Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-31


__ADS_3

Flasback


Setelah mendengar nasehat dari sang Mama Zain sedikit tergerak hatinya, dirinya ingin menghubungi sang istri, namun gengsi. Zain yang merasa dirinya tidak bersalah, jadi kenapa harus dia yang minta maaf.


Selama Zain mendiamkan Wina, bukan berati dia baik baik saja. Setiap malam, Zain tidak pernah bisa tidur nyenyak karena Zain sudah terbiasa tidur memeluk Wina. Zain sering melamun, merindukan sang istri yang begitu dicintainya. Bodohnya, Zain tidak pernah menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi kala itu.


Hingga Zain ingat, dia pernah diberi sebuah amplop oleh Dokter Mary, namun karena masih kesal dan sakit hati, dia malas membukanya saat itu. Zain kemudian mencari kembali amplop itu. Seingatnya dulu dia menaruhnya di laci, namun saat hampir semua isi laci sudah dia keluarkan, tidak terlihat amplop berwarna coklat itu.


Zain pun keluar, dia memanggil ART nya, "Bibi," teriakan Zain menggelegar di seluruh ruangan. Bibi yang mendengar teriakan majikannya pun langsung berlari menuju ruang tengah.


"Ya Tuan," jawab Bibi dengan suara terengah engah.


"Apa Bibi yang membersihkan ruang kerjaku?" tanya Zain.


"Betul Tuan, setiap hari Bibi membersihkannya" jawab Bibi.


"Apa Bibi pernah melihat amplop coklat yang kutaruh di laci" tanya Zain.


"Amplop coklat ya" jawab Bibi sambil mengetuk ketuk dahinya seolah sedang berpikir.


"Iya Bi, amplop coklat" tekan Zain.


"Kan dulu Tuan suruh buang" sergah Bibi.


"What" teriak Zain.


Bibi yang ketakutan mendengar teriakan Zain pun kembali menjawab, "Betul Tuan, cuma karena saya takut isinya penting, jadi masih saya simpan di gudang, sebentar saya cari dulu ya."


Selang beberapa menit Bibi sudah kembali dengan membawa amplop cokkat yang daritadi dicari. "Ini Tuan," ucapnya.


"Makasih ya Bi" seru Zain kemudian pergi ke kamar tamu.


Ya semenjak Wina tidak kembali, Zain menempati kamar tamu. Dia takut malah tidak bisa tidur karena semua yang ada dikamarnya mengingatkannya pada sang istri.

__ADS_1


Zain pun membuka amplop Wina, betapa kagetnya dia saat melihat semua kartu yang diberikan oleh Wina ada didalamnya. Berarti selama ini Wina tidak pernah memakai uang yang diberikannya, padahal setiap bulan dia mengisi saldonya. Zain merasa berdosa, secara tidak langsung, dia menelantarkan istri dan calon buah hatinya. Padahal sebenarnya, Zain tidak ada niat untuk menelantarkan istrinya, Zain hanya ingin sedikit memberikan istrinya 'shock terapi' supaya sang istri menyadari kesalahannya.


Zain pun menelepon Dokter Mary. Dia bertanya, "Halo Dokter. Apa dulu Wina tidak menitipkan apa apa lagi selain kartu atm Dok."


"Saya tidak tahu apa isi amplop itu Dok, seingat saya Bu Wina hanya menitipkan amplop itu" jawab Dokter Mary.


"Apa selama Wina dirawat Dokter selalu ada disana, maksudnya menemani Wina selama 24 jam" tanya Zain.


"Betul Dok," jawab Dokter Mary.


"Apa Dokter tahu kalau Wina sering bertemu dengan laki laki lain" tanya Zain kembali.


"Laki laki lain, Hhmmm, seingat saya beliau hanya menemui 2 orang saja Dok, itupun hanya satu kali, yang pertama adalah laki laki yang tidak tahu diri itu, yang kedua yaitu Atasan Bu Wina di rumah sakit tempat kerjanya dulu" jelas Dokter Mary.


"Laki laki tidak tahu diri? Siapa itu?" cecar Zain penasaran.


"Itu Dok, laki laki yang ngakunya mantannya Bu Wina, kalau ngomong suka ngasal, kalau gak saya todongkan pistol di kepalanya, dia gak bakalan mau pergi" ucap Dokter Mary.


"Jadi Dokter tahu kalau Wina ketemuan sama mantannya?" sergah Zain kembali.


"Ya sudah Dok, terima kasih atas infonya" ucap Zain.


