Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-14


__ADS_3

Dion terbangun, dan ketika melihat ruangan sekitarnya barulah dia sadar kalau dia sudah berada di kamar hotel. Dengan badan remuk redam, Dion mencoba untuk duduk, dia lalu menelepon ob hotel untuk menyiapkan air es dan peralatan p3k.


"Sial, si Zain sialan itu pintar juga beladiri, aku sampai keok begini, tau gitu aku gunakan cara lain biar gak kena pukul" keluh Dion.


Setelah ob hotel datang, Dion menyuruh ob itu membantunya mengobati luka di sekujur tubuhnya. Ternyata Dion salah lawan, dia pikir akan mudah memprovokasi Zain. Kini Dion yang harus putar otak memikirkan langkah selanjutnya.


Di rumah Wina.


Seseorang mengetuk pintu rumah Wina pagi ini. Wina mengira kalau yang datang adalah mantan tak tahu malunya, namun ternyata Zain yang tiba tiba datang dengan membawa bucket bunga. Agak aneh pikirnya, karena selama ini Zain tidak pernah romantis.


"Tumben oppa bawa bunga" gumam Wina.


"Sayang, aku ingin melamarmu secara resmi, kalau bisa sih langsung menikah, kamu bisa melanjutkan kuliahmu setelah menikah, aku tidak akan menuntut kamu menjadi ibu rumah tangga" ucap Zain serius.


Bukan tanpa alasan Zain ingin secepatnya menghalalkan Wina. Zain takut kalau Dion terus mengganggu Wina lama kelamaan Wina akan luluh mengingat saat ini belum ada cinta untuknya. Maka dari itu Zain tidak akan menunda untuk menjadikan Wina sebagai istrinya. Zain memang sakit hati dengan perkataan Dion kemaren, tapi dia sudah memilih Wina untuk masa depannya, maka dia akan menutup masa lalu Wina meski itu terburuk sekalipun. Dan dia juga tidak akan menanyakan pada Wina tentang apa saja yang Wina lakukan saat bersama Dion.


"Kenapa buru buru oppa...Apa oppa sudah tidak tahan hhhmmm" goda Wina sambil menaik turunkan alisnya.


"Bukan seperti itu, aku tidak rela bila cecunguk satu itu terus mengganggumu, kalau kita sudah tunangan apalagi kalau menikah dia tidak akan berani mengganggumu lagi," keluh Zain.


Mendengar itu Wina tersenyum, "Oppa cemburu?" ledek Wina.


"Tentu saja aku cemburu, siapa yang tidak marah jika calon istrinya masih saja pergi dengan mantannya" sungut Zain dengan bibir yang maju ke depan.


Wina gemas sekali melihatnya, ingin rasanya mencubit pipi profesornya itu. Wna tau yang dia lakukan saat ini salah maka dari itu dia pun menyetujui usul Zain.

__ADS_1


"Baiklah, jika menurut oppa itu yang terbaik, tapi aku mohon agar oppa tidak menuntutku selalu ada dirumah, oppa kan tau kesibukanku bagaimana" terang Wina.


Mendengar Wina langsung setuju, Zain senang bukan main, rasanya dia ingin melompat jingkrak jingkrak, tapi sebisa mungkin dia menahannya.


"Baik, nanti aku akan bilang sama Papa untuk menyiapkan semuanya, kamu tidak usah repot, cukup kamu duduk manis saja, semua pasti akan beres" putus Zain.


"Baiklah, oppa..." ucap Wina sambil mencubit pipi kiri dan kanan Zain.


"Hmm, mulai nakal ya," ucap Zain sambil memeluk Wina, dan menciumi seluruh wajahnya.


Zain menuju ke ruang tengah untuk menelepon Papa dan Mamanya. Dia memberitahukan bahwa Wina sudah siap untuk membina rumah tangga dengannya. Karena itu, dia ingin agar besok acara pertunangannya sudah digelar dan ditayangkan live di salah satu stasiun tv, kemudian acara minggu depannya lagi baru acara pernikahannya.


Kedua orang tua Zain hanya bisa geleng geleng kepala dengan keinginan anak semata wayangnya itu.


"Kenapa buru buru Son apa papa sudah dapat bonus terlebih dahulu?" tanya Papa Juan.


