
Seminggu sudah Nia menjalani terapi bersama psikiater disana. Kondisi Nia saat ini sudah membaik, dia sudah lebih tenang dan tidak ketakutan ketika melihat Dion. Selama Nia di rumah sakit, Dion selalu menemaninya. Dion bahkan menginap di rumah sakit. Bibi selalu membawakan pakaian dan makanan untuk Dion. Perubahan sikap Dion mempercepat penyembuhan kondisi psikis Nia. Atas saran Dokter terapi Nia, Dion juga menjalani terapi untuk menyembuhkan penyakit 'sadomasokisme' nya. Dion tak ingin anaknya terlahir cacat gara gara sikapnya.
Selama seminggu ini Nia sudah mulai mau makan. Untungnya Nia tidak mengalami morning sickness, sehingga tidak memperparah kondisinya. Hanya saja Nia tidak terlalu suka makan nasi. Dia hanya suka makan bubur, buah, roti, dan susu.
"Gimana kondisimu hari ini, apa masih lemes?" tanya Dion saat dia baru datang.
"Udah mendingan Di," jawab Nia lesu.
"Kamu pengen makan apa hhmmm? Biar aku belikan" ucap Dion sambil membelai rambut Nia.
"Aku pengen salad Di, banyakin jeruk sama anggur ya" jawab Nia lesu.
"Baiklah, aku telponkan Bibi" ucap Dion.
Dion pun menelepon Bibi, menyuruhnya untuk membuat salad sesuai dengan selera Nia, kemudian membawanya ke rumah sakit.
Bibi yang senang karena majikannya sudah membaik pun semangat membuatkan salad pesanan sang Nyonya. Setelah selesai Bibi langsung membawa salad beserta makanan untuk Dion ke rumah sakit.
"Tuan, ini salad sama makanan untuk Tuan" ucap Bibi begitu dia masuk ke ruang rawat Nia.
"Taruh aja makanannya di meja Bi, saladnya bawa sini, biar kusuapi Nia" perintah Dion.
Bibi pun menaruh makanan di meja kemudian memberikan saladnya pada Dion.
__ADS_1
"Ayo, Aaaakkk" titah Dion.
Nia membuka mulutnya, hingga tak terasa semangkuk salad telah habis. Dion senang Nia menghabiskan saladnya. Kemudian dia memyuruh Nia untuk menghabiskan susu hamil buatannya.
Dokter visit sedang memeriksa Nia, melihat perkembangan Nia yang bagus, maka 3 hari ke depan Nia sudah diperbolehlan pulang.
...****************...
Saat ini Wina sedang berada di atas pesawat. Kurang lebih 30 menit lagi dia sudah mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Wina sangat senang bisa melihat Jakarta dari atas awan. Rasanya dia tak sabar untuk turun. Dia sudah membayangkan akan pergi berlibur menjelajahi Jogja, Bali dan tempat rekreasi lainnya.
Namun Wina tetap akan menunggu suaminya, dirinya ingin melakukan baby moon bersama sang suami. Kemudian mereka melakukan beberapa foto 'maternity' di tempat tempat eksotis di Indonesia.
Pilot sudah mengumumkan bahwa pesawat mereka tidak dapat landing karena cuaca buruk. Namun tak lama kemudian pramugari mengumumkan akan terjadi sedikit guncangan saat pesawat melakukan landing, hati Wina merasa tak tenang, dirinya takut terjadi apa apa pada dirinya dan keluarganya.
Beberapa detik kemudian pesawat yang Wina tumpangi bergerak ke kanan dan ke kiri. Pesawat tersebut seolah berjuang melawan kencangnya tiupan angin saat mendekati landasan pacu. Ketika sudah mendekati landasan pacu, roda pesawat tersebut menghantam keras landasan pacu sehingga meyebabkan pesawat meloncat loncat dengan badan pesawat yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Sang Pilot pun berusaha sekeras mungkin membuat pesawat itu mendarat dengan sempurna.
Hingga akhirnya pesawat pun berhenti, Karena guncangan yang cukup keras menyebabkan Wina merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya, Wina mencoba menghembuskan napas, namun rasa sakit itu masih ada bahkan kian menjadi, dirinya sudah tak sanggup bicara karena menahan rasa sakitnya, Wina hanya bisa mendesis dan meringis. Mama Mirna yang duduk di sampingnya pun menyadari ada yang tidak beres pada menantunya, dia lalu berteriak memanggil dokter, "Dokter Mary, tolong menantu saya, sepertinya dia kesakitan."
