Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-34


__ADS_3

Kehamilan Nia sudah memasuki bulan ke 7, perutnya sudah sangat besar, seperti orang yang hamil 9 bulan. Dion sangat perhatian dan tidak pernah kasar lagi sejak Nia hamil. Kondisi psikis Nia juga lebih baik, Nia sudah ceria seperti biasanya. Dion bersyukur, Nia bisa melewati ini semua.


Hari ini mereka akan pergi ke dokter kandungan. Mereka sudah janji dengan dokternya, jadi tidak perlu mengantri terlalu lama. Mereka ingin melihat keadaan sang baby. Bagitu sampai di ruang periksa. Nia langsung disuruh untuk tidur di ranjang, Dion pun membantu sang istri naik ke ranjang tersebut. Dokter pun mulai mengolesi gel dan menempelkan alat transducernya.


" Kita lihat ya, Wah, baby nya twin" seru Dokter itu.


"Apa Dok, twin?" tanya Dion tak percaya, pasalnya beberapa kali USG, dokter tidak pernah mengatakan baby mereka kembar.


"Betul Pak, twin, lihat ini wajah putri Bapak, dan ini wajah putra Bapak" ucap Dokter itu sambil mengarahkan alat transducernya pada setiap wajah anaknya.


"Maksud Dokter, kembar sepasang?" seru Dion.


"Betul Pak, sepasang cowok dan cewek, selamat ya" sahut Dokter itu.


"Ni, kamu dengar kan, baby kita cowok dan cewek, makasih ya Ni," seru Dion kegirangan sambil menciumi seluruh wajah istrinya.


Nia hanya tersenyum malu karena perlakuan suaminya. Dokter dan perawat yang sudah terbiasa melihat euphoria pasangan saat USG hanya tersenyum.


Dion sangat bahagia bisa memiliki bayi kembar. Dion pun memberi kabar pada Papa dan Mamanya. Papa dan Mama Dion sangat antusias mendengar berita ini. Pasalnya mereka sudah lama ingin menimang cucu, hingga mereka memutuskan akan pindah ke Indonesia, begitu cucu mereka lahir, agar bisa bersama dengan cucu cucu mereka.


Pulang dari Dokter kandungan Dion mengajak Nia makan seafood di dekat pantai. Dion adalah penggemar makanan seafood. Prinsip Dion, melihat suasana pantai yang cerah dan suara air laut menambah rasa nikmat makanan tersebut.


"Gimana Ni, enak kepitingnya?" tanya Dion sambil merapikan anak rambut Nia yang terkena angin.


" Enak, aku suka Di" jawab Nia.


"Makan yang banyak, biar twins sehat" ucap Dion sambil menambahkan beberapa potong kepiting di piring Nia.


Nia senang sekali dengan perhatian Dion, rasanya dia ingin tiap tahun hamil jika Dion berubah menjadi perhatian seperti ini.


"Di, setelah ini aku ingin belanja keperluan baby, kita belum memiliki baju baby satu pun" pinta Nia.


"Perintah Tuan puteri siap dilaksanakan" ucap Dion sambil menjawil hidung sang istri.


Nia hanya manyun tapi tak lama dia pun tersenyum.

__ADS_1


Mereka sampai di pusat perlengkapan baby shop terbesar di kota itu. Dion sangat antusias memilih baju cowok dan cewek yang lucu lucu. Dion juga membeli stroller, kasur bayi dan segala pernak perniknya. Sementara Nia hanya duduk mengamati suaminya berbelanja, Nia sudah tidak sanggup berdiri terlalu lama. Setelah dirasa semua barangnya sudah cukup, Dion pun membayarnya.


"Mbak, ini kartunya. Nanti semua dikirim ke alamat ini ya" ucap Dion sambil memberikan kartu ajaibnya.


"Baik Tuan," ucap pegawai toko itu.


Hari ini Dion dan Nia akan merenovasi kamar mereka. Nia akan menambahkan 2 ranjang bayi di dalam kamarnya. Nia tidak ingin jauh dari kedua anaknya. Namun kebalikannya Dion malah ingin menjadikan kamar sebelah mereka sebagai kamar bayi mereka.


"Sayang, kenapa mereka tidak tidur jadi satu dengan kita?" tanya Nia.


"Mereka akan tidur dengan kita selama 36 hari saja Ni," ucap Dion.


"Kenapa hanya sampai 36 hari?" tanya Nia kebingungan.


"Karena selama 36 hari, aku masih harus puasa, setelah itu aku tidak mau jika pas kita melakukan kegiatan '*** ***' harus gagal karena tangisan mereka berdua. Biarlah baby sitter yang merawatnya untuk sementara waktu" jelas Dion panjang lebar.


