(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Makan Malam


__ADS_3

"Ya Tuhan, Langit! Kamu itu ngapain sih? Bisa bisanya jatuh, di kasur segede ini!" Oceh Bulan sambil menggelengkan kepalanya.


Langit meringis dengan malu.


"Tadi kukira kamu sudah tidur, tenyata malah memanggil. Membuat aku jadi kaget, tahu..!" Sahut Langitnya menggaruk kepalanya.


Langit lalu mengubah posisinya menjadi duduk bersandar sandaran kasur. Bulan ikut menyandarkan punggungnya juga.


"Huh... Aku jadi ga bisa tidur nih. Rasanya aneh saja. Dulu kita di sini dan melakukan semuanya, hingga berakhir... Yah, kamu tahulah. Rasanya kita ingin mengendalikan semua, tapi tidak bisa." Bulan menghela napasnya.


Langit menganguk angguk setuju, ternyata Bulan juga merasakan hal yang sama dengannya.


"Aku juga nggak bisa tidur di sini." Sahut Langit.


"Kita memang butuh kasur lipat." Gumam Bulan.


"Lan." Panggil Langit.


"Ya." Bulan menoleh ke arah Langit.


Langit diam sejenak.


"Aku tadi..." Langit menggantung kalimatnya, ragu untuk menceritakan pertemuannya tadi dengan Syaharani.


Bulan memajukan punggungnya, untuk menyimak Langit lebih seksama.


"Ah, sudahlah, tidak penting juga!" Sambung Langit akhirnya, lantas bangkit dari tempat tidur.


"Aku mau nonton televisi saja. Tidak jadi ngantuk." Ucapnya sambil menuju pintu.


Bulan mengangkat bahu, tidak ngerti dengan sikap Langit.


"Hati hati, jatuh lagi!" Seru Bulan sambil terkikik meledeknya.


Akhirnya malam itu Langit menghabiskan malam di sofa ruang tengah sambil menonton televisi. Sedangkan Bulan tidur dalam kamarnya.


***


Paginya Langit bersiap mengantar Mawar dan Sita ke tempat kontes band pacar Mawar.


"Kabari saja, jika sudah selesai, nanti aku jemput." Pesan Langit pada Mawar dan Sita.


"Baik Kak. Terima kasih, Kak Langit dan Kak Bulan." Mawar dan Sita masuk ke lokasi pertunjukan band, di pintu masuk terlihat seorang pemuda menyambut mereka.


"Jadi, kamu mau mampir ke tempat Maura?" Tanya Langit.


"Ya. Aku ada janji dengan mereka, di tempat Maura. Semoga bisa pulang lebih dulu dari acara Mawar dan Sita." Ucap Bulan.


"Memangnya kenapa?" Langit mengerutkan keningnya.


"Gak enak lah, jika ketahuan sama adikmu. Tadi pagi, hampir saja ketahuan sama merek, kalau kamu tidur di sofa." Celetuk Bulan.

__ADS_1


"Iya, ya. Nanti ada laporan, bahwa istri menelantarkan suaminya tidur di luar kamar di malam hari yang sepi." Sahut Langit sambil bergurau.


Mereka tertawa bersama kemudian.


Langit mengemudikan mobil menuju ke kediaman Maura. Di sana telah menunggu Vera.


"Langit, terima kasih." Ucap Bulan sambil melepaskan sabuk pengamannya.


"Sama sama. Kamu bisa menghubungi aku, jika telah selesai." Ucap Langit.


"Kamu langsung pulang?" Tanya Bulan.


"Ya, membereskan rumah, seperti biasa saat liburan." Ucap Langit sambil tersenyum.


"Oke. Hati hati. Sampai jumpa nanti."


Bulan membalikkan tubuhnya memasuki rumah Maura. Maura membukakan pintu dan langsung menggandeng tangan Bulan menuju teras belakang rumahnya. Di sana sudah ada Vera dan Mita sedang membuat minuman dan menyiapkan makanan ringan untuk mereka.


Mereka menghabiskan untuk membahas banyak hal, mulai artis, make up, fashion, hingga masalah lelaki.


Vera dan Mita menatap Bulan saat pembahasan mengenai masalah pasangan. Karena di antara mereka baru, Bulan yang telah menikah. Ya meski menurutnya hanya di atas kertas, namun yang terlihat di mata orang lain, mereka sudah menikah secara resmi.


Hanya Maura berusaha menjauhkan Bulan dari pertanyaan Vera dan Mita, yang bagai suara petasan yang meledak-ledak karena penasaran mengenai kehidupan beriman tangga.


