(Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian
Status Baru


__ADS_3

Usai pesta pernikahan, Bulan dan Langit langsung tinggal di rumah Bulan. Ya seperti dulu lagi. Usai resepsi acara pernikahan, mereka langsung kembali ke rumah dengan mobil Bulan.


Mama dan Papa Bulan hanya bisa geleng-geleng kepala dibuatnya. Bagaimana ceritanya pengantin baru langsung cepat cepat ingin kembali ke rumah sebelum pesta selesai. Beberapa tamu dan keluarga hanya tersenyum, mereka salah mengira, bahwa pasangan itu hendak melakukan hal yang halal seusai ijab kabul. Padahal kenyataannya, Bulan hendak menyelesaikan pekerjaan yang tertunda selama beberapa hari yang lalu.


Sesampai di rumah, Bulan langsung menuju kamarnya dan melepas semua atribut kepala yang dikenakan. Satu persatu jepit ia lepas dari rambut. Lalu mencopot bulu mata palsu dari kelopak matanya.


Bulan membersihkan wajahnya dengan kapas diberi cairan pembersih make up. Kapas berubah menjadi cokelat hingga kehitaman. Bulan membersihkan make up yang menempel di wajah hingga lehernya.


Bulan mengganti pakaiannya dengan celana pendek rumahan dan piyama bututnya.


Lalu ia bergegas ke kamar belakang menemui Langit.


"Langit!" Panggil Bulan di depan pintu kamar.


Tak ada jawaban. Padahal tadi Bulan mendengar suara pintu kamar ditutup, dan Langit dari kamar mandi.


"Sudah tidur?" Tanya Bulan, kali ini dengan suara lebih lembut.


Terdengar pintu dibuka. Langit terlonjak saat melihat Bulan di depan kamarnya dengan rambut megar bagai surai singa.


"Astaga! Kamu mengagetkan. Ada apa?"


"Bisa minta tolong." Bulan menyodorkan bedak bayi dan sisir.


"Buat apa?" Langit mengerutkan keningnya.


"Taburkan ke rambutku, supaya mudah dirapikan." Sahut Bulan.


"Kirain akan dipake sampai besok pagi!" Celetuk usil Langit.


"Enak saja! Gerah tau!" Balas Bulan manyun.


Ia duduk di bangku dapur, sedang Langit menabur bedak ke atas kepala Bulan, lalu menyisirnya perlahan.


Terdengar sesekali jeritan karena rambutnya tertarik dari Bulan. Langit tetap sabar merapikan.


"Tunggu." Bulan bergegas masuk ke kamarnya, lalu tak lama ia kembali dengan sebotol minyak zaitun di tangannya, lalu menyodorkan pada Langit.


"Diapakan?" Tanyanya polos.


"Kamu minum! Nggak lah!" Sahut Bulan bergurau.


"Kamu oles ke rambutku supaya bekas hair spray nya hilang."


Langit melakukan semua instruksi Bulan untuk mengembalikan rambutnya ke semula.


Setelah berkutat dengan bedak, minyak zaitun, dan sisir, akhirnya selama satu setengah jam, rambut Bulan mulai kembali lagi seperti semula, meskipun bau hair spray masih tercium.

__ADS_1


Bulan menuju ke kamar mandi untuk keramas, setelah ia mengucapkan terima kasih pada Langit.


Malam itu Bulan masih berkutat di sofa ruang tengah di depan layar laptopnya. Sesekali ia menatap ponselnya.


Dua hari lagi peresmian lapangan basket yang direnovasi. Kali ini ia mengundang penyelenggaraan event dalam peresmian itu.


Besok pagi ia harus mempersiapkan untuk acara dan mengecek langsung semuanya.


Tepat di hari peresmian lapangan basket. Bulan dapat tersenyum lebar saat itu. Wajahnya berbinar dan terlihat puas akan hasil kerja kerasnya selama itu. Proyek pertama yang dilakukannya sukses.


Dua acara besar baru saja selesai dijalani.


Peresmian lapangan basket yang baru mendapat respon positif dari berbagai pihak. Terutama pihak penyelenggara event olahraga.


Ke depannya Bulan akan melakukan hal yang sama terhadap lapangan bulutangkis. Dia hendak merangkul mereka untuk mengadakan kompetisi bulutangkis mulai dari tingkat sekolah dasar hingga mahasiswa. Karena selama ini kompetisi yang sering diadakan adalah basket. Dan yang sedang tren saat ini adalah futsal. Kedepannya lapangan tenis juga akan direnovasi sedikit, supaya dapat digunakan juga untuk kompetisi.


