Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-38


__ADS_3

Meski ada rasa tak rela bertemu dengan suami Wina, namun demi kedua buah hatinya, Dion akan melakukan segalanya.


"Selamat Pagi Dokter" sapa Dion.


Zain pun mendongak ketika mendengar suara lelaki. Meski Zain agak kesal, kenapa harus bertemu kembali dengan mantan istrinya, namun dia mencoba bersikap profesional.


"Ya, maaf sekarang ini saya masih belum praktek, nanti jam 1 baru dimulai" ucap Zain sambil melihat jam di tangannya.


"Maaf Dok, saya tidak ingin periksa" sahut Dion.


"Terus?" tanya Zain.


"Saya adalah ayah bayi yang mengumumkan iklan donor asi" ucap Dion.


Zain sebenarnya ingin langsung menolak, karena dia tidak sudi istrinya menyusui anak dari mantannya. Namun dia masih ada rasa kasihan jadi dia menolak secara halus.


"Baik, karena saya sudah mengenal anda, biar masalah ini saya bicarakan terlebih dahulu dengan istri saya, nanti akan saya kabari lagi keputusannya. Dan anda tidak perlu datang kemari biar saya kirim pesan saja" putus Zain.


Dion pun mengangguk, "Baik terima kasih Dokter, saya tunggu kabarnya, kalau bisa secepatnya," pinta Dion.


Zain pun mengangguk. Setelah berjabat tangan, Dion pun meninggalkan ruangan Zain. Zain tidak habis pikir kenapa dari sekian juta orang, dirinya harus kembali bertemu dengan Dion.


Begitu selesai praktek, Zain pun meninggalkan rumah sakit. Zain tidak sadar jika di belakangnya ada sebuah mobil yang akan mengikuti kemana dia akan pergi. Zain mampir ke supermarket, karena ingin membelikan buah titipan Wina.


Di supermarket, kebetulan Zain bertemu dengan Risa, dia adalah dokter anak, rekan kerjanya di rumah sakit. Risa sangat mengagumi sosok Zain yang memang tampan dan pintar.


"Hai Dokter," sapa Risa.


Zain hanya membalasnya dengan senyuman. Zain memang bersikap dingin pada semua perawat dan dokter di rumah sakit, hanya dengan istrinya saja dia menjadi sosok yang berbeda.


"Mau belanja apa Dok?, saya bisa membantu mencari keperluan yang dokter butuhkan" usul Risa.


"Maaf, saya hanya mencari pesanan istri saya, dan saya sudah menemukannya" ucap Zain sopan.


"Wah, rupanya Dokter sudah menikah ya! Saya kira masih single. Beruntung sekali istri Dokter memiliki suami yang super perfect" ucap Risa.


"Saya juga sudah memiliki seorang putri yang cantiknya sama dengan istri saya, dan saya yang beruntung memiliki istri seperti dia, kalau begitu saya permisi" sahut Zain kemudian berlalu pergi.


"Dasar, cowok sombong, awas kau! Suatu saat nanti, akan aku buat kamu bertekuk lutut di hadapanku" gumam Risa sinis.


Begitu meninggalkan supermarket, Zain langsung pulang ke rumah. Sementara mobil di belakangnya masih terus mengikutinya. Zain disambut oleh istri dan anaknya di depan pintu rumah.


"Hai Papa," sapa Wina menirukan suara anak kecil.


"Hai sayangnya Papa," balas Zain lalu mencium kening anak dan istrinya.

__ADS_1


Orang yang mengikuti Zain tadi terlihat iri melihat kemesraan dua sejoli ini. Dia pun mengepalkan tangannya kemudian pergi meninggalkan rumah Zain.


Zain duduk di ruang tengah sambil meregangkan kedua tangannya. Wina yang melihat suaminya seperti kelelahan langsung berinisiatif memijat bahu suaminya. Wina pun memberikan putrinya pada Bibi.


"Capek Pa?" tanya Wina.


"Ya disitu sayang, terus terus, wah mantap sayang, ternyata kamu pandai juga memijit," puji Zain sambil merem melek menikmati pijatan istrinya.


Disela sela kegiatan memijatnya, Wina bertanya, "Pa, tadi udah ketemu belum, sama ayah bayi itu?" tanya Wina sambil terus memijit bahu suaminya.


"Udah, tadi udah bicara juga" jawab Zain.


"Terus?" tanya Wina kembali.


"Ya, Papa bilang kalau harus berunding dulu sama istri" jawab Zain.


"Loh, kok berunding lagi, kan Mama udah setuju buat donor asi," sergah Wina.


"Kalau semisal, Papa gak ngebolehin Mama buat donor asi gimana?" tanya Zain.


"Ya gak apa sih, Mama akan nurut kok, Papa pasti tahu yang terbaik buat kita" jawab Wina.


Zain pun tersenyum, istrinya sekarang ini lebih penurut. Dia lalu menarik tangan istrinya dan mendudukkan di pangkuannya.


Wina pun membelai rambut Zain, dia tahu ada yang membebani pikiran suaminya, namun dia tidak akan menuntut sang suami untuk membicarakan dengannya saat ini, karena dia yakin, jika sang suami pasti akan bicara dengannya jika sudah waktunya. Untuk ssekarang, dia hanya ingin menjadi tempat bersandar bagi suaminya.


