
"Maaf, Anda siapa?" tanya Wina.
Zain yang ingin menjelaskan dirinya, urung, saat sang Papa, menahan tangannya. Papa Juan pun mengajak Wina dan Zain duduk di ruang tengah.
"Sayang, kita duduk disini dulu ya, ada yang ingin Papa bicarakan," ajak Papa Juan.
"Sayang, boleh tidak aku menggendongnya?" pinta Zain pada Wina agar bisa mendekap putranya.
Wina menoleh pada Papa mertuanya, Papa Juan yang mengerti arti tatapan Wina pun menganggukkan kepala. Wina lalu memberikan Zico pada Zain. Zain menatap haru wajah Zico yang hampir 100% persis seperti dirinya. Dia menangis sambil membelai pipi halus putranya.
"Begini sayang, Laki laki yang duduk di sebelah Papa ini adalah suamimu. Dia menjadi seperti ini karena mengalami kecelakaan bersama dengan kamu saat kamu akan melahirkan Zico," jelas Papa Juan memulai pembicaraannya.
Wina langsung memandangi wajah Zain, kemudian membandingkannya dengan foto pernikahannya yang terpampang di ruang tengah. Papa Juan yang mengerti kebingungan Wina pun melanjutkan penjelasannya.
"Saat terjadi kecelakaan itu, mobil meledak sebelum Zain benar benar keluar jadi wajah dan separuh tubuhnya terkena luka bakar," cerita Papa Juan sambil menangis tergugu.
Wina pun mencoba mengingat kembali kejadian saat itu, namun denyut hebat di kepalanya menghalanginya untuk mencari kepingan memori itu.
"Ahh, sakit," lirih Wina kemudian tergeletak di kursi tengah.
Papa Juan panik saat mendapati menantunya pingsan. Zain pun demikian, rasanya dia ingin berlari menggendong sang istri, namun kondisinya tidak memungkinkan melakukan itu.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Zain mencoba mendekati Wina.
Papa Juan pun menggendong menantunya, dan membawanya ke kamar. Saat hendak memanggil dokter langganan mereka, Zain melarangnya.
"Biar aku saja yang periksa Pa," pinta Zain.
"Hati hati Zain," ucap Papa Juan.
__ADS_1
Zain pun memeriksa keadaan istrinya. Setelah selesai, Zain pun bicara dengan Papa Juan.
"Apa sudah dibawa ke psikiater Pa?" tanya Zain.
"Seminggu sekali, dokternya kesini," jawab Papa Juan.
"Harus pelan pelan Pa, gak bisa dipaksa, semoga ingatannya bisa kembali, biar aku saja yang merawatnya Pa, ingatannya akan pulih dalam waktu 6-9 bulan, jika kita terus merangsang kembali ingatannya, tidak sampai 6 bulan, ingatannya sudah bisa pulih kembali." jelas Zain.
"Apa kamu sanggup, kamu sendiri juga masih belum sembuh," ucap Papa Juan.
"InshaAllah bisa Pa," balas Zain.
"Ya sudah Papa tinggal dulu, ingat istrimu itu masih hilang ingatan, kamu harus sedikit bisa bersabar," nasehat Papa Juan lalu pergi meninggalkan rumah Zain.
Wina sudah sadar, dia melihat hanya ada laki laki yang kata mertuanya adalah suaminya, wajahnya sedikit berbeda dari yang bersanding dengannya di foto pernikahan. Namun Wina yakin apa yang dikatakan oleh mertuanya benar. Hanya saja, Wina masih tidak nyaman berdekatan dengannya.
Melihat istrinya sudah sadar, Zain langsung mendekatinya, "Apa ada yang sakit sayang?" tanya Zain. Wina hanya menggelengkan kepalanya, sebenarnya dia merasa gugup berdekatan dengan lelaki yang katanya suaminya ini.
"Jadi nama putra kita Zico?" tanya Zain. Wina pun kembali mengangguk.
"Siapa nama lengkapnya?" tanya Zain yang berusaha membuat Wina membuka mulutnya.
