
Di Indonesia
Siang ini Dion akan meeting dengan PT. FH di sebuah restoran mewah, dia datang bersama Soni asistannya.
"Bro, loe musti hati hati sama customer kita satu ini, pasalnya pertemuan yang kemaren loe dicekoki obat perangsang, inget gak loe, nah sekarang entah usaha apa lagi yang dia lakukan" nasehat Soni.
Dion menerawang mengingat kejadian waktu meeting di hotel dengan PT. FH.
Flasback On
Malam ini Dion dan Soni meeting dengan PT. FH di Hotel AD. Soni merasa aneh, mengapa mereka yang hanya ingin mengajukan proposal kerja sama harus di hotel, mengapa tidak di kantor saja. Dari hasil presentasi tadi, Dion kurang setuju jika kerja sama ini dilanjutkan, karena mendapat respon yang biasa biasa saja. Mereka pun menjamu Dion dan Soni dengan makanan mewah. Mereka berdua tidak curiga hingga melahap habis makanan tersebut. Beberapa menit setelahnya, Dion merasakan tubuhnya panas, kepalanya pusing, apalagi melihat wanita seksi yang berada di sebelahnya, rasanya ingin Dion bawa ke ranjang.
Melihat gelagat Dion yang mulai resah, Soni pun undur diri, sebelumnya dia menelepon sopir untuk membantunya membawa Dion.
"Kenapa tidak menginap saja disini Tuan, kami bisa menyediakan kamar untuk anda berdua" saran Direktur PT. FH.
"Tidak perlu Tuan, Istri Bos kami sangat galak, dia akan mengamuk jika suaminya tidak pulang, kami permisi" seru Soni.
Sampai di rumah Dion langsung masuk ke kamar Nia. Melihat Nia yang tertidur berbalut gaun satin tanpa lengan membuat Dion langsung terbakar, hingga tanpa babibu Dion langsung menyerang Nia, Dion menhajar Nia tanpa ampun. Bayangkan ya yang biasa aja udah kasar. Apalagi kena pengaruh obat.
Flasback Off.
"Iya, gue akan usahakan lebih hati hati lagi" kata Dion begitu tersadar dari lamunannya.
Mereka sudah sampai di restoran yang dimaksud. Mereka mulai meeting, dibawah meja Soni menendang kaki Dion, dengan maksud menyuruh hati hati. Dion menanggapi dengan menganggukkan kepala.
"Bagaimana dengan proposal yang kami ajukan, Pak Dion, barangkali Pak Dion masih butuh pertimbangan, kami membawa seseorang yang mungkin bisa membuat Pak Dion menyetujui proposal kami" ucap Direktur PT. FH sambil menunjuk seorang gadis cantik nan seksi di sebelahnya.
"Kami akan mempelajari proposal Bapak, nanti saya hubungi lagi" ucap Soni.
"Kalau begitu silahkan dinikmati hidangannya, Pak Dion" ucap Direktur itu.
__ADS_1
Soni menegang ketika merasa kakinya dibelai oleh seseorang, niat hati ingin menendang kaki Dion. Soni melirik wanita cantik yang tersenyum menggoda ke arah Dion, sepertinya dia salah sasaran. Soni pun membalasnya dengan membelai kaki wanita itu. Merasa ada balasan, wanita tadi malah mengarahkan kakinya pada pangkal paha Soni. Soni menikmati saja apa yang dilakukan wanita itu, dia adalah perjaka tulen, diberi sentuhan sedikit saja rasanya senjatanya ingin meledakkan amunisi.
Kring...Kring
Dion melirik hpnya, "Ya Bi" ucap Dion begitu dia menyentuh warna hijau di layarnya. Dion memejamkan matanya sambil mendengarkan apa yang Bibi ceritakan. Wanita tadi mengira Dion memejamkan mata karena menahan hasrat akibat sentuhan kakinya. Setelah menerima telpon tadi, Dion menepuk pundak Soni. Soni yang sedang memejamkan mata menahan sesuatu pun langsung tersadar. "Eh, whats up Bro" ucapnya Soni spontan.
"Gue balik dulu, Nia pingsan, loe urus semuanya, nanti kabari gue" ucap Dion, kemudian dia langsung berdiri meninggalkan restoran itu. Wanita penggoda tadi melongo, melihat Dion pergi sedangkan salah satu kakinya masih bekerja di bawah sana. Kemudian dia menoleh ke arah Soni. Soni pun tersenyum lebar menampilkan wajah tanpa dosa. Wanita penggoda tadi pun langsung menurunkan kakinya dengan wajah yang cemberut.
Begitu sampai dirumah, Dion langsung menuju kamar Nia, "Dia kenapa Bi," tanya Dion sambil menyentuh kening Nia.
"Tidak tahu Tuan, tadi pas saya antar makanan Nyonya, beliau sudah pingsan di lantai bawah" jelas Bibi.
"Ya sudah beritahu sopir untuk menyiapkan mobil, saya akan bawa Nia ke rumah sakit" cicit Dion.
