
Langit telah sampai di kantor Bulan lebih awal dari janjinya. Dia sengaja. Langit ingin menikmati suasana di arena olahraga saat menjelang sore.
Langit menuju ke lapangan basket. Di sana terlihat ada dua team sedang bermain basket.
Suara dribel bola, dan decitan sepatu, terdengar saling beradu. Langit menikmati permainan mereka, sambil sesekali memberi tepuk tangan saat bola masuk ke dalam keranjang setelah melalui perebutan dan pertahanan yang seru.
"Hai, kok sudah di sini?" Bulan menepuk pundak Langit, karena heran, Langit sudah datang lebih cepat.
"Iya. Aku rindu kamu." Sahut Langit.
"Ah, gombal! Bilang saja kamu lapar, ngajakin cari makanan, kan?" Tebak Bulan.
Langit terkekeh sambil merangkul pundak Bulan dan mencium kening istrinya itu.
Bulan melayangkan pandangannya ke setiap sudut tempat itu, melihat lihat, nanti ada yang memperhatikan mereka.
"Cari siapa?" Langit mengernyitkan menatap tingkah Bulan.
"Nggak, nggak apa apa, aku cuma malu, jika jadi perhatian orang lain." Bulan menjelaskan supaya Langit tidak tersinggung.
"Eh, tunggu dulu, aku ambil tas di atas dulu."
Langit menganguk. Kemudian, Bulan bergegas kembali ke kantornya untuk mengambil tasnya.
Sekitar sepuluh menit menunggu, Bulan tiba menemui Langit kembali.
*
Mereka kini berada di sebuah mall besar. Bulan berjalan sambil menggandeng Langit dengan mesra.
Tak jarang mereka saling bersenda gurau, lalu tertawa bersama sesekali.
"Eh, kita mau kasih apa nih, ke Eyang?" Tanya Bulan sambil melihat-lihat pakaian batik yang ada di etalase sebuah gerai batik ternama.
"Baju batik juga bagus buat Eyang." Sahut Langit sambil menunjuk sebuah kemeja batik lengan panjang.
"Atau kita belikan pakaian untuk bermain golf? Eyang lagi suka main golf, nih!" Seru Bulan spontan.
"Oke. Apa saja terserah, aku setuju saja." Sahut Langit.
Mereka meninggalkan gerai batik itu, lalu menuju ke sebuah gerai pakaian polo, sebuah brand kaos berkerah ternama.
"Ini nih, bagus deh buat Eyang." Tunjuk Langit sambil mengambil sebuah kaos berwarna navy.
Bulan seolah menilai pakaian yang ditunjuk oleh Langit. Lalu dia menatap Langit. Bulan mengambil pakaian itu dan mencocokkan pada tubuh Langit.
Langit hanya mengerutkan keningnya dengan heran.
"Aku juga cariin kamu baju golf. Siapa tahu, kita akan berkesempatan main golf sama Eyang dan Opa." Bulan menjawab keheranan Langit.
Bulan memilih warna putih kombinasi biru untuk Eyang dan warna navy untuk Langit, tak lupa memilih celana pendek santainya sebagai padanan kaos polo.
Mereka keluar dari gerai pakaian itu, berjalan jalan menikmati mall tersebut.
Tiba tiba Langit menarik lengan Bulan masuk ke wahana bermain saat mereka melewatinya.
"Ayo kita main basket di sana!" Ucap Langit sambil setengah berlari, masih memegang lengan Bulan.
Bulan hanya tersenyum, lalu mengikuti Langit.
Mereka bermain memasukkan bola basket ke keranjang. Keduanya saling bekerja sama memasukkan bola ke dalam keranjang, sebanyak-banyaknya. Langit ingin memecahkan rekor yang tercatat pada papan rekor game itu.
"Wool!" Seru Langit dengan gembira, saat mengetahui telah memecahkan rekor.
Langit merangkul Bulan dan mengecup keningnya dengan senang secara tak sadar karena kegirangan.
Lalu mereka bermain game petualangan, yang adu tembak.
"Ayo, Lan, maju!" Seru Langit.
__ADS_1
Bulan memainkan perannya, dengan baik. Mereka akhirnya menyelesaikan permainan dengan baik.
Bulan dan Langit tertawa saat melihat kupon hasil permainan mereka sangat panjang.
Lalu mereka bermain capit boneka, dan mencoba peruntungan di sana. Bulan dengan emosi mencoba beberapa kali.
Langit terkekeh saat boneka terjatuh saat telah tercapit. Bulan menggeram gemas.
"Huh, menyebalkan!"
Langit akhirnya mencoba peruntungannya, mencoba mengambil boneka yang tadi terjatuh di dekat lubang keberuntungan.
Langit menghela napas sejenak sambil menggosokkan telapak tangannya. Lalu mencoba permainan capit boneka itu.
Langit mengarahkan capit ke boneka sasaran, lalu menekan tombol dengan yakin. Capit turun mengambil boneka sasaran, lalu bergerak perlahan menuju lubang, saat tersentak, boneka terjatuh.
"Yaaahhh!" Bulan menutup wajahnya, karena gemas.
Saat membuka matanya. Sebuah boneka telah berada di tangan Langit.
"Astaga! Kita mendapatkan boneka itu!" Sorak Bulan dengan gembira, sambil memeluk Langit.
Langit tertawa melihat tingkah Bulan yang terlihat sangat gembira saat menikmati bermain di wahana bermain tersebut
Lalu sebagai penutupan, mereka akan menukar kupon yang mereka peroleh setelah menyelesaikan permainan.
Bulan dengan susah payah membawa ke counter hadiah untuk menukar kupon yang mereka dapat.
