
"Ini tali siapa ya, apa ada pencuri yang masuk ke kamar Nona muda," gumam Philip, satpam dirumah Wina.
Philip akhirnya mendatangi kamar Tuannya, dia harus melaporkan kejadian ini. Pintu diketuk hampir 10x, namun Tuannya belum juga bangun. Philip akhirnya menelepon hape Tuannya, namun sayang hanya operator yang menjawab. Tak putus asa, dia menelepon nomor Wina.
Zain dan Wina yang kelelahan setelah melakukan pertempuran panas tidur sangat lelap hingga saat Philip mengetuk pintu tidak terdengar oleh keduanya.
Kring...Kring....Kring.
Merasa berisik dengan suara teleponnya, Wina pun terbangun, tanpa melihat siapa yang meneleponnya, langsung saja dia jawab.
"Hhmm" Wina menjawab dengan mata terpejam.
"Nyonya, Tuan dimana?" tanya Philip.
"Ini siapa?" tanya Wina.
"Philip Nyonya, dan saat ini saya sudah didepan kamar Nyonya," jawab Philip.
Wina pun membangunkan suaminya, "Pa, bangun," ucap Wina seraya menggoyangkan tubuh suaminya.
"Apa Ma? Papa masih capek, kalau mau lagi besok aja," gumam Zain dengan suara seraknya.
" Ish, Papa ini, pikirannya mesum aja, itu kamu dicari satpam, sekarang dia ada didepan kamar," ucap Wina sebal.
"Hah, maksudnya Philip?" tanya Zain. Wina hanya mengangguk.
"Ngapain dia disini malam malam?" tanya Zain. Wina hanya mengedikkan bahunya.
Zain langsung menyambar piyama yang tercecer di lantai, lalu keluar dari kamarnya.
"Philip ada apa?" tanya Zain.
"Maaf Tuan, sepertinya ada pencuri masuk kamar Nona Muda, soalnya disitu ada tali yang terhubung dengan balkon kamarnya," jelas Philip.
Zain langsung berlari menuju ke luar rumah. Dan benar saja ada tali yang menggantung terhubung dengan kamar Nabil. Takut putrinya kenapa napa, Zain langsung berlari ke dalam rumah, sebelumnya dia berteriak pada Philip, "Phil, kamu jaga disitu aku, jangan sampai dia kabur."
Mendengar ada keributan, Nandio terbangun, dia pun berlari ke balkon kamar Nabil. "Mampus aku, dibawah ada satpam, terus aku lari kemana ini?" gumam Nandio.
__ADS_1
Zain pun menggedor pintu kamar Nabil. Putri sulung Zain ini, kalau tidur mirip orang mati, jadi meski ada gempa sekalipun dia tidak akan bangun, apalagi hanya sekedar ketukan pintu.
Lama tak dibukakan pintu, Zain pun kembali ke kamarnya, dia mencari kunci cadangan kamar Nabil yang ada di lacinya. Wina sudah memakai pakainnya, dia bingung melihat suaminya yang seperti orang ketakutan.
"Pa, ada apa?" tanya Wina.
"Sepertinya ada pencuri masuk kamar Nabil, aku gedor gedor Nabil tidak juga bangun, aku takut pencuri itu melakukan hal yang tidak tidak pada Nabil" jelas Zain khawatir.
"Astaga, kenapa sampai ada pencuri yang masuk, lalu dimana Philip, kok bisa sampai kebobolan," gerutu Wina yang akhirnya ikut membantu suaminya mencari kunci pintu kamar Nabil.
Setelah ketemu, mereka langsung menuju kamar Nabil. Begitu pintu kamar dibuka, terlihat sang putri yang masih tidur dengan nyenyak. Wina mencari ke dalam kamar mandi. Sementara Zain, mencari ke arah balkon. Namun sayang, tidak ada satu orang pun disana. Yang ada hanya tali panjang yang terulur ke bawah.
"Phil, apa kamu lihat ada orang turun?" tanya Zain sambil memegang tali milik pencuri itu.
"Tidak ada Tuan," jawab Philip. Mereka berdua pun masuk kembali ke kamar Nabil. Wina pun membangunkan putrinya.
"Sayang, bangun dulu," ucap Wina seraya mencipratkan sedikit air ke muka Nabil.
"Apa sih Ma, Nabil masih ngantuk nih," gerutu Nabil.
