Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-18


__ADS_3

Dion dan Nia melakukan akad nikah secara sederhana. Dion juga menyuruh Nia untuk berhenti dari kerjanya, dengan alasan ingin selalu disambut saat pulang kerja, padahal sebenarnya bukan itu, kalau Nia kerja, Dion tidak akan bisa menyiksa Nia. Dion pun langsung memboyong Nia ke rumahnya. Dion memasuki kamarnya, Nia pun mengikutinya.


"Eh siapa suruh kamu masuk" protes Dion.


"Terus, gue tidur dimana Dion, kita kan suami istri masak iya pisah kamar," oceh Nia.


"Yang pengen kita nikah siapa? Elu kan? Jadi, sekarang kamu patuhi aturan di rumah ini, noh kamarmu di sebelah sana" cicit Dion.


Setelah memanggil ART nya, Dion menyuruh ART tersebut untuk mengantarkan Nia ke kamarnya, sebelumnya Dion sudah memberi tahu mereka kalau akan ada penghuni baru yang akan menempati kamar tamu.


Nia begitu kesal karena tidak bisa sekamar dengan Dion, namun untuk saat ini dia harus mengalah terlebih dahulu, nanti dia akan meluluhkan hati Dion perlahan lahan.


Kehidupan pernikahan Dion tidak seperti pengantin pada umumnya. Meski Dion tidak pernah bersikap kasar pada Nia, namun Dion tak pernah menganggapnya ada. Seperti pagi ini, Nia yang ingin mengambil hati Dion menyiapkan sarapan untuk Dion, "Sayang, aku sudah menyiapkan sarapanmu, makanlah terlebih dahulu" ucap Nia dengan senyum terindahnya.


Dion hanya diam, duduk dan memakan sarapannya. Setelah sarapan dia langsung pergi tanpa berpamitan pada Nia. Melihat itu Nia menghembuskan napasnya, dia pikir akan mudah merayu Dion. Tapi ternyata tak semudah angannya.


Malam ini, Dion tidak lembur karena dia merasa tubuhnya sangat lelah. Begitu sampai di rumahnya, Nia sudah di depan pintu menyambutnya dengan pakaian seksi. Melihat itu, Dion menghembuskan napasnya, bukannya bergairah, sekarang dia merasa jijik melihat Nia memakai pakaian seksi. Padahal sebelumnya dia biasa saja.


"Sayang, kamu baru pulang, kamu mau makan dulu atau mandi dulu, aku akan menyiapkannya untukmu" ucapnya sambil memeluk manja tubuh Dion.


Dion hanya mematung, setelah Nia melepaskan tubuhnya, dia pun langsung menuju ke kamarnya.

__ADS_1


"Haahhh, sabar Nia sabar" ucapnya menyemangati diri sendiri.


Dion langsung pergi ke kamar mandi begitu sampai di kamarnya. Dia mengguyur tubuhnya dengan shower untuk melepaskan penatnya. Setelah memakai handuk, dia pun keluar, betapa terkejutnya dia melihat Nia berada di depan kamar mandi menggunakan lingeri warna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Bagaimanapun juga Dion adalah laki laki normal tentu akan langsung onfire begitu disuguhi pemandangan indah di depannya.


Melihat Dion hanya mengenakan handuk di pinggang membuat Nia panas dingin apalagi roti sobek dengan dada sedikit beebulu membuat fantasi liar Nia menari nari di pikirannya. Nia pun mendekat ke arah Dion, sambil melenggak lenggokkan tubuhnya, "Sayang, sejak pertama kita menikah, kamu belum pernah menyentuhku, aku merindukanmu sayang, please jangan tolak aku" iba Nia sambil memeluk tubuh Dion.


Dion pun menarik tubuh Nia kemudian menjatuhkannya ke ranjang, tanpa pemanasan Dion melakukan penyatuan. Nia yang kesakitan menjerit, memohon untuk berhenti. Dion yang sudah terbakar gairah tak menghiraukannya. Tak tahan menahan sakitnya, Nia pun pingsan. Sementara Dion terus melakukannya dengan kasar hingga mencapai puncaknya. Begitu selesai dia langsung pergi meninggalkan Nia, dia membersihkan diri dan tidur di ruang kerjanya.


