Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-45


__ADS_3

"Ma-ma" ucap Dion.


"Iya Pa, Mama, kemaren kita video call sama Mama, terus Mama bilang minta dikirimin yang tadi adek pesen, ini alamatnya!" jelas Rania.


"Mama cantik ya Pa" untuk pertama kalinya sang putra berkomentar.


Dion menangis sejadi jadinya, dia merasa bersalah, telah membohongi kedua buah hatinya.


"Pa, kenapa Papa menangis?" tanya Rania.


"Papa rindu ya sama Mama" tanya Nandio.


Dion malah tergugu, sang putri pun memeluk kaki Papanya. "Sabar Pa, kata Mama nanti Mama akan pulang" ucap Rania menenangkan Papanya.


"Memang Mama bilang apa?" tanya Dion setelah bisa mengendalikan tangisnya.


"Mama sih gak bilang apa apa, karena Mama buru buru mau ke rumah sakit, tapi Mama janji bakal kasih kita hadiah ulang tahun" celoteh Nia.


"Ada ada saja kalian," ucap Dion seraya mengacak acak rambut Rania dan Nandio.


"Sudah Pa, cepet packing, terus kirim ke alamat Mama disini, jangan lupa tulis juga alamat kita, supaya Mama bisa kirim hadiah buat kami" titah Rania.


Dion pun menuruti putrinya, lalu menuliskan alamat Wina yang dia kirim lewat pesan. Setelah rapi, Dion pun menyuruh sopirnya untuk memaketkan barang tadi. Dion agak ragu sebenarnya, apa yang menelepon mereka kemaren benar benar Wina, pasalnya nomor Wina sudah lama tidak aktif, tapi demi membahagikan putra dan putrinya, Dion rela meski nantinya akan sampai pada orang lain.


Seminggu kemudian, Wina bahagia ketika paket yang ditunggu tunggu telah datang, akhirnya dia mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Wah, orek tempe, teri medan, bikin ngiler" gumam Wina lalu membawanya ke meja makan. Wina makan sangat lahap hanya dengan nasi ditambah orek tempe dan teri medan.


"Makan apa sayang?" tanya Zain yang baru saja datang.


"Ini loh Pa, kiriman dari Dewi, kemaren Mommy yang pesen terus nyuruh dia kirim kesini" terang Wina.


"Mau dong, Aaak" pinta Zain.


"Sini Mommy suapin" seru Wina.


Mereka makan bersama, tapi tentu saja kebersamaan mereka tidak berlangsung lama, ada si cantik Nabil yang selalu merecokinya.


"Daddy, kenapa minta suapin Mommy?" tanya Nabil cemburu.


"Sayang, Daddy nya lapar, baru saja pulang" jelas Wina.


"Sini, biar Nabil yang suapin!" ucap Nabil. Zain hanya tertawa melihat kecemburuan putrinya.


"Oke Mommy, nanti makannya disambung lagi" ucap Zain sambil mengedipkan sebelah matanya.


Wina yang paham dengan perkataan suaminya hanya bisa tersipu malu. Zain pun langsung menggendong putrinya, mengajaknya bermain sebelum macan kecilnya itu mengaum.


Wina pun menelepon Dewi, untuk menanyakan berapa jumlah uang yang harus dia bayar. Dia pun melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam itu artinya disana masih jam 8 pagi.


Tuut...Tuut...Tuut.


"Halo sayang," sapa Wina saat muncul wajah cantik Rania.


Rania yang masih dalam keadaan mengantuk pun langsung terbelalak matanya saat mengetahui sang Mama meneleponnya.

__ADS_1


"Mama!" serunya girang.


"Dimana Mama Dewi?" tanya Wina.


"Mama Dewi?" jawab Rania kebingungan.


"Iya sayang, Mama Dewi?" tanya Wina kembali.


Melihat balita cantik itu kebingungan, Wina pun mengalihkan pembicaraannya. "Oke,kalau begitu Papa dimana" tanya Wina.


"Papa, sebentar" ucap Rania, lalu berlari menuju kamar Papanya.


Melihat sang Papa masih tertidur, Rania pun berkata, "Papa masih tidur."


"Ya sudah, nanti kalau Papa sudah bangun, bilang Papa ya suruh kirim no rek buat gantiin uang Papa, oh iya kadonya besok dikirim, kalian tunggu saja ya, semoga suka, Bye sayang" ucap Wina lalu menutup telponnya.


Rania pun menangis begitu sambungan telpon terputus. Dion yang mendengar tangisan putrinya pun membuka matanya.


"Kenapa sayang, kok menangis?" tanya Dion.


"Tadi Mama nelpon, tapi cuma sebentar, Mama gak tahu apa kalau adek masih kangen, huaaa" jerit Rania makin menjadi.


"Sudah sayang, jangan menangis, memangnya tadi Mama bilang apa?" tanya Dion.


"Mama cuma bilang minta no rek buat gantiin uang Papa, habis gitu bilang kalau kadonya besok dikirim, terus ditutup, huaaa" adu Rania.


"Sudah, mungkin Mama lagi sibuk besok kalau kadonya sudah datang kita telpon lagi ya" bujuk Dion.


Rania pun berhenti menangis lalu mengangguk kemudian memeluk Dion. Dion pun menggendong putrinya, kemudian mengajaknya mandi.


Wina sudah mengirimkan mainan yang super mewah untuk anak Dewi, karena Dewi yang tak kunjung mengirimkan no rekening, jadilah sebagai gantinya dia membelikan hadiah untuk anaknya yang sedikit mahal.


