Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-33


__ADS_3

Pagi ini kondisi Wina sudah lebih baik. Perawat datang dengan membawa alat pompa asi untuk bayinya.


"Bu Wina hari ini asinya di pompa ya" ucap perawat yang baru saja memeriksanya.


"Ya sus, nanti saya coba," ucap Wina.


"Kalau tidak keluar bisa dirangsang dengan makanan dan obat pelancar ASI karena dedeknya alergi sufor, jadi sebisa mungkin hari ini ada yang keluar ASI nya" ucap perawat itu kembali.


" Baik sus, makasih" sahut Wina.


Wina pun mencoba untuk memompa asinya. Hampir setengah jam memompa, namun bukannya keluar, Wina malah kesakitan. Zain yang baru datang membeli makanan pun kebingungan mendapati sang istri menangis sesenggukan.


"Kenapa kamu menangis, sayang?" tanya Zain pada istrinya.


"Ini Oppa, aku tadi nyobain mompa asi tapi gak bisa keluar, dan sekarang malah sakit, hiks hiks" rengek Wina.


"Sudah jangan menangis, tadi kamu sudah minum obatnya belum?" tanya Zain.


"Sudah Oppa, sudah makan juga, minum susu juga sudah tapi kenapa asinya belum keluar juga?" resah Wina.


"Kita coba pijat laktasi ya, nanti kita panggil suster yang bisa bantuin atau kita datangkan konsultan laktasi untuk membantumu, apa kamu mau aku yang memijatnya, dengan senang hati aku melakukannya" goda Zain sambil menaik turunkan alisnya.


"Oppa ih, di rumah sakit masih mesum aja" protes Wina.


"Mesum sama istri sendiri boleh sayang, daripada mesum sama istri orang" balas Zain berniat menggoda istrinya.


Wina langsung melotot tajam, "Coba aja kalo berani, aku cincang kamu" ancam Wina penuh amarah.


"Hehehe becanda sayang, gak mungkin lah aku begitu, aku panggil suster dulu ya" ucap Zain berusaha mengalihkan perhatian istrinya.


Saat ini Wina dibantu oleh konsultan laktasi untuk memijat dan mengompres p*y*d*r* nya supaya asi cepat keluar. Zain memang berusaha sebisa mungkin agar asi Wina cepat keluar, karena sejak pendarahan semalam, putri mereka belum minum susu sama sekali.


Setelah hampir 3 jam memijat dan memompa, akhirnya asi Wina keluar meski hanya sedikit, namun itu sudah cukup, yang penting sang putri sudah bisa minum susu. Begitu selesai, Zain yang ingin mengantarkan asi urung karena Wina merengek ingin ikut mengantarkan asi nya ke ruang NICU. Wina sangat ingin melihat wajah sang putri.


Zain yang tidak tahan dengan rengekan Wina pun akhirnya mengalah, dia membawa kursi roda untuk Wina karena Wina masih belum kuat berjalan jauh. Sesampainya di ruang NICU, Wina menangis melihat kondisi sang putri.

__ADS_1


"Oppa, kenapa banyak alat yang menempel di dadanya? Bukankah dia hanya kekurangan berat badan saja" racau Wina dalam tangisnya.


"Sssttt, sudah sayang, jangan menangis, putri kita anak yang kuat seperti ibunya, dokter melakukan itu hanya untuk memantau keadaannya saja" ucap Zain berusaha menenangkan istrinya.


"Tapi Oppa,..." belum sempat Wina meneruskan kalimatnya, Zain sudah menahannya dengan menempelkan tangan pada mulut Wina beserta gelengan kepala.


"Lihatlah, dia begitu cantik bukan, mirip seperti dirimu" sergah Zain mengalihkan perhatian istrinya.


"Mana ada, Nabila itu versi kamu tapi perempuan. Wajahnya sangat mirip denganmu, aku yang mengandung tidak kebagian sama sekali" oceh Wina.


"Nanti kalau kamu pengen anak kita wajahnya seperti kamu kita tinggal bikin lagi aja" canda Zain.


Wina pun mencubit perut sixpack suaminya, hingga sang suami mengaduh kesakitan. Wina pun kembali memandangi wajah sang putri.


Dalam diamnya Wina meneteskan air mata. Dirinya tak sanggup melihat keadaan putri tercintanya.


