
Sejak perkenalan kemaren hubungan Rania dan Nabil cukup baik. Rania selalu mendatangi Nabil kalau dia sudah tidak ada kuliah, mereka sudah menjadi teman rasa saudara. Rania juga sering membantu Nabil memeriksa tugas mahasiswanya.
Satu minggu sudah berlalu, Nandio tak ingin membuang waktunya lagi, dia lalu menyerahkan beberapa alat pengintai untuk dipasang ke kamar gadis pujaan hatinya itu.
"Dek, ini alatnya, pastikan kamu pasang di tempat yang tersembunyi. Awas kalau ketahuan, kamu tanggung sendiri akibatnya ya," titah Nandio pada Rania adiknya.
"Siap kakakku sayang, uluh uluh yang jatuh cinta tingkahnya ada ada aja," ucap Rania sambil menoel dagu kakaknya.
"Eh tapi Kak, biasanya nih ya, kalau orang pedekate itu ngasih bunga, ngasih perhatian, bukannya masang kamera pengintai," protes Rania.
"Sudah, jangan bawel, cara gue mendekati cewek itu beda, kamu nggak bakalan ngerti, cepetan berangkat sana, awas jangan sampai ketahuan," Nandio memastikan.
"Oke Boss," jawab Rania lalu pergi ke kamar Nabil.
Kamar mereka beda lantai. Rania berada di lantai 2 sementara Nabil berada di lantai 1. Sampai di depan kamar Nabil, Rania pun mengetuk pintu.
"Hai, silahkan masuk, aku kira kamu tidak jadi kemari," sapa Nabil saat membuka pintu kamarnya.
"Jadilah, kan aku pengen sekali ketemu sama Mama kamu," seru Rania.
"Bentar ya, aku siap siap dulu," ucap Nabil.
Saat akan berangkat, tiba tiba Rania mengeluh perutnya sakit, dia pun meringkuk di sofa sambil mendesis.
"Kamu kenapa?" tanya Nabil khawatir.
"Sepertinya aku mau datang bulan, perutku kram, boleh tidak aku istirahat disini sebentaaar saja, nanti kalau aku sudah agak baikan, aku akan kembali ke kamarku," pinta Rania dengan wajah memelas.
Karena tak tega melihat Rania yang kesakitan, Nabil akhirnya mengijinkan Rania untuk istirahat sejenak di kamarnya.
"Kalau kamu pengen tidur disini juga nggak apa, aku pulang hari senin kok," ucap Nabil.
"Beneran Kak, aku boleh tidur sini?" tanya Rania tak percaya.
"Boleh, asal jangan bawa cowok kamu tidur disini," ucap Nabil.
"Aku kan belum punya cowok Kak, tapi kalau Kakak aku makan disini boleh ya?" tanya Rania.
"Boleh. Ya sudah aku berangkat dulu, Bye Rania," pamit Nabil lalu pergi meninggalkan kamarnya.
Setelah memastikan Nabil sudah pergi jauh Rania pun menghubungi kakaknya, dia menyuruh kakaknya sendiri yang memasang kameranya.
__ADS_1
Begitu sang Kakak sudah datang, Rania sudah menunjukkan beberapa tempat yang menurutnya aman. Ketika Nandio hendak ke kamar mandi, Rania langsung memukul kepala Nandio dengan buku.
"Kak Nandiooo, kalau sampe kamu pasang kamera di kamar mandi, aku laporin sama Papa, biar dipulangin ke Indonesia," ancam Rania.
Nandio hanya nyengir sambil garuk garuk belakang kepalanya. "Iya iya, aku cuma mau buang air kecil," gerutu Nandio.
"Nggak ada, kalau Kakak mau buang air kecil, sana ke kamar sendiri, aku tau isi otakmu itu," tegas Rania.
Nandio pun menuruti semua perintah Rania. Dia ingin adiknya terus membantunya mendekati pujaan hatinya. Setelah semua kamera terpasang, Nandio merebahkan tubuhnya di ranjang Nabil.
Dia pun mencoba mencium sisa sisa parfum Nabil yang menempel di ranjang.
"Jangan mesum!" cicit Rania saat melihat saudara kembarnya menciumi bantal Nabil
"Dek, kamu mengganggu kesenangan orang aja," sungut Nandio. Setelah memastikan semua aman, mereka pun meninggalkan kamar Nabil.
Senin pagi Nabil sudah kembali ke asramanya. Dia melihat ada bunga mawar merah dan putih di ranjangnya. Karena penasaran, Nabil pun menghubungi Rania.
"Rania, siapa yang naruh bunga mawar di ranjangku?" tanya Nabil.
"Ohh itu, tadi pagi sewaktu aku mau keluar dari kamar Kakak ada yang nitipin bunga, cuma karena aku buru buru pergi ke kampus, jadinya aku taruh aja di ranjang," jelas Rania.
