
Sudah seminggu ini Wina selalu membawakan profesornya sarapan. Setiap pagi selalu diwarnai dengan drama komplain tentang makanan yang dibawa, tapi selalu habis tak tersisa.
"Wina, besok kamu gak usah bawain sarapan lagi" ucap Prof Zain.
Wina langsung tersenyum lebar, "Ah akhirnya lepas sudah bebanku, ups maaf prof" serunya sambil menutup mulutnya.
"Tapi, kamu tiap pagi harus datang ke rumah, bangunin saya, lalu bikinkan saya sarapan" ucap Zain tanpa dosa.
"Wait, wait, kenapa saya harus ke rumah bapak tiap pagi, memangnya saya pembantu bapak" seru Wina sambil melotot.
"Kan buat latihan menjadi istri yang baik" goda Zain sambil menaik turunkan alisnya.
"What, sejak kapan aku mau jadi istrimu" protes Wina.
"Bukannya kamu setuju dengan perjodohan kita, berati kamu sudah menjadi calon istriku, dan untuk itu perlu latihan mengurus suami" jelas Zain.
"Dan sejak kapan aku bilang setuju, hah" sungut Wina emosi.
Zain menghela napas, kalau diteruskan gak akan ada habisnya perdebatan mereka lalu dia duduk di kursinya, " jadi kamu gak mau dijodohkan denganku" tanya Zain serius.
"Bukan gak mau, tapi saya masih ragu untuk menjalin kembali sebuah hubungan" jawab Wina sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu ragu pada saya" tanya Zain kembali.
Akhirnya Wina menceritakan kisah cintanya terdahulu, mulai dari pacaran dengan suami orang dan berakhir dilabrak sang istri, kemudian diselingkuhi karena kesibukannya sebagai dokter. Wina menceritakan bagaimana sakit di hatinya saat ini yang masih belum juga hilang. Dan semua itu perlu waktu buat Wina.
Mendengar cerita Wina, Zain diam seribu bahasa, dirinya bukan tak mengetahui masa lalu Wina, mulai dari A sampai Z dia tahu, hanya saja dia tidak tahu jika hal itu meninggalkan luka yang dalam di hati Wina. Dan dia sendiri bingung harus berkata apa.
"Bagaimana kalau kita jalani saja dulu, agar kita bisa memahami karakter dan kegiatan kita masing masing, aku juga seorang dokter, tentunya aku paham kegiatanmu sebagai dokter nantinya, karena kedepannya aku juga sama sibuknya sepertimu, soal rasa aku kira jika kita selalu bersama mungkin akan timbul dengan sendirinya" usul Zain bijak.
"Baiklah, kita jalani saja dulu" putus Wina akhirnya.
Sekarang Wina memiliki kesibukan baru selain membuat riset dan mencari bahan untuk disertasinya, setiap pagi dia harus datang kerumah Zain untuk membangunkan dan membuatkan dia sarapan, kemana pembantunya, dalam hati Wina bertanya tanya. Entahlah hanya Zain yang tahu. Meski kesal dengan keinginan Zain, tapi dia tetap melakukannya.
Seperti pagi ini, begitu datang Wina langsung masuk ke kamar Zain untuk membangunkannya. Meski rumah Zain tidak tingkat tapi cukup luas karena sudah lengkap dengan halaman dan kolam renang didalamnya.
Dengan menutup sebagian matanya Wina menggoyang goyangkan lengan Zain, "Bapak bangun, ini sudah pagi, hari ini sudah saya bawakan sarapan dari rumah, karena saya harus pergi ke perpustakaan kota untuk mencari bahan disertasi" oceh Wina kesal.
"Hhhmmm jam berapa ini" tanya Zain dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Jam 7 Pak," sungut Wina.
"Tidak bisakah kau ganti panggilanmu itu, aku ini bukan bapakmu" protes Zain begitu dia terbangun.