Dokter Mary langsung berlari, memeriksa keadaan Wina. Dokter meminta kru pesawat untuk membantu membaringkan Wina di ranjang. Selesai dengan pertolongan pertama, tiba tiba Wina pingsan. Dokter Mary pun mencoba menenangkan Mama Mirna dan Ibu Mela. Dia pun melakukan segala cara agar kondisi Wina tidak bertambah buruk dan bisa sadar kembali.
Dokter Mary memberi tahu pilot tentang keadaan Wina. Meskipun sudah dilakukan pertolongan pertama, namun tetap diperlukan USG untuk melihat kondisi janin.
Pilot sudah menghubungi pihak bandara agar segera menyiapkan tenaga medis, begitu pesawat ini mendarat. Begitu sampai di bandara, Wina sudah disambut dengan dokter dan perawat yang sudah stand by disana. Wina kemudian diangkat menuju brankar yang sudah disiapkan. Saat perawat mengangkat tubuh Wina, darah segar mulai merembes ke area paha Wina.
__ADS_1
Mama Mirna yang panik langsung menghubungi putranya, mengabarkan jika Wina mengalami pendarahan saat mendarat di bandara. Zain begitu panik mendengar kabar dari Mamanya. Serasa jantungnya terlepas begitu mendengar istrinya pendarahan. Dirinya pun langsung berlari meninggalkan rumah sakit dan menelepon Papanya supaya menyiapkan pesawat agar secepatnya bisa terbang ke Indonesia. Harusnya dirinya tak peduli dengan pasiennya. Harusnya dia menemani istrinya. Harusnya dia tak perlu menunggu cutinya disetujui. Zain terus menyalahkan dirinya akibat kebodohannya.
Dokter segera melakukan tindakan pencegahan karena pasien sudah menunjukkan gejala awal keguguran, Wina langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat di bandara. Tak sampai 10 menit rombongan Wina sudah sampai di rumah sakit.
Dokter Mary adalah dokter kandungan senior di Amerika, dia mulai menginstruksikan pada dokter setempat untuk melakukan tidakan guna menghentikan pendarahan Wina. Terlihat perawat berlari keluar, kemudian kembali lagi dengan membawa beberapa kantong darah.
Melihat hal itu Mama Mirna dan Ibu Mela menangis bersama, mereka saling memeluk menguatkan diri masing masing, Mereka merasa khawatir, mereka takut terjadi sesuatu pada Wina.
"Jeng gimana keadaan Wina ya, itu mengapa perawat keluar masuk membawa kantong darah, apa keadaan Wina sangat mengkhawatirkan" ucap Mama Mirna sambil menangis tersedu sedu.
"Aku juga gak tahu Jeng, semoga saja keadaan Wina baik baik saja" lirih Ibu Mela yang juga menangis sedih.
Ibu mana yang tak sedih melihat anaknya mengeluarkan darah begitu banyak. Mama Mirna dan Ibu Mela terus berdoa untuk keselamatan putri dan menantunya. Mereka berharap yang terbaik untuk Wina.
Sementara Zain sebelum terbang, dia menghubungi sang Mama terlebih dahulu untuk mengetahui keadaaan istrinya.
"Ma, gimana kondisi Wina?" tanya Zain khawatir.
"Huhuhu, istrimu masih di dalam sayang, dokter sampai sekarang belum keluar, tadi perawat keluar masuk membawa kantong darah. Mama takut Zain, Huhuhu" cerita Mama Mirna dengan berderai air mata.
"Mama tenang ya, disana sudah ada dokter Mary, dia pasti bisa melakukan yang terbaik untuk Wina" ucap Zain berusaha menenangkan Mamanya.
Dirinya juga sedih mengetahui keadaan istrinya, dia adalah seorang dokter tentu tahu dengan tindakan perawat itu, dia sudah bisa menyimpulkan secara garis besar keadaan Wina, hanya saja dia tidak mungkin mengatakan hal itu pada Mamanya.
__ADS_1
"Ayo Pa, kita segera berangkat kondisi Wina masih belum membaik" ajak Zain. Zain pun bersiap untuk terbang bersama Papa dan Mertuanya menuju Indonesia.
Kebetulan Rumah Sakit tempat Wina dirawat adalah rumah sakit yang sama tempat Nia dirawat. Dion tengah melewati ruang tunggu UGD. Dia bisa melihat raut wajah cemas dari seorang wanita yang sepertinya tidak asing baginya, namun dia lupa pernah bertemu dimana. Dion mencoba untuk abai saja. Dia pun berlalu menuju ke ruang rawat istrinya.