Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-20


__ADS_3

Kondisi pernikahan Dion dan Nia berbanding terbalik dengan kondisi pernikahan Zain dan Wina. Setelah mereka beristirahat semalam di hotel dekat villa Dion, keesokannya mereka langsung terbang ke Baltimore. Keinginan Zain untuk berbulan madu di Indonesia harus tertunda karena kondisi ibu Wina yang belum membaik setelah mendengar anaknya diculik.


Begitu sampai di bandara Baltimore mereka langsung menuju rumah sakit tempat ibu Wina dirawat.


"Bagaimana keadaan ibu, Yah? tanya Wina begitu sampai di kamar perawatan ibunya.


"Kondisinya untuk saat ini masih stabil, hanya saja beliau masih belum sadar," jawab Ayah Wina.


"Kenapa belum sadar ayah, apa ada masalah yang serius" tanya Zain.


"Saat mendengar kamu diculik, Ibu mengalami serangan jantung, dan belum sadarnya Ibu saat ini kemungkinan karena stroke begitu penjelasan dokter," jawab Ayah Wina sambil membelai rambut putrinya yang kini menangis di pelukannya.


"Ayah jangan kuatir, aku akan minta RS mendatangkan dokter terbaik untuk Ibu, agar beliau cepat sadar" ucap Zain.


"Terima kasih nak," balas Ayah.


"Sebaiknya ayah istirahat, biar kami yang menjaga Ibu disini" ucap Zain.


"Baiklah, Ayah pulang dulu nanti sore Ayah akan datang lagi kemari," kata Ayah.


Setelah Ayah meninggalkan ruang perawatan, Zain langsung memeluk istrinya, "Sudah, jangan menangis lagi, aku akan mengusahakan pengobatan terbaik untuk Ibu" ucap Zain menenangkan istrinya.


"Terima kasih oppa, aku bersyukur bisa bertemu denganmu" seru Wina sambil membalas pelukan suaminya.


Setelah didatangkan dokter terbaik oleh Zain, kondisi Ibu Wina mulai membaik, beliau sudah bisa membuka mata, meski belum bisa berkata kata, namun sudah bisa berkedip dan menggelengkan kepala sebagai bentuk respon. Wina pun senang dengan kemajuan kondisi Ibunya. Wina bergantian dengan Ayah menjaga dan merawat Ibu. Sementara Zain, dia tidak bisa ikut menunggu Ibu Wina karena tugasnya sebagai seorang dosen dan jadwal praktek dokternya.


Hari ini, Ibu Wina sudah bisa menggerakkan tangan dan kakinya, karena rutin terapi, meski belum bisa berjalan, namun dokter sudah memperbolehkan untuk pulang karena semuanya sudah stabil. Wina senang sekali mendengarnya. Karena rumah Wina yang hanya memiliki satu kamar jadi untuk sementara mereka tinggal di rumah Zain sampai Ibu kembali sehat seperti sedia kala.


Mengetahui besannya sudah kembali dari rumah sakit, Papa Juan dan istrinya menyambut kedatangan mereka di rumah putranya. Karena mereka memang tidak ikut menjemput orang tua Wina.


"Selamat datang, aku senang melihat kamu sudah banyak kemajuan Jeng, maaf kalau selama ini kami belum sempat menengok ke rumah sakit, karena begitu pulang dari Indonesia, Papa Juan harus langsung kembali ke LA," ucap Mama Mirna begitu mereka tiba di rumah Zain.

__ADS_1


"Tidak apa Nyonya, kami senang bisa disambut baik oleh Nyonya dan Tuan," balas Ayah Wina.


"Ya ampun Pak, kenapa panggilnya masih Tuan dan Nyonya, kita ini sudah menjadi besan, panggil saja nama kami," sahut Mama Mirna.


"Kami merasa tidak enak kalau begitu, kami panggil Besan saja ya" ucap Ayah Wina.


"Sudah tidak usah meributkan panggilan, terserah mereka memanggil kita apa, ayo masuk semua" ajak Papa Juan.


Wina pun mendorong kursi roda Ibunya ke dalam, mereka beristirahat sejenak di ruang keluarga sambil menunggu Zain datang.