Sopir pun melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Dion langsung menggendong Nia ke UGD. Dokter mulai memeriksa keadaan Nia. Sementara Dion menunggu di luar. Dion mondar mandir di depan UGD. Bagaimanapun juga Nia adalah sahabatnya sejak remaja. Terlepas dari apa yang sudah dilakukan oleh Nia, Dion sangat menyayanginya. Dia juga khawatir dengan keadaan Nia, apalagi saat ini Nia sering melamun, terkadang juga sering histeris jika Dion akan menyentuhnya.
Dokter telah keluar, "Bagaimana keadaan istri saya Dok" cecar Dion.
"Iya Dok, akhir akhir ini dia suka melamun, juga jarang makan" ucap Dion.
"Untuk kedepannya, usahakan Ibu dipantau terus makannya, karena kasihan janin dalam kandungannya kalau Ibunya tidak makan" jelas Dokter.
"Apa Dok, Janin?" seru Dion.
"Iya, memang Bapak tidak tahu kalau istri Bapak sedang hamil, sebaiknya setelah ini Bapak bawa istri Bapak ke dokter kandungan agar lebih tepat pengobatannya" ucap Dokter itu.
Dion yang merasa shock dengan kehamilan Nia hanya terdiam, dirinya bertanya tanya dalam hati kenapa Nia bisa hamil, seingatnya dia selalu memberikan Nia obat sehabis berhubungan.
"Pak, Bapak, Haloo" seru Dokter itu dengan melambaikan tangan di wajah Dion.
Dion langsung tersadar, "Ah iya Dok, habis gini saya bawa ke dokter kandungan, nanti minta tolong suster untuk membantu mendorong brankarnya" pinta Dion.
__ADS_1
"Baik Pak" ucap Dokter itu.
Suster membantu Dion mendorong brankar Nia menuju ruang dokter kandungan, beruntungnya saat ini ada dokter kandungan yang sedang praktek. Setelah Nia dipindahkan ke ranjang disana, suster tadi pun beranjak pergi.
"Kita periksa dulu ya Pak" ucap Dokter Harun.
"Iya Dok, silahkan" ucap Dion.
Setelah menggerakkan alat tranducernya, Dokter pun menggeleng. Dion yang bingung dengan respon dokter itu hanya diam saja. Setelah selesai, sang Dokter pun meletakkan kembali alatnya, "Begini ya Pak, karena mungkin janinnya masih kecil, jadi belum bisa terlihat saat ini, untuk itu perlu dilakukan tes darah untuk melihat kadar hCG dalam darah Ibu. Mohon ditunggu sebentar ya, sambil menunggu Bapak bisa menceritakan kebiasaan Ibu di rumah jadi bisa di evaluasi keadaaannya" titah Dokter Harun.
Dion pun mulai menceritakan kebiasaan Nia mulai dari kemurungannya tiap hari hingga histerisnya Nia saat akan diajak berhubungan.
"Dari cerita Bapak, bisa jadi Ibu mengalami trauma, nanti selama dirawat di rumah sakit bisa dibantu dengan psikiater kami. Karena kondisi psikis ibu hamil berpengaruh besar pada perkembangan janin" jelas Dokter Harun.
Tak lama suster datang memberikan Dokter Harun sebuah amplop dari laborat. Begitu dibuka sang Dokter pun menghela napas, "Dari hasilnya, Ibu memang positif hamil, usia nya masih sekitar 2 mingguan, mengingat kondisi psikis Ibu yang sedang tidak baik, untuk itu sebaiknya Ibu dirawat dulu sembari melakukan terapi bersama psikiater" saran Dokter Harun.
"Berikan yang terbaik untuk istri saya Dok" tutah Dion.
Setelah berada di ruang perawatan, Nia baru tersadar, melihat Dion berada di dekatnya, Nia langsung ketakutan, bayangan kesakitan pergumulannya dengan Dion menghantuinya.
"Please Di, jangan lagi, sakit Di, jangan, aku tidak mau Di" racau Nia sambil berderai air mata dengan tangan memeluk erat lututnya.
Melihat kondisi Nia, Dion merasa bersalah, hingga tak terasa air matanya mengalir di pipinya, dia tak tega, "Nia, kenapa kamu jadi begini, apa selama ini aku terlalu kasar sama kamu" lirih Dion.
Dion pun bangkit memeluk tubuh Nia, "Maaf, maafkan aku, aku tak akan menyakitimu, tapi kumohon, please jangan begini," ucap Dion menenangkan Nia.
Mendapat pelukan hangat Dion, Nia sedikit lebih tenang, Nia pun menangis di bahu Dion. Setelah puas menangis, Nia pun menyentuh wajah Dion, "Please Di, jangan lagi, aku takut Di," lirih Nia.
"Iya sayang, Iya aku gak akan gitu lagi, sekarang kamu makan dulu ya, aku suapin, habis gitu istirahat biar cepet sembuh" ucap Dion sambil membelai rambut Nia.
Nia hanya menurut saja apa kata Dion.
__ADS_1