
Kondisi Wina sudah lebih baik saat ini. Meski dokter menyuruhnya untuk bed rest total, namun Wina yang biasanya aktif merasa bosan 3 hari hanya di dalam kamar saja, dia ingin melihat taman rumah sakit.
"Dok, boleh gak saya duduk di taman, saya bosen Dok" tanya Wina pada Dokter Mary.
Dokter Mary hanya menghela napas melihat betapa keras kepala pasiennya ini. "Tapi pake kursi roda ya, jangan jalan, saya gak mau dimarahi Dokter Zain kalau terjadi sesuatu dengan Nyonya, nanti saya minta suster mengantar kesini" jawab Dokter Mary.
"Terima kasih Dok" seru Wina kegirangan.
Saat ini Wina dan dokter Mary sedang berada di taman. Zain sedang mengantar Papa, Mama beserta mertuanya untuk menginap di apartemen Wina dulu. Zain merasa kasihan melihat sang Mama dan Ibu Mertuanya tidur di rumah sakit.
"Dok, apa setelah aku keluar dari rumah sakit Dokter akan kembali" tanya Wina saat duduk di taman dengan Dokter Mary.
"Saya akan kembali saat masa cuti saya habis Nyonya" jawab Dokter Mary.
Mereka pun kembali menikmati keindahan taman. Dion yang sedang melewati taman begitu gembira melihat sang pujaan hati sedang duduk di taman. Dia pun menghampirinya.
"Sayang"
Wina dan Dokter Mary menoleh kearah suara, Dokter Mary kebingungan melihat orang yang tak dikenal memanggil sang Nyonya dengan sebutan 'Sayang'. Tapi ketika melihat wajah sang Nyonya yang biasa saja, berati mereka berdua saling kenal, apa mungkin mantan pacar sang Nyonya ya, berbagai prediksi berkecamuk di pikirannya.
Wina yang masih dongkol akibat peristiwa penculikan itu hanya memalingkan muka tanpa berniat menjawab sapaan lelaki itu.
"Sayang, kenapa kamu disini? Kamu sakit apa? Kenapa mesti pakai kursi roda?" Dion menyerbu Wina dengan rentetan pertanyaan. Wina tak menjawab, dirinya hanya diam saja menanggapi pertanyaan Dion.
Dokter Mary yang memiliki jiwa kepo yang tinggi pun bertanya, "Anda siapa, kenapa memanggil majikan saya dengan sebutan 'sayang'?.
__ADS_1
"Saya ini adalah mantan terindah majikan anda. Dia menikah dengan si Jain hanya sebagai pelampiasan saja" oceh Dion.
"Yang namanya mantan itu di belakang kan, dan gak ada istilah mantan terindah, kalau terindah gak bakal jadi mantan dong" ejek Dokter Mary tak mau kalah.
Wina ingin tertawa mendengar ucapan Dokter Mary, tapi ditahannya karena malas sekali dia melihat Dion. Tiba tiba Dokter Mary berdiri.
"Pergi kamu dari sini, sebelum kutembak kepalamu" seru Dokter Mary sambil mengacungkan senjata ke muka Dion. Ya Dokter Mary adalah salah satu bawahan dari Papa Juan. Dulu dia adalah anggota mafia sebelum bertemu dengan Papa Juan.
"Tolong Dokter, saya tidak akan menyakiti Wina saya hanya ingin mengucapkan salam perpisahan karena setelah ini saya tidak akan pernah menampakkan wajah saya di depan Wina, kecuali jika takdir yang membawa kami bertemu" pinta Dion sambil berlutut di depan Dokter Mary.
"Baik, aku beri kamu waktu 10 menit, lebih dari itu, aku tembak kepalamu" seru Dokter Mary kemudian berlalu pergi meninggalkan Wina dan Dion.
Setelah Dokter Mary pergi, Dion langsung menghampiri Wina, dia lalu berlutut di depan Wina, mencoba menggenggam tangan mungilnya, namun langsung ditepis oleh Wina.
"Ngapain kakak disini, cepat pergi aku sedang malas melihat wajah kakak" ketus Wina.
Wina yang tak tega melihat wajah Dion pun mengangguk, "Baiklah, aku sudah memaafkan kakak, kuharap setelah ini jangan mengganggu aku lagi dan segera pergi dari sini," ucap Wina ketus.