Wina pun mendudukkan putrinya, yang akhirnya membuat Nabil terpaksa membuka matanya.
"Apa sih Ma?" tanya Nabil.
"Kamu tadi nggak lihat ada pencuri masuk kamarmu?" tanya Zain.
"Hah! Pencuri, mana dia Ma?" tanya Nabil.
"Orangnya sudah pergi, lain kali, kalau mau tidur, pintu balkonnya dikunci, sekarang kamu periksa, apa ada barang kamu yang hilang," titah Wina.
Nabil pun memeriksa semua perhiasannya, termasuk laptop, dan hape. Namun semua masih utuh, tidak ada barang yang hilang.
"Nggak ada Ma, semua masih ada," ucap Nabil.
"Mungkin, dia belum sempat ngambil, keburu ketahuan sama Philip," ucap Zain.
"Ya sudah, sekarang kamu tidur lagi, jangan lupa kunci pintu balkon," titah Wina.
__ADS_1
Zain dan Wina akhirnya keluar dari kamar putrinya. Di luar kamar Nabil, Nandio bernafas lega, ketika semua orang sudah kembali. Tadi dia sempat putus asa, dia berpikir akan ketahuan, karena dia tak mungkin melompat ke bawah karena satpam sudah menunggunya di bawah.
Untungnya dia melirik ke arah samping kanan, disana ada balkon, akhirnya dia merambat pelan pelan ke balkon samping kamar Nabil, dan secara kebetulan pintunya tidak terkunci, hingga dia bisa bersembunyi disana untuk sementara waktu.
Setelah memastikan semua aman, Nandio pun keluar dari tempat persembunyiannya, dia kembali ke balkon kamar Nabil. Nandio pun mencari cari tali yang dia gunakan untuk naik tadi.
"Kemana ya talinya? Perasaan tadi disini deh, kok tidak ada, sepertinya diambil sama Papa mertua nih. Gara gara kelupaan ngambil tali jadi gatot kan,.tidur sambil meluk calon istri" gumam Nandio.
Karena hari sudah hampir pagi, Nandio takut ketahuan, akhirnya dia terpaksa membuat tali baru lagi, supaya bisa cepat pergi dari rumah Nabil. Nandio niat banget ya, sampai bawa cadangan tali segala, hihihi.
Pukul 04 pagi, Nandio baru sampai di kamarnya. Karena kantuk yang teramat sangat, dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Rasa lelah dan kantuk yang mendera membuatnya cepat terbuai ke alam mimpi.
Pagi di rumah Wina.
Wina sudah bangun, dia lalu menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Setelah tragedi adanya pencuri tadi malam, Wina memang tidak tidur kembali, mereka berbincang tentang rencana akan menambah jumlah satpam, karena takut hal ini terulang kembali.
Zain dan Zico sudah rapi, mereka turun bersamaan. Zico juga termasuk anak jenius, karena itu, saat ini, dia,sudah mulai memasuki bangku kuliah, berbeda dengan kakaknya, Zico lebih suka bisnis ketimbang rumah sakit, sepertinya darah Papa Juan menurun padanya.
"Pagi Mom," sapa Zico seraya mencium pipi sang Mommy.
"Pagi sayang," sapa Zain yang ikut ikutan mencium istrinya. Bedanya dia mencium sekilas bibir istrinya.
Sementara Nabil, datang datang langsung merengek, pada sang Mommy.
"Mommy, tolong nanti suruh Bibi mengganti sprei dan membersihkan kamarku," ucap Nabil yang langsung bergelandotan di lengan sang Mommy.
"Kemaren baru dibersihkan sama Bibi, spreinya juga baru diganti sayang," ucap Wina.
"Tapi kenapa masih ada tungau di kamarku?" tanya Nabil.
"Tungau?" seru Wina dan Zain bersamaan.
"Iya Mom, tungau, Look," ucap Nabil sambil menunjukkan lehernya yang merah kebiru biruan.
Zico langsung tertawa, melihat kelakuan kakaknya, sepertinya Zico lebih pengalaman daripada sang Kakak.
Sementara Zain, jangan ditanya, rahangnya sudah mengeras, menahan emosinya, sepertinya pencuri semalam hendak berbuat tidak senonoh pada putrinya. Dan Wina, dia langsung syok, mengetahui putrinya menjadi korban pelecehan seksual.
__ADS_1