
Beberapa saat kemudian Dokter sudah keluar, beliau memberitahukan bahwa pendarahan Wina sudah berhasil dihentikan, dan janin masih bisa dipertahankan. Mama Mirna dan Ibu Mela menangis bahagia, mereka merasa lega mendengar putri dan calon cucunya selamat. Mereka bersyukur Wina bisa bertahan.
Wina sudah berada diruang perawatan, dokter Mary tetap mengontrol keadaan Wina. Meski sudah ada dokter di rumah sakit itu, tapi dirinya tetap memiliki tanggung jawab terhadap pasiennya.
Pagi menjelang, saat Wina membuka mata, dia melihat mertua dan mamanya tidur berbagi ranjang. Namun dia tidak melihat Dokter Mary disana, mungkin lagi mencari sarapan di luar, pikirnya. Wina pun memanggil Ibunya, "Bu, bangun."
Mendengar suara putrinya, Ibu Mela dan Mama Mirna terbangun secara bersamaan, "Sayang, kamu sudah bangun?" tanya mereka kompak.
"Bu, Wina haus, sebentar sayang, Ibu ambilkan" ucap Ibu Mela.
Setelah meneguk setengah gelas air, Wina baru ingat dengan bayinya, "Bu gimana dengan anakku? Apa dia baik baik saja?" tanya Wina sambil memegang perutnya.
Sambil tersenyum Mama Mirna membelai rambut menantunya, "Alhamdulillah, dia baik baik saja, dia bayi yang kuat" ucap Mama Mirna.
"Alhamdulillah, Allah masih sayang padaku, melihat keadaan kemaren rasanya aku sudah pasrah dengan apa yang terjadi" lirih Wina.
Dokter Mary sudah kembali. Dia pun memeriksa kembali keadaan Wina. Dia bersyukur karena kondisi Wina sekarang jauh lebih baik.
"Kapan Tuan Zain akan datang Nyonya?" tanya Dokter Mary pada Mama Mirna.
"Mungkin nanti malam Dok, mengapa? Apa ada yang serius?" tanya Mama Mirna.
"Ada yang harus saya diskusikan mengenai keadaan Ibu Wina pada Tuan Zain" jawab Dokter Mary.
"Semoga saja tidak ada kendala seperti yang kita alami kemaren, jadi dia bisa datang tepat waktu" harap Mama Mirna.
"Aamiin" jawab semua yang ada disana.
Sore hari, Rombongan Zain sudah sampai di bandara. Mereka langsung menuju ke rumah sakit tempat Wina dirawat. Rombongan Zain yang melewati UGD berpapasan dengan Dion yang sedang mengambil obat untuk istrinya. Zain tidak melihat kanan dan kiri, dirinya hanya fokus pada keadaan istrinya.
Dion yang melihat Zain datang ke rumah sakit pun bertanya tanya dalam hati, "Mengapa si Jain sialan itu ada disini? Apa Wina juga ada disini?."
Dion pun bertanya pada resepsionis rumah sakit, "Sus, apa disini ada pasien bernama Wina Pratiwi?."
__ADS_1
"Sebentar, saya cek dulu ya," ucap perawat disana.
Beberapa saat kemudian perawat itu menjawab, "Ada Pak, beliau baru masuk kemaren sore."
"Kalau boleh tahu, kenapa ya sus, terus dirawat di kamar apa?" tanya Dion kembali.
"Maaf kami tidak bisa memberitahukan soal penyakitnya, tapi beliau saat ini berada di ruang VVIP 1" jawab perawat itu.
"Makasih sus infonya," ucap Dion kemudian berlalu pergi.
Sambil berjalan Dion melamun memikirkan kenapa Wina ada disini, bukannya dia ada di Amerika. Dion pun berbelok menuju ruangan Wina.
Zain yang baru tiba di kamar Wina pun langsung memeluk istrinya, "Sayang maafin aku, harusnya aku ikut kamu, harusnya aku gak perlu nunggu cutiku di acc, kamu tahu rasanya jantungku melayang mendengar kamu pendarahan" cecar Zain sambil meneteskan air mata.
"Oppaaa.., maafkan aku, aku juga salah, harusnya aku nungguin kamu, aku sangat takut kalau kalau aku tidak bisa melihatmu lagi, aku takut Oppa huaaa" racau Wina dengan air mata yang tak berhenti menetes.
"Sudah, tidak usah saling menyalahkan yang penting sekarang kondisi Wina dan bayinya baik baik saja" potong Papa Juan.