Papa Juan hanya terkekeh saja mendengar jawaban anaknya, "Memangnya merpatimu mau terbang saat ini?" tanya Papa Juan kembali.


"Tidak Pa, tapi ada merpati lain yang ngajak terbang, dan aku takut dia mau" sahut Zain.


"Hahaha ada ada saja kau ini, kalau besok apakah keburu, kamu belum membeli cincin pertunangan, belum lagi gaun untuk Wina dan Mamamu" goda Papa Juan.


"Papa, jangan berlagak seperti orang tidak punya saja, bahkan aku yakin jika aku menginginkan pesta pernikahanku dilaksanakan besok Papa mampu menyiapkannya" sungut Zain.


"Baiklah, akan kusuruh Mamamu menyiapkannya" kata Papa akhirnya.

__ADS_1


Setelah menelepon Papanya, Zain langsung mengajak Wina pergi ke toko perhiasan langganan Mamanya untuk membeli cincin kemudian ke butik untuk membeli baju. Memang kalau orang kaya semua serba bisa ya gaes.


"Sayang, kamu cepat ganti baju, kita akan pergi le toko perhiasan lalu setelah itu kita ke butik" perintah Zain.


"Oppa kenapa harus sekarang, tidak bisakah besok saja, aku masih harus menyelesaikan ini" rengek Wina sambil mengangkat kertas kertas tugasnya.


"Itu nanti saja, kita harus pergi sekarang karena besok adalah acara pertunangan kita dan minggu depan adalah acara pernikahannya" tukas Zain.


"What !!!!!" sungut Wina.


Melihat Wina yang hanya diam di tempat, Zain langsung menyeretnya masuk ke dalam mobilnya. Tanpa memperdulikan Wina yang hendak protes, Zain langsung memakaikan safety bealt lalu melajukan mobilnya menuju ke toko perhiasan.


"Oppa... kenapa mendadak seperti ini, aku setuju bukan berati acaranya dilaksanakan besok, kenapa tidak bulan depan kita tunangan, lalu 3 bulan kemudian pernikahannya" protes Wina.


"Sudah jangan cerewet, kamu ikuti saja alurnya, kalau masih tidak bisa diam, aku cium kamu disini" ancam Zain.


Melihat wajah garang Zain, Wina pun menciut, akhirnya dia hanya bisa diam sambil memikirkan bagaimana nasibnya nanti jika sudah berumah tangga dengan Zain. Pastinya akan banyak ancaman jika keinginan Zain tidak sesuai. Padahal belum tentu ya gaes..


Begitu sampai di toko perhiasan, Zain langsung meminta pegawai toko untuk mengeluarkan model cincin kawin berlian terbaru.


"Pilih sayang" perintah Zain dengan menyodorkan beberapa model.


"Aku suka yang ini oppa" tunjuk Wina. Pilihan Wina jatuh pada model yang simple dengan berlian besar ditengah untuk cewek dan untuk cowok dengan berlian yang lebih kecil. Di sekeliling terdapat ukiran pada sisi kanan dan kiri. Kebetulan pas dicoba cincin itu pas di tangan mereka, lalu Zain memerintahkan pegawai tersebut untuk mengukir nama mereka lalu mengirimkan ke alamat rumahnya.


Mereka lalu pergi menuju butik langganan Mama Zain. Disana mereka disambut dengan baik, sepertinya Mama Zain customer VIP disini. Kali ini Zain yang memilih bajunya, Zain tidak rela jika dada dan punggung Wina terekspos, jadilah baju yang dipilih adalah gaun warna abu model sleeve dengan O neck, belahan dada, lengan dan punggung tertutup tile. Dada sampai ke pinggang berhiaskan swarosky dengan sabuk kecil ditengahnya ada berlian.

__ADS_1


Wina pun memcoba bajunya, ternyata sangat pas ditubuhnya. Begitu Wina keluar, Zain kaget melihat Wina begitu mempesona, hingga tanpa sadar air liurnya menetes,.wkwkwk malu maluin aja nih Zain. "Wow kamu tampak cantik dan anggun sayang, padahal belum pake make up" puji Zain penuh pesona.


"Makasih oppa.." bisik Wina sambil tersenyum merona.


__ADS_2