
Setelah menyiapkan koper dan barang2 yang akan dibawanya besok, kini Wina harus menyiapkan hati dan mentalnya sebelum berangkat menuju kantor Dion, dia sengaja datang saat makan siang sehingga tidak mengganggu pekerjaan Dion. Sebelum masuk ke ruangan Dion, Wina menghela nafas panjang. Begitu pintu terbuka,
Deg...
Melihat dua orang beradu saliva, dengan posisi si wanita berada di pangkuan pria. Rasanya hatinya bak ditusuk pisau tajam, sakit sekali, melihat kekasih yang sangat dicintainya tega mengkhianati cintanya, dia ingin menangis maraung raung tapi ditahannya, ternyata memang sudah sejauh itu hubungan mereka. Saking asyiknya menikmati kegiatan mereka, 2 orang manusia dimabuk cinta itu tidak sadar ada orang yang sedang memperhatikannya. Sebelum mengeluarkan suaranya, Wina memejamkan matanya
"Kak Dion" lirihnya
Mendengar suara yang begitu dihafalnya. Dion kaget bukan main, Dion langsung mendorong tubuh Nia hingga jatuh ke lantai. Bukannya membantu Nia berdiri, Dion malah menghampiri Wina, mencoba menggenggam tangannya tapi ditepisnya. Melihat itu Nia emosi, "Sayang, kenapa mendorongku, sakit nih" oceh Nia.
Dion tak menghiraukan ucapan Nia, dipikirannya saat ini hanyalah bagaimana caranya menjelaskan pada Wina,
"Sayang, ini gak seperti yang kamu lihat" jelas Dion hati hati.
"Gak seperti yang kulihat gimana kak, hampir 15 menit aku menyaksikan kalian beradu saliva" teriak Wina emosi.
"Sayang maaf, aku khilaf, tapi sumpah, ini pertama kali kami melakukannya" ucap Dion sambil mengaangkat 2 jarinya.
Mendengar hal itu Nia langsung melotot,
"Sayang, kita bahkan tiap hari melakukannya, gimana bisa kamu bilang pertama kali" protesnya.
"Stop, aku sudah tidak percaya sama kamu kak, kamu sudah mengkhianatiku, kenapa kak? Apakah karena sedikitnya waktu yang kupunya untukmu? Jawab kak!" teriak Wina.
"Maafkan aku sayang, aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi, aku sayang banget sama kamu dan aku janji gak bakalan mengulanginya lagi" pinta Dion.
"Kalo kamu sayang sama aku gak mungkin mengkhianatiku kak, rasa sayang yang kamu punya itu semua bullshit, lebih baik kita akhiri semua sampai disini, terima kasih atas kasih dan sayangmu selama 1 tahun ini, aku pergi kak, selamat tinggal" setelah mengucapkan kalimat itu Wina langsung pergi meninggalkan ruangan Dion.
__ADS_1
"Sayang, jangan pergi, dengar penjelasanku dulu" ucap Dion sambil mengejar Wina.
Melihat hal itu Nia tersenyum sinis, kepergian Dion mengejar Wina membuat dia sadar bahwa cinta Dion untuk Wina begitu besar, apakah Dion juga bertindak seperti itu jika dia meninggalkannya, entahlah dia hanya bisa berharap dengan kepergian Wina bisa membuat Dion hanya mencintainya.
Sesampainya di lobby Wina langsung berlari keluar, jangan sampai dia tertangkap Dion, beruntungnya ada taxi yang menurunkan penumpang. Begitu penumpang itu turun, Wina langsung masuk dan meminta sopir segera berangkat. Di dalam taksi Wina menangis sejadi jadinya, hatinya serasa ditusuk ribuan jarum, sakit namun tak berdarah. Meski kemaren dia sudah melihat foto Dion bermesraan dengan Nia. Ternyata lebih sakit lagi saat melihat dengan mata kepala sendiri perselingkuhan mereka.
Begitu Dion sampai di luar gedung Wina sudah tak terlihat, segera Dion berlari ke parkiran untuk mengambil mobilnya dan pergi ke rumah sakit tempat Wina praktek. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Dion terus menelepon Wina, tapi sayang, yang terdengar hanya suara operator saja. Begitu sampai di rumah sakit, Dion langsung menuju ruangan praktek Wina ternyata kosong, Dion bertanya pada suster jaga di depan.
"Sus, dokter Wina apa tidak praktek hari ini?" tanyanya.
"Maaf pak, dokter Wina hari ini tidak praktek" jawab perawat itu.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Dion langsung pergi, tujuannya kali ini adalah apartemen Wina. Dion menyetir seperti orang kesetanan, menyalip ke kanan dan kiri tanpa peduli pengendara lain yang mengumpat berkali kali, akhirnya tidak sampai 20 menit, Dion sudah sampai di apartemen Wina. Sampai di depan pintu apartemen, Dion memencet bel berkali kali, tidak ada yang membukakan pintu, Dion tidak bisa masuk akses masuk menggunakan kartu bukan password. Akhirnya dia turun ke bawah untuk bertanya pada security,
"Pak, apa bu Wina belum pulang, saya pencet2 belnya tidak keluar" tanya Dion.
"Sudah, tapi hapenya mati" jawab Dion lesu.
Setelah mengucapkan terima kasih, Dion pun berlalu, dia bingung kemana lagi harus mencari Wina. Selama berpacaran dengan Wina mereka tidak memiliki tempat spesial, pertemuan mereka hanya di sekitar rumah sakit, kantor, apartemen, dan restoran dekat kantor atau rumah sakit.
"Kamu dimana sayang" keluhnya sambil menjalankan mobilnya ke sembarang arah untuk mencari Wina.
