(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Asumsi


__ADS_3

Di sore hari yang terik kala itu. Sonya melajukan mobil menembus macetnya jalanan ibu kota saat jam pulang kantor.


"Huuuhhh... Panas banget hari ini! Jam segini matahari masih betah terangnya! Gerah ahh!" Sonya mulai menggerutu sendiri. Ia mengenakan topi lebarnya ala ala pelancong yang berjalan jalan di pantai, lalu tak lupa ia memakai kacamata gelapnya yang bertengger dengan setia melindungi matanya.


Lalu ia turun dari mobil sedan mewahnya itu. Sonya sengaja kembali lagi menuju ke kantor Happy Fun Tour and Travel. Dikarenakan ada satu kenalan yang mendadak ingin berganti tujuan wisata, karena baru menyadaybahwa dia pernah ke sana beberapa tahun yang lalu.


"Mbak, saya bisa rubah destinasi tempat wisata yang sudah saya pesan?" Tanya Sonya pada salah seorang pegawai yang menerimanya.


"Oh, bisa, Bu. Bisa saya cek lembar pemesanannya kemarin." Jawab pegawai itu dengan ramah.


Sonya mengambil selembar kertas dari tasnya, lalu memberikan pada pegawai itu.


"Jadi, mau dirubah ke mana, Bu?"


"Mau dirubah ke Labuhan Bajo."


"Baik, Bu. Silahkan menunggu, saya proses kembali, sebentar pesanannya." Sahut pegawai tadi, masih dengan nada dan raut wajah yang ramah, melayani Sonya.


Kenalan Sonya yang semula ingin berwisata ke Lombok, merubah destinasi wisata, kali ini ia ingin ke Labuhan Bajo. Katanya, menurut beberapa teman yang sudah pernah ke sana, Labuhan Bajo, adalah the best keindahan alam lautnya.


"Huh, bete! Cari kerjaan saja nih! Kalau nggak ingat baiknya dia selama aku di negaranya, ogah banget harus berpanas-panasan dan bermacet-macetan di jalan untuk mengurus hal begini. Mana pake acara lupa minta nomor telepon kantornya lagi!" Sonya masih setia menggerutu.


Hampir setengah jam lebih dia menunggu proses administrasi pergantian destinasi wisata untuk temannya itu. Sonya duduk menunggu di kursi yang ada di lobi yang menghadap ke arah jalan.


"Aduh, pandangan yang sangat membosankan!" Gerutu Sonya lagi dan lagi. Matanya menuju ke arah jalan di depan ruko kantor tour and travel itu. Ia memandang tanpa semangat ke arah jalan yang dilewati kendaraan dan orang orang yang berlalu lalang. Lalu pandangannya terpaku pada satu orang yang sedang lewat di sana.


"Hah, Langit? Ngapain dia ada di sini?"


Sonya berpikir Langit hanya sekedar lewat, lalu ia kembali duduk dengan tenang di kursi, namun tiba tiba mulutnya menganga dan matanya membesar.

__ADS_1


"Sedang apa dia beredar sampai sini? Jangan jangan dia...? Aku harus mencari tahu. Ini menyangkut sahabat baikku!" Gumam Sonya. Lalu ia bergegas berdiri. Sonya berjalan menuju pintu kantor, tak lupa menyambar topi lebarnya yang tergeletak di meja kantor itu.


"Mbak, saya pergi sebentar." Pesannya pada pegawai yang melayaninya.


"Baik, Bu." Jawabnya dengan sopan.


Sonya menuju jalanan tempat ia melihat Langit tadi. Ia menoleh ke kanan dan kiri celingukan sembari berjalan.


"Ke mana, ya?" Tanyanya dalam hati.


Sonya mengedarkan pandangan matanyabje sekeliling tempat itu.


Ting!


Tepat di sebuah kafe yang ada dalam kawasan ruko perkantoran itu, ia melihat dengan jelas Langit duduk berhadapan dengan seorang perempuan. Karena meja mereka tepat berada di sebelah jendela kaca. Sonya menatap tak percaya sambil menutup mulutnya yang membuka lebar. Lalu mengerutkan keningnya dengan tatapan penuh selidik. Dengan sigap, cepat cepat ia membalikkan badannya.


