Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-41


__ADS_3

"Tuh tuh Tuan, orang yang bawa istri Tuan baru datang" ucap pelayan itu.


"Miss, kemana kamu bawa istri saya?" tanya Zain panik.


"Oh Bapak ini suaminya, tadi ibu itu pingsan di toilet pas saya lagi disana, terus sebelum ibu itu pingsan minta dipanggilin suaminya, karena saya takut terjadi apa apa sama ibu itu, akhirnya saya bawa dulu ke klinik ibu dan anak di depan restoran" jelas pelayan itu.


"Alhamdulillah, terima kasih miss" ucap Zain.


Zain langsung berlari sambil menggendong putrinya agar cepat sampai di klinik depan. Sesampainya didepan klinik, Zain langsung mencari istrinya.


"Sayang, kenapa sampai pingsan? Apa tadi siang aku terlalu membuat kamu lelah?" tanya Zain panik.


Wina hanya tersenyum meihat wajah panik suaminya. Wina pun membelai wajah suaminya. Zain menangkap tangan istrinya, lalu menciumnya. Wina lalu menggapai tangan suaminya dan mengarahkan ke perutnya.


"Apa perutnya sakit sayang?" tanya Zain.


"Daddy, kenapa Mommy tidur disini, apa Mommy sakit?" tanya sang putri.


Wina tersenyum lalu menjawab, "Nabil, seneng gak kalau punya adik?"


"Suka Mommy, nanti akan kuajak main barbie, aku bosan main barbie sama Daddy, dia tidak bisa menguncir rambut barbie" oceh Nabila.


Zain yang agak agak Lola belum paham arah pembicaraan Wina, "Memang Mommy pengen hamil lagi, Papi dengan semangat 45 akan mengabulkannya" celetuk Zain.


Perawat sudah selesai mengambil obat, dia pun memberikannya pada Zain.


"Tuan, ini obat penguat kandungan sama vitamin, terus kalau ibunya mual muntah, dikasih obat ini. Jangan lupa minum susu hamil ya biar Ibunya tidak kekurangan cairan seperti tadi" jelas perawat itu.


"Tunggu tunggu, kenapa istri saya dikasih penguat kandungan, memangnya istri saya sedang hamil?" tanya Zain kebingungan.


"Tuan tidak tahu kalau istri Tuan sedang hamil, usianya sudah 5 minggu, harap dijaga agar tidak terlalu lelah" nasehat perawat itu.


Zain memekik kegirangan. Dia memang sejak dulu ingin memiliki anak lagi hanya saja Wina tidak ingin Nabil kehilangan kasih sayang ibunya jika dia hamil lagi. Zain langsung memeluk erat sang istri.


"Terima kasih sayang, maaf, aku tidak tahu" lirih Zain.


"Tidak apa, tadi hanya kelelahan saja" ucap Wina.

__ADS_1


"Maaf, membuat kamu kelelahan" sesal Zain.


"Sudah, ayo kita pulang, Mommy ingin makan rujak buah sama asinan, nanti Bibi akan aku suruh untuk membuatkannya" ucap Wina sambil menahan air liurnya.


Mereka pulang bersama, sepanjang jalan Nabil sangat antusias mendengar akan memiliki adik. Banyak rencana yang ingin dia lakukan untuk adiknya. Mulai dari merombak kamarnya, supaya adiknya bisa tidur bersamanya. Juga berbelanja baju bayi.


"Sayang, beli baju bayinya nanti kalau perut Mommy udah besar, jadi sudah bisa tahu beli bajunya buat cewek atau cowok" ucap Wina sambil tersenyum melihat tingkah putrinya.


"Nabil tidak mau dedek cowok, maunya dedek cewek aja" sahut Nabil dengan muka cemberut.


"Sayang, kita tidak bisa menentukan dedeknya nanti laki laki atau perempuan, semua Allah yang tentukan" ucap Wina dengan sabar.


"Tidak mau, pokoknya aku mau dedeknya perempuan, nanti aku minta sama Allah biar dedek Nabil perempuan. Dan seandainya dedek bayi nanti keluarnya laki laki, nanti masukin saja lagi ke perut Mommy" ucap Nabil.


Zain yang gemas dengan ucapan sang putri kemudian memeluk, mencium dan menggelitiki sang putri. Mereka terkikik bersama.


