Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-24


__ADS_3

Pukul 02 dini hari mereka baru selesai dengan kegiatan panasnya yang menguras keringat dan tenaga, Wina yang sudah kelelahan tertidur lebih dulu. Sedangkan Zain merebahkan tubuhnya disamping sang istri kemudian tidur sambil memeluk tubuh molek istrinya.


Matahari sudah mulai menampakkan wajahnya, namun pasangan suami istri ini masih setia bergelung dalam selimut. Zain terbangun kala merasakan gerakan dalam pelukannya.


"Oppa lepas, aku pengen ke kamar mandi, cepet Oppa, nanti aku ngompol lagi" rengek Wina agar Zain segera melepaskan pelukan eratnya.


Begitu pelukan Zain terlepas Wina langsung berlari menuju kamar mandi. Melihat istrinya mandi tanpa mengunci pintu, timbul ide untuk mandi plus plus bersama sang istri.


"Oppa, ngapain ikut mandi, sana keluar dulu, mandinya gantian Oppa" suara omelan Wina di kamar mandi kemudian berganti dengan suara ******* yang mengalun indah.


Wina keluar dari kamar mandi dengan wajah cemberut, gimana tidak kesel, inginnya mandi sambil berendam malah digangguin oleh sang suami.


"Udah sayang, jangan cemberut lagi, padahal tadi di dalam kamu mendesah keenakan, kenapa sekarang malah cemberut" goda Zain pada sang istri.


Wina yang malu menyembunyikan wajahnya dengan berbalik membelakangi Zain, meski kesel karena mandinya terganggu tapi dia juga menikmati aktivitas panasnya bersama Zain tadi.


"Oppa ngapain nyusulin aku kesini" tanya Wina untuk mengalihkan perhatian Zain.


"Sayang, kenapa kamu tega? Kamu tau kalau aku gak bisa tidur tanpa memeluk kamu. Eh kamunya malah menginap disini gak bilang bilang. Tapi sayang, kenapa kamu tidur pake lingeri, niat banget godain suami" cicit Zain sambil menaik turunkan alisnya.


"Ya karena aku tau Oppa pasti nyusulin kesini, makanya aku pake lingeri biar Oppa gak marah waktu aku pergi gak bilang bilang uppss" lirih Wina sambil menutup mulutnya.


"Ohhh, jadi tadi malam emang niat godain suami, biar gak marah karena pergi tanpa ijin, sini aku hukum kamu" seru Zain lalu menggelitiki perut Wina.


"Oppa stop, geli Oppa, nanti aku pipis kalau kegelian, ingat aku ini lagi hamil" oceh Wina di sela sela tawanya.


Mendengar kata hamil, Zain pun menghentikan aksinya, "Maaf" cicitnya.


Wina pun tersenyum, "Tidak apa Oppa, aku juga minta maaf soal tingkahku kemarin, entahlah aku kesel banget ama kamu kemaren" seru Wina.


"Oke kalau dedek bayi ingin berlibur ke Indonesia, tunggu trimester ke 2 ya, tapi kita tanya dokter terlebih dahulu, dan nanti semisal aku gak bisa ikut, aku akan suruh Mama nemenin, tapi sebisa mungkin aku usahakan untuk ikut, jangan ngambek lagi ya dek" ucap Zain sambil mengusap usap perut Wina seolah sedang bicara dengan bayinya.

__ADS_1


"Beneran Oppa, ohh makasih Oppa sayang, I Love You so much, muach muach" seru Wina sambil menciumi seluruh wajah Zain.


...****************...


Tak terasa 2 minggu sudah berlalu, kini Wina dan Zain sedang mendatangi dokter kandungannya untuk menanyakan keinginan Wina untuk berlibur ke Indonesia. Setelah namanya dipanggil, mereka pun masuk ke dalam.


"Gimana Nyonya Wina keadaannya? Masih pusing dan mual" tanya dokter Silva.


"Alhamdulillah semua baik Dok, sudah tidak mual dan muntah, cuma ini istri saya lagi ngidam pengen liburan ke Indonesia, apa tidak berbahaya Dok, mengingat perjalanan dari sini ke Indonesia kurang lebih 29 jam" ya yang jawab bukan Wina melainkan Zain.


"Kita lihat kondisinya dulu ya Bu, mari silahkan" ucap Dokter Silva.


Wina pun merebahkan tubuhnya di ranjang tempat USG, Dokter pun mulai memeriksa kondisi janin yang dikandung Wina.


"Bagus, beratnya sekitar 200gr, tangan dan kakinya sudah terbentuk sempurna,wajahnya sudah mulai terlihat lebih jelas, nah ini mirip siapa ya?" canda Dokter Silva sambil mengarahkan transducernya ke wajah sang bayi.


