Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
S2-DKH11


__ADS_3

Setelah puas memeluk wanita pujaannya. Dion pun duduk di sebelah Wina. Pandangan Dion tak pernah lepas dari Wina, Nandio sampai menyenggol lengan Papanya untuk menyadarkannya.


"Pa, ayo dimulai lamarannya," bisik Nandio. Dion pun mengangguk.


"Saudara Zico, saya Dion, datang kesini karena saya ingin melamar Mama kamu, Wina," tegas Dion.


Mata Nandio langsung membola mendengarnya, bagaimana bisa Papanya ini salah, dari kemaren sudah dia jelaskan supaya melamar Nabil, kenapa jadi melamar Mama Wina.


Sementara Zico, malah tertawa terbahak bahak, dia membayangkan betapa frustasinya Nandio karena gagal melamar kakaknya. Setelah bisa menguasai emosinya. Dia pun kembali serius.


"Atas dasar apa Om melamar Mama saya?" tanyanya.


"Begini, Mama kamu dan Om dulu adalah sepasang kekasih, mungkin karena belum jodoh, kami pun terpisah, dan sekarang, karena Mama kamu sudah sendiri, Om ingin menjadikannya sebagai istri Om, seperti keinginan kita saat pacaran dulu," kata Dion.


Zico terlihat senang melihat wajah kusut Nandio, dia ingin menambah penderitaannya dengan menyetujui lamaran Papanya.


"Apa Om, bisa dipercaya?" tanyanya.


"Om sangat mencintai Mamamu, tidak ada wanita yang Om cintai selain Mamamu, bahkan Om tidak menikah lagi karena hal ini," kata Dion.


"Semua aku serahkan sama Mama, kalau Mama setuju, aku pun setuju," kata Zico.


Merasa diatas angin, Dion langsung memegang tangan Wina. Dia berlutut di hadapan Wina. "Sayang, mau ya terima lamaranku, aku janji sayang, aku akan membahagiakanmu seumur hidupku," tegas Dion.


Wina hanya bisa terdiam mendengarnya. Dia tidak menyangka jika Dion nekat melamarnya, dia pikir, Dion akan melamar Nabil untuk Nandio. Wina pun melihat wajah kusut Nandio. Wina pun menarik kembali tangannya.


"Sebaiknya, Kakak rundingkan dulu masalah ini, dengan Nandio dan Rania, karena aku lihat Nandio seperti gelisah dan kecewa," kata Wina.


Sebenarnya, Nabil tidak tahu kalau seharusnya hari ini dia dilamar oleh Nandio, jadi saat Papa Nandio melamar Mamanya dia biasa aja. Meski sedikit kecewa, namun semua pikiran itu ditepisnya. Dia juga ingin Mamanya bahagia, jika itu bersama Papanya Nandio.


Sepulang dari rumah Wina, Nandio marah sama Papanya. Sepanjang perjalanan dia hanya diam membisu. Rania yang tahu akan perasaan kakaknya ikut diam. Sebenarnya dia bingung juga, antara mendukung kakaknya atau papanya, karena baginya semua demi kebahagiaan orang yang dia sayangi.


Sampai di hotel, Dion pun berbicara dengan Nandio. "Kak, Papa minta maaf," katanya. Nandio hanya diam tak bergeming.


"Papa tahu, Papa salah, seharusnya Papa melamar siapa tadi Kak?" tanya Dion.


"Nabil Pa," jawabnya.


"Iya, seharusnya Papa melamar Nabil untuk kamu, tapi malah Papa yang melamar Mama Wina. Karena sebenarnya, dulu sewaktu kecil, kamu pernah disusui oleh Mama Wina, jadi antara saudara sepersusuan tidak boleh menikah," terang Dion.

__ADS_1


Nandio malah menangis setelah mendengar ucapan Papanya, hatinya sakit, bagai ditikam ribuan pisau. Kenapa harus dia yang mengalah, kenapa bukan Papanya, dan kenapa juga dia harus saudara sepersusuan dengan Nabil.


Setelah itu, Nandio pun pergi meninggalkan hotel tempat Papanya menginap. Dion hanya bisa menghela nafasnya, sesungguhnya dia juga tak ingin jadi seperti ini. Tapi dia juga tidak mungkin membiarkan putranya menikahi saudara sepersusuannya.


Nandio lamgsung memanjat balkon kamar Nabil. Dia tahu kalau Nabil tidak pernah mengunci pintu balkon. Nandio pun masuk dan langsung merebahkan tubuhnya disamping Nabil.


Entah mimpi atau tidak, Nabil malah langsung memeluk tubuh Nandio. Dia menduselkan kepalanya di dada Nandio. Tubuh Nandio menjadi kaku, rasanya dia ingin menerkam gadis dihadapannya ini. Dengan begitu, dia bisa memiliki Nabil seutuhnya.


Karena tubuh Nabil yang tak bisa diam, sesuatu yang mati matian ditahan olehnya pun berdiri sempurna. Apalah daya, Nandio hanyalah lelaki biasa yang bisa saja melakukan khilaf.


