
Perawat yang membawa Wina sudah memberitahukan pada pihak rumah sakit untuk langsung menyediakan ruang operasi guna mengeluarkan bayi dalam kandungan Wina yang masih bernyawa.
Begitu sampai di rumah sakit, Wina langsung dioperasi. Kebetulan dokter kandungan yang bertugas adalah Dokter Mary. Dia langsung kaget begitu tahu pasien korban kecelakaan adalah Wina, dan dia mencari cari keberadaan Zain, namun tidak dia temukan. Dokter Mary pun menghubungi Papa Juan, "Pa, Wina mengalami kecelakaan, tapi Mary tidak melihat Zain Pa, kemungkinan Zain masih di tempat kejadian, Mary gak bisa mencari tahu kondisi Zain, karena saat ini Wina harus segera dioperasi, denyut jantung bayinya sudah melemah" begitu lapor Dokter Mary.
"Ya Allah, ada apa ini, semoga mereka bertiga baik baik saja," doa Papa Juan.
Papa Juan pun langsung menuju ke TKP begitu dikirim lokasi kecelakaan oleh Dokter Mary. Benar saja, disana proses pemadaman masih berlangsung. Papa Juan pun mencari keberadaan putranya. Dia pun bertanya pada seluruh warga disana. Namun para warga hanya menggelengkan kepalanya.
Papa Juan hampir menangis frustasi, ketika tak mendapati putranya, apalagi melihat kobaran api yang begitu besar, dia takut jika sang putra masih berada di dalam mobil.
Begitu kobaran api telah padam, Papa Juan pun langsung mendekati mobil Zain. Namun nihil putranya tidak ada di dalam mobil, itu artinya putranya sudah keluar sebelum mobil terbakar, tapi dimana. Meski belum bisa menemukan sang putra, Papa Juan sedikit lega, setidaknya dia tahu anaknya tidak ikut terbakar.
Papa Juan pun menelepon bawahannya untuk mencari keberadaan putranya di seluruh rumah sakit di Baltimore. Sembari menunggu informasi dari anak buahnya, dia ingin melihat keadaan menantu dan cucu keduanya.
Papa Juan pun menghubungi istri dan besannya, dia menceritakan keadaan putra dan menantunya. Meski itu berita buruk, mereka berhak tahu. Mama Mirna pun histeris mendengar putranya belum diketahui keberadaannya.
Sementara kedua besannya hanya bisa berharap operasi Wina berjalan dengan lancar. Meski sedih dengan keadaan putrinya, mereka tetap harus kuat, mereka pun langsung menuju ke rumah sakit tempat putrinya dioperasi.
Di rumah sakit, Wina sudah selesai dioperasi, beruntungnya bayi laki laki tampan itu berhasil diselamatkan. Kondisi Wina juga belum bisa dikatakan membaik, karena dari hasil pemeriksaan ct scan, Wina mengalami benturan yang cukup parah di bagian kepala. Sepertinya saat terjadi benturan Wina melindungi bayinya dengan kaki dan tangannya, hingga kaki dan tangannya penuh dengan goresan kaca dan membiru.
Papa Juan sampai lebih dulu di rumah sakit, dia langsung mencari keberadaan Dokter Mary. "Bagaimana keadaannya Mary?" tanya Papa Juan.
Dokter Mary menghela nafas panjang sebelum menjelaskan keadaan Wina. "Begini Pa, saat ini kita masih menunggu reaksi dari benturan keras di kepala Wina, yang kita takutkan adalah Wina mengalami kehilangan sebagian ingatannya. Kami berharap itu tidak akan terjadi, namun itu adalah kemungkinan yang terburuk. Kita lihat saat Wina sadar nanti" jelas Dokter Mary.
Papa Juan merasa sedih mendengar kondisi menantunya, "Lalu cucuku?" tanyanya.
__ADS_1
"Cucu anda baik baik saja, Wina melindunginya dari benturan, dia mengorbankan kepala, kaki dan tangannya. Sepertinya saat tabrakan itu terjadi, Wina menekuk lututnya, sehingga bayinya tidak terkena benturan" jelas Mary.
"Sekarang dimana cucuku?" tanya Papa Juan.
"Bayinya masih diruang NICU, apa Tuan mau mengadzaninya?" tanya Mary.
Papa Juan pun hanya mengangguk, kemudian berlalu menuju ruang NICU. Disana dia melihat bayi tampan yang wajahnya hampir 100% mirip dengan putranya. Tangis haru, tak dapat dia bendung, ada kebahagiaan dibalik kesedihan yang mereka alami. Dia bahagia melihat generasi penerusnya telah lahir, tapi juga sedih memikirkan nasib putra dan menantunya.
