Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
S2-DKH8


__ADS_3

Wina langsung pingsan melihat garis lurus pada monitor jantung. Beruntung Nabil menangkapnya, jika tidak, Wina pasti jatuh ke lantai. Zico langsung berteriak memanggil Dokter, sementara Nabil, dia hanya menangis sambil memegangi tubuh Mamanya.


Dokter langsung memeriksa keadaan Zain. Mereka pun mengambil alat pacu jantung. Namun hingga hentakan ketiga, garis lurus masih setia di monitor jantung. Dokter itupun menggelengkan kepalanya. Nabil menjerit memanggil manggil Papanya.


"Daddy bangun, jangan tinggalkan kami, Dad bangun," ucap Nabil seraya menepuk nepuk pipi Zain.


Sementara Zico, dia menangis tertahan, ini adalah pertama kalinya dia menangis. Kehilangan sosok yang menjadi panutan di setiap langkahnya. Namun sebagai anak laki laki satu satunya, dia harus bisa menjadi penguat untuk Mommy dan kakaknya. Zico pun merangkul tubuh Nabil, mereka menangis bersama.


Papa Juan baru datang, saat perawat mencabut semua alat di tubuh Zain. Melihat menantunya yang pungsan, dan kedua cucunya menangis tersedu. Papa Juan langsung mendekati putranya. Putra kebanggaanya, Papa Juan pun memeluk tubuh dingin putranya. Sementara Mama Mirna, dia ikut pingsan kala melihat suaminya menangis memeluk putranya.


Jenazah Zain langsung dibawa ke rumah. Sementara Wina dan Mama Mirna baru sadar saat mereka berada di dalam mobil. Mereka berdua kembali menangis saling memeluk.


Begitu sampai di rumah, jenazah Zain langsung dimandikan dan disucikan. Setelah itu, disholatkan di rumah itu juga. Sebelum dibawa ke pemakaman, mereka membacakan yasin di sisi jenazah Zain.


Sementara di kampus Rania. Berita duka diumumkan di semua grup dosen dan mahasiswa. Rania yang membaca berita di grup mahasiswa langsung shock, dia lalu berlari ke asrama, untuk memberitahu Kakaknya.


"Kak, udah baca berita duka di grup nggak?" tanya Rania saat melihat sang Kakak hanya melamun.


"Malas," jawab Nandio.


"Apa kakak nggak ada simpati sama sekali?" tanya Rania.


"Ngapain aku simpati, kenal aja nggak," ucap Nandio.


"Ayah Kak Nabil meninggal, kalau Kakak nggak mau datang, biar aku datang sendiri," ujar Rania geram.


"Apa! Yang bener kamu?" tanya Nandio tak percaya.


"Nih baca," ujar Rania sambil menyerahkan hapenya.

__ADS_1


Kami segenap Dosen, Rektor, Dekan dan seluruh staf Universitas mengucapkan Turut Berduka Cita atas meninggalnya Prof. Dr. Zain Putra Juan selaku Ayah dari Asistan Dosen Nabila Zain Pratiwi.


Begitu kira kira isi pengumumannya. Nandio langsung terdiam mematung. Dia merasa berdosa telah mengumpat dan memaki Nabil. Mereka langsung menuju ke rumah Nabil. Disana, sudah banyak pelayat yang datang.


Tampak Nabil beserta laki laki yang mungkin adiknya dan juga Mamanya sedang membaca yasin di dekat jenazah.


Rania langsung mendekati Nabil. Dia langsung memeluk, dan menangis di pelukan Nabil. "Aku turut berduka ya Kak," lirihnya.


Nabil hanya mengangguk di tengah isak tangisnya. Setelah selesai membaca Yasin, jenazah Zain siap diberangkatkan. Proses pemakaman berlangsung cepat, secepat kepergian Zain.


Wina, Nabil dan Zico menangis di samping makam Zain. Kini tidak ada lagi sosok suami dan ayah disisi mereka. Semua pelayat telah meninggalkan pemakaman. Tinggallah, Wina, Nabil, Zico dan kedua orang tua Zain.


"Selamat Jalan sayang, Tunggu aku disana," setelah mengucapkan itu Wina langsung pingsan kembali. Zico lalu menggendong tubuh Mamanya dan membawanya ke dalam mobil.


"Selamat Jalan Nak, semoga semua amal dan ibadah kamu diterima disisiNya," begitu ucapan Papa Juan mengantarkan kepergian putranya.


