(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Pergi ke rumah mertua


__ADS_3

Setelah perhelatan besar dalam hidup Bulan, tidak lantas membuat hidupnya lebih santai. Ia dan Langit harus memainkan peran saat di luar rumah. Berpura pura menjadi pasangan suami istri saat di hadapan orang lain. Setelah mereka tinggal berdua, kembali lagi menjadi teman seperti perjanjian awal mereka.


Beberapa hari yang lalu, Mama dan Papa Langit mengabari, bahwa akan ada pesta penyambutan anggota keluarga baru bagi Bulan di kediaman orang tua Langit di daerah Bogor.


Acara itu masih merupakan satu rangkaian pesta pernikahan mereka.


Acara akan diadakan pada hari Minggu, namun, mereka harus datang satu hari sebelum acara dimulai.


Bulan menatap dirinya sendiri pada cermin. Ia menurunkan bahunya dan menghela napas. Setelah kemarin merasa lebih baik, ia pergi ke salon untuk merapikan rambutnya yang mulai tak beraturan. Kali ini ia memangkas lebih pendek rambutnya.


Ia memilih potongan model Bob shagy kali ini. Biasanya ia memilih potongan layer biasa atau sekedar merapikan saja.


Ia mulai bosan dengan tampilan rambut panjangnya, maka ia kemarin meminta tolong salon langganannya untuk sedikit make over gaya rambutnya supaya terlihat lebih segar.


TOK... TOK...


Pintu kamar Bulan diketuk.


"Lan, apa sudah siap?" Seru Langit dari luar kamar Bulan.


"Siap. Bentar ya." Sahut Bulan.


Bulan berdiri di depan cermin, menatap dirinya sekali lagi.


"Tak apa apa, hitung hitung tambah saudara. Seaneh apa pun cara mendapatkannya." Gumam Bulan menghibur diri.


Lalu ia menenteng tas kopernya, lalu membuka pintu kamarnya.


Langit menunggu di sofa sambil memainkan ponselnya, di sampingnya sudah ada tas ransel berisi pakaian ganti.


Jam bergeser dari petang saat Bulan dan Langit tiba. Mereka memang sengaja berangkat sore. Hari itu, Langit memang ada jadwal mengajar, hingga menjelang sore. Dan juga supaya bulan tidak perlu berada di rumah orang tua Langit terlalu lama.


Bulan masih merasa kikuk bergaul dengan keluarga barunya saat ini, keluarga baru itu tak lain dan tak bukan adalah keluarga Langit, bukan cuma keluarga inti, tapi juga keluarga besarnya. Lalu saling memperlakukan bak keluarga sungguhan. Padahal di mata Bulan pernikahan mereka hanyalah pernikahan di atas kertas saja.


Mereka tiba di kediaman orang tua Langit menjelang malam. Setibanya di sana, mereka disambut hangat oleh keluarga Langit.


Tuan rumah, yang tak lain Papa dan Mama Langit, langsung menggiring mereka untuk menikmati makan malam bersama.

__ADS_1


Beberapa saudara Langit juga sudah ada di sana. Mereka datang untuk membantu persiapan acara besok.


Jelas sekali mereka mengamati sedetail mungkin diri Bulan. Maklum, pernikahan Langit serba mendadak sehingga membuat seluruh keluarga besar bertanya tanya.


Beberapa sepupu yang dekat dengan Langit tahu, bahwa kekasih yang terakhir diceritakan oleh Langit bernama Syaharani. Saat itu Langit masih enggan untuk memperkenalkan Syaharani, dengan alasan belum waktunya.


Lalu kini, dengan tiba tiba Langit mengumumkan mau menikah, dan dengan wanita lain pula.


"Huf... Pasti habis ini mereka bakal mengomentari aku habis habisan." Ujar Bulan dalam hati, ia merasa agak takut.


Bulan merasa saat ini menjadi pusat perhatian seluruh anggota keluarga besar Langit. Meski tidak mendengar sendiri, ia sangat yakin saat ini beberapa di antara mereka tengah berbisik membicarakannya. Ia mulai merasa jengah.


Untung lah, Mama dan Papa Langit sangat ramah, menyambut dan menerimanya di rumah itu. Terutama kakak perempuan Langit, yang sangat ramah dan baik pada Bulan.


Langit memiliki dua saudara kandung. Satu kakak perempuan, yang telah menikah dan telah memiliki anak perempuan berusia tiga tahun, yang saat ini tinggal di Solo mengikuti suaminya bekerja di sana. Dan satu lagi adik perempuan yang masih tinggal di rumah bersama orang tua mereka.