Dirumah, Wina langsung menuju dapur. Dia menyuruh Bibi untuk membuat rujak buah dan asinan. Tak lama rujak buah pun jadi,.Wina dengan semangat menikmati rujak itu tanpa peduli apapun.


"Sayang, jangan banyak banyak mangganya, itu asem loh" ucap Zain sambil menyingkirkan piring rujaknya


"Sayang, kenapa pintunya dikunci? Aku mau masuk nih" ucap Zain sambil terus mengetuk pintu kamarnya.


Didalam kamar, Wina menangis tersedu sedu, "Oppa jahat, kenapa aku makan rujak aja tidak boleh, padahal dari tadi aku belum makan huhuhu" keluh Wina dibelakang pintu.


Zain yang mendengar keluhan istrinya pun merasa bersalah, "Maaf sayang, bukannya aku tidak memperbolehkan makan, tapi nanti kalau kebanyakan kamu bisa sakit perut" jelas Zain berharap sang istri mengerti.


"Sayang, bukain pintu dong, udah ya marahnya, kamu mau apa? Nanti aku belikan" rayu Zain.


Mendengar perkataan suaminya, Wina langsung membuka pintunya, "Beneran? Oppa mau belikan apapun yang aku mau?" tanya Wina.


"Beneran sayang, sekarang kita makan dulu ya, dari tadi kan kamu belum makan" sahut Zain.


Wina pun menggandeng suaminya, mengajak turun ke meja makan. Zain menawari semua makanan yang ada di meja, namun hanya gelengan sebagai jawabannya.


"Oppa, aku mau asinannya aja" rengek Wina.


"Makan nasi dulu ya, habis gitu boleh makan asinan" bujuk Zain.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku mau disuapin Oppa" rengek Wina manja.


Zain sangat senang dengan perubahan istrinya, sikap mandiri Wina berubah menjadi manja dan suka merajuk. Dia akan melakukan apapun untuk kehamilan istrinya yang sekarang, mengingat saat hamil Nabil dulu, dia tidak ikut mendampingi sang istri.


Selesai makan, Wina duduk di ruang tengah sambil menonton televisi, Zain menemani sang putri bermain lego. Mereka sedang membuat lego rumah.


"Papa, sini duduk sama Mommy, temenin Mommy nonton tv" rajuk Wina.


"Tidak bisa Mommy, Daddy lagi bikinin Nabil rumah. Udah Mommy liat tv aja sendiri" tolak Nabil.


"Sayang, Daddy bikinin legonya dari kursi sambil temenin Mommy ya?" tawar Zain.


"Tidak boleh, Daddy disini aja temenin Nabil main" rengek Nabil memegang erat lengan Zain.


Zain hanya menghela napas, dirinya bingung diperebutkan 2 orang yang sangat dicintainya.


"Oke, nanti setelah Daddy selesain bikin rumahnya, habis gitu Daddy temenin Mommy ya" tawar Zain pada sang putri.


Nabil pun mengangguk. Zain dengan cepat menyelesaikan pembuatan rumah yang hampir jadi itu. Begitu rumah itu jadi, Nabil bertepuk tangan riang.


"Hore, rumah impian Nabil sudah jadi" seru Nabil.


Zain membelai rambut sang putri kemudian dia duduk di sofa nenemani sang istri.


"Daddy, katanya tadi Mommy boleh minta apapun" ucap Wina mengingatkan.


"Memangnya Mommy pengen apa?" tanya Zain.


Wina pun memeluk suaminya, lalu membisikkan sesuatu di telinga sang suami. Bukannya mendengar apa yang istrinya katakan, tubuh Zain malah bergetar mendengar bisikan Wina. Darahnya langsung mendidih, dan sesuatu yang dibawah berontak minta dilepaskan.


"Sayang, nanti ya Daddy belikan apa yang Mommy mau, tapi sekarang kita masuk dulu ya" ajak Zain sambil menggendong sang istri ke kamar lalu mengunci pintunya.


"Oppa, aku maunya sekarang, kenapa malah dibawa masuk kamar sih" protes Wina.


Zain langsung membungkam mulut sang istri, namun baru saat akan merebahkan diri ke ranjang, terdengar teriakan melengking dari arah luar diiringi gedoran pintu.


"Daddy!! Buka pintunya, katanya mau temenin Nabil main, kenapa malah ke kamar? Daddy!!!" teriak sang putri.

__ADS_1


__ADS_2