
"Selamat ulang tahun!" Mario menyodorkan buket bunga mawar yang dibawanya pada Bulan. Bulan menatap tanpa kedip, sambil menerima buket itu.
"Maaf, mengganggu. Kalau begitu aku pulang dulu. Masih ada urusan lain." Mario menganggukkan kepala kemudian membalikkan tubuhnya, berjalan pergi. Bulan masih terpaku.
"Eeee.. biar aku antar sampai mobil." Maura mengambil inisiatif memecah kekakuan suasana.
"Biar aku saja." Sergah Bulan dan bergegas menyusul Mario.
Bulan terlihat setengah berlari mendekati Mario.
"Baiklah! Ok, everybody, siapa yang mau cocktail?! Tio, tolong bikinin cocktail buat kita duoong!" Seru Maura berusaha mengembalikan perhatian teman teman pada pesta.
Di sudut teras, Tio berjalan menuju dapur melaksanakan instruksi Maura. Ia menepuk bahu Langit yang masih berdiri menatap ke arah pagar.
"Ayo, teman, bantu aku meracik cocktail." Ajak Tio berusaha mengalihkan perhatian Langit.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah menuju ke dapur untuk membuat minuman untuk teman teman mereka.
Sementara itu, agak jauh dari dari rumah, Mario dan Bulan berdiri berhadapan.
"Kamu bilang nggak ada acara apa apa." Protes Mario seketika.
"Waktu aku bilang itu, aku nggak tahu apa apa." Sahut Bulan dengan wajah tegang.
"Pesta kejutan dari Langit?" Tanya Mario sinis.
"Bukan. Itu ide dari teman teman. Mario, kenapa kamu nekat datang kemari? Aku kan sudah bilang, kita bertemu di luar saja. Aku khawatir sewaktu waktu orang orang bisa datang dan mengetahui.." Belum sempat Bulan menyelesaikan ucapannya.
"Aku hanya ingin menghibur kamu yang sakit dan nggak bisa merayakan ulang tahun. Aku hanya ingin kasih kamu kejutan, tapi.... Aku yang malah terkejut." Potong Mario.
"Aku hanya ingin membuatmu senang. Itu saja." Imbuh Mario yang nada suaranya terdengar getir.
Mario lalu merogoh sakunya, mengeluarkan kotak mungil dan menyodorkan pada Bulan.
"Butuh berhari hari, aku memikirkan hadiah yang tepat untukmu. Tidak mungkin cincin, karena akan terlalu banyak cincin di jarimu. Kalung juga terlalu mencolok perhatian." Ucap Mario kemudian.
Hati Bulan terenyuh mendengar penuturan Mario.
Lalu Mario meraih tangan Bulan dan menaruh kotak mungil itu ke telapak tangan Bulan.
"Ini gelang. Orang orang tidak akan memperhatikan. Jika itu yang kamu khawatirkan. Terimalah! Setelah itu aku nggak akan membuat kamu khawatir lagi." Mario lalu berbalik menuju mobilnya.
Tiba tiba Bulan memeluknya erat dari belakang. Mario terhenyak.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku!" Ucap Bulan.
"Niat baik dan tulus tidak berharga lagi. Aku sudah tak tau lagi harus bagaimana." Tukas Mario sambil melepaskan kedua tangan Bulan yang mendekap perutnya. Lalu Mario melangkah terus masuk ke mobil tanpa menoleh ke arah Bulan. Lalu menghidupkan mobil, dan melajukan, hingga menghilang dari pandangan Bulan.
Dada Bulan terasa sesak. Ia tertegun di tengah jalan. Bulan merasa dirinya egois dan terlalu kejam pada Mario hingga menyakiti perasaan lelaki yang ia cintai itu. Bulan merutuki dirinya sendiri, menyesali perbuatannya. Ia ingin menangis, tapi tidak mungkin sekarang.
"Oke, Bulan. Kuatkan dirimu malam ini. Jangan bikin suasana tambah runyam. Pasang wajah ceria. Ceria! Ayo, ceria!" Bulan mendoktrin otak dan sarafnya. Ia menepuk nepuk pelan wajahnya sesaat, dan mengusap wajahnya.
Kemudian ia kembali ke dalam keceriaan pesta malam itu.
Hari semakin larut, satu per satu teman undur diri untuk pamit meninggalkan rumah Bulan.
Maura yang terakhir pulang malam itu.