"Jadi, bagaimana nih, cerita malam pertama kalian?" Cecar Vera.


"Ah, biasa saja, Nek. Kami tidur dengan nyenyak." Sahut Bulan dengan malas.


Maura hanya terkikik geli mendengar pertanyaan yang dilontarkannya oleh Vera dan Mita.


Suara panggilan telpon dari Mama, menyelamatkan Bulan dari cecaran temannya tadi.


"Ya, Ma?"


"Bulan, nanti malam, ada acara kan?" Tanya Mama.


"Belum ada jadwal, Ma. Ada apa?" Tanya Bulan penasaran.


"Nanti malam datang untuk makan malam ke rumah, ya! Ajak Langit!" Ucap Mama.


"Baik, Ma." Jawab Bulan.


Bulan berencana mengajak Mawar dan Sita juga, nanti malam untuk menerima undangan makan malam bersama Mama, Papa, dan terlebih Eyang Kalungnya.


Hari menjelang siang, Langit telah menunggu Bulan dalam mobil di depan rumah Maura


Ia melihat Bulan berjalan menuju mobil, lalu membuka pintu mobil dan menghempaskan punggungnya sambil menghela napas.


"Mawar dan Sita nanti langsung pulang ke Bogor. Mereka pulang bersama pacar Mawar." Ucap Langit sambil terus fokus menyetir.


"Oh..." Bulan hanya diam saja, dan kebanyakan mengucapkan kata O.

__ADS_1


"Mama mengundang kita makan malam di rumah. Oma dan Opa juga datang malam ini."


***


Menjelang sore, Langit dan Bulan menunggu kedatangan Mawar dan Sita, yang pulang ke rumah untuk mengambil tas mereka, dan langsung kembali ke Bogor bersama kekasih Mawar dan teman satu band mereka.


Langit terlihat mencemaskan adiknya. Berulang kali ia menatap pacar adiknya dengan tatapan menyelidik dan penuh keraguan.


"Tenang, Kak. Saya akan mengantar Mawar dan Sita sampai di rumah tanpa kurang satu apa pun!" Janji pemuda itu.


Langit tetap bergeming, sambil memperhatikan Mawar yang sibuk menaruh tas dalam bagasi mobil.


"Hati hati di jalan ya. Sampaikan salam untuk Mama dan Papa di rumah." Ucap Bulan sambil memeluk Mawar dan Sita bergantian.


Rumah kini, kembali sepi seperti sedia kala. Langit menghabiskan waktu untuk mencari soal soal untuk bahan mengajarnya. Sedang bulan juga mulai menghabiskan waktu di depan monitor laptop.


***


Menjelang jam makan malam. Mereka tiba di kediaman orang tua Bulan.


Mereka di sambut orang tua Bulan.


Mereka menikmati makan malam dengan penuh kehangatan dari keluarga Bulan.


Eyang tampak mengobrol bersama Langit di teras samping saat Bulan menaruh piring piring bekas mereka makan ke dapur.


"Tampaknya, Langit anaknya baik." Ucap Mama.


Bulan tak menjawab, pura pura tak mendengar.


Oma dan Opa juga ikut bergabung untuk mengobrol bersama Langit dan Eyang.


Duh... Bulan hanya termangu menatap keakraban keluarganya dengan Langit hari itu.


"Bulan, sini! Duduk mengobrol bersama kami!" Panggil Eyang sambil melambaikan tangannya memintanya untuk datang.


Bulan yang mulanya ingin pura pura tak mendengar, diurungkannya, karena melihat mamanya sedang menatapnya dan mendengarkan panggilan dari Eyang.


Bulan mendekati mereka, lalu duduk di samping Langit.


"Nah, gitu dong. Pengantin baru itu harus mesra!" Ucap Oma dengan senang.


"Jadi, kapan rencana kalian untuk memberi cicit untuk Oma, Opa, dan Eyang?" Tanya Oma lagi.


Bulan dan Langit hanya saling pandang. Pikiran Bulan kosong mendadak saat itu, ia seakan tak memiliki alasan untuk menjawab pertanyaan dari Omanya.


"Mohon doanya, Oma." Sahut Langit sambil tersenyum.


"Oma selalu berdoa, supaya sebelum meninggal dapat menimang cicit dari kalian." Jawab Oma sambil menepuk pundak Langit dan Bulan.


Bulan membulatkan matanya menatap Langit, sedang Langit hanya bisa nyengir saat itu.

__ADS_1


__ADS_2