
Pagi itu, Bulan membuka matanya perlahan karena mendengar suara ketukan pintu. Awalnya pelan, dan panggilan lembut, lama kelamaan, makin kencang dan suara makin keras memanggil namanya dan Langit.
TOK... TOK... TOK...
"Langit..., Bulan..., Nak... Langit...Bulan... Bulan..!"
Panggilan berulang dengan intonasi sama, dengan ketukan yang mengeras, akhirnya membuat Bulan terbangun dan sadar. Langit juga terkejut mendengar suara pintu diketuk berulang kali. Bulan bergegas turun dari ranjangnya dan meminta Langit untuk segera bangun.
Ia membukakan pintu, Mamanya tersenyum menatap pasangan pengantin baru yang baru saja bangun.
"Ini sudah jam 8 pagi, mandi dulu. Nanti Bulan akan dirias. Orang salonnya sudah datang." Ucap Mama lembut pada Bulan.
Bulan menganguk dengan wajah mengantuknya.
Langit yang baru bangun hanya menatapnya dengan sayu. Ia duduk di tepi tempat tidur.
Bulan bergegas ke kamar mandi. Saat ia masuk ke kamar. Ruangan telah rapi kembali. Kasur lipat telah masuk dalam tasnya dan diletakkan kembali ke atas lemari. Langit sudah tidak ada di kamar.
Ia menoleh ke kanan dan kiri, terlihat Langit duduk di bangku ruang makan sambil memakan sepotong risol. Bulan yang mengenakan piyama supaya mudah saat mengganti pakaian kebayanya, langsung bergegas mendekati Langit dan menarik kursi di sebelahnya.
"Kak, mau kopi atau teh?" Sepupu Langit menawari Bulan.
"Kopi saja." Sahut Bulan. Lalu ia melongok ke atas meja makan, telah tersedia aneka jajanan pasar dan nasi goreng juga. Bulan mengambil risol, dan memakannya. Tak lama sepupunya Langit datang sambil membawa secangkir kopi untuk Bulan.
Bulan meminum kopinya untuk mengusir rasa kantuk yang masih menyerangnya.
Setelah sekitar lima belas menit menikmati sarapan pagi itu.
"Sini Kak." Panggil seseorang. Bulan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Seorang perempuan masih muda, sepupu Langit, langsung menghampiri Bulan dan menggandeng masuk ke kamar lain.
"Ini ni, pengantin yang mau dirias." Ucapnya di ambang pintu saat masuk ke kamar.
"Nah, Mama sudah selesai, kini giliran Bulan ya." Ucap Mama Langit sambil berdiri dan merapikan rambutnya yang sudah rapi sebenarnya.
Bulan tersenyum kikuk, lalu duduk di bangku tempat Mama tadi duduk. Tak lama Mama berlalu keluar dari kamar itu.
"Mau dibuatkan kopi lagi, Kak?" Tanyanya.
"Oh, tidak. Terima kasih." Sahut Bulan menjawab tawaran salah satu sepupu Langit yang ikut menunggu Bulan dirias saat itu. Ia mengamati dengan seksama, tampang Bulan yang masih terkantuk-kantuk.
"Kak, kok nggak main sinetron saja seperti mamanya? Kak Bulan kan cantik." Tukas si sepupu yang masih remaja itu.
__ADS_1
Bulan tersenyum geli mendengar pertanyaan sepupu Langit.
"Aku tidak siap diuber uber infotainment." Sahut Bulan, sontak membuat si sepupu terkikik.
"Tapi, khusus Mama, tidak ada yang nguber, karena beritanya tidak menjual." Bulan melanjutkan celetukannya sambil terkikik juga.
Sang make up artist memoles wajah Bulan perlahan, mulai dari yang tipis warna kulit, hingga berwarna.
Bulan nyaris tertidur saat wajahnya dipoles sang make up artist.
Ponselnya bergetar membangunkan Bulan, ia membaca nama Mario di layar ponselnya.
Bulan seketika tersadar. Kantuknya hilang seketika, ia memelototi layar ponselnya yang masih menyala.
"Halo." Bulan mengeluarkan suara senetral dan setenang mungkin. Maksudnya jangan sampai menunjukkan perasaannya yang meluap. Karena saat ini ia tengah dikelilingi oleh orang yang semuanya merupakan keluarga Langit.