"Bodoh! Jika aku balik badan begini, aku nggak bisa melihat mereka dong. Dodol!" Rutuk Sonya menyadari kebodohannya.


Dan seperti dalam film-film detektif itu, Sonya memilih meja di belakang Langit. Saat itu Langit tengah duduk menghadap dengan lawan bicaranya.


Semua itu Sonya lakukan dengan hati hati tanpa menarik perhatian. Saat harus memesan minuman, dia hanya menunjukkan dengan jari pada buku menu kafe itu. Sonya tak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Takut ketahuan. Karena saat itu kafe masih sepi pengunjung, dan juga termasuk kafe yang kecil. Jadi, jika Sonya bersuara, maka Langit akan mengetahuinya dengan mudah dari suaranya.


"Untuk toppingnya mau apa, Kak? Kita ada almond, nut, dan cokelat." Tanya pelayan kafe saat Sonya menunjuk pilihan dari buku menu.


Sonya menggeleng dengan cepat tanpa memperhatikan pelayan itu, dan tetap fokus pada Langit dan perempuan itu.


"Makanannya mau pesan apa, Kak?" Pelayan itu masih bertanya.


Lagi lagi Sonya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Pelayan kafe itu mengernyitkan dahinya, merasa janggal dengan kelakuan perempuan bertopi lebar di depannya itu.


Lalu pergi berlalu menyelesaikan pesanan yang telah dipesan oleh Sonya.


Sonya masih fokus dengan setiap gerak gerik yang dilakukan oleh Langit dan perempuan misterius yang bersamanya kali itu.


Sonya menyaksikan si perempuan menyerahkan paper bag berukuran besar kepada Langit.


Mata Sonya yang penasaran makin membulat dan membesar, pemasaran dengan isi dalam paper bag itu.


"Ini, Mas. Ini semua barang..." Ucap perempuan itu.


Bersamaan dengan itu, tiba tiba ponsel Sonya berbunyi dengan volume yang keras, sehingga membuat Sonya terlonjak terkejut.


"Hah! Aduh, Langit menoleh pula!" Rutuk Sonya. Cepat cepat dia menoleh, membalikkan badan sembari tangan memegang ponselnya untuk menjawab.


Saat ini posisi duduknya memang jadi terlihat aneh. Tapi, daripada ketahuan.


"Aduh, mampus deh! Raka telpon. Pasti soal keputusan lepas saham. Harus dijawab nih!" Sonya menatap dengan tegang ponselnya saat ini.


Sonya buru buru berdiri, melempar uang ke meja untuk membayar minuman yang belum sempat diminumnya, melihat wujudnya pun belum. Harga minuman pun ia tak ingat, namun, ia berasumsi tidak lebih dari lima puluh ribu. Maka ia melempar lembaran uang lima puluh ribu rupiah ke meja. Lalu melangkah dengan buru buru dengan kepala menunduk.


"Aduh, kacau deh!" Omel Sonya saat membuka pintu mobil, dan ia menjawab panggilan dari Raka tersebut setelah berada dalam mobilnya. Lalu ia bergegas, melajukan mobilnya setelah menjawab panggilan dari Raka.


Berdasarkan petunjuk petunjuk yang didapat hingga sejauh ini. Sonya berasumsi bahwa saat ini Langit sedang berselingkuh. Sekarang ia bingung, bagaimana caranya ia harus mengatakan ini semua pada Bulan


"Heh, kasihan Bulan. Aku tahu, mereka menikah bukan karena keinginan mereka, tapi nggak bisa begini dong caranya!" Sonya bersungut-sungut sambil menyetir dan mulutnya terus mengomel. Sampai setengah perjalanan.


"Astaga naga! Happy Fun Tour and Travel!" Sonya menepuk jidatnya, menyadari kebodohannya kali ini. Ia baru menyadari, dia belum menyelesaikan urusannya dengan agen tur tadi. Dan lagi lagi ia melupakan meminta nomor kantor agen tur tersebut.

__ADS_1


Kacau sekali...!


__ADS_2