Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-35


__ADS_3

Begitu melihat sang Nyonya tergeletak di lantai, keduanya langsung berlari mendekati Nyonya Mudanya kemudian menggendong sang Nyonya untuk dibawa ke rumah sakit. Pak Ujang mengendarai mobil dengan kecepatan semaksimal yang ia bisa. Dia tidak ingin Nyonya Mudanya kenapa napa. Untungnya lalu lintas pagi ini tidak terlalu ramai. Jadi bisa ke rumah sakit lebih cepat.


Begitu sampai di rumah sakit, mereka langsung berteriak memanggil Dokter.


"Dokter, tolong Nyonya saya" teriak Pak Ujang.


Dokter dan perawat pun langsung membawa masuk ke ruang UGD. Pak Ujang langsung menghubungi tuannya.


"Halo Tuan, Nyonya sedang berada di rumah sakit sepertinya mau melahirkan" ucap Pak Ujang.


Tanpa menjawab perkataan sopirnya, Dion langsung meninggalkan ruang meeting. Beruntung Soni siap menggantikannya. Dion memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia tidak perduli dengan teriakan dan makian pengendara lain karena dia berkendara kebut kebutan. Dalam pikirannya hanya bagaimana supaya cepat sampai di rumah sakit.


Dokter UGD pun keluar dan bertanya pada Pak Ujang, "Mana keluarga pasien?."


"Suaminya masih dalam perjalanan Dok" jawab Pak Ujang.


"Pasien harus segera dioperasi, kami butuh persetujuan keluarganya" ucap Dokter itu.


Kedua orang itu saling pandang, bingung bagaimana harus menanggapinya.


"Dok apa tidak bisa, persetujuannya lewat telpon saja, kami tidak berani Dok" ucap Pak Ujang.


"Maaf tapi surat persetujuan operasinya harus memakai tanda tangan," ucap Dokter itu.


Pak Ujang pun kembali menelepon Dion. Namun hingga dering kelima masih belum ada jawaban. Pak Ujang pun menggeleng pada Dokter UGD.


"Jadi bagaimana, kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi, karena jantung janin sudah melemah dan harus segera di keluarkan" sahut Dokter itu.


Pak Ujang bingung, dirinya takut bukan main, takut salah mengambil keputusan, namun nyawa seseorang berada di tangannya. Dengan tangan yang bergetar, dia hendak menandatangani surat itu. Hingga terdengar suara bariton dari ujung sana.


"Pak Ujang" teriak Dion.


Pak Ujang langsung menurunkan bahunya, "Itu suaminya Dok," ucapnya.

__ADS_1


Dion langsung menandatangani surat persetujuan operasi tersebut. Agar sang istri dan kedua anaknya bisa terselamatkan.


"Lakukan yang terbaik untuk anak dan istri saya Dok" titah Dion.


"Pasti Tuan, kami akan berusaha semampu kami" ucap Dokter itu kemudian pergi menuju ruang operasi.


Dion langsung menelepon kedua orang tuanya, mengabarkan bahwa saat ini Nia akan melahirkan. Papa dan Mama Dion langsung meninggalkan tempat resepsi lalu segera menuju ke rumah sakit.


Lampu operasi telah dinyalakan, saat ini dokter tengah berusaha menyelamatkan ibu dan bayinya.


"Dok, pasien mengalami hipotensi," ucap perawat yang membantu persalinan disana.


Dokter segera mengeluarkan kedua bayi dalam kandungan Nia. Setelah kedua bayi dikeluarkan, Dokter pun memotong tali pusat plasenta kemudian membersihkan kedua bayi itu. Hingga terdengar tangisan kedua bayi itu.


Oeekk....Oeekk


Nia sempat tersadar saat mendengar tangisan putra dan putrinya. Dokter pun mengarahkan kedua bayi itu pada sang Mama. Nia menciumi kedua bayinya sambil meneteskan air mata. Dokter telah selesai menjahit jalan lahir di perut Nia.


Setelah puas menciumi putra dan putrinya, Nia kembali menutup matanya. Dokter berusaha agar tekanan Nia tidak terus turun dengan menyuntikkan beberapa obat di infusnya. Namun tekanan darah Nia terus menurun. Monitor jantung menunjukkan garis lurus. Tak lama monitor jantung menunjukkan garis lurus.