"Kapan semua alat itu akan dilepas Oppa?" tanya Wina.


"Kita lihat beberapa hari kedepan ya" jawab Zain sambil membelai pucuk kepala Wina.


Wina pun memberikan asi nya kepada perawat disana. Perawat pun langsung memindahkannya dalam botol kemudian memberikannya pada Nabila.


Nabila dengan cepat menghabiskan asi dalam botol itu. Mungkin karena haus atau bagaimana asi dalam botol itu cepat sekali habis. Wina dan Zain sedikit bahagia, akhirnya sang putri bisa meminum susu.


Papa dan Mama Juan bahagia saat melihat Wina dan Zain di ruang NICU.


"Sayang, kamu sudah sehat? Syukurlah kamu baik baik saja, sejak kemarin Zain tak berhenti menangis, melihat keadaanmu" cerita Mama Mirna pada menantunya sambil mendekapnya erat.


"Betul kah Ma?" tanya Wina yang tak percaya suaminya menangis.


"Iya sayang, tiap malam dia menangis sambil memelukmu, berharap kamu segera bangun" jawab Mama Mirna.


Zain yang malu aib nya dibuka pun langsung mengalihkan perhatian, "Ma, mana kacang hijaunya" ucapnya dengan wajah yang memerah.


Wina langsung melihat wajah suaminya.

__ADS_1


"Ciee, malu ya, tuh mukanya merah" goda Wina sambil mencolek dagu sang suami.


"Apaan sih" sergah Zain kemudian menangkap tangan sang istri, lalu menciuminya.


"Sudah, kalian ini memang tidak tahu tempat, ini kacang hijaunya" oceh Mama Mirna.


Wina dan Zain hanya tersenyum mendengarnya. Perawat datang menghampiri Wina, "Bu, asi nya dipompa 2 jam sekali ya, lalu masukkan ke dalam sini" ucap perawat itu sambil memberikan sebuah botol.


"Baik sus," jawab Wina.


Zain yang tak ingin istrinya kelelahan pun, langsung membawanya kembali ke kamar. Papa dan Mama Zain pun mengikutinya.


"Sayang, sekarang kamu istirahat ya, supaya asi kamu lancar, dan bayi kita cepet sehat" titah Zain sambil menggendong istrinya lalu menurunkannya diatas brankar.


Wina yang sedikit lelah pun memejamkan matanya. Begitu melihat menantunya tertidur, Papa Zain pun bertanya pada putranya, "Zain, gimana keadaan cucuku?."


"Syukurlah asi Wina sudah keluar Pa, seandainya saat ini belum keluar aku terpaksa mencari donor asi untuk putriku" jelas Zain.


"Alhamdulillah" sahut mereka kompak.


Wina yang belum sepenuhnya tidur pun mendengar perbincangan suami dan mertuanya. Dalam hati dia bertanya tanya, "apa yang terjadi pada putrinya, dan mengapa sampai harus mencari donor asi."


Wina terus menajamkan telinganya, agar bisa mendengarkan percakapan mereka sampai akhir.


"Mengapa oksigennya belum dilepas Zain," tanya Mama Mirna.


"Kemaren waktu baru lahir, dia kesulitan bernafas Ma, mungkin karena lahir sebelum waktunya jadi paru parunya belum bekerja sempurna, apalagi kemaren dia sempat muntah darah karena alergi susu sapi, kita doakan saja semoga semua baik baik saja" lirih Zain sambil menghembuskan nafasnya.


"Mama dan Papa tidak tega melihatnya Zain" ucap mereka.


"Sama Ma, rasanya ingin kugantikan penderitaaan putriku disana, namun aku mecoba untuk kuat agar Wina tidak down, yang mengakibatkan asi nya tidak bisa keluar" ucap Zain.


Mereka tidak sadar, jika Wina masih belum terlelap sehingga bisa mendengar semuanya. Wina menangis dalam tidurnya, ternyata benar putrinya tidak baik baik saja. Wina sedih kenapa Zain tidak memberitahukan padanya seka awal tentang kondisi sebenarnya sang putri. Bagaimanapun dia adalah ibunya, dia berhak mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada putrinya.


Wina hanya bisa berdoa agar putrinya bisa segera sembuh. Benar kata Zain, dia tidak boleh berpikir terlalu keras, karena nanti akan berimbas pada asi nya.

__ADS_1


__ADS_2