Dalam acara peresmian lapangan basket itu, sebuah yayasan yang bergerak di bidang kepemudaan, menyumbangkan dua buah meja pingpong beserta perlengkapannya.


Yang jelas acara peresmian yang diselenggarakan oleh kantor Bulan sukses acaranya.


Setelah acara demi acara terlewati. Membuat Bulan merasa senang. Hanya acara pernikahan yang dilakukan untuk menjaga kehormatan dan nama baik keluarga yang membuatnya merasa...


Bukan tidak suka, Bulan hanya tidak nyaman dengan posisi barunya saat ini. Kini statusnya telah berubah. Bukan lajang lagi, namun sebagai istri. Istri dari Langit, Nyonya Langit.


Sore itu usai acara Bulan kembali ke rumah. Ia langsung masuk ke kamarnya dan tidur.


Bulan membuka pintu kamarnya, dan menuju kamar mandi. Tak berapa lama ia keluar lagi dari kamar mandi karena merasa kedinginan. Ia hanya mencuci wajahnya dan menggosok gigi, lalu berganti pakaian.


Ia melihat lampu lampu sudah dinyalakan dan ada suara orang di dapur.


"Langit telah pulang." Gumam Bulan.


Ia menuju ke dapur dengan langkah diseret.


"Bagaimana acaranya tadi?"


"Lancar. Semua berjalan dengan baik dan memuaskan." Jawab Bulan datar.


Langit mendekati Bulan. Ia menyentuh kening wanita yang kini jadi istrinya itu.


"Kamu sakit? Tubuhmu panas begini!" Ucap Langit sambil membantu Bulan duduk.


"Aku sakit ya?"


"Astaga, Bulan." Langit hanya geleng-geleng kepala melihat Bulan yang tak menyadari bahwa dirinya sakit.


"Kebetulan aku sedang masak sup ayam. Kamu mau?" Langit mengambil mangkuk, lalu menyendok sup dari panci. Lalu meletakkan di depan Bulan.

__ADS_1


"Hhmmm harumnya." Bulan mencium aroma sup yang menggugah selera makannya yang sedari tadi hilang.


Ia mulai menyuapkan sedikit demi sedikit ke mulutnya. Lalu ia manambah lagi sup buatan Langit yang ternyata sangat enak.


"Mau pakai nasi? Aku sudah memasak nasi juga." Langit menaruh magic com di meja makan samping panci sup ayam buatannya.


Langit meracik sambal untuk pelengkap. Irisan cabai, ditambah bawang merah dan tomat, lalu disiram kecap dan diberi sedikit perasan jeruk kunci.


Hmmm... Aromanya sangat menggoda.


Bulan mengambil nasi dan menaruh dalam piring, lalu mengambil sup, terakhir ia menaruh sambal di atasnya.


Ia mulai mengaduk aduk makanannya dan menikmatinya.


Langit menatap Bulan yang makan dengan lahap malam itu.


"Sepertinya kamu hanya kelaparan, bukan sakit." Tebak Langit.


Bulan tertawa.


Langit membuatkan secangkir teh untuk Bulan.


"Minumlah, supaya tubuhmu terasa lebih baik."


"Terima kasih, Langit." Sahut Bulan.


Sejenak ia terpaku saat menerima cangkir teh yang dibuatkan oleh Langit padanya.


Hal kecil seperti itu tidak pernah ia rasakan dari Mario. Ya, mungkin karena ia telah pernah memperlihatkan saat dia sedang sakit. Atau Mario yang cuek padanya.


Duh... Mario...


Tiba tiba Bulan teringat kembali akan Mario yang sedang berlibur ke Labuhan Bajo.


"Lan... Bulan!" Panggil Langit sambil memegang bahunya.


"Eh ya? Apa?" Bulan tergagap.


"Kamu coba istirahat dahulu setelah ini. Kamu terlihat sangat kelelahan akhir akhir ini." Bujuk Langit.


"Biar aku yang membereskan ini semua." Sambungnya.


"Sering sering buat makanan seperti ini ya. Enak. Terima kasih Langit."


Bulan tersenyum pada Langit, yang kemudian ia masuk ke kamar, meninggalkan Langit yang masih membereskan sisa makan malam mereka.


.

__ADS_1


__ADS_2