"Wah sayang, mukanya mirip denganku, pasti cowok ya Dok?" tanya Zain.


Wina yang mendapatkan ijin dari Dokter begitu gembira. Akhirnya impiannya untuk berlibur ke negara asalnya bisa terwujud. Zain pun meminta rekomendasi Dokter kandungan yang siap dia bawa ke Indonesia. Mereka pergi menggunakan jet pribadi milik Papa Juan.


Zain berusaha mengajukan cuti dari kampus juga rumah sakit tempat Zain bekerja. Karena dia tak tega membiarkan sang istri pergi seorang diri, meskipun itu ditemani oleh Mamanya. Surat cuti dari kampus sudah dikantongi, hanya dari rumah sakit saja yang belum. Pasalnya Zain termasuk dokter senior meskipun usianya masih muda. Jadi banyak kasus kasus besar yang harus dia selesaikan terlebih dahulu sebelum berangkat. Zain pun menelepon Mamanya memintanya untuk mendampingi Wina, "Ma, besok temenin Wina ya, dia sedang ngidam berlibur ke Indonesia, cuti dari rumah sakit sampai saat ini belum turun, aku khawatir kalau Wina sendirian disana, meskipun ada dokter yang mendampingi" ucap Zain.


"Kenapa mendadak bilangnya, apa sudah konsultasi sama dokter, haish cucuku ini kenapa keinginannya aneh aneh aja" protes Mama Mirna.


"Ya sebenarnya gak mendadak, cuma karena belum dapat cuti, hehehe jadi Mama dulu yang nemenin, nanti aku nyusul yah" rayu Zain.


"Ya sudah nanti aku ajak saja Ibunya Wina biar kita liburan sama sama" kata Mama Mirna


"Wah Mama memang terbaik, mmuaach" balas Zain.


Setelah menelepon Mamanya Zain pun mengabari istrinya soal cuti yang belum di acc.

__ADS_1


"Sayang, ijin cuti dari rumah sakit belum turun, gimana kalau kamu perginya sama Mama dulu, nanti aku menyusul ya" usul Zain agar istrinya mau berangkat duluan.


" Tapi aku ingin perginya sama Oppa, takutnya aku sudah berangkat, Oppa malah gak dapat cuti, jadinya gak bisa nyusul dong" rengek Wina.


"Bisa aku usahakan bisa kok" sahut Zain.


Semua persiapan sudah lengkap, tinggal menunggu waktu berangkat esok hari, cuti dari rumah sakit Zain belum turun hingga saat ini, jadinya nanti Zain akan menyusul nanti. Wina sedikit kecewa karena suaminya ternyata tidak bisa berangkat bersamanya, dia takut kalau ternyata Zain tidak dapat cuti, namun Zain terus meyakinkan istrinya bahwa dirinya pasti menyusul membuat sedikit tenang di hati Wina.


Pagi ini, Wina sudah bersiap untuk berangkat, Zain mendorong koper istrinya lalu dibawa ke mobil. Zain mengantarkan sang istri terlebih dahulu sebelum dirinya ke rumah sakit. Mama Mirna dan Ibu Mela sudah menunggu mereka di bandara.


"Kenapa mereka lama sekali ya Jeng?" gumam Mama Mirna.


"Mungkin masih melepas rindu Jeng, maklum pengantin baru, sehari tak bertemu serasa setahun" jawab Ibu Mela.


Mereka berdua tersenyum sambil mengingat masa masa muda dulu. Wina dan Zain sudah sampai di bandara. Melihat keberadaan Mamanya, Zain langsung menghampiri mereka.


"Ma, Bu, aku titip Wina ya, nanti aku menyusul, kalau ada apa apa segera kabari aku" ucap Zain pada Mama dan Mertuanya.


"Jangan khawatir, istrimu aman sama Mama" sahut Mama Mirna.


"Sayang, kamu hati hati, ingat kalau pergi kemana mana sama Mama atau Ibu, jangan pergi sendiri" nasehat Zain pada istrimya.


"Iya Oppa, ingat cepet nyusul, awas kalau gak, nanti aku gak bakalan pulang kalau kamu gak nyusulin aku" ancam Wina.


"Siap, pasti aku nyusul" ucap Zain.


Sebelum Wina berangkat, Zain memeluk dan mencium seluruh wajah istrinya, setelah puas Wina pun berangkat karena jet pribadi mereka sudah siap landas.


"Aku berangkat," lirih Wina seolah tak rela pergi.


"Hati hati" sahut Zain dengan wajah penuh kekhawatiran.

__ADS_1


__ADS_2