Wina pun menunduk, jantungnya sedang berdisko mendapat tatapan tajam dari suaminya. "Namanya Zico Putra Zain," lirih Wina, namun masih terdengar di telinga Zain.
"Wah, nama yang bagus, apa Papa yang memberi nama?" tanya Zain. Wina hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Zain gemas sekali dengan tingkah istrinya ini, kalau saja dia tidak lupa ingatan, sudah habis dia lahap, bibir merah yang irit bicara itu.
"Lalu, siapa yang memberi nama sebagus itu?" tanya Zain kembali. Wina hanya menunjuk dirinya dengan kepala tertunduk.
Ya Tuhan, Zain benar benar tidak tahan, kalau terus berada di samping istrinya, bisa bisa dia akan khilaf. Zain pun mencoba berdiri, kemudian mengambil kruknya. Dia harus mengalihkan berbagai pikiran mesum di kepalanya.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Wina ketika melihat sang suami hendak berdiri. Mendengar suara sang istri, Zain pun tersenyum bahagia, rupanya istrinya ini tak rela dia tinggalkan.
"Mau ke toilet sebentar. Apa mau ikut?" goda Zain. Wajah Wina pun merona, dia hanya menggelengkan kepala. Zain suka sekali melihat ekspresi malu malu istrinya.
Setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi, Wina memegang dadanya yang terus berlompatan. Wina pun mencoba menetralkannya dengan menghembuskan nafas panjang. Setelah tenang kembali, dia pun tersenyum lalu keluar mencari putranya. Wina sudah mencari di seluruh ruangan, namun dia tak melihat putra dan pengasuhnya. Wina sudah panik, dia pun memanggil Bibi, ART di rumahnya.
"Bibi!" teriaknya.
"Ya Non" jawab Bibi.
"Dimana Zico?" tanya Wina.
"Tadi diajak Selli pergi ke taman Non, karena tadi sempat nangis, mungkin ingin menyusu," jawab Bibi.
Wina segera berlari ke taman belakang rumah, benar saja, bayi montok itu sedang berada di ayunan bersama pengasuhnya.
"Selli, sini, biar baby Zico aku susuin," kata Wina. Selli pun memberikan zico pada Mamanya.
Wina pun membawanya ke kamar, sepertinya dia lupa kalau di kamar itu ada ayahnya Zico. Wina pun menyusui bayi montoknya itu sambil berbaring. Karena sudah kenyang minum asi, baby zico pun tertidur.
Entah karena efek obat amnesia, atau memang lelah, Wina merasakan kantuk yang luar biasa. Wina pun ikut tertidur. Zain yang sudah selesai dengan kegiatannya pun keluar dari kamar mandi. Betapa bahagianya dia melihat sang istri tertidur pulas, dengan Zico yang masih menempel pada sumber makanannya.
Zain pun mendekat, pelan pelan dia memindahkan putra kecilnya itu ke ujung ranjang, kemudian menggantikan sang putra untuk sedikit menyicipi sumber makanan putranya yang sedari tadi sudah menggodanya.
Wina sedikit menggeliat karena merasakan geli dan nikmat, Zain sudah panik karena Wina bergerak, dia pun menghentikan aksinya. Melihat sang istri tertidur kembali, Zain pun tersenyum lebar, dia kembali melancarkan aksinya.
Kini dia beralih pada bibir seksi Wina. Zain sedikit bermain dengan bibir seksi Wina. Sebetulnya tidak pernah ada kata puas untuk Zain kala bermain dengan sang istri, namun dia takut istrinya terbangun, Zain pun memindahkan putranya kembali mendekat pada Mamanya.
Dirasa semua sudah aman, Zain pun hendak pergi keluar kamar. Tapi sebelumnya dia ingin mencium putra dan istrinya terlebih dahulu. Zain pun menciumi seluruh wajah gemol putranya. Ketika hendak memcium istrinya, tiba tiba Wina terbangun. Zain yang kaget refleks menjauh dari tubuh Wina.
__ADS_1
"Kakak, apa yang kakak lakukan disini, dan kenapa dekat dekat, kakak mau berbuat mesum ya," tuduh Wina yang langsung menutupi asetnya yang masih terbuka.