
Pukul 10.00 tamu tamu mulai berdatangan ke kediaman orang tua Langit. Bulan dan Langit duduk bersanding sambil menyalami tamu tamu yang datang.
Bulan yang sama sekali tidak mengenal hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Langit yang mengenal sebagian tamu terkadang berbincang sejenak, dengan tamu.
Acara dimulai dengan doa pembuka oleh keluarga yang dituakan. Lalu ada sambutan dari pihak keluarga Langit pada Bulan, dan beberapa ritual lain untuk penyambutan anggota keluarga baru di keluarga Langit.
Karena terlalu bersemangat oleh telepon dan rencana bersama Mario, Bulan tidak berkonsentrasi penuh pada acara yang tengah dijalankan.
Akibatnya, saat giliran berbicara sepatah dua patah kata sebagai perkenalan dirinya pada seluruh anggota keluarga besar Langit dan relasi mereka, Bulan mengalami keseleo lidah. Bulan salah menyebut nama Langit dengan Mario.
"Nama saya Bulan. Mulai sekarang saya dan Mario.., Eh Langit. Memiliki keluarga yang tidak lagi berbeda. Keluarga Langit menjadi keluarga saya, begitu juga sebaliknya. Kami tidak lagi sendiri sendiri."
Bulan menutup mulutnya dengan tangan saat menyadari kesalahannya mengucapkan nama Mario, bukan Langit saat itu. Bulan merasa panik. Segera ditatapnya reaksi orang orang sedemikan rupa. Wajahnya memanas dan merona.
Untung Bulan berhasil menyelesaikan rangkaian kalimat selanjutnya dengan lumayan wajar.
Bulan menyelesaikan kalimatnya dengan agak gugup, tapi, mungkin mereka menganggap hal itu dikarenakan Bulan harus bertemu muka dan berbicara didepan sekian banyak orang yang belum dikenalnya.
Diliriknya sekali lagi raut muka orang tua Langit. Mereka terlihat tenang tenang saja dan tersenyum. Lalu Bulan memalingkan wajah ke arah Langit dan berbisik. "Maafkan, tadi aku salah."
"Tidak apa apa, kurasa orang orang ini tidak begitu memperhatikan juga." Tukas Langit dengan tenang.
Padahal sesungguhnya Langit juga panas dingin dan kesal terhadap Bulan.
Langit berdehem. "Kamu bisa kan lebih fokus sampai acara kita ini selesai?" Tanyanya sambil menoleh ke arah Bulan.
Bulan mengangguk cepat dan tersenyum.
"Maaf. Maaf banget ya, yang tadi." Bulan menatap Langit dengan wajah mengiba.
"Tidak apa apa." Sahut Langit sembari menepuk paha Bulan.
Mereka terus mengikuti segala macam acara yang telah keluarga Langit rencanakan. Perkenalan dengan Bulan, dan Bulan berkenalan dengan hampir seluruh keluarga besar Langit. Mulai dari Kakek Nenek, paman, Bibi, para sepupu, dan keponakan.
Bulan berusaha mengingat ingat semua orang yang telah disebutkan satu per satu itu. Namun ia tak begitu menghapal semuanya. Hasilnya, dia hanya tersenyum pasrah selama acara.
Acara terakhir adalah makan makan dan hiburan, berupa live music, yang diisi oleh Tante Tante yang dengan semangat menyumbang lagu. Lalu para sepupu pun tak mau kalah. Mereka juga menyumbangkan suara merdu mereka, meski dengan genre musik yang berbeda dari yang sebelumnya.
Bulan yang tak pandai menyanyi harus pasrah saat di tarik oleh adik dan sepupu Langit untuk menyanyi.
__ADS_1
Dengan suara yang pas pasan, dan harus dibantu dengan backing vokal saudara saudara Langit, akhirnya Bulan dapat menyelesaikan satu lagu. Terdengar suara tepuk tangan dari keluarga dan Langit.
Akhirnya seluruh rangkaian acara pesta penyambutan Bulan ke dalam keluarga Langit telah selesai.
Bulan segera bergegas ke kamar untuk berganti pakaian dan membersihkan dirinya.
"Ma, kami mau langsung pulang ke Jakarta malam ini." Terdengar Langit sayup sayup berbicara dengan Mamanya akan langsung pulang usai acara.
"Apa tidak kemalaman kalian di jalan?" Tanya Mama.
"Bulan ada kerjaan mendadak besok pagi, takutnya tidak keburu, jika pulang besok pagi." Langit memberi alasan.
Mama menganguk sambil menepuk bahu putranya itu.