Papa Juan pun menggendong cucunya, kemudian mengadzani ditelinga kanan dan iqomah ditelinga kiri. Setelah selesai, dia pun mencium bayi mungil itu, kemudian menaruhnya kembali pada box bayi.
Kedua orang tua Wina telah tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruang ICU, tempat putrinya dirawat. Ibu Mela menangis tersedu kala melihat tubuh sang putri penuh dengan alat.
"Kenapa setiap hamil, Wina selalu mengalami hal seperti ini?" lirih Ibu Mela sambil menangis.
"Sabar Bu, Wina adalah gadis yang kuat, dia pasti akan bertahan demi kedua buah hatinya" ucap Ayah Bandi menenangkan istrinya.
"Saat ini kami masih belum bisa menemukannya, mungkin ada orang yang menolongnya dan membawanya ke rumah sakit lain" lirih Papa Juan.
"Maaf, istri saya sedang tidak enak badan, selain itu beliau juga harus menunggui Nabil di rumah, maka dari itu tidak bisa ikut kesini" sesal Papa Juan.
"Tidak apa Pak, kami sudah berterima kasih atas semuanya, dan bagaimana kondisi Wina saat ini?" sahut Ayah Bandi.
Papa Juan pun menceritakan keadaan Wina sesuai dengan perkataan Dokter Mary. Dan mereka berharap apa yang ditakutkan Dokter Mary tidak terjadi.
Ibu Mela menangis kembali mendengar kondisi putrinya, dia tidak sanggup membayangkan jika Wina tidak mengingat kedua anaknya.
__ADS_1
Seminggu sudah Wina dirawat, saat ini Wina masih belum sadar, untungnya bayi Wina tidak alergi susu sapi, jadi sementara ini dia minum susu formula. Zain masih juga belum ada kabarnya, padahal hampir seluruh rumah sakit di Baltimore sudah dia datangi. Pencarian pun diperluas ke seluruh benua Amerika.
Bayi Wina sudah boleh dibawa pulang, karena kondisinya yang memang sudah membaik. Papa Juan membawanya pulang ke rumah Zain. Nabil histeris saat hanya adek bayinya yang pulang, dia mengira Daddy dan Mommynya sudah tiada.
Papa Juan pun terpaksa menceritakan hal yang sebenarnya, daripada cucunya terus mencari keberadaan Daddy dan Mommynya. Nabil anak yang cerdas, meski sedih karena Mommy dan Daddynya masih sakit, setidaknya dia lega, karena mereka masih hidup.
Mama Mirna dibantu oleh babysitter merawat bayi laki laki Wina. Bayi montok itu tampak anteng di pangkuan sang Oma. Sementara kedua orang tua Wina masih setia menunggu putrinya di rumah sakit.
Papa Juan masih berusaha mencari keberadaan putranya, karena dari layar cctv jalanan yang dia dapatkan, Zain dibawa oleh lelaki muda, yang sayangnya wajahnya tidak terlihat, hanya gesturnya saja yang mereka yakini adalah seorang lelaki.
Saat Ibu Mela menyeka badan putrinya, dia melihat pergerakan pada jari Wina, dia pun berteriak memanggil dokter. Dokter dan perawat pun berlarian memasuki ruang ICU. Setelah memeriksa kondisi Wina, Dokter pun mengatakan kalau Wina sudah sadar. Dia sudah melewati masa kritisnya.
"Ibu, ayah, haus?" lirih Wina.
Ibu Mela pun mengambilkan Wina minum. Setelah minum beberapa teguk air, Wina kembali bertanya, Dimana Aku?."
"Kamu dirumah sakit sayang," jawab Ibu Mela sambil membelai rambut putrinya. Dia bersyukur putrinya, sudah sadar kembali.
"Kenapa aku sampai di rumah sakit Bu?" tanya Wina.
"Kamu tidak ingat?" tanya Ibu Mela.
Wina hanya menggeleng. Ibu Mela pun menghela nafasnya, "Kamu dan suami kamu mengalami kecelakaan saat akan pergi ke rumah sakit, karena kamu akan melahirkan," jelas Ibu Mela.
Deg.
__ADS_1
Menikah.....Melahirkan......Kecelakaan.
"Dengan siapa aku menikah, apa dengan Kak Dion, dan dimana suamiku?" berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Wina.