
Tolong jemput aku, Mario sedang sibuk 😞
Whatsapp dari Bulan masuk, tepat saat Langit sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, menjenguk siswanya yang di rawat di sana.
Langit menuju ke kantor Bulan. Ketika sampai, Bulan ternyata masih di ruangannya.
"Tunggu sebentar ya." Bulan menelpon Langit yang menunggu di parkiran Area Olahraga dan Bermain itu.
"Baik." Jawab Langit.
Setelah kurang lebih sepuluh menit menunggu, Bulan nongol di mobil.
"Maaf, jadi nungguin. Aku pikir bakal lama."
"Kebetulan sedang jalan pulang tadi, jadi sekalian mampir." Jawab Langit sambil fokus menyetir.
"Ngit, nanti mampir super market dulu ya, mau belanja kebutuhan rumah." Ajak Bulan.
Langit menganguk, ia menuju mall di dekat rumah Bulan yang sering mereka lewati.
"Sudah sampai. Silahkan turun, Bos."
Bulan yang sedari tadi memainkan jarinya pada ponselnya terkejut.
"Eh, sudah sampai ya?!" Bulan tersadar, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Tepat saat mereka keluar dari mobil, ada mobil diparkir di seberang hendak keluar.
"Astaga. Ra, lihat!" Syaharani menjawil lengan temannya dan jarinya menunjuk ke depan, supaya temannya dapat melihat dengan seksama.
Ia melihat Langit dan seorang perempuan lain sedang masuk menuju mall dari kaca depan mobil. Syaharani sangat marah.
"Itu Langit sama siapa, Nek?" Tanya Ira, teman Syaharani dari balik kemudi.
"Namanya Bulan. Sudah beberapa hari ini, Mas Langit membawa mobil perempuan itu. Motornya sedang dipinjam temannya." Terang Syaharani.
"Ra, kita ikuti mereka, yuk!" Ajak Syaharani.
"Mereka selingkuh?" Ira membelalakkan matanya.
"Gak tahu. Makanya kita cari tahu." Sahut Syaharani.
Berkali kali ia melirik jam yang ada di dashboard, sepuluh menit serasa semalaman.
"Ran, coba kamu hubungi Langit saja." Saran Ira.
"Aku ga ada kuota."
"Nih, pakai punyaku saja." Ira menyodorkan ponselnya. Syaharani menggeleng.
"Ya sudah, kita lantak saja sekarang!" Desak Ira berapi-api.
Akhirnya Syaharani mengambil ponsel Ira. Dering yang kesekian, Langit baru menjawabnya.
"Halooo..?"
"Halo, Mas. Ini Rani. Aku lagi pakai punya teman." Jawab Syaharani gugup.
__ADS_1
"Oh, kamu Rani. Lagi belajar, ya? Sudah makan belum?" Nada suara Langit setenang biasanya.
"I-iya. Sudah. Masih di rumah sakit, Mas?"
"Nggak. Sudah pulang kok." Jawab Langit.
"Oh." Syaharani terdiam.
"Halo? Rani?"
"Oh, eh, ya. Sudah ya, bye." Syaharani lemas. Ia tak tahu harus ngomong apa lagi.
"Dia bilang sudah pulang." Gumamnya sambil menyenderkan kepalanya lemah.
Sekitar dua puluh menit mereka dalam mobil, menunggu Bulan dan Langit keluar dari mall itu.
Begitu mobil Bulan keluar dari area parkiran, Ira dengan seksama mengikuti. Ira menyetir mobil dengan mengatur jarak aman, tidak terlalu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat. Mereka mengikuti mobil Bulan seperti detektif di film film itu.
Mobil masuk ke sebuah kompleks perumahan dan berhenti di depan rumah berpagar hitam. Bulan keluar membuka pagar, mobil masuk garasi. Bulan menutup pagar. Selanjutnya, dada Syaharani serasa ditempel lempeng besi panas.
Ia melihat Langit membawa tas plastik. Bulan mencangklong tas belanja besar, lalu keduanya masuk ke rumah. Wajah Syaharani pucat, jantungnya berdegup kencang.
"Ya ampun, dia tinggal dengan perempuan itu." Gumam Syaharani.
"Hah...?!" Celetuk Ira.
"Sampai sekarang dia tidak pernah mengiyakan ajakanku ke rumah yang dia tumpangi, yang katanya suami istri. Suami istri apaan? Dia sudah membohongiku!" Gerutu Syaharani dengan kesal dan marah.
"Belum tentu. Coba kamu hubungi lagi." Saran Ira sambil menyodorkan ponselnya.
Ia ingin berkonsentrasi dengan ujian di kampusnya dahulu untuk saat ini. Meskipun fokusnya akan terpecah, tapi dia bertekad menyelesaikan ujian dahulu, baru menemui Langit.
****
Malam itu Bulan berhasil memukau Mario dengan balutan gaun seksi bak Ariel Tatum, dengan padanan stiletto senada dengan warna gaun itu.
Tapi itu sebelum mereka berangkat dan datang ke pesta.