Lagi lagi, Bulan mendapat boneka hasil menukar kupon bermain tersebut.
Bulan dengan gembira memeluk boneka hasil bermain di wahana. Langit menenteng tas belanjaan mereka untuk kado besok.
*
*
Bulan memeluk eyang.
"Selamat ulang tahun, Eyang!" Ucap Bulan dengan sayang.
"Terima kasih." Sahut Eyang, lalu menoleh ke arah Langit, yang menyalami Eyang sambil mencium punggung tangan Eyang. Eyang langsung membalas dengan memeluk Langit.
"Aku tahu, kamu pasangan yang baik untuk Bulan. Jaga dia selalu." Bisik Eyang saat memeluk Langit.
Langit menganguk, sambil menatap Eyang dengan raut wajah yang serius.
Bulan menyadari perubahan wajah Langit saat itu. Namun, teriakan mama membuyarkan rasa penasarannya.
Mama menyuruh langsung ke meja makan untuk menikmati makan malam.
Setalah mengucapkan doa dan tiup lilin ulang tahun, mereka menikmati hidangan yang telah dipersiapkan untuk makan malam mereka.
"Jadi, kapan kalian akan merencanakan bulan madu?" Tanya Oma, saat mereka tengah menikmati makan malam.
"Belum tahu Oma. Kami masih sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing." Jawab Bulan sambil menoleh ke arah Langit, meminta bantuan saat Oma nanti akan lebih mendesaknya.
"Iya. Kalian itu, harus berlibur sejenak. Mumpung Eyang, Oma, dan Opa masih sehat, kalian bisa, kan, memberi cicit pada kami." Ucap Eyang, yang mendukung pertanyaan Oma.
Bulan hampir tersedak saat mendengar ucapan Eyang barusan. Lalu dia melotot pada Langit meminta bantuan untuk memberi jawaban atas ucapan Eyang.
"Kami akan atur jadwal kami kembali, Eyang. Dalam waktu dekat ini mungkin. Kebetulan, sekolah juga sedang masa ujian semester, setelah itu saya libur." Jawab Langit.
"Dan Bulan, tenang saja. Eyang akan bicara dengan personalia untuk kamu." Ucap Eyang, sambil menepuk pundak Langit.
"Raka, lalu kapan kamu akan mengenalkan calonku pada kami?" Sela Oma bertanya pada Raka.
"Tunggu Bulan punya anak dulu Oma." Jawab Raka dengan santai.
"Kamu itu loh,nggak usah lama lama. Apa sih yang kurang dari kamu? Ganteng, mapan, normal. Apa perlu Oma yang Carikan buat kamu?"
__ADS_1
"Nggak usah repot-repot, Oma. Nanti Raka akan cari sendiri saja."
"Awas loh, kalo lama lama!" Oma menatap tajam ke arah Raka.
Bulan menjulurkan lidahnya meledek Raka.
Setelah makan malam, Bulan dan Langit berpamitan.
"Maksudmu, kita akan pergi bulan madu?" Tanya Bulan saat dalam. Perjalanan pulang ke rumah.
"Hei, bukannya tadi Oma bilang, kita mendapatkan hadiah bulan madu. Kita bisa memilih mau pergi ke mana dan kapan saja." Ucap Langit.
"Ya. Lalu memangnya kita mau ke mana?"
"Ke tempat yang indah dan aku belum pernah datangi, dan kamu sukai." Ucap Langit sambil menoleh ke arah Bulan.
Bulan termenung, memikirkan mereka akan pergi ke mana untuk bulan madu.
Malam itu, mereka bersiap untuk tidur. Kini mereka tidur satu kamar dan dalam satu ranjang di kamar utama, yang dahulu kamar Bulan.
Langit tersenyum saat masuk ke kamar, ia menunjukkan paspor miliknya pada Bulan.
"Bagaimana, jika kita liburan ke negara yang bersalju. Akhir tahun, katanya bagus untuk liburan di Eropa." Ucap Langit.
Bulan terkejut, dia membuka mulutnya dan melotot ke arah Langit tak percaya.
"Kapan kamu membuatnya?"
Langit hanya tersenyum.
"Ah, kamu ini, sukanya memberi kejutan orang!" Bulan merajuk, sambil memukul lengan Langit dengan manja.
Langit tertawa sambil memeluk Bulan dengan mesra.
*
*
"Wuuusss...!!" Teriak Bulan dengan gembira saat meluncur di atas salju.
Bulan dan Langit menikmati bermain ski di Swiss.
Hamparan salju yang putih, dan orang orang dari negara mana pun datang ke sana untuk menikmati permainan seluncuran es dan ski di sana.
Langit beberapa kali mencoba berseluncur, setelah jatuh beberapa kali. Bulan yang sudah pernah bermain beberapa kali, terlihat telah terbiasa bermain ski.
Langit dengan menahan tongkatnya, dan melajukan alat skinya.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Langit dapat berseluncur dengan baik.
Langit dan Bulan sangat gembira menikmati permainan di salju saat itu.
*
*
Kini mereka bukan lagi pasangan yang penuh sandiwara.
Mereka saling mencintai dan menjalani kehidupan rumah tangga seperti pasangan yang lain, tanpa sandiwara lagi.
Bulan menatap Langit dengan penuh rasa cinta.
"Dulu, aku berharap Kamu adalah tiket yang dapat membawaku berkeliling Eropa menikmati musim salju seperti ini. Sekarang, aku dan kamu malah beneran ke Eropa, berdua, menikmati salju dan menghabiskan musim dingin di sini." Ucap Bulan sambil memeluk Langit.
*
*
SELESAI....
__ADS_1