"Untuk sementara, biar Ibumu dirawat oleh Selly, dia perawat yang dulu merawat Oma Zain saat sakit, supaya Wina tidak terlalu kerepotan," ucap Papa Juan.


"Terima kasih, Pa" ucap Wina.


"Sekarang kamu istirahat di kamar Zain, kamar Zain ada di lantai 2 biar Ibu dan Ayahmu istirahat di kamar bawah" ucap Papa Juan.


"Ayo sayang, Mama antar," ajak Mama Mirna.


"Nah, ini kamar Zain, kamu istirahat aja dulu, nanti kalau sudah waktunya makan malam, Mama akan panggil kamu," ucap Mama Wina begitu mereka memasuki ruangan.


"Makasih Ma," ucap Wina.


Wina pun menutup pintu kamar. Dia mengedarkan pandangannya. Kamar Zain sangat luas, nyaman, siapapun yang tidur disana pasti betah. Beginilah kira kira kamar milik Zain.



Wina langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Dia ingin tidur sejenak, karena tubuhnya merasa lelah. Zain yang baru masuk ke kamarnya tersenyum melihat istrinya tidur tanpa berganti pakaian. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya disamping Wina.


"Sayang, kamu capek ya" ucap Zain sambil memeluk dan mencium kening istrinya.


"Oppa sudah pulang? Jam berapa ini? tanya Wina saat membuka matanya.

__ADS_1


"Baru jam 5, kamu tadi sampai rumah jam berapa, maaf aku gak bisa jemput kamu hanya mengirim supir saja" sesal Zain.


"Tak apa Oppa, aku mengerti kesibukanmu," sahut Wina sambil memegang wajah suaminya kemudian menduselkan kepalanya pada dada Zain.


"Sayang, kamu membangunkan singa yang lagi tidur," goda Zain.


"Mana singanya Oppa, biar kumasukkan ke dalam sangkar" balas Wina manja.


"Apa benar singanya sudah boleh masuk kandang, hhhmmm" ucap Zain sambil menciumi bahu Wina.


"Oppa geli, jangan disitu" rengek Wina.


Zain tak peduli dengan rengekan Wina, dia terus menciumi seluruh wajah dan bahu Wina, hingga saat pandangan mereka bertemu, "Sayang, boleh ya sekarang" desah Zain setengah memohon.


Wina pun mengangguk, "pelan pelan ya kak" lirih Wina. Zain yang tidak tahu kalau Wina masih perawan pun menggerutu, "Seperti perawan saja harus pelan pelan." Meski begitu Zain tetap melakukannya perlahan, dia tidak ingin menyakiti Wina.


Alangkah syok nya Zain saat keluar darah segar begitu mereka melakukan penyatuan.


"Sayang, kamu masih perawan," ucap Zain kaget.


"Kan tadi aku bilang Oppa pelan pelan," ringis Wina sambil mencengkeram bahu Zain


"Maaf sayang," sesal Zain.


Mereka melakukan penyatuan untuk pertama kalinya. Zain melakukannya dengan pelan, begitu tahu istrinya masih perawan. Meski perlahan namun tak mengurangi rasa kenikmatannya.


Mama Mirna yang ingin membangunkan putra dan menantunya pun tidak jadi begitu mendengar suara ******* anak dan menantunya. Dia jadi malu sendiri, lalu turun ke bawah mengatakan kalau putra dan menantunya sedang proses membuat cucu. Mereka semua pun tersenyum memahami kemudian melanjutkan makan malam mereka tanpa Wina dan Zain.


Begitu dirasa akan mencapai puncaknya, Zain pun mempercepat temponya, hingga pelepasan itu terjadi. Wina yang kelelahan setelah mencapai beberapa kali pelepasan pun tertidur. Begitu pula dengan Zain, setelah pelepasan tadi, dia pun tidur sambil memeluk istrinya.


Dalam tidurnya Zain begitu bahagia karena mendapat Wina yang masih bersegel. Sementara Wina juga bahagia, akhirnya bisa menjadi istri Zain seutuhnya. Mereka tidur dengan bahagianya masing masing.

__ADS_1


__ADS_2