"Aku pamit dulu, ya. Kamu tidak apa apa?" Tanya Maura sebelum pergi masuk ke mobilnya.
"Ya, iya. Aku tidak apa apa." Bulan mengangguk, berusaha menutupi rasa sedihnya usai pertemuannya dengan Mario tadi.
Ingin rasanya ia menahan Maura dan menceritakan semuanya, tapi, malam itu Maura terlihat lelah karena membantu pelaksanaan pesta, bahkan saat kehadiran Mario, dia lah teman yang dapat mengembalikan suasana pesta kembali, tanpa tertuju lagi pada Mario dan Bulan.
"Pulanglah! Terima kasih." Ucap Bulan seraya memeluk Maura.
Maura melangkah masuk ke dalam mobil, lalu mobil itu menderu hingga hilang dari pandangan Bulan.
Karena kelelahan, Bulan langsung memejamkan mata saat merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuk dalam kamarnya tanpa mempedulikan Langit.
Entah berapa jam matanya sudah dapat terpejam saat itu.
Sinar matahari pagi menyeruak masuk melalui sela sela jendela kamar pagi itu menyapa wajah Bulan.
Bulan tersadar. Ia membuka mata perlahan, lalu mencoba untuk bangun. Menegakkan punggung perlahan sambil menahan napas.
Empat, lima, enam.. butuh waktu enam detik baginya untuk segera melompat dari tempat tidur.
"Huft...!"
"Awwww...!!"
Suara erangan kesakitan terdengar dari lantai tempat Bulan dengan sukses mendaratkan kakinya.
"Uuppss..!" Pekik Bulan tertahan.
Dia tidak ingat, kalau semalam Langit tidur di kamarnya dengan kasur lipat yang telah mereka beli. Karena Mawar saat ini menginap dan tidur di kamar Langit di belakang.
__ADS_1
"Uuhh... Lagi lagi diinjak!" Protes Langit sambil meringis kesakitan.
Bulan buru buru merosot ke lantai.
"Maaf, maaf, nggak sengaja! Sakit, ya?" Dengan refleks dia mengurut urut betis Langit yang ia injak barusan. Tanpa memikirkan efek dari sentuhan yang dilakukannya.
Langit terpaksa ikut bangun dan menepis tangan Bulan.
Remasan tangan Bulan yang halus dan lembut pada betis Langit, tanpa dihalangi oleh lapisan kain, pada pagi hari, merupakan stimulus besar untuk membangunkan adik kecil milik Langit.
"Udah sana!" Teriak Langit sambil mendengus kesal.
Bulan hanya meringis, lalu segera pergi ke kamar mandi. Lalu kemudian ia kembali ke kamar. Ia tergesa gesa mengambil pakaian dari lemari. Saat hendak mencopot kaosnya, ia baru ingat.
Dia menoleh ke arah Langit yang telah tidur kembali. Dengan mengendap endap, Bulan menunduk, mendekati Langit. Telapak tangannya melambai-lambai, memastikan bahwa Langit benar benar tidur kembali.
Langit diam saja. Bulan tersenyum keadaan telah aman menurutnya. Kemudian ia kembali ke depan lemari pakaian lalu berganti pakaian, dan mengenakan gelang pemberian Mario.
Bulan meraih kunci mobil, lalu berjalan berjingkat jingkat menuju pintu.
"Mau ke mana pagi pagi begini?"
Bulan terkesiap kaget.
Langit belum tidur, bahkan hanya pura pura tidur!
Gagang pintu yang sudah digenggamnya langsung dilepas. Ia meringis sekaligus mengekeret.
"Eee... Ke rumah itu .... Ee.. Maura." Bulan tergagap.
Langit menegakkan punggung dan mengusap usap rambutnya.
"Biar kuantar. Aku cuci muka dulu sebentar." Ucap Langit sambil berdiri.
"Oh, nggak usah! Aku bisa sendiri!" Sergah Bulan.
"Heh, kamu ini masih sakit!"
"Nggak, udah nggak apa apa kok. Bener! Suer!" Bulan ngotot lengkap dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
"Sudahlah, kuantar saja. Biar aku nggak khawatir." Langit setengah memaksa.
"Eehhh, sebenarnya aku mau ke rumah... Mario." Bulan terpaksa mengaku. Ia menatap Langit melihat reaksi lelaki itu.
__ADS_1
Langit seketika menghentikan gerakannya merapikan rambut. Ia terdiam.