Mereka menikmati makan malam dengan berbincang-bincang saling mengenal satu sama lain antar keluarga.


Kakak perempuan Langit, bernama Dewi, banyak bercerita mengenai keluarga mereka. Lalu ia tak segan segan menceritakan Langit yang nakal dan iseng saat mereka masih kecil. Kak Dewi lebih tua lima tahun dari Langit, dia terlihat keibuan, lemah lembut, namun tegas.


Berbeda dengan cerita Langit tentang Kak Dewi, ia mengatakan Kakaknya sangat tomboi dan usil sewaktu kecil dulu, bahkan teman bermainnya kebanyakan anak laki-laki, yang membuat Mama sering marah marah saat ia pulang, selalu kotor, terkadang ada baret luka pada tubuhnya.


Kemudian orang tua Langit menyuruh mereka untuk beristirahat, untuk mempersiapkan tenaga untuk besok.


"Pakai kamar yang besar saja ya, Lang." Instruksi Mama Langit.


Bulan melirik ke arah Langit sambil mengerutkan keningnya.


Akhirnya hari ini tiba juga, hari di mana dirinya dan Langit bakal menghabiskan malam bersama dalam satu ruangan, seranjang, dalam keadaan sadar. Bulan menghela napas panjang.


"Ah, tidak usah, Ma. Kami pakai kamarku saja." Sergah Langit.


Yang dimaksud kamar besar adalah kamar orang tua Langit. Satu satunya kamar di rumah itu yang memiliki tempat tidur berukuran besar king size.


"Apa cukup, atuh untuk berdua?" Tanya Mama tidak yakin.


"Kan ada kasur lipat." Seloroh Langit.

__ADS_1


"Iya, kan cuma dua malam saja." Imbuh Bulan sambil mengangguk cepat.


Gantian Langit yang melirik pada Bulan.


"Cuma tidur saja, Ma. Capek buat yang lain lain. Nggak keberatan kan, Lan, kita nggak ngapa ngapain dua hari?" Ujar Langit sambil merangkul pundak Bulan.


Semua yang mendengar ucapan Langit tersenyum senyum. Lalu wajah Bulan langsung merah merona seketika.


"Sialan, Langit... Tapi, bagus juga sih aktingnya." Gerutu Bulan dalam hati.


Lalu Langit mengambil ranselnya, diikuti Bulan menenteng tas kopernya. Lalu mengikuti Langit menuju ke sebuah kamar.


Langit membuka sebuah kamar.


"Ini kamarku." Ujarnya sambil menyalakan lampu kamar.


Bulan melangkah masuk, lalu meletakkan tas kopernya di lantai.


Tidak banyak barang dalam kamar itu. Hanya tempat tidur, lemari, dan meja kecil. Maklum, jarang dihuni. Hanya ditempati, saat Langit pulang, atau jika ada saudara datang menginap.


Langit menutup pintu kamar, berjalan ke arah lemari dan mengambil kaos dan celana pendek untuk tidur. Bulan hanya terdiam kikuk.


Langit meraih tas besar yang berada di atas lemari, lalu meletakkan di lantai.


"Boleh pilih, kasur lipat atau kasur dipan?" Tanya Langit sambil menggelar kasur lipat di lantai dan membersihkan dengan penebah.


"Kasur dipan dong!" Jawab Bulan cepat. Dia lantas pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, menggosok gigi, sekaligus berganti pakaian.


Saat kembali ke kamar, Langit telah mengenakan pakaian rumahnya.


"Aku mau kasih CD ke Mama dan Papa." Ucap Langit sebelum keluar kamar. Bulan menganguk. CD yang dimaksud adalah CD pernikahan mereka.


Di atas tempat tidur, Bulan tidak bisa langsung tidur. Bola matanya bergerak menjelajahi seluruh kamar.


Ia teringat hari setelah pesta pernikahan. Mereka pulang larut malam, dan langsung masuk ke kamar masing-masing.


Besok paginya saat bangun, Langit sudah berangkat ke tempat kerja. Lalu di meja makan sudah tersedia makanan yang mereka bawa kemarin, dari pesta. Makanan telah dihangatkan, lalu rice cooker telah berisi nasi. Lalu ada tempelan kertas di pintu kulkas dengan tulisan: semoga masih hangat pas kamu bangun, aku berangkat dulu.

__ADS_1


Bulan merasa pertemanan mereka timpang sebelah. Dia merasa Langit selalu melayani, menuruti, dan mengamini. Sedangkan dia, adalah bos-nya.


__ADS_2