Dokter pun menggelengkan kepalanya. Dengan langkah yang berat Dokter pun keluar dari ruang operasi.


Lampu operasi telah mati Dion beserta Papa dan Mamanya langsung menghampiri Dokter yang baru keluar.


"Bagaimana anak dan istri saya Dok?" tanya Dion.


"Putra dan putri Bapak dalam keadaan baik baik saja, tadi memang sedikit mengalami gangguan pernafasan, namun bisa kami atasi, sekarang ada di ruang bayi. Untuk istri Bapak, kami mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun luka akibat terjatuh tadi menyebabkan pasien mengalami pecah pembuluh darahnya" ucap Dokter itu.


"Maksud Dokter apa?" teriak Dion emosi.


"Mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkan istri Bapak" sesal Dokter itu.


Dion langsung berlari menuju brankar sang istri.

__ADS_1


"Nia, please bangun sayang, please bangun" teriak Dion sambil memeluk tubuh sang istri.


Dengan berderai air mata, Dion menggunjang gunjangkan tubuh Nia, "Bangun sayang, kamu boleh menghukumku sesukamu, bangun sayang, aku janji akan membahagiakanmu, tapi please jangan tinggalkan aku dan anak kita Ni, bagaimana aku bisa hidup tanpamu, aku butuh kamu Ni, please" racau Dion di sela sela tangisnya.


Papa dan Mama Dion pun ikut menangis melihatnya, Papa Dion mengusap bahu putranya, "Sabar Dion, semua yang hidup pasti akan kembali padaNya, ikhlas ya Nak, pikirkan kedua anakmu, mereka masih membutuhkanmu" nasehat Papa Dion.


"Tidakkk, Nia ku masih hidup. Dia masih hidup. Bangun ya sayang, please kamu boleh marah sama aku tapi bukan kayak gini caranya, satu hal yang belum kamu tahu, Aku Mencintaimu Nia, Aku Mencintaimu" teriak Dion menggila.


Dion mengingat kembali memori saat saat dirinya bersama Nia. Saat mereka menikah.


"Saya terima nikah dan kawinnya Nia Rahmawati binti Beni Iskandar dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang 10 juta rupiah dibayar tunai..."


Bahagia terpancar di wajah Nia, meski dengan acara yang sederhana.


Dion mengingat betapa manjanya Nia saat hamil, "Di, kalau tidur jangan jauh jauh, dedek bayi pengen peluk"


"Di, aku pengen beli es krim."


Semua terlintas seperti sebuah film dan berakhir di ranjang rumah sakit ini.


"Kita urus jenazah Nia dulu ya, Papa sudah menghubungi kakak Nia, katanya Nia akan ditempatkan di makam keluarganya" ucap Papa Dion.


Dion hanya mematung tubuhnya limbung, dia tidak percaya Nia akan meninggalkannya beserta kedua anak mereka. Pantas saja Nia ngotot ingin kedua anak mereka tidur di kamarnya. Mungkin itu adalah sebuah pertanda.


Perawat pun memasuki ruangan, hendak memandikan jenazah Nia, tapi Dion menahannya.


"Tolong sus, biarkan saya bersama istri saya, sejenak saja" lirih Dion.


Perawat tersebut iba melihat keadaan Dion hingga dia menganggukkan kepalanya.


"Saya tinggal sebentar ya Pak" ucap perawat itu.


Dion memandangi wajah pucat istrinya untuk terakhir kalinya, Nia begitu cantik alami. Dion menatap bibir mungil istrinya, dengan berderai air mata dia cium bibir istrinya itu. Terasa dingin. Air mata Dion membasahi wajah pucat Nia. Dion menangis tergugu di samping jenazah istrinya.

__ADS_1


"Sayang, untuk terakhir kalinya, Nia Rahmawati, Aku Mencintaimu, Sangat Mencintaimu," lirih Dion lalu Dion menciumi seluruh wajah istrinya. Mulai dari dahi, mata, hidung, kedua pipinya, hingga terakhir bibir pucat sang istri.


Selamat Jalan Istriku... Namamu akan selalu ada dalam lubuk hatiku. Cintaku padamu tak akan pernah padam hingga raga ini kembali ke tanah.


__ADS_2