"Bagaimana keadaanmu sayang? Mana yang sakit?" tanya Zain.
"Oppa disini aja, jangan jauh jauh, dedeknya lagi kangen sama Papanya" rengek Wina yang menahan tubuh Zain saat akan berdiri.
"Aku gak kemana mana sayang, aku cuma mau ambil kursi disana" ucap Zain.
"Duduk di ranjang sini aja, muat kok" titah Wina.
Mereka semua tersenyum melihat kelakuan kedua anaknya. Sedangkan yang mengintip di luar harus gigit jari sambil mengepalkan tangannya begitu melihat kemanjaan Wina pada Zain. Karena tak tahan melihatnya, Dion pun pergi meninggalkan ruangan Wina.
"Kenapa Wina jadi manja sama si Jain, dulu waktu jalan denganku dia begitu mandiri, tidak pernah sedikitpun bermanja manja padaku. Dan kenapa juga manggilnya 'Oppa' apa tidak ada sebutan lain. Padahal dulu Wina hanya memanggilku 'Kak' sejak kapan dia jadi adikku" gumam Dion sepanjang menuju ruang istrinya.
Wkwkwk Dion cemburu rupanya...
Dokter Mary yang baru saja kembali dari kantin, senang melihat Zain dan rombongannya sudah datang, dirinya trauma dengan turbulensi saat landing. Dan syukurlah mereka tidak mengalaminya.
__ADS_1
" Dokter Zain, Om Juan dan Pak Bandi" sapanya.
"Dokter Mary, terima kasih sudah berusaha menyelamatkan istri dan anak saya" ucap Zain tulus.
"Sama sama Dokter, oh iya nanti jika Dokter ada waktu saya ingin sedikit bicara dengan anda" ucap Dokter Mary.
"Apa ini tentang keadaan istri saya" tanya Zain dan Dokter Mary pun mengangguk.
"Kenapa tidak bicara disini saja Dokter?" protes Wina
Dokter Mary pun melihat ke arah Zain. Zain yang paham bahwa pembicaraan ini cukup serius pun mencoba mengalihkan perhatian istrinya.
"Sayang, kamu tidak ingin makan, biar aku suapi" ucap Zain.
"Jangan mengalihkan perhatian Oppa, cepat katakan Dokter, ada apa dengan diriku" seru Wina.
"Sayang, kamu kan masih belum sembuh benar, nanti kalau kamu sudah sehat, aku yang akan ceritakan keadaanmu ya" rayu Zain.
"Huaa, kenapa kalian semua jahat, aku juga berhak tahu kondisiku sendiri, huaaa" teriak Wina.
Dokter Mary menghela napas panjang, dirinya sangat paham dengan hormon Ibu hamil, "Baiklah, akan kuceritakan sekarang saja, biar nanti kalian bisa merundingkan bagaimana baiknya" ucap Dokter Mary pasrah.
"Guncangan cukup keras yang dialami oleh Nyonya Wina kemaren mengakibatkan kontraksi yang berujung pada persalinan dini, beruntung kami bisa menghentikannya. Untuk itu saat ini Nyonya Wina diharuskan 'bed rest' total hingga kondisi Nyonya sudah membaik. Dan mohon maaf, jika Nyonya tidak bisa melakukan perjalanan kembali hingga saat melahirkan nanti" jelas Dokter Mary panjang lebar.
Mendengar penjelasan Dokter Mary, Wina menangis tersedu sedu. Zain langsung memeluk istrinya mencoba menenangkannya.
"Sudah sayang, jangan menangis, nanti Ibu akan menemanimu disini jika suami dan mertuamu sudah kembali" ucap Ibu Mela sambil membelai rambut putrinya.
Mendengar ucapan sang Ibu bertambah kencang pula tangis Wina. Zain hanya memeluk sambil mengusap punggung istrinya. Dirinya juga bingung harus berkata apa. Karena meninggalkan Wina di Indonesia, dirinya tak mampu tapi dia juga masih punya tugas sebagai dosen dan dokter di Amerika.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi, nanti kita pikirkan jalan yang terbaik ya" ucap Zain.
"Tapi Oppa, aku gak mau jauh jauh dari kamu, kamu pindah aja kesini sementara nanti aku rekomendasikan sama direktur rumah sakit tempatku bekerja dulu ya" rengek Wina.
__ADS_1
"Nanti kita pikirkan lagi ya, gimana baiknya" sahut Zain sambil terus membelai punggung istrinya.