Saat hasratnya sudah tak terbendung lagi, Nandio pun gelap mata. Dia melakukannya saat Nabil tengah terlelap, tapi anehnya, Nabil merespon semua yang dia lakukan dengan mata terpejam.


Dia sudah tidak peduli dengan semua, baginya yang terpenting Nabil menjadi miliknya. Dia pun melakukannya berkali kali.


Esoknya, Nabil terbangun dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Dia pun menjerit. "Aaakkhh,"


Nandio langsung membekap mulit Nabil, "Kalau kamu tidak berteriak, aku akan buka, tapi kalau kamu berteriak, aku akan terus menutupnya sembari mendengarkan penjelasanku," katanya.


Nabil pun menganggukkan kepalanya. Nandio pun memulai penjelasannya.


"Sayang, aku minta maaf, apa yang aku lakukan semata mata karena aku sayang kamu dan aku nggak mau kehilangan kamu, kamu tahu harusnya kemaren aku sudah melamarmu dan menjadikan kamu istriku, tapi apa yang terjadi, Papa dengan egoisnya malah melamar Mama kamu, aku tidak bisa membantah keinginan Papa, maaf," sesalnya.


"Aku akan terus terang sama Mama, karena hanya Mama yang bisa menghentikan Papa," kata Nandio.


Nabil masih terus menangis, dia sendiri bingung harus berbuat apa, sesungguhnya dia memamg suka dengan Nandio tapi bukan begini caranya.


Saat sarapan, Wina khawatir karena Nabil belum juga turun, sementara Zico, dia sudah menghilang pagi pagi, karena ada meeting penting.


Wina pun mengetuk pintu kamar Nabil. "Bagaimana ini? Ada Mama," bisik Nabil.


"Kamu bilang sebentar," titah Nandio.


"Bentar Ma," teriaknya.


"Aku sembunyi di kamar mandi, kamu bukain pintunya," titah Nandio.


Nabil langsung memakai semua bajunya. Setelah memastikan semua rapi, Nabil pun membuka pintunya. "Ada apa Ma?" tanyanya.


Wina sedikit kaget melihat penampilan putrinya yang awut awutan seperti orang habis bercinta. Tapi dia menyingkirkan pikiran buruknya. Putrinya tidak mungkin seperti itu.

__ADS_1


"Sarapan dulu Kak," kata Wina.


"Iya Ma, Nabil mandi dulu, habis gitu turun ke bawah," katanya.


Di bawah sudah ada Nandio menunggu mereka. Entah bagaimana caranya pemuda itu turun. Setelah sarapan bersama. Nandio berbicara serius pada Wina. Wanita dewasa itu hanya manggut manggut saja mendengar perkataan Nandio.


Satu bulan telah berlalu. Persiapan pernikahan Wina dan Dion sudah hampir rampung, dan besok adalah hari akad nikah mereka berdua. Dion tidak sabar untuk menunggu hari esok.


Penghulu sudah duduk bersama dengan Zico dan juga Dion disana. Dion gelisah, karena Wina tak kunjung turun dari kamar pengantinnya. Seorang wanita cantik, memakai kebaya putih berpayet mutiara sudah keluar dari peraduannya. Jantung Dion seolah keluar melihat wanita cantik itu. Meski wajahnya tidak terlihat, Dion yakin itu adalah Wina kekasih hatinya yang telah lama ia dambakan.


"Baik, apa bisa dimulai?" tanya Penghulu itu.


"Bisa Pak," semangat Dion.


Penghulu pun mulai menjabat tangan Dion. "Tunggu," seru Nandio yang baru saja datang.


Pandangan mereka pun beralih ke arah Nandio yang juga menggunakan jas putih dan berpeci. Apa ada 2 pernikahan? Begitu pikir tamu yang hadir.


"Papa jangan nikah dulu, biar Nandio dulu, habis gitu baru Papa," tegas Nandio.


"Baiklah, ayo Mas cepat, saya masih ada acara lagi," kata Penghulu itu.


Dion pun mengalah, dia tidak berpikiran macam macam, karena berpikir Wina sudah siap di sisinya. Dion pun menggeser tubuhnya. Kini Zico yang menjabat tangan Nandio.


"Saudara Nandio Putra Dion, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan kakak saya Nabila Putri Zain dengan maskawin seperangkat alat sholat dan emas berlian seberat 50 gram dibayar tunai,"


"Saya terima nikah dan kawinnya Nabila Putri Zain dengan maskawin tersebut dibayar tunai,"


"Bagaimana saksi?" tanya Penghulu itu.


"Sah," jawab mereka kompak.


Setelah penghulu membacakan doa, Nandio pun membuka cadar Nabil, dia pun mencium kening istrinya. Nabil pun langsung mencium tangan suaminya.


"Barakallah,"


Wina sudah berada di sisi Dion. "Kita ini sudah tua Kak, saatnya kita mengalah untuk kebahagiaan mereka. Kakak setuju bukan," kata Wina.


Mereka pun bahagia. Rania sekarang tinggal bersama Wina di rumahnya. Sementara Nabil mengikuti suaminya kembali ke Indonesia bersama Papanya.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2