Sewaktu menuliskan nama penerima, Wina bingung karena nama anak anak Dewi tertulis Rania dan Nandio. "Kenapa nama anak Dewi mirip dengannya. Apa Dewi tidak bisa mencari inspirasi nama lain sehingga harus menggunakan nama 2 orang itu" begitu pikir Wina. Tapi Wina tak ambil pusing akan hal itu.


Mainan sudah di packing karena ukurannya yang besar jadi harus menggunakan cargo, paling lama seminggu sudah sampai. Wina pun mengirimkan pesan pada nomor Dewi, yang berisi gambar no resi paketnya.


Seminggu telah berlalu. Sabtu ini, Dion sengaja berdiam di rumah, dia ingin menghabiskan waktu bersama putra dan putrinya.Tiba tiba di depan rumah Dion, berhenti sebuah truk cargo. Dion yang curiga dengan truk itu pun keluar.


"Maaf, Anda cari siapa, mengapa berhenti di depan rumah saya?" tanya Dion pada sopir itu.


"Maaf Pak, apa betul ini rumah Rania dan Nandio?" tanya sopir itu.


"Ya betul," jawab Dion.


"Ini Pak, ada paket dari Amerika" kata sopir itu.


"Amerika?" tanya Dion bingung.


"Iya Pak, ini ditaruh dimana ya, soalnya agak besar" jawab sopir itu.


"Bawa masuk saja Pak" titah Dion.


Mereka pun mengangkat 2 barang itu ke dalam rumah. Rania yang melihat kadonya sudah datang pun bersorak gembira.


"Hore hadiah dari Mama, sudah datang" seru Rania.

__ADS_1


"Ayo Kak, kita buka" ajak Rania pada kakaknya.


Dion yang melihat putrinya hendak membuka kado pun berteriak, "Stop, jangan dibuka dulu, kalian berdua menjauh, siapa tahu isinya bom."


Nandio pun tertawa, "Apa sih Pa, ini tuh cuma mainan, Papa kebanyakan nonton film, makanya lebay" ujarnya.


"Udah, pokoknya nurut, biar Papa aja yang buka, kalian jauh jauh berdirinya" titah Dion.


Kedua putra dan putrinya hanya tersenyum sambil mendekapkan tangannya di dada. Mereka senang melihat wajah tegang sang Papa saat mencoba membuka kado mereka.


Begitu kado dibuka, raut wajah tegang Dion berubah ceria saat melihat isinya. "Wah hadiahnya bagus sekali, ini pasti mahal, coba kita lihat dari siapa, kok gak ada namanya ya, aneh" ujar Dion.


"Apa kalian tahu siapa yang ngirim hadiah sebagus ini?" tanya Dion. Keduanya pun kompak mengangguk.


"Ya sudah nanti kalian bilang terima kasih sama yang ngasih" titah Dion lalu pergi meninggalkan putranya. Dion pikir mungkin Oma atau Opa yang mengirimkan hadiah ulang tahun untuk keduanya.


Rania dan Nandio langsung berlari mendekati kadonya. "Wah, rumah barbienya cantik sekali, besar lagi" seru Rania girang.


Sementara Nandio, dia tersenyum lebar saat sang Mama mengetahui mainan kesukaannya. Sebuah Imperial Flag Ship lego.


"Kak, suka gak sama mainannya?" tanya Rania. Nandio hanya mengangguk, karena dia sedang sibuk merakit kapal impiannya.


"Kok, Mama tahu ya apa kesukaan kita?" tanya Rania kembali. Nandio hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.


Rania yang merasa diacuhkan oleh kakaknya pun marah. Dia pun menangis, mencari sang ayah.


"Papa, huaaa" jerit Rania begitu memasuki kamar sang ayah.


"Kenapa putri Papa yang cantik ini menangis, Hhmmm?" tanya Dion membelai sambil rambut putrinya.


"Kakak, dia tidak mau main sama adek, dia sibuk sama mainannya sendiri" adu Rania.


"Memangnya kakak sibuk main apa sampai gak mau main sama kamu?" tanya Dion.


"Dia asik main lego Pa, masak adek panggil jawabnya cuma menggeleng dan mengangguk saja" oceh Rania.


"Ya sudah, ayo main sama Papa" ajak Dion.


Rania pun bersorak kegirangan. Saat asyik bermain dengan sang Papa. Sebuah panggilan masuk di hape yang biasa dipakai oleh anak anaknya. Inah, pun tergopoh gopoh memberikan hape tersebut pada nona kecilnya.


"Non, ada telpon" ucapnya.


Rania girang ketika mengetahui sang Mama yang meneleponnya. Rania lalu menyeret Kakaknya supaya duduk di sebelahnya.


"Hai sayang," sapa Wina.


"Mama, terima kasih kadonya, kadonya bagus sekali" seru Rania, sementara Nandio hanya menganggukkan kepalanya.


"Gimana? Suka kadonya?" tanya Wina.


"Suka banget Ma, makasih ya, kita sayang Mama" ucap mereka kompak.


Wina tertawa, melihat ekspresi kedua bocah itu. Dion yang mendengar suara wanita yang saat ini masih bertahta di hatinya pun mendekati putra dan putrinya, dirinya penasaran dengan orang yang sering mereka panggil Mama itu. Begitu melihat wajah di layar, jantung Dion berdetak kencang.


"Sayang!" pekik Dion tak percaya saat melihat wajah mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Kakak" seru Wina bingung.


__ADS_2