Zain merutuki kebodohannya, karena terlalu emosi sehingga tak mencari tahu kebenarannya hingga berbulan bulan menelantarkan istrinya. Zain pun menelepon Papanya untuk mempersiapkan jet pribadinya, dirinya ingin meminta maaf sekaligus menunggu Wina saat melahirkan.


Papa Juan merasa senang, akhirnya putranya sudah menyadari kesalahannya. Dia pun mengirimkan lokasi Wina terkini, karena selama ini apa yang Wina lakukan tidak pernah lepas dari pengamatan Papa Juan. Dengan begitu Zain lebih cepat bertemu Wina.


Flasback Off


Di rumah sakit


"Sayang, maafin aku, aku salah, please kamu jangan nyerah, terus berjuang ya" lirih Zain di samping telinga Wina sambil menghapus keringat yang sebesar biji jagung.


Wina yang sudah mulai hilang kesadarannya, hanya tersenyum saja. Ketika kontraksi mulai terasa semakin hebat, Wina pun mengeluh, "Dok, sakit."

__ADS_1


Dokter pun mulai memberi aba aba, "Oke begitu hitungan ketiga, Dokter mengejan sekuat tenaga ya, satu....dua....tiga," instruksi Dokter Dwi.


Wina pun mengambil napas panjang kemudian mengejan, "Ayo sayang, kamu kuat" ucap Zain menyemangati sang istri. Wina merasakan sesuatu yang keluar dari bawah sana, namun tidak terdengar suara bayi, perawat pun berteriak, "Dok bayinya tidak menangis." Dokter pun menepuk nepuk punggung bayi, hingga tak lama kemudian terdengar suara,


Oeek...Oeek...Oeek.


Begitu mendengar tangisan bayinya, Wina pun tersenyum lega setelah itu Wina memejamkan matanya. Zain langsung menggendong putrinya berniat ingin mengadzani sang putri, namun perawat kembali berteriak, "Dok, pasien mengalami pendarahan post partum."


Zain yang panik langsung menyerahkan bayi mungilnya pada perawat. Kemudian memijat rahim sang istri. Dokter Dwi langsung memasukkan obat di infus Wina. Namun sayang perdarahan masih terus berlanjut, Zain sudah panik sendiri saat melihat darah keluar begitu banyak.


"Dok, kenapa darahnya belum berhenti juga" tanya Zain.


"Kita coba kuretase ya Pak, semoga bisa berhenti" ucap Dokter.


Setelah dilakukan kuretase, perdarahan pun berhenti. Zain merasa bersyukur, Wina akhirnya terselamatkan. Zain tak sanggup jika harus kehilangan Wina.


Sebenarnya Wina harus ditempatkan di ICU untuk memantau keadaannya. Namun Zain bersikeras ingin Wina ditempatkan di ruang rawat inap saja. Dia sendiri yang akan memantau perkembangan sang istri selama 24 jam.


Begitu brankar Wina dikeluarkan, Ayah dan Ibu Wina kaget, mengapa Wina tidak sadarkan diri. Zain hanya mengangguk, seolah berkata nanti aku ceritakan. Sesampainya di ruang VVIP, Zain pun meminta suster untuk membawa putrinya, karena tadi belum sempat diadzani.


"Maaf Tuan, bayinya masih di ruang NICU, karena terjadi gangguan pernapasan, jadi untuk sementara tidak bisa dibawa kemana mana" ucap perawat itu.


Bertambah sesak dadanya mendengar perkataan perawat tadi. Hingga akhirnya Zain memutuskan untuk melihat keadaan putrinya.


"Ayah, Ibu tolong jaga Wina sebentar, aku akan ke ruangan NICU terlebih dahulu, karena panik dengan keadaan Wina, putriku belum sempat diadzani" ucap Zain


"Jangan kuatir Nak, kami akan menunggu Wina disini" sahut Ayah Wina.


Zain berjalan dengan lesu menuju Ruang NICU. Tak henti hentinya, dia menyalahkan diri sendiri, seandainya saja, dia bisa sedikit menekan ego nya tentu semua ini tidak akan terjadi. Istri dan anaknya akan baik baik saja. Namun nasi sudah menjadi bubur, tak ada guna penyesalannya, dia akan melakukan yang terbaik untuk anak dan istrinya.


Begitu sampai di ruang NiCU, miris sekali hatinya melihat bayi mungil itu dipasang oksigen dan berbagai macam alat di tubuhnya. Zain menangisi kondisi putrinya saat ini.


"Pak, kalau mau mengadzankan dari luar box aja ya, bayinya jangan dibawa keluar" ucap perawat itu.

__ADS_1


Zain pun mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri sang putri dengan berderai air mata. Andai bisa dia ingin menggantikan segala kesakitan yang dialami istri dan anaknya.


__ADS_2