Langit beranjak berdiri dan masuk ke kamar. Terlihat Bulan telah membersihkan diri dan merapikan pakaiannya dan memasukkan dalam tas kopernya.
"Terima kasih, Ngit." Bulan menatap Langit saat suaminya itu masuk ke kamar.
"Iya. Nanti kamu pamit sendiri ke Mama dan papa ya." Pinta Langit.
"Oke Bos!" Bulan mengacungkan dua jempolnya ke arah Langit sambil tersenyum.
Sekitar satu jam mereka bersiap merapikan tas mereka, lalu menemui orang tua Langit yang tengah duduk di ruang tengah bersama keluarga yang lain sedang mengobrol dan beristirahat.
"Mama, Papa, Saya pamit pulang ke Jakarta. Karena ada pekerjaan mendadak besok pagi." Ucap Bulan.
"Hati hati kalian. Hari sudah gelap." Ucap Mama sambil mendekati Bulan.
"Iya, Ma. Terima kasih." Sahut Bulan.
Ia menyalami dan berpamitan pada Mama dan Papa, dan semua saudara yang ada di rumah itu.
"Pelan saja nyetirnya, Lang!" Pesan Mama pada Langit.
"Iya, Ma. Langit dan Bulan pamit dulu."
Mereka memasukkan tas ke bagasi, dan satu plastik berisi makanan untuk mereka bawa pulang ke Jakarta.
Langit menyetir mobil dengan tenang sambil mendengarkan radio di mobil yang menemaninya. Sesekali ia bersenandung untuk menghibur diri dan untuk mengusir rasa kantuknya yang mulai menyerang. Bulan tertidur tanpa suara di sampingnya.
Sebelum Bulan minta ijin untuk tidur, ia menunjukkan alamat restoran itu pada Langit.
__ADS_1
"Bulan." Langit memegang lengan Bulan, membangunkan gadis yang telah menjadi istri sahnya kini.
"Lan, sudah sampai." Panggil Langit sekali lagi, sambil mengelus lengan Bulan.
Bulan perlahan membuka matanya, lalu menggeliat. Mobil telah berhenti di depan lobi sebuah gedung pencakar langit.
"Benar ini tempatnya?" Tanya Langit meyakinkan dirinya.
Bulan mengucek ngucek matanya sambil mengangguk. Lalu ia melepas sabuk pengamannya.
Bulan terdiam sejenak mengumpulkan nyawanya, lalu menatap kaca spion di mobil, sambil merapikan rambut. Ia mengambil pouch yang berisi perlengkapan make up darurat yang selalu tersedia dalam laci dashboard mobil.
Ia memoles sedikit wajah dan bibirnya supaya terlihat lebih segar. Lalu menyisir rambutnya. Ia merasakan cincin yang berada di jari manis tangan sebelah kanannya.
Bulan melirik Langit yang sedari tadi memperhatikannya.
"Cincinnya kekecilan ya? Kamu pindahin aja ke jari kiri. Tangan sebelah kiri lebih kecil dari yang kanan, pas tidak?" Usul Langit. Bulan hanya diam menatap Langit.
"Tidak apa apa, dari pada jarimu terasa sakit nantinya." Sambung Langit menepis keraguan di wajah Bulan.
"Lagi pula supaya dia tidak sakit hati." Imbuh Langit lagi sambil tersenyum.
Yang dimaksud 'dia' adalah Mario tentunya. Bulan lalu menuruti saran Langit. Ia memindahkan cincin ke jari manis tangan sebelah kiri.
"Langit, terima kasih banyak untuk semuanya." Ucap Bulan sambil tersenyum tipis.
Langit menjawab dengan anggukan.
"Kabari saja. Nanti aku jemput." Ucap Langit kemudian.
"Tidak usah. Kamu istirahat saja. Oke, sampai nanti. Hati hati di jalan." Sahut Bulan, lalu keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam lobi.
Langit mengawasi Bulan sampai melewati pintu masuk. Di sana, Mario berdiri dari kursi yang ada di lobi dan menggiring Bulan menuju lift. Mereka bilang ke dalam lift.
"Bulan telah terlalu lelah malam ini, tapi mungkin lelahnya akan hilang ketika bertemu cinta sejatinya. Lantas, siapa cinta sejati ku? Apakah aku punya cinta sejati?" Langit bermonolog sendiri sesaat.
Dilirik jari manis tangan kanannya. Sebuah cincin, namun tidak berarti banyak. Ingatannya tertuju pada Syaharani.
Langit mendengus kesal sambil mengusap usap wajahnya.
"Aku terlalu lelah merisaukan ini!" Ucapnya sambil menghela napas.
__ADS_1
Lalu ia melajukan mobil kembali ke rumah.