Sementara Wina, sepulang dari kantor Dion sengaja tidak pulang ke apartemen atau rumah sakit karena Dion pasti mencari kesana. Dia duduk di danau daerah selatan kota, Dion tidak mungkin menemukannya karena mereka tidak pernah kencan disana.
Dia merenungi nasibnya disana, kenapa kisah cintanya tidak pernah berakhir dengan baik, dulu sebelum dengan Dion, Wina berpacaran dengan dosen muda di kampusnya, dan ternyata dosennya itu sudah menikah, Wina baru mengetahuinya ketika dia dilabrak sama istri dosennya itu, padahal semua itu bukan salahnya. Dan sekarang, dia diselingkuhi karena kesibukannya sebagai dokter, walau sedih dan terluka tapi Wina tidak mau putus asa masih banyak yang bisa dia lakukan tanpa Dion, dia berharap kedepannya kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Setelah puas merenung dan makan ketoprak, Wina pun meninggalkan tempat itu.
Pukul 5 sore Wina sudah sampai di cafe tempat acaranya dilangsungkan dia datang lebih awal karena tidak tahu kemana lagi menghindari Dion. Manajer cafe menyapanya,
__ADS_1
"Bu Wina, kok sudah datang, bukannya acaranya jam 7 ya?" tanya Eko manajer cafe.
"Iya, nanti akan ada kurir yang datang mengantarkan barang barang yang saya beli untuk diberikan pada rekan kerja saya, kalo sudah datang tolong disimpan dulu karena akan saya bikin suprise buat mereka" ucap Wina.
"Baik bu, apakah ibu ingin makan atau minum sesuatu?" tanya Eko kembali.
"Tidak, sementara itu dulu" jawab Wina.
Menjelang isya beberapa rekan perawat dan dokter yang tidak praktek mulai berdatangan. Yang datang ternyata cukup banyak mengingat Wina adalah dokter yang humble, ringan tangan dan satu lagi menarik bagi kaum adam. Wina tidak segan membantu di ugd, jika disana kekurangan tenaga dokter meskipun itu bukan tugas dokter bedah. Maka dari itu banyak perawat dan dokter menyayangkan kepergian Wina.
"Sebelum acara kita mulai, saya Wina Pratiwi mohon maaf jika semasa saya bekerja bersama kalian para suster dan dokter ada kesalahan baik yang saya sengaja atau tidak. Saya sangat senang bekerja bersama kalian. Kalian seperti saudara bagi saya yang tinggal jauh dengan orang tua. Menjadi rekan kerja kalian adalah pengalaman terbaik bagi saya, untuk itu saya mengucapkan terima kasih. Semoga kedepannya kita semua diberi kesuksesan, keberkahan, dan kesehatan. Sebagai ucapan terakhir, "I'm gonna miss you all" ucap Wina sambil berderai air mata.
Semua dokter dan perawat langsung berdiri bergantian memeluk Wina. Ada yang menangis, ada yang hanya berkaca kaca, ada pula yang hanya datar saja tanpa ekspresi memeluk Wina. Acara makan bersama berlangsung tanpa ada gangguan. Sebelum acara selesai Wina membagikan sebuah mug lengkap dengan foto dirinya sebagai kenang kenangan darinya. Dan terakhir tak lupa mereka mengambil banyak foto dengan berbagai pose bersama Wina, mulai dari foto bersama, foto wanita saja dan foto pria saja dengan Wina berdiri di tengah2 mereka. Tiba tiba Wina dikagetkan dengan kedatangan tamu istimewa yang tak lain adalah direktur rumah sakit mereka,
"Maaf dokter Wina, saya datang terlambat" ucap direktur rumah sakit.
"Tidak mengapa dokter, kehadiran dokter merupakan kebanggaan buat saya" ucap Wina sambil membungkukkan badan.
Direktur pun membaur bergabung dengan para dokter dan perawat. Sebelum acara berakhir para dokter dan perawat pun memberikan sebuah box untuk Wina dari mereka semua. Mereka meminta Wina untuk membukanya saat dia tiba di US. Satu per satu dari mereka kembali, dan hanya tinggal direktur dan Wina saja, direktur pun mendekati Wina,
"Wina, andaikata aku memiliki anak laki laki pastilah kamu kujadikan menantu, tapi kedua anakku perempuan maka dari itu kamu sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, seandainya disana kamu mengalami kesulitan dan butuh bantuanku jangan segan menghubungiku dan segeralah kembali begitu kamu selesai. Aku tidak rela kamu bekerja di tempat lain. Dan ini sebagai hadiah seorang ayah terhadap anaknya, kuharap kamu menerimanya" ucap direktur sedih.
Wina menerima kadonya kemudian membukanya, dan alangkah terkejutnya dia melihat isinya yang ternyata kalung yang sangat indah. Kalungnya didesain menjuntai dengan batu permata warna biru dibawahnya dihiasi micro berlian.
"Terima kasih banyak dokter, saya sangat menyukainya, semoga hadiahnya bermanfaat untuk saya" ucap Wina tulus.
"Boleh saya memakaikannya?" tanya direktur itu.
__ADS_1
Wina pun mengangguk, setelah memakaikan kalung di leher Wina, direktur pun berfoto bersama. Setelah itu direktur pun pamit pulang. Akhirnya acara perpisahannya selesai. Kini Wina bingung mau pulang kemana karena takut Dion menunggu di apartemennya. Setelah beberapa menit akhirnya diputuskan untuk menginap saja di kost Dewi, besok pagi dia akan pulang sebentar mengambil koper dan langsung ke bandara.