
Masih Di Baltimore
Sejak perjamuan makan malam kemaren, hubungan Wina dan Zain masih diam di tempat, mereka hanya berkomunikasi kala Wina mendiskusikan hasil lab dan resume seminar. Zain terlalu menjunjung tinggi gengsinya, sedangkan Wina malu jika harus mulai terlebih dahulu.
Hari ini Wina mengikuti seminar di luar kota selama beberapa hari. Setelah itu dia wajib melaporkan resume dari seminar yang diikutinya tadi. Dan selama itu pula Wina tidak bertemu dengan Profesor Zain. Wina tidak tahu jika sang Profesor saat ini sedang 'Gegana' alias gelisah galau merana akibat rindu yang tak tersalurkan. Wkwkwk profesor juga bisa gegana ternyata.
"Kenapa seminarnya lama sekali? Kalau begini kan aku jadi gak konsen mau ngapa2in gara2 selalu terbayang wajahnya," omel Zain sambil mondar mandir di ruangannya.
Zain bisa saja menelepon Wina, tapi dia bingung alasan apa yang digunakan, karena hubungan mereka tidak sedekat itu. Setelah mengetahui bahwa hari ini Wina sudah kembali, akhirnya zain punya alasan untuk menghubungi Wina. Akan tetapi dia bimbang lagi, haruskah dia menelepon Wina hanya untuk menanyakan resume, ahh sungguh melelahkan rasa ini, begitu pikirnya. Setelah menimbang nimbang lalu ia putuskan untuk kirim pesan saja.
(From 0812xxxx) : Simpan nomorku, dan jangan lupa besok pagi kutunggu laporan hasil resume seminar kemarin di mejaku.
Wina melotot melihat pesan yang baru saja masuk di gawainya, "Apa apaan ini, memangnya dia pikir aku robot, bisa menyelesaikan resume dalam 1 hari, awas aku balas nanti," gerutu Wina
(To 0812xxxx) : Ya, ini dengan siapa? Terus ngapain pagi pagi bikin resume, lebih enak bikin nasi goreng kan?.
Melihat ada balasan, Zain tersenyum, tapi senyumnya langsung hilang ketika dia membaca balasan pesannya.
(From 0812xxxx) : Oh berlagak amnesia rupanya, baiklah jangan harap nilaimu bisa keluar.
Wina pun tersenyum kembali, "kita lihat siapa yang kalah," seringainya licik.
(To 0812xxx) : Oh bapak tukang beri nilai ya, kalau resume saya sudah ada di meja bapak besok, berati bapak harus kasih saya nilai A+ ya, oke nomor sudah kusimpan dengan nama 'Bapak Pemberi Nilai'.
__ADS_1
Melihat balasan pesan di hapenya, Zain tersenyum puas, "akhirnya besok bertemu juga," harapnya.
Wina kelabakan karena harus membuat resume dalam semalam, alamat tidak tidur semalaman. Sepanjang mengerjakan laporannya, Wina terus menggerutu, "Dasar kutu kupret, mentang mentang profesor, seenak jidatnya aja nyuruh orang, kalau gini caranya mana mau gue dijodohin ama dia, biar aja aku bakal bilang sama ayah buat nolak perjodohan ini, eh tapi kan kalo dia ngambek gara gara gue tolak, gue gak bakal dilulusin dong. Makin lama dong gue disini." Sepertinya Wina harus mengeluarkan jurus jitu agar bisa mencairkan 'si balok es' biar gak semakin semena mena padanya. Ah dia punya ide... Dia akan mencari di mbah gogo bagaimana cara menakhlukkan lelaki.
Selama ini tidak ada yang tahu jika Wina memiliki sifat yang bar bar, Wina selalu terlihat kalem dan lemah lembut. Dia memang sengaja bersifat demikian demi menjaga image dokter spesialis, masak iya dokter kok bar bar. Dengan adanya Zain yang selalu mengganggunya memunculkan sifat asli Wina.
Wina langsung mengerjakan resume seminar setelah menemukan cara untuk membalas profesornya. Pukul 2 dinihari, Wina baru menyelesaikannya, dan dia langsung tertidur.
Keesokannya Wina dikagetkan dengan bunyi dering telponnya.