__ADS_1
"Nanti aku ganti kalau kita sudah menikah" jawab Wina lalu berlalu keluar meninggalkan kamar
Ah kalau setiap hari melihat pemandangan seperti ini, bisa gila Wina. Setelah menetralkan jantung dan pikirannya, Wina menata makanan yang ia bawa tadi di meja. Wina meninggalkan catatan kecil kemudian berlalu pergi. Dia ingin segera ke perpustakaan. Mencari bahan disertasi dan jika sudah terkumpul bisa langsung dikerjakan di lab. Dia tidak mau terlalu lama menyelesaikan kuliahnya. Kalau bisa dalam 2 tahun sudah selesai semua.
Begitu Zain keluar dari kamarnya, dia melihat makanan sudah tertata rapi di meja, namun tidak menemukan siapa siapa. Kemana dia? Mengapa begitu datang langsung pergi? Kalau begini kan aku jadi tidak bisa memandangi wajahnya sambil makan, pikir Zain sambil menikmati makanan di meja.
Melihat note yang terselip di meja, barulah dia paham. "Maaf Pak, saya langsung pergi ke perpustakaan," begitu tulisnya. Zain tersenyum, dia sangat bangga dengan calon istrinya itu, padahal Wina bisa saja memanfaatkan dirinya daripada harus bersusah susah mencari ke perpustakaan namun semua itu tidak Wina lakukan. Menambah poin plus yang ada dalam diri Wina. Zain merasa beruntung bisa mendapatkan Wina, selain cantik, baik, pintar, juga mandiri.
Selesai dari perpustakaan, Wina langsung pulang ke rumah. Dia ingin menghubungi Dewi sahabatnya. Karena sudah memiliki komitmen dengan Zain, Wina pun ingin menyelesaikan masalahnya dulu dengan Dion, dia tidak ingin hidup dengan bayang bayang Dion. Maka dari itu saat ulang tahun Dion besok, Wina akan menyuruh Dewi sahabatnya untuk pergi ke apartemennya dan mengembalikan semua barang Dion yang sudah dia jadikan satu dalam box di kamarnya.
"Hai Wi gimana kabarmu, gue bisa minta tolong gak?" tanya Wina begitu telponnya tersambung.
" Wina..... kamu itu ya lama gak ada kabarnya, tau tau minta tolong, jahat banget sih kamu, kamu udah gak anggep aku sahabat ya?" rajuk Dewi dengan nada seperti menangis.
"Gue sibuk, terkadang seminar di luar kota, habis itu bikin resume, mana profesornya galak lagi" oceh Wina
"Galak tapi ganteng gak? Kalau ganteng boleh tu digebetin, dan soal ke apartemen kamu, boleh kalau gue gak sibuk, kamu minta tolong apa emang? jawab Dewi kepo.
"Orangnya sih ganteng, cuma galak aja, dan ini aku lagi baik baikin dia, biar gak terlalu galak ama gue. Terus besok minggu tolong kamu ke apartemen gue, kamu ambil box warna biru yang ada di kamarku, terus kamu paketin ke alamat yang nanti kukirim lewat pesan, dan juga ada surat dariku buat Dion, kamu masukkan juga ke dalam box nya, suratnya aku kirim lewat email, tolong kamu print sekalian ya" pinta Wina, namun sebelum dicecar berbagai pertanyaan dari sahabatnya, Wina pun menceritakan soal perjodohannya dengan profesor pembimbingnya, karena itu dia ingin menghilangkan segala bentuk kenangan tentang Dion, dengan mengembalikan semua pemberian Dion. Dia berharap bisa berdamai dengan masa lalunya.
Mendengar cerita sahabatnya yang akhirnya bisa move on, Dewi turut senang, apalagi pengganti Dion adalah seorang dokter juga, jadi tentunya sudah paham dengan kehidupan Wina. Dewi tak rela kalau orang sebaik Wina harus kembali dikhianati. Dewi pun menyanggupi permintaan Wina, "Oke nanti akan kukirimkan, tapi jangan lupa segera kirim undangan jika kamu menikah terlebih dahulu" ucap Dewi.
__ADS_1
"Masih jauh kalau untuk menikah, aku masih harus menyelesaikan program doktoralku dulu" sahut Wina.
Mereka terus bercanda dan bercerita panjang lebar, Wina menceritakan kegiatannya di Baltimore, begitu pula Dewi juga menceritakan keadaan rumah sakit setelah Wina resign, hingga akhirnya panggilan pun berakhir.