"Baik, aku akan pergi, tapi ijinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pergi, pelukan sebagai seorang kakak, bagaimana?" pinta Dion.
Wina menimbang nimbang permintaan Dion, hingga akhirnya dia mengangguk. Dion langsung berhambur memeluk Wina. Dia merasakan kehangatan yang telah lama ia rindukan, kehangatan yang tidak pernah dia dapat saat dia memeluk Nia. Dion memejamkan matanya. Hingga seseorang menarik dirinya, kemudian menghajarnya membabi buta.
Brugh... Bruak...
Dion terjatuh akibat bogeman kuat Zain. Darah segar menetes di sudut bibirnya. Dion bangkit kemudian berlalu pergi seraya tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Jadi ini tujuanmu pulang ke Indonesia! Supaya kamu bisa bertemu denganya. Supaya bisa bernostalgia sambil berpelukan. Begitu kan!" teriak Zain dengan wajah penuh amarah.
Wina yang ketakutan mendengar suara Zain hanya bisa menangis. Ingin dia berteriak mengatakan bahwa semua itu tidak benar. Namun kata kata yang ingin dia ucapkan hanya tersangkut di tenggorokan. Seumur hidup dia tidak pernah dibentak oleh ayah dan ibunya. Mendengar suara keras Zain Wina seluruh tubuh Wina gemetar. Wina tak pernah melihat Zain semarah ini.
"Heh, bilangnya ngidam, ternyata itu hanya alasanmu saja, apa kamu masih mencintainya, masih mengharapkannya hingga begitu sampai disini kamu langsung menemuinya bahkan dalam keadaan sakit sekalipun kamu masih memikirkannya" bentak Zain.
Wina menggelengkan kepalanya, dengan berderai air mata, dia mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menjelaskan kesalahpahaman ini.
"Bukan begitu Oppa, aku...aku tidak sengaja bertemu dengannya, dia yang datang kesini, dan aku gak pernah janjian ama dia, telponnya saja aku tidak tahu, bagaimana bisa aku janjian sama dia, please percaya sama aku Oppa. Aku sudah melupakannya. Saat ini hanya Oppa yang ada di hatiku" ucap Wina terbata bata.
Zain yang masih emosi memilih pergi meninggalkan Wina. Dirinya tak ingin melampiaskan emosinya pada Wina. Kepergian Zain membuat Wina bertanya tanya, "Apakah suaminya itu masih marah sehingga pergi begitu saja meninggalkannya, ingin rasanya dia mengejar sang suami, namun apa daya, jangankan berjalan untuk berdiri saja dia masih harus dibantu orang lain."
Wina berpikir kenapa hanya sebatas itu kepercayaan sang suami terhadapnya. Hingga dia memanggil perawat untuk membawanya kembali ke kamar. Di tengah perjalanan, Wina berpapasan dengan Direktur rumah sakit tempat kerjanya dulu. Sang Direktur yang tak percaya anak emasnya ada di sini pun mengucek ucek matanya. Setelah itu dia langsung berteriak memanggil anak kesayangannya itu.
"Dokter Wina!" sapanya.
Wina menoleh melihat atasannya dirinya langsung tersenyum dan menggapai tangan beliau. Wina mencium tangan beliau seperti yang dilakukan pada orang tuanya.
"Pak Direktur! Apa kabar?" sapanya.
"Kamu kenapa sayang? Sakit apa? Kenapa pake kursi roda?" tanya Pak Direktur sambil memeluk dan mencium rambut mantan bawahan yang sudah dia anggap seperti anak sendiri.
Zain melihat aktivitas mereka dari kejauhan, sebenarnya tadi Zain ingin minta maaf pada Wina karena telah berteriak dan menuduh Wina tanpa alasan. Namun begitu melihat kejadian ini emosinya pun naik kembali, "Dasar murahan" ucap Zain kemudian berlalu pergi. Dia sudah muak dengan kelakuan istrinya itu yang mau saja dipeluk oleh sembarang orang.
"Sus, biar saya saja yang mendorong kursinya" pinta direktur pada perawat yang mendorong Wina.
__ADS_1
Perawat itu pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua.