Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-50


__ADS_3

Sebenarnya, Zain sudah berbuat mesum sih, namun tidak mungkin dia mengakuinya, "Nggak sayang, beneran, tadi tuh aku cuma pengen menggendong dan mencium si kecil, habis gitu aku taruh lagi dekat kamu," alasan Zain.


"Beneran? Kakak nggak ngapa ngapain Wina kan?" tanya Wina.


"Nggak sayang sumpah," ucap Zain sambil mengangkat kedua jarinya. Dalam hati Zain menambahi kalimat, nggak salah sama sekali, hihihi.


Karena kesal, Wina pun keluar dari kamar. Sementara Zain, dia terkekeh sambil meraba bibirnya yang sudah menemukan pawangnya.


"Manis, masih sama," ucap Zain.


Di luar kamar, Wina memegangi bibirnya, "Apa betul dia tidak melakukan apa apa, kenapa tadi aku merasa seperti ada yang menempel disini," gumam Wina.


Dia pun melihat bibirnya di kaca dapur. Sedikit bengkak, dan lipstiknya juga habis tak tersisa. "Perasaan tadi sehabis mandi aku memakai lipstik, ini kenapa jadi hilang semua, apa mungkin aku yang lupa pakai saat habis mandi tadi," monolog Wina, hingga dia pun memilih acuh lalu memasak untuk makan siang, sebelum putrinya itu pulang.


"Mommy" teriak Nabil lalu memeluk kaki sang Ibu.


"Hai sayang, sudah pulang?" tanya Wina.


Nabil hanya menganggukkan kepalanya. Melihat putrinya cemberut, Wina pun ingin menghiburnya.


"Sayang, kata Opa, Daddy sudah pulang," ucap Wina.


"Beneran Mom?" tanya Nabil.


"Iya, bener," jawab Wina.


"Tapi, kok kata Opa, memang Mommy belum lihat?" tanya Nabil.


"Soalnya yang datang itu, wajahnya tidak mirip dengan itu" ucap Wina sambil menunjuk foto pernikahan mereka.


"Jadi menurut Mommy, dia bukan Daddy?" tanya Nabil.


Wina hanya mengedikkan bahunya. Jiwa petualang Nabil pun bangkit. Dia akan mengetes Daddynya.


"Where is He?" tanya Nabil.


"Di kamar Mommy," jawab Wina.

__ADS_1


Nabil langsung berlari menuju kamar Mommynya, dia melihat ada seorang laki laki berambut gondrong dan berjamban. Nabil mengernyitkan wajahnya. Wajah laki laki yang katanya Daddynya, itu sangat menyeramkan.


"Who are You?" tanya Nabil.


"Hai Girl," sapa Zain.


Suara dan cara bicaranya memang mirip dengan sang Daddy, namun balita kecil itu masih waspada.


"Apa nama dongeng kesukaanku?" tanya Nabil.


"The wolf and the seven young goats," jawab Zain. Dia tahu sang putri tidak percaya padanya, apalagi dengan tampang seperti saat ini.


"Oke, sekarang apa nama makanan kesukaanku?" tanya Nabil.


"Banyak, semua makanan kamu suka," jawab Zain.


"Bagaimana caraku tidur?" tanya Nabil.


"Kamu selalu tidur dengan memegang telinga kirimu.


Nabil pun manggut manggut, dia lalu menelepon barbershop langganan sang Daddy, kemudian menyuruhnya untuk datang ke rumah. Tak lama kemudian, barbershop langganan Zain pun datang, dia lalu memangkas habis rambut beserta jambang Zain. Dan kini Zain sudah terlihat tampan.


"Okey, you are my Daddy," putus Nabil.


"Thats it?" tanya Zain tak percaya. "Tidakkah kamu merindukan Daddy, sebulan lebih kita tidak bertemu, Daddy sangat merindukanmu, give me a hug," rajuk Zain pura pura sedih.


"Okey, I miss You Dad," ucap Nabil lalu memeluk ayahnya.


"I miss You so much Girl," ucap Zain yang sangat ingin menggendong putrinya.


Nabil pun memencet memcet perban kaki Zain. "It is hurt?" tanyanya.


"No, its not," jawab Zain.


Nabil pun memeluk tubuh kekar Daddynya. Dia benar benar merindukan lelaki ini, entah apa yang terjadi saat mereka pergi ke rumah sakit, hingga kembali dalam keadaan seperti ini, karena memang dia tidak diberitahu oleh Opa dan Omanya.