"Halo siapa nih" tanyanya.
"Dalam 30 menit saya tunggu kamu diruangan saya dengan membawa hasil resumenya" perintah orang disana.
Wina pun langsung pergi ke kamar mandi, setelah selesai mandi, dia sedikit berdandan natural, walau tanpa dandan pun Wina sudah cantik. Lalu dia turun ke bawah untuk membuat sarapan, menu yang simpel nasi goreng seafood plus telor mata sapi, Wina sengaja membuat 2 porsi untuk dirinya dan profesor sialan yang selalu bikin kesel. Kalau bukan gara gara mbah gogo, mana sudi dia membuatkan sarapan.
Setelah semua selesai, Wina langsung pergi ke kampus. Begitu sampai, dia langsung menuju ke ruangan Prof Zain. Di depan ruangan, dia kembali mengingat ingat pesan mbah gogo, pertama senyum semanis mungkin, setelah menghela napas dia pun mengetuk pintu. Setelah terdengar suara barulah dia masuk.
"Pagi prof, wow anda hari ini terlihat sangat tampan sekali prof" ucap Wina dengan senyum semanis mungkin.
Melihat senyum Wina, jantung Zain berdetak kencang, "Sial, kenapa gua yang jadi gugup begini" pikir Zain. Setelah menetralkan degup jantungnya Zain pun berkata, "Gak perlu nyogok pake pujian, gak bakal mempan, kamu sudah terlambat 20 menit lebih 15 detik, dan untuk itu kamu akan mendapatkan hukuman."
"OMG, kenapa itu detiknya juga kehitung juga, kan saya terlambat karena membuatkan profesor menu spesial khusus untuk Prof Zain yang baik" sanggah Wina sambil menaruh makanannya di meja
__ADS_1
"Ini kenapa warnanya pink, kamu pikir saya pinky boy, kamu itu banyak alasan saja, mana resumenya?" pekik Zain.
Wina menaruh resume tepat di depan Prof Zain, dan langsung diperiksa oleh yang bersangkutan, Wina duduk santai sambil memperhatikan wajah profesornya.
"Kenapa kamu liatin saya seperti itu, kamu suka sama saya, atau jangan jangan kamu yang nyuruh ayahmu untuk menjodohkan kita?" tuduh Zain sambil membetulkan kaca matanya
Wina yang tak terima dengan tuduhan itu langsung marah, "Enak saja asal tuduh, coba bapak pikir pakai otak ya, mana mungkin seorang pegawai remehan seperti ayah saya berani meminta atasannya buat menjodohkan putra putrinya" ketus Wina.
"Ya mungkin saja, kan hati orang gak ada yang tahu" balas Zain.
"Udah deh sekarang bapak selesaikan periksa resume saya biar cepet selesai, daripada banyak omong malah bikin sakit hati aja" ucap Wina sewot.
Setelah memberi beberapa coretan pada resumenya, Zain pun mulai membuka kotak makannya, sebelum makan Zain memberi perintah, "Kamu jangan pergi, sebelum saya selesai makan, siapa tahu makanan ini ada racunnya yang bikin saya jatuh cinta sama kamu"
Mendengar itu Wina hanya memutar matanya malas, capek kalo harus berdebat dengan kutu kupret satu ini karena gak akan ada habisnya.
Wina pun duduk tenang sambil memperhatikan kukunya, sementara Zain makan sambil melihat ekspresi Wina. Melihat Prof Zain makan dengan lahap hingga tak tersisa, Wina merasa Zain menyukai masakannya. Setelah selesai makan Zain pun berdehem.
"Hhmm, sebagai hukuman kamu terlambat hari ini mulai besok kamu bawakan sarapan setiap hari sampai saya bosan dengan masakanmu dan sebelum masak kamu harus hubungi saya menu hari ini" ucap Zain santai sambil berlalu pergi.
"What" Wina ingin protes tapi keburu Zain pergi meninggalkan ruangan. "Ah sial ngapain juga tadi gua bawain makanan," gerutu Wina.
Sebenarnya hukuman itu hanyalah alasan Zain biar bisa ketemu Wina setiap hari. "Tahu gitu dari dulu gue suruh dia masak tiap hari kalo masakannya seenak ini" sesal Zain.
__ADS_1