menjawab panggilan Vera.
"Nek, besok malam kita akan mengadakan Malam Drama di apartemen Sonya." Ucap Vera
Yang dimaksud Malam Drama adalah berkumpulnya para wanita di salah satu tempat dari mereka untuk menonton film. Sambil ngerumpi dan arisan juga di sana.
__ADS_1
Film film yang mereka tonton adalah drama komedi, romantis, thriller, horor, tragedi, baik film Indonesia, Hollywood, Bollywood, Korea, Jepang, atau film film lain dari Netflix sampai mereka puas bahkan bosan.
Meskipun mereka sudah bosan, tapi tetap saja Meraka ulang dan tidak pernah kapok.
"Apa temanya?" Tanya Bulan.
"Hollywood. Anne Hathaway." Jawab Vera.
"Wah, bagus tuh!" Celetuk Bulan.
"Datang ya, Nek! Sonya juga mau ngadain piyama party, kita makan makan juga di sana!" Seru Vera.
Bulan menepuk jidatnya, ia baru ingat. Jika ia harus berperan sebagai pasangan baru yang tak terpisahkan.
"Emm.. tapi aku nggak janji deh, Ver. Soalnya aku sedang kedatangan saudara Langit di rumah." Bulan memelankan suaranya. Namun, masih tertangkap kuping Langit.
Saat berjalan dari basemen parkir menuju ke dalam gedung mall, Langit melirik ke arah Bulan.
"Kalau besok ada acara, aku bisa antar mereka kok." Ujar Langit lirih ke arah Bulan.
"Ah, gak enak dilihat mereka kalau aku keluyuran sendirian." Sahut Bulan.
"Bahaya, kalau mereka sampai memberi laporan pandangan matanya kepada orang tua. Kita pergi main sendiri sendiri." Sambung Bulan sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Langit.
"Dasar!" Timpal Langit sambil nyengir.
"Rapi sekali kamu bermainnya!" Puji Langit.
Bulan ikutan nyengir sembari mengedipkan sebelah matanya.
Sampai di dalam mall, Bulan langsung menggiring tamu tamu abege nya itu masuk ke sebuah gerai butik langganannya sesuai yang telah dijanjikan.
Para gadis itu bersorak kegirangan sambil terkagum kagum menatap koleksi yang terlihat dari kaca etalase.
Sementara Langit memutuskan untuk melihat lihat pameran tour dan travel yang sedang digelar di atrium mall tersebut.
Semua agen perjalanan yang mengisi pameran itu berlomba lomba menawarkan paket dengan harga yang menarik. Langit bukannya mau bepergian atau berlibur, tapi, Tour dan Travel mengingatkannya pada seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Ya, Syaharani. Gadis itu bekerja paruh waktu di sebuah agen perjalanan. Kakak perempuannya yang tinggal berdua bersamanya adalah seorang tour guide di agen tersebut dan berhasil mereferensikan adiknya mengisi sebagai seorang karyawan di sana.
__ADS_1
Sambil berjalan pelan mengatasi stand, Langit mengenang masa masa dulu dia mengantar jemput Syaharani dari kampus ke kantor, lalu ke rumah. Urutan perjalanan bisa berubah ubah tergantung jadwal. Dan di sela sela ketiga tujuan itu, mereka berdua kerap mampir untuk makan bersama atau sekedar jalan jalan. Sederhana memang, tapi waktu itu Langit merasa sangat bahagia.