Makan Siang sudah siap, Wina pun memanggil anak dan suaminya untuk makan siang. "Kak, ayo kita makan," ajak Wina.

__ADS_1


Kedua orang itu langsung keluar dan menuju ke ruang makan. Di meja sudah tersedia makanan kesukaan Zain. Dia bahagia, karena sang istri mengingat makanan kesukaannya.


"Mommy, makasih makanannya enak" ucap Zain setelah memasukkan beberapa suap makanan ke dalam mulutnya.


"Loh, kakak juga suka? Tanya Wina. "Ini semua makanan kesukaan Nabil, syukurlah kalau Kakak juga suka, jadi besok besok aku tidak bingung memasak, ternyata selera kalian sama," sambungnya.


Zain langsung tersenyum kecut, dia merasa seperti diterbangkan tinggi kemudian dijatuhkan kembali oleh istrinya. Dia pikir istrinya sengaja memasak makanan kesukaannya, untuk menyambut kedatangannya. Zain lupa kalau istrinya itu amnesia. Sementara Nabil, dia hanya memperhatikan interaksi kedua orang tuanya.


Malamnya, ketika hendak tidur, Wina bingung, pasalnya dia tidak mungkin tidur dengan pria yang asing baginya, namun dia bingung memberi alasannya, takut menyakiti hati lelaki yang katanya suaminya itu.


"Sayang, gimana kalau Mommy bacakan ceritanya," usul Wina.


"Tidak mau Mommy, Nabil akan dibacakan cerita oleh Daddy, Nabil kangen sama Daddy," lirihnya. Zain hanya tersenyum melihat putri cantiknya yang sangat manja terhadapnya.


Wina pun menghela nafasnya, sepertinya dia akan memikirkan cara lain untuk menghindari Zain. Setelah Zain masuk ke kamar Nabil, Wina pun memasuki kamarnya. Dia tersenyum lalu mengunci pintu kamarnya.


"Ahh, kalau begini kan aman," pikir Wina.


Zain melihat putrinya sudah tertidur pulas, dia lalu mengembalikan buku cerita putrinya pada rak disampingnya. Dia pun pergi menuju ke kamarnya.


"Ceklek... Ceklek, Yah, kenapa dikunci sih," gumam Zain.


"Sayang, bukain pintunya," teriak Zain sambil menggedor pintu kamarnya. Karena tidak terdengar suara istrinya, Zain pun tak kehilangan akal. Dia pun masuk melalui pintu yang terhubung dengan kamar putrinya.


"Hihihi, kamu pasti tidak ingat kalau ada pintu ini," gumam Zain saat sudah berhasil masuk ke kamarnya.


"Wow, pemandangan yang sangat indah," gumam Zain kala melihat sang istri memakai gaun tidur satin pendek dengan tali spageti.


Zain pun kembali memindahkan sang putra diujung ranjang kemudian memagari dengan guling, dia lalu memeluk tubuh sital istrinya, menghirup wangi khas yang sudah lama dia rindukan. Sebelum tidur, tak lupa Zain mencium seluruh wajah istrinya, dengan sedikit ******* di bibirnya.


Sungguh ini ujian untuk Zain, dia harus mati matian menahan gejolak didalam dirinya, berdekatan dengan Wina selalu membuat dirinya Onfire. Apalagi, sudah lama dia tidak melakukannya, hingga dia malah gelisah sendiri. Hingga dia mencoba memejamkan matanya untuk mengalihkan keinginan dibawah sana. Pukul 2 malam, Zain baru bisa memejamkan matanya.


Paginya, Wina merasa seperti berada di pelukan seseorang, dan anehnya dia merasakan kenyamanan. Wina pun mempererat pelukannya. Dia menyembunyikan wajahnya pada dada Zain, lalu mengendus endus parfum yang menguar dari tubuh Zain.


Gejolak rasa yang susah payah dipadamkan Zain kini kembali dan bergelora akibat ulah Wina. Dalam hati Zain berteriak, "Ya Tuhan kuatkan imanku."


Wina merasa ada yang aneh, kenapa guling yang dia peluk mengeluarkan parfum, dan kenapa tidurnya sangat nyenyak. Dia pun mencoba membuka matanya. Wina langsung melotot saat menyadari siapa yang dia peluk saat ini

__ADS_1


"Astaghfirullah," pekik Wina kaget seraya melepaskan pelukannya dari sang suami.


__ADS_2