"Ohh gitu, tapi makasih ya, kamarku jadi rapi gini," ucap Nabil saat melihat kamarnya sudah rapi tidak seperti sebelumnya.
Nabil yang memang pencinta bunga mawar, langsung mencium harumnya. Dia pun meletakkan bunga itu vas bunga yang ada di meja belajarnya.
"Nah kan, jadi cantik mejanya," gumam Nabil.
Sementara Nandio tersenyum bahagia kala melihat gadis pujaannya menciumi bunga pemberian darinya. Semua kamera yang ada di kamar Nabil, memang terhubung dengan Hape dan Laptop Nandio jadi Nandio bisa mengakses dimanapun dan kapanpun dia ingin melihat wajah pujaan hatinya.
Selepas perkuliahan, Nandio kembali melihat hapenya, dia melihat Nabil sedang mengemasi pakaiannya.
"Mau kemana Dia, kenapa membawa banyak pakaian," gumam Nandio. Tanpa pikir panjang, dia langsung menghubungi adiknya untuk mencari tahu kemana Nabil akan pergi.
Rania yang lagi hang out dengan teman sekelasnya merasa kesal, karena selalu diganggu oleh kakaknya.
"Aku lagi di Mall Kak, kamu tanya aja sendiri, namanya cinta itu butuh perjuangan, kerja keras, supaya yang mulanya nggak cinta jadi cinta," nasehat Rania.
"Cara yang kamu lakuin itu salah Kak, nggak mengena, percuma Kakak mengintai semua kegiatannya, kalau Kakak nggak melakukan pendekatan," sambung Rania.
"Ya sudah, aku coba kesana," gerutu Nandio.
__ADS_1
"Nah, itu baru Kakakku, ngakunya aja sok sokan bikin dia bertekuk lutut, mana?" cibir Rania.
Nandio langsung menutup telponnya. Dia pun mampir ke restoran yang ternama disana. Dia membeli makanan yang disukai Nabil sesuai arahan Rania adiknya. Setelah itu, dia langsung kembali ke asrama, dia ingin makan bersama dengan Nabil.
Setelah mengetuk pintu kamar, tak lama Nabil muncul dengan rok pendek dan tank top tanpa lengan. Jangan ditanya lagi, bagaimana seksinya Nabil saat ini. Semua lekukan tubuhnya terlihat jelas. Nandio menelan salivanya, pemandangan didepannya sungguh menggoda imannya. Mata Nabil melotot, ketika tahu yang mengetuk pintu adalah seorang lelaki. Nabil kembali menutup pintunya.
"Ya Tuhan, kenapa dia yang datang, mana pake rok pendek lagi" gumam Nabil sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.
Nabil pun langsung mengganti pakaiannya, kemudian membuka pintunya kembali. Dia pun mempersilahkan tamunya masuk.
" Maaf, tadi aku tutup dulu pintunya," ucap Nabil canggung.
Nandio refleks menjawab, "Tidak apa, aku setia menunggumu kok."
Mendengar jawaban lelaki di hadapannya, Nabil melongo, " Hah, maksudnya gimana?" tanya Nabil.
"Ah, tidak tidak, kamu sudah makan belum, kalau belum aku bawain makanan kesukaanmu," ucap Nandio kikuk.
"Belum sih, sebentar ya, aku ambil piring dulu," ucap Nabil.
Setelah menyiapkan makanan di meja, mereka pun makan bersama, Nandio makan sambil memandangi wajah gadis pujaannya. Merasa risih diperhatikan, Nabil mencoba mengalihkan perhatian Nandio.
"Kamu tahu darimana makanan kesukaanku?" tanya Nabil.
"Apa sih, yang nggak aku tahu dari kamu, semuanya aku tahu," jawab Nandio.
"Yang bener, semuanya?" tanya Nabil tak percaya.
"Kamu boleh tes deh, kalau tidak percaya," jawab Nandio.
"Tidak tidak, aku percaya kok," sahut Nabil yang tak ingin melanjutkan pembahasan ini.
"Oh iya ngomong ngomong kamu mau kemana, kok ada koper segala?" tanya Nandio sambil menunjuk arah koper di sudut ruangan.
"Kuliahku kan sudah selesai, jadi mulai besok aku akan pulang kembali ke rumah," jawab Nabil.
"Kamu akan langsung kerja?" tanya Nandio.
"Tidak, aku masih harus mengambil USMLE (United States Medical Licensing Exam) untuk mengejar gelar MD (Doctor of Medicine), untuk sementara aku akan bantu bantu di rumah sakit tempat kerja Daddy dulu," jawab Nabil.
Mendengar gadis pujaannya akan pergi, ada rasa kecewa di hati Nandio. Berada di dekat Nabil saja susah untuk menarik perhatiannya, apalagi jauh. Hingga Nandio pun nekat mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Nabila Zain Pratiwi, mau nggak kamu jadi istriku?" tanya Nandio.