Keesokannya, Zain pun menghubungi Dion, pada dering pertama langsung dijawab.


"Halo, maaf Pak Dion saya dan istri tidak jadi mendonorkan asi untuk kedua anak Bapak. Sekali lagi saya minta maaf. Anda bisa mencari pada Bank Asi," saran Zain.


"Tidak apa Dokter, saya mengerti. Nanti saya akan mencari pendonor lain" ucap Dion sambil mengepalkan tangannya.


Begitu sambungan telepon ditutup, Dion pun mengumpat berkali kali, "Sialan kau Zain, apa salahnya Wina menyusui bayiku, lihat saja nanti!" kecam Dion dengan senyum licik.


...****************...


Pagi ini, Wina sudah berdandan cantik, dia akan pergi ke rumah sakit bersama Zain. Nabila sudah waktunya imunisasi kembali.


"Sudah siap sayang?" tanya Zain.


"Sudah Papa" jawab Wina seolah Nabila yang berbicara.


Mereka pun berangkat bersama. Di rumah sakit terjadi kehebohan ketika Wina berjalan bersama Zain, pasalnya seluruh rumah sakit tidak ada yang tahu jika Wina adalah istri Zain, karena saat menikah Wina hanya mengundang Dewi, dan saat ini Dewi sudah resign karena tengah hamil.


"Dokter Wina!" teriak Dokter jaga dan perawat di UGD.

__ADS_1


"Hai semua," sapa Wina.


"Ya ampun Dokter, lama gak ketemu, tambah cantik aja sekarang" seru perawat dan dokter disana, mereka bergantian memeluk Wina.


"Ah kalian bisa aja, gimana kabar kalian semua?" tanya Wina.


"Kita semua baik Dok, oh iya yang disebelah Dokter itu suaminya ya?" tanya mereka kepo.


"Iya, ini suami saya, bukannya kalian semua sudah pada kenal?" tanya Wina.


"Hehehe kenal kok Dok, cuma gak berani negur aja" ucap para perawat itu.


"Loh kenapa, apa suami saya galak?" tanya Wina sambil melirik sang suami.


"Bukan galak Dok, tapi irit bicara, kami jadi segan" bisik salah satu perawat di telinga Wina.


"Ya sudah nanti disambung lagi ya, saya mau imunisasi anak saya dulu" ucap Wina.


Setelah bercipika cipiki, Wina pun meninggalkan ruang UGD. Di ruang dokter anak, Nabila sudah selesai di imunisasi. Karena Zain masih ada jadwal praktek. Wina memutuskan untuk pulang sendiri naik taksi.


"Sayang, kamu gak apa pulang sendiri?" tanya Zain khawatir.


"Gak apa sayang, nanti kamu telat praktek kalau harus nganterin aku dulu, nanti kalau sudah sampe rumah aku telpon. Bye Papa" pamit Wina sambil mencium tangan suaminya.


"Hati hati sayang, nanti jangan lupa telpon kalau sudah sampai" ucap Zain.


Wina pun keluar mencari taksi, kebetulan di depan UGD ada taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Wina pun duduk di belakang bersama sang putri. Setelah menunjukkan alamatnya, taksi pun kembali melaju. Wina yang bingung dengan jalan yang dilalui pun bertanya, "Pak, kenapa lewat sini?"


"Iya Bu, jalan utama sedang macet, jadi saya putar arah lewat sini" ucapnya sambil menunjukkan map di hapenya.


Wina pun mengangguk. Mobil kembali berjalan. Hingga berhenti di sebuah rumah. Wina yang bingung kembali bertanya, "Pak, kok berhenti disini, ini rumah siapa?."


Sang sopir taksi hanya tersenyum menyeringai. Wina yang melihat tanda bahaya pun segera membuka pintu mobil, namun sayang mobil sudah terkunci. Wina mulai ketakutan, dia pun mencoba untuk membujuk sopir taksi itu agar mau membuka pintunya.


"Pak, tolong buka pintunya! Saya gak kenal dengan Bapak, kenapa Bapak menahan saya disini?" tanya Wina dengan berderai air mata.


"Sabar Nona, sebentar lagi Nona akan bertemu dengannya" jawab Sopir itu.


Begitu klakson dibunyikan berkali kali, pintu geebang pun terbuka. Wina mulai ketakutan, dia takut diculik lalu dijual pada lelaki.hidung belang, atau putrinya yang diambil lalu dijual pada orang lain. Segala pikiran buruk berkecamuk di benak Wina. Wina hanya bisa menangis sambil memegang erat putrinya. Dirinya akan berusaha sekuat mungkin melindungi putri tercintanya.


Sesampainya di depan pintu, ada beberapa orang berpakaian hitam membuka pintu, kemudian menyeret Wina keluar.


"Hey! Jangan kasar, kasihan putriku nanti menangis, aku akan keluar sendiri, tidak perlu tarik tarik begini" oceh Wina.


Pengawal pun melepaskan Wina. Begitu Wina keluar, seorang lelaki menyapanya, "Hai sayang, lama tak jumpa?."

__ADS_1


__ADS_2