Nia hanya geleng geleng kepala mendengar pengakuan Dion, "Kau ini ada ada saja."


"Itu benar Ni, kehadiran mereka tidak boleh mengganggu jadwal malam kita, mereka akan dijaga oleh baby sitter saat malam" sergah Dion.


Tak terasa, kandungan Nia sudah mendekati waktu melahirkan. Dion sudah mulai protektif terhadap Nia. Papa dan Mama Dion juga sudah tinggal di rumah Dion. Mereka stand by disana, takut kalau sewaktu waktu Nia melahirkan saat Dion masih berada di kantor.


Pagi ini Nia sudah mengalami kontraksi, namun jaraknya masih sedikit lama. Nia tidak bilang Dion, karena dia pikir itu hanya kontraksi palsu karena HPL nya masih 1 minggu lagi. Dion berangkat kerja seperti biasanya. Papa dan Mama pun sepertinya akan pergi.


"Sayang, maaf ya Papa dan Mama harus menghadiri pernikahan anak sahabat Papa. Begitu acaranya selesai, kami langsung pulang, kamu tidak apa kan kami tinggal sebentar?" tanya Mama Dion.


"Gak apa Ma, dirumah juga ada Bibi dan sopir, nanti kalau butuh apa apa tinggal bilang sama mereka" jawab Nia.


"Nanti kalau ada apa apa telpon ya" ucap Mama Dion.


"Ya Ma," jawab Nia.


Setelah memeluk dan mencium kening menantunya, mereka pun pergi. Nia yang sangat ingin memakan dawet dan rujak menyuruh bibi pergi membelinya.


"Bi, tolong belikan dawet ama rujak di depan komplek kita dong!" titah Nia.

__ADS_1


"Tapi Non, nanti siapa yang nemenin Nona" sanggah Bibi.


"Sebentar aja Bi, gak apa" kata Nia.


Bibi pun menuruti keinginan sang dedek bayi. Dia pun pergi membelikan Nia dawet dan rujak. Hingga saat akan naik ke kamarnya, Nia tiba tiba merasakan sakit yang amat sangat pada perutnya.


"Duh, kenapa sakit begini, mana semua orang pada keluar lagi" gumam Nia.


Nia pun mencoba duduk di tangga, kemudian mengatur nafasnya untuk mengurangi rasa sakitnya. Namun bukannya reda sakit perut Nia semakin terasa. Ingin menelepon suaminya tapi hape nya diatas. Untuk naik keatas tubuhnya tidak sanggup, jangankan naik ke atas, berjalan saja dia tidak mampu.


Nia meringis sambil memegangi perutnya, mencoba memanggil sopir pribadinya.


"Pak Ujang! Pak! Pak Ujang!" teriak Nia.


" kemana sih nih orang, dipanggil panggil kenapa gak dengar" gumam Nia.


Nia pun mencoba mengatur nafasnya sambil menunggu Bibi, hingga beberapa menit, Bibi tak kunjung datang. Nia yang sudah tidak tahan dengan sakitnya pun kembali mendesis.


"Pak! Pak Ujang! Tolong Pak!" Nia mencoba berteriak. Namun Pak Ujang tak juga datang.


Nia bingung harus bagaimana memanggil sopirnya itu, dia pun melihat sebuah guci besar di samping tangga. Nia ingin menggapainya namun tangannya tak sampai.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana, perutku semakin sakit, aku tidak tahan lagi, bantu aku Tuhan" doa Nia sambil mencoba merangkak ke arah guci itu.


Dengan sekuat tenaga Nia mencoba agar sampai mendekati guci, begitu sampai ingin mendorong guci itu agar jatuh dia tak kuat. Tenyata guci nya lumayan berat. Kontraksi di perut Nia semakin hebat, namun tidak ada tanda tanda Bibi maupun Pak Ujang datang. Nia tidak ingin menyerah, Nia mencoba untuk berdiri. Dan dengan sekuat tenaga Nia mendorong guci agar jatuh, namun naas tubuhnya tidak seimbang hingga tubuh Nia ikut terjatuh bersama guci itu.


Pyaaar


Bunyi suara guci menggelegar tak hanya di ruangan namun sampai terdengar ke pos satpam depan.


"Suara apa itu Jang," tanya satpam pada Pak Ujang.


"Mana aku tahu, coba kita lihat sama sama" ajak Pak Ujang.


Mereka pun masuk mencari sumber suara. Begitu sampai di dekat tangga, betapa terkejutnya mereka melihat sang Nyonya tergeletak bersimbah darah berada diantara guci yang pecah.

__ADS_1


__ADS_2