Begitu memasuki ballroom hotel, tempat pesta diadakan. Tetap Cleo yang menjadi bintangnya. Ia berhasil mencuri perhatian tiap mata yang hadir dalam pesta itu.
"Hhmmm, pasti karena bling-bling itu.." Gumam Bulan menyimpulkan dari kejauhan dengan nada sinis dan cemburu.
Bling bling yang dimaksud adalah berlian. Mulai dari anting, kalung, cincin, gelang dengan ukuran yang ekstra.
Bulan merasa jengkel, karena Mario menjauh darinya dan memilih bergabung dengan teman dan klien perusahaannya, termasuk Cleo.
"Pajangan gratis!" Gumam Bulan kesal. Untunglah minuman yang disuguhkan sangat enak, kualitas atas, lumayan bisa mengalihkan kebosanannya.
"Seharusnya aku memakai daster saja, jika cuma begini." Gerutunya melantur akibat terlalu banyak minum.
"Bulan, kamu bawa mobilku. Aku harus mengantar Cleo pulang. Dia tidak mungkin menyetir dalam keadaan mabuk begitu." Instruksi Mario membuyarkan lamunan Bulan.
"Acaranya sudah kelar?" Tanya Bulan. Mario mengerutkan keningnya, heran.
"Eh, maksudku acaranya akhirnya selesai." Ralat Bulan, mengubah intonasi dari pertanyaan jadi pernyataan.
"Tunggu dulu, tadi Mario bilang mau mengantar Cleo?!" Tanya Bulan dalam hati.
__ADS_1
"Memangnya tidak ada yang lainkah?" Tanya Bulan. Ia tidak rela kekasihnya pergi malam malam ke rumah wanita seksi seperti itu. Mabuk, pula.
Mario memegang bahu Bulan dan menatapnya.
"Dia klien terbesarku. Aku hanya menjaga keselamatannya." Bisik Mario tepat di telinga Bulan.
Bulan melirik ke arah Cleo yang terduduk lunglai. Sesekali ia memanggil Mario. Dada Bulan terasa panas.
Ia mendengar Cleo akan membeli beberapa unit lagi untuk usaha barunya. Pastilah Mario sebagai konsultan propertinya.
"Oke. Aku ikuti kamu sampai ke rumahnya. Setelah itu kita pulang bareng." Usul Bulan. Mario masih menatap Bulan penuh selidik.
"Ya, supaya kamu tidak kesulitan pulang." Lanjut Bulan.
Mario tersenyum, lalu meraih dagu Kekasihnya.
"Jangan khawatir. Aku akan baik baik saja. Kamu pulang saja. Terlalu jauh soalnya, satu jam sendiri, jika sekali jalan. Aku yang mengawatirkan kamu, Sayangku! Sampai jumpa besok." Ujar Mario sambil mengecup bibir Bulan.
Bulan hanya menghela napas dalam-dalam.
"Sialan, tahu seperti ini, kehabisan saja semua minuman tadi! Biar Mario kerepotan mengurusku, bukan perempuan lain. Huh...!" Sesal Bulan dengan tampang bersungut-sungut.
Tapi setelah lama dipikir pikir, seandainya ia dan Cleo benar benar mabuk, akankah, Mario lebih mengurus..?
Bulan segera berlalu meninggalkan tempat itu menggunakan mobil Mario.
****
Pagi hari, Bulan bangun kesiangan, kepalanya masih berdenyut, efek minuman semalam.
Dia harus bergegas ke kantor karena ada meeting, belum lagi mengembalikan mobil Mario ke kantornya, dan ponsel Mario sama sekali tidak bisa dihubungi. Whatsapp yang dikirim Bulan, hanya centang satu dari semalam.
Mana pagi ini dia ke kamar mandi pada menit yang sama dengan Langit, yang membuatnya harus menggerutu sepanjang pagi.
DOR... DOR... DOR...
Bulan menggedor pintu kamar mandi.
"Buruan, aku harus mengantar mobil ke kantor Mario, nih!" Pekik Bulan.
"Bentar!" Langit menyahut dari dalam.
Pagi itu, Langit juga kesiangan. Ia juga memiliki masalah yang sama dengan Bulan. Ponsel Syaharani juga tidak dapat dihubungi. Sementara itu, dia juga belum punya waktu untuk mengunjungi kekasihnya itu. Syaharani sedang ujian, biasanya, kekasihnya enggan dikunjungi saat sedang ujian seperti ini, karena akan mengurangi waktu belajarnya.
Bagaimanapun usahanya untuk buru buru, Bulan tetap kesiangan sampai di kantor Mario. Belum lagi, ia diburu jadwal meeting.
Dia berlari menuju kantor Mario untuk menitipkan kunci mobil.
Tepat saat itu, di parkiran, ia menyaksikan Mario keluar dari mobil. Mobil Cleo...
Bulan terkesiap. Buru buru menyembunyikan badannya.
Tidak sampai sepuluh detik, mobil itu melesat pergi. Cleo yang duduk di belakang kemudi.
Bulan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Lututnya lemas.
"Ya ampun, apa Mario tidak pulang semalam?" Gumam Bulan, bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1