Keesokan paginya, Nia terbangun dengan badan remuk redam, bagaimana tidak semalam Dion menggempurnya dengan kasar, beda saat mereka melakukan pertama kali Dion sangat lembut menyentuhnya seolah dia berlian yang takut rusak. Nia pun menangis, seharusnya dia tidak memaksa Dion menikahinya. Biarlah dia tetap menjadi teman ranjang Dion, dia tidak mempermasalahkannya asalkan Dion memperlakukannya dengan baik.


Begitu selesai mandi, Dion sudah ada di kamarnya. "Minum" perintahnya.


"Minum sendiri atau aku yang masukkan ke mulutmu" seru Dion.


Nia yang tak ingin berdebat pun meminum obatnya. Setelah memastikan Nia meminum obatnya, Dion pun berlalu pergi. Ingin rasanya Nia memukul dan memaki maki Dion, tapi dia takut itu akan menambah kebencian Dion padanya.


Nia yang sudah lapar langsung saja mengambil makanannya tanpa memperdulikan Dion makan atau tidak. Dari situ Dion teringat dengan Wina. Biasanya jika Wina libur, Wina selalu memasakkan dan mengambilkan dia makanan, tak jarang Wina juga menyuapinya. Ahh Wina kamu memang tiada duanya, Dion pun tersenyum membayangkan Wina sambil memakan makanannya.


Melihat Dion tersenyum, Nia merasa kesal, bukannya minta maaf karena semalam melakukannya dengan kasar, malah sekarang Dion acuh padanya. Setelah selesai sarapan, Dion memberikan kartu pada Nia,


"Ini gunakan untuk satu bulan, kamu harus bisa memanage sebaik mungkin, karena kalau habis sebelum 1 bulan, aku tidak akan menambah jumlahnya lagi, ingat itu!!" seru Dion lalu pergi meninggalkan Nia.

__ADS_1


Nia pun memberengut sambil mngerucutkan bibirnya setelah ditinggal pergi begitu saja, Tak ingin gabut sendirian di rumah, Nia pun pergi berbelanja di mall dengan kartu pemberian Dion tadi.


Nia pun pergi ke atm untuk mengecek jumlah uang yang diberi Dion. Begitu melihat jumlahnya Nia melotot, "What!! Yang benar saja masak cuma 10jt" umpat Nia.


Nia pun menelepon Dion, untuk menanyakan jumlah uang di kartunya kali aja Dion salah mencet sampe kurang 1 nol nya, "Dion, kenapa kartunya, isinya cuma 10 juta, kamu gak salah, mana cukup Dion kalau segitu" protes Nia begitu sambungannya tersambung.


"Ya harus kamu cukupin, itu cuma untuk kebutuhanmu saja, bukan untuk kebutuhan dapur, jadi pasti cukup" sergah Dion.


"Tapi Di, buat beli krim wajahku aja kurang belum beli baju, ke salon" seru Nia.


"Aku gak mau tau Nia, pokoknya kamu cukupin" sahut Dion.


"Kalau gitu aku mau kerja lagi aja Di, meski gak kamu kasih uang gak apa, aku masih bisa cari uang sendiri" keluh Nia.


"Ya sudah kamu boleh kerja, tapi setelah itu kamu boleh pergi dari rumah dan jangan pernah kembali, kamu kan tahu kalau aku tak suka memiliki istri wanita karir" sahut Dion tak mau kalah.


"Tapi... Di..." belum sempat Nia menyelesaikan protesnya, Dion sudah menyanggahnya, "Take it or Not, Tidak ada bantahan Nia."


Akhirnya mau tak mau Nia pun menerimanya, dia tak mau Dion mengusirnya, dia akan berusaha merayu Dion lagi supaya menambah uang bulanannya. Dan untuk saat ini dia harus ekstra hemat sampai Dion menambah uangnya.


Begitulah kehidupan Nia dan Dion. Dion selalu acuh dengan Nia, Dion hanya mendatangi Nia saat dia butuh pelampiasan, itupun dia selalu melakukannya dengan kasar, Dion hanya bersikap lembut jika dia membayangkan wajah Wina saat melakukan dengan Nia. Entah sampai kapan Nia bisa bersabar menghadapi sikap Dion.

__ADS_1


__ADS_2