Sesekali Bulan melirik ke kanan dan kiri melihat situasi mengamati apakah ada yang curiga atau tidak.
"Aku sudah kembali ke Jakarta. Kamu memintaku untuk mengabarimu, kan?" Tanya Mario di seberang sana.
Bulan menyembunyikan senyum girangnya di balik telapak tangannya yang ditangkupkan menutupi bibir. Dia tidak bisa berekspresi sesukanya, takut ketahuan.
"Mbak, tangannya jangan menutupi wajah ya!?" Ujar si penata rias.
"Bagaimana liburanmu?" Tanya Bulan.
"Setengah liburan setengah kerja, jadi ya, tidak bisa menikmati liburan seratus persen. Tapi, cukup menyenangkan."
"Baguslah." Komentar Bulan singkat.
Di atas tempat tidur, Mario agak merasa kesal dengan komentar Bulan yang irit. Mario menebak saat ini Bulan tengah berada bersama Langit.
"Sedang di mana?" Tanya Mario menyelidik.
Bulan terdiam sesaat. Memutar otak cepat mencari jawaban. Tidak mungkin ia menjawab yang sebenarnya.
"Lagi di rumah Mama Papa." Jawab Bulan akhirnya, tanpa perlu merinci Mama Papa siapa.
Mario menganguk angguk mengerti kini. Saat ini Bulan tengah bersama keluarga, makanya Bulan tak banyak bicara, supaya tidak ketahuan.
"Oya, aku sudah memesan meja di restoran untuk dinner nanti malam. Nanti aku whatsapp tempat dan alamatnya. Kita bertemu jam delapan, oke?" Ucap Mario.
"Hah? Apa?! Malam ini?" Bulan terkejut, lalu langsung menutup mulutnya, karena terlalu keras bicara. Mata Bulan melirik orang orang di sekelilingnya. Sejauh ini tidak ada yang curiga. Ia menghela napas lega.
__ADS_1
Otaknya berpikir keras, karena sebenarnya, jadwalnya adalah pulang keesokkan harinya, namun Mario telah memesan restoran untuk dinner mereka malam ini.
Bulan bingung, ia tak tega membuyarkan rencana Mario. Biasanya jika memakai pesan meja terlebih dahulu, dinner yang direncanakan oleh Mario adalah candle light dinner yang romantis.
"Bulan?" Panggil Mario kembali, karena tak ada sahutan dari Bulan.
"Oh, i-iya, tapi mungkin di atas jam segitu." Jawab Bulan tergagap.
"Oke, katakan saja pukul berapa. Aku tunggu di sana." Jawab Mario.
"Oke." Jawab Bulan singkat.
"Telponku bikin kamu tidak nyaman ya?"
"Iya, eh, nggak.. Hanya saja..." Bulan buru buru meralat.
"Oke. Aku ngerti kok. Sampai nanti ya. I miss you." Ucap Mario perlahan.
Jantung Bulan seakan berhenti berdetak sesaat. Ia tak mungkin menjawab kata yang sama saat ini.
"Sama. Sudah ya. Bye." Jawab Bulan singkat, lalu langsung menutup panggilan ponselnya.
Mario tersenyum saat menutup panggilannya. Ternyata keinginannya untuk menemui Bulan sangat besar dan tak bisa dibendung lagi. Dia teramat merindukan gadis itu.
Setelah ia selesai dirias, Bulan menghampiri Langit yang ada dalam kamar.
Ia kemudian menjelaskan telpon yang baru saja ia terima dari Mario, yang mengajaknya untuk makan malam di sebuah restoran.
"Jadi kita pulang malam ini?" Tanya Langit menebak maksud inti cerita Bulan.
"Hmm.. Jika kamu tidak keberatan sih..."
Bulan menatap Langit seolah memohon.
"Oke. Setelah selesai semua acara dan tamu tamu sudah pulang, kita akan kembali ke Jakarta nanti malam." Ucap Langit.
Seketika wajah Bulan berbinar dan langsung refleks memeluk Langit.
Langit yang terkejut hanya terdiam tanpa merespon apapun. Bulan langsung menyadari, dan melepas pelukannya dengan canggung.
Lalu mereka berdua mundur dan saling menjauh.
Bulan merasa sangat lega, akhirnya Langit mau diajak bekerjasama untuk pulang hari ini. Bulan merasa tak sabar untuk menunggu nanti malam untuk bertemu dengan Mario.
__ADS_1