Kedua orang tua Zain sudah kembali ke mobil. Mereka pun meninggalkan pemakaman. Sementara Nandio dan Rania masih disana.


"Selamat Jalan Papa Mertua, maaf aku sering mengecohmu, aku akan menjaga dan menyayangi putrimu sekuat tenagaku, itu janjiku," ucap Nandio. Lalu keduanya pergi meninggalkan pemakaman.


"Kak, apa kita kembali ke rumah Kak Nabil?" tanya Rania.


"Besok saja, kita kesana, biarkan saat ini mereka beristirahat," titah Nandio. Mereka pun kembali ke asrama.


Di Rumah Wina.


Malamnya, Wina tidur ditemani Nabil, mereka tidur ditemani isak tangis. Wina tidak menyangka, suami yang begitu dia cintai pergi meninggalkannya. Ingin rasanya dia ikut menyusul suaminya, tapi dia juga harus menguatkan kedua buah hatinya. Bagaimana kehidupan mereka jika dia ikut pergi meningggalkan mereka.


Wina hanya bisa berdoa semoga jika sudah saat dia berpulang, dia diberi kemudahan layaknya suaminya. Nabil sudah tidur, namun mata Wina tidak bisa terpejam. Bayangan suaminya masih ada di sekitarnya.

__ADS_1


Dia ingat, terakhir kali mereka memadu kasih, nafas suaminya memang sudah terengah engah, namun sedikitpun dia tidak curiga, harusnya sebagai Dokter, dia cukup peka. Tapi mengapa dia tidak merasakannya.


Kala itu, Zain begitu semangat melakukannya dari malam hingga subuh, seolah menjadi salam perpisahan darinya. Zain juga bilang, "Ma, apapun yang terjadi, aku mencintaimu, terima kasih sudah menemaniku hingga 20 tahun lamanya, jangan pernah menyerah, jaga kedua buah hati kita," begitu ucapan terakhir Zain seolah olah tahu sebentar lagi dia akan pergi.


Wina menangis mengenangnya, separuh hatinya, telah dibawa pergi oleh Zain. Wina berjanji akan tetap setia menunggu Zain datang menjemputnya.


Keesokannya, Wina terbangun dengan mata yang bengkak, semalaman dia hanya menangis. Nabil yang melihat Mamanya termenung di kamar. Dia pun mendekatinya, "Mom kita sarapan yuk," ajaknya.


"Kamu sarapan aja dulu sama adikmu, Mommy masih belum lapar," jawab Wina.


"Tapi Ma, dari kemaren Mommybelum makan loh, nanti sakit, makan ya, Nabil suapin" bujuk Nabil.


"Nanti aja, Mommy akan makan sendiri," ucap Wina masih setia dengan lamunannya.


Nabil pun meninggalkan kamar Mamanya, dia tahu Mamanya pasti terpukul dengan kepergian Papanya. Tak lama kemudian Rania dan Nandio datang. Nabil pun menemani mereka di ruang tengah.


"Kak, yang sabar ya, jangan sedih kami akan selalu ada disini untukmu," ucap Rania. Nabil hanya mengangguk di tengah isakannya.


"Maaf Dio, aku melupakan janjimu padamu, saat aku akan berangkat menemuimu, Mama langsung mengajakku ke rumah sakit," sesal Nabil.


Nandio langsung mendekati Nabil, dia memeluk dan mengusap kepala Nabil seraya berkata, "Its oke, aku mengerti, aku yang minta maaf, karena tidak tahu kalau Papamu sakit," bisiknya.


"Semua begitu mendadak Dio, tiba tiba, Zico mengabarkan kalau Papa di rumah sakit, padahal mereka baru saja lari pagi bersama," cerita Nabil di pelukan Nandio. Pelukan ternyaman yang pernah dia rasakan setelah pelukan hangat Papanya.


"Sabar ya, kami akan selalu menemanimu," bisik Nandio yang masih setia memeluk Nabil.


"Kak, Papa mana? Kenapa sampai hampir siang belum sarapan?" tanya Wina sembari mencari suaminya.


"Mama," lirih Rania yang melihat Wina mendekati Nabil.

__ADS_1


Nandio pun menoleh ke arah Wina. Betapa terkejutnya dia melihat wanita yang selama ini dia